
Di dalam mobil"
Dava masih terdiam sambil memegang setir mobil. Dengan raut wajah penuh amarah. Rea yang biasanya bawel juga terdiam. Ia takut untuk memulai pembicaraan.
"Jadi raut wajahnya ketika marah seperti ini? Sangat menakutkan" batinnya. Ia merasa tertekan.
Beberapa saat kemudian, mobil mulai melaju menuju rumah orang tua Rea. Sepanjang jalan hanya keheningan yang terjadi di dalam mobil, seperti tidak ada orang. Sesekali Rea melirik wajah tampan Dava yang diselimuti oleh hawa dingin. Dava tidak mempedulikannya. Ia sibuk menyetir dan menatap ke depan.
"Apa wanita gila ini tidak merasa bersalah sama sekali?" batinnya.
Rea tidak berani berkutik sama sekali. Ia takut akan semakin memperkeruh suasana. Jadi dia memilih untuk diam.
"Di rumah keluarga Sean"
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh.. akhirnya mereka sampai di rumah keluarga Sean.
Rea ingin meminta maaf dan berterimakasih kepada Dava karna sudah menolongnya. Namun, Dava langsung turun tanpa berbicara.
Sementara itu, kedua orang tua Rea telah menunggu mereka sedari tadi di depan pintu. Rea dan Dava menghampiri mereka. Dava menggandeng tangan Rea. Sontak membuat si empunya tangan kaget.
"Apa.. apa yang kamu lakukan?" Bisiknya. Namun, Dava tetap mengabaikannya.
"Maafin Dava.. om, Tante! Ini semua salah Dava. Tolong jangan menyalahkan Rea, om.. Tante! Dava janji ini gak akan terulang lagi" Ucapnya sambil menundukkan kepalanya.
Rea semakin kaget mendengarnya. Ia membulatkan matanya.
"What? Si es balok minta maaