MARRIAGE CONTRACT WITH THE COLD DOCTOR

MARRIAGE CONTRACT WITH THE COLD DOCTOR
Bab 16: Kedatangan ibu mertua


__ADS_3

Keesokan harinya...


Pagi ini, Rea tampak tidak bersemangat. Ia masih bermalas-malasan di tempat tidurnya. Karna memang, ia tidak ada jam kuliah hari ini. Perlahan, dibukanya matanya lalu diusapnya wajahnya yang sembab karna habis menangis semalaman.


"Dasar Rio b******n, pengkhianat! Aku sangat membencimu!" Umpatnya dalam hati.


"Aku akan membalas kalian berdua!" Geramnya. Ia menggenggam erat bantalnya dan sudah merapatkan giginya penuh emosi. Kemudian ia bangun dari rebahannya menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.


Setengah jam kemudian..


"Ceklek! Pintu kamar mandi terbuka. Ia keluar dengan menggunakan kimono membalut tubuhnya, sambil mengusap-usap rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Lalu, ia segera memakai dress rumahannya dan mengeringkan rambutnya menggunakan hair dryer. Seperti biasa, saat ia dirumah, ia hanya memoles sedikit pelembab di wajah naturalnya. Setelah selesai, ia melangkahkan kakinya menuju ke dapur. Karna perutnya sudah berdemo sejak tadi.


"Di dapur"


"Emm! Laper banget lagi!" Gumamnya pelan sembari mengusap perutnya yang rata. Ia berpikir sejenak.


"Masak telur dadar aja kali ya? Lagian yang makan akuk, kok. Si es balok kan udah berangkat kerja." Batinnya. Lalu ia berjalan kearah kulkas dan mengambil 2 butir telur serta beberapa bahan masak lainnya. Tanpa menunggu waktu lama, ia langsung memasak. Setelah selesai memasak, ia makan dengan lahapnya.


"Aahh, kenyangnya!" Ucapnya senang. Ia menautkan kedua alisnya, seolah memikirkan sesuatu.


"Ngapain juga aku mikirin si Rio b******k itu. Yang ada nanti aku malah sakit lagi." Gerutunya pelan sembari membersihkan meja makannya.


Setelah Rea selesai membereskan dapurnya, langsung saja ia bergegas ke ruang tamu. Ia menyalakan TV ruangan tersebut. Tak lama kemudian, ia merasa bosan.


"Huh, bosan banget lagi!" Lalu dimatikannya TV tersebut dan beralih ke ponselnya untuk menonton drakor kesayangannya. Ia merebahkan tubuhnya di atas sofa. Sesekali ia tertawa, tersenyum malu saat ada adegan romantis, dan tiba-tiba menangis. Ia terhanyut ke dalam suasana drama yang sedang ia tonton. Berselang beberapa waktu, tiba-tiba terdengar suara bell pintu berbunyi.


"Aduh, siapa sih? Orang lagi asyik juga! Apa si es balok udah balik,ya? Tapi gak mungkin deh! Diakan gak pernah pulang cepat begini!" Gerutunya kesal sambil berjalan ke arah pintu. Ia kesal karna diganggu saat sedang asyik menonton drama kesayangannya.


"Siapa?" Sahutnya malas sembari membuka gagang pintu. Matanya terbelalak. Ternyata bukan si es balok yang datang, melainkan ibu mertuanya.


Wanita paruh baya itu tersenyum hangat melihatnya.


"Hi, sayang!" Ucapnya lembut dan dibalas senyuman kaku oleh menantu kesayangannya itu.


"Ehh, mama! Silahkan masuk, ma!" Ucapnya lembut, mempersilakan mertuanya masuk dan dibalas anggukan oleh mertuanya itu. Ia menutup pintu perlahan. Lalu mengikuti langkah mertuanya menuju ke ruang keluarga.


"Ya, ampun! Kok mama tiba-tiba datang, ya? Aku kan gadak persiapan sama sekali!" Gumamnya dalam hati.


Ia memukul pelan jidatnya, seolah frustasi dengan keadaan.


"Di ruang keluarga"


Wanita paruh baya itu duduk santai di sofa ruangan tersebut. Ia menatap ke sekeliling ruangan. Ternyata tidak ada yang berubah. Bahkan foto putra dan menantunya itu tidak ada yang terpajang sama sekali. Beberapa saat kemudian, Rea datang dengan membawa segelas teh manis hangat dan juga beberapa cemilan untuk mertuanya itu.


"Ini, minum dulu ma!" Ucapnya sambil tersenyum manis. Dan dibalas senyuman hangat oleh wanita paruh baya itu.

__ADS_1


"Makasih, sayang!" Ucapnya lembut, lalu menyeruput teh manis buatan menantu kesayangan nya itu.


"Emm, suamimu dimana, sayang?" Tanyanya lembut. Ia menoleh kesana-kemari mencari keberadaan putranya.


"Ehh, Dava udah berangkat kerja, ma!" Ucapnya apa adanya. Dan perkataannya barusan membuat mertuanya yang sedang menikmati tehnya, tersedak. "Uhuk..uhuk..uhuk! Bekerja?" Tanyanya lagi memastikan dan hanya dibalas anggukan oleh Rea.


"Anak nakal ini! Benar-benar tidak tau bagaimana memanjakan istri! Lihat saja, bagaimana aku mengajarimu" Gumamnya dalam hati.


Lalu, ia mengambil ponselnya dari tas kecilnya. Dan langsung menghubungi seseorang, yang tak lain adalah Dava, putra kesayangannya. Tak menunggu waktu lama, Dava langsung menyahutnya dari seberang telpon.


"Halo, ma!" Sahutnya.


"Mama sedang bersama istrimu. Pulang sekarang!" Sahut mamanya datar.


"Tapi..." belum sempat Dava melanjutkan perkataannya, langsung dipotong oleh mamanya.


"Apa kamu membantah mama? Segera pulang! Mama tidak ingin mendengar alasan apapun! Mengerti?" Lanjutnya lagi dengan nada ditekankan.


"Baiklah! Dava akan segera pulang!" Ia menuruti permintaan mamanya. Dava memang tidak berani membantah ataupun sampai melukai hati mamanya. Karna ia sangat mencintai mamanya. Rea sampai terheran mendengarnya.


"Ternyata si es balok bisa juga ya, nurut begini!" Gumamnya pelan.


"Dia akan segera kembali!" Sahut mama Zahra dengan lembut. Rea hanya tersenyum tipis mendengarnya. Kedua wanita itu kembali berbincang santai. Tanpa disadari waktu terus berjalan. Jam telah menunjukkan pukul 11 siang. Sudah hampir waktunya untuk makan siang.


Beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu terbuka. "Ceklek! Ternyata Dava telah tiba. Ia segera menghampiri kedua wanita, yang tampak sedang berbincang dengan begitu bahagia.


"Sepertinya, aku harus berakting nih!" Gumam Rea dalam hati.


Ia segera menghampiri suaminya dan memeluk lengannya dengan begitu mesra.


"Kamu, udah pulang sayang?" Tanyanya dengan begitu lembut. Dava yang mendengarnya pun merasa heran.


"Apa wanita ini kesurupan? Barusan.. dia berkata dengan begitu lembut?" Batinnya.


"Bersikaplah mesra sedikit. Atau, ibumu akan curiga nantinya!" Ia kembali melanjutkan ucapannya dengan berbisik, namun masih menunjukkan senyum palsunya.


"Heh, berakting ternyata. Anggap saja kamu sedang memohon sekarang!" Ledek Dava tersenyum menyeringai. Tiba-tiba ia merangkul pinggang Rea.


"Iya, sayang! Aku merindukanmu!" Ucapnya manja, mencoba menggoda Rea. Seketika wajah Rea memerah karna tersipu malu.


"B******n ini! Beraninya menggodaku!" Umpatnya dalam hati.


Dava tersenyum puas, karna berhasil mengerjai Rea. Sementara wanita paruh baya itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum bahagia. Ia merasa seperti nyamuk saja tanpa tau kebenarannya.


"Emm, apa kalian akan mengabaikan mama? Mama lapar nih!" Sahutnya sedikit manja.

__ADS_1


"Kebetulan dong ma? Masakan istriku sangat enak. Pasti mama suka deh. Apa mama mau mencobanya?" Timpal Dava sambil tersenyum tipis. Dan dibalas anggukan olehnya. Ketiganya langsung bergegas menuju ke dapur.


"Di dapur"


Rea dibantu memasak oleh mertuanya itu. Keduanya sibuk sambil berbincang-bincang. Sesekali mereka tertawa kecil. Keduanya tampak begitu akrab. Sementara Dava, ia sibuk mempersiapkan peralatan makan di meja. Ia tersenyum tipis melihat keakraban kedua wanita itu. Jauh dilubuk hatinya, ia sudah terbiasa dengan kehadiran Rea disisinya. Meskipun mereka hanya terikat pernikahan kontrak.


Beberapa saat kemudian, mereka selesai memasak. Berbagai masakan ala rumahan tertata rapi di meja makan. Meski sederhana, namun tampak begitu menggugah selera. Dan kini, mereka telah duduk di sana, bersiap untuk menyantap hidangan tersebut.


Tak menunggu waktu lama, ketiganya langsung makan dengan begitu lahap.


"Emm, masakan menantu ku memang sangat enak!" Sahut wanita paruh baya itu memuji. Rea hanya tersenyum tipis mendengarnya.


"Benar, ma! Jadi, mama harus lebih sering-sering lagi datang kesini! Benar kan sayang?" Sahut Dava, bermaksud mengerjai Rea. Rea hanya mengangguk setuju.


"Emm, mama akan tinggal lebih lama disini!" Sahutnya sambil mengunyah makanannya. Sementara Rea yang sedang minum, tersedak mendengarnya. "Uhuk..uhuk..uhuk!


"Ada apa sayang?" Sahut Dava dan mama Zahra bersamaan. Rea hanya menggelengkan kepalanya.


"Apa? Aku pasti salah dengarkan? Apa aku sanggup berakting selama itu? Sementara pria ini begitu menyebalkan!" Umpatnya dalam hati.


"Nih, minum dulu!" Sahut Dava lembut, sambil menyuguhkannya segelas air putih. "Glek..glek..glek! Rea segera meminumnya.


"Emm, papamu lagi ada perjalanan bisnis ke kota C. Di rumah juga, mama bosan banget sendirian. Kalau disini kan, ada kalian yang nemanin mama? Jadi, apa boleh mama tinggal disini sementara waktu?" Pintanya dengan wajah memelasnya. Sebenarnya, suaminya tidak benar sedang ada perjalanan bisnis. Ia berbohong hanya untuk mengawasi putra dan menantunya itu. Karna ia sudah tidak sabar lagi menunggu kehadiran cucunya. Masalah suaminya, akan diberitahu nanti saja, pikirnya.


"Tentu aja boleh! Mama bisa tinggal disini selama mama mau. Benarkan sayang?" Timpal Dava menoleh ke arah Rea.


"Emm, ehh.. tentu aja boleh!" Sahut Rea kaku, tapi tetap berusaha tersenyum.


"Pasrah aja deh!" Batinnya sudah pasrah, meski hatinya sangat gundah.


Sementara mertuanya, malah merasa sangat senang. Dalam beberapa waktu kedepan, ia bisa menghabiskan waktu bersama dengan putra dan menantunya itu. Sekalian memantau keduanya.


"Makasih sayang! Kalian memang pengertian!" Ucapnya tersenyum bahagia.


TBC


Hai para readersku tersayang😍😍


*Jangan lupa like, coment nya say❤️


Silahkan vote jika berkenan😍


Follow author juga, ok?😘


Salam hangat dari author!

__ADS_1


Tetap semangat dan jaga kesehatan ya😊*


__ADS_2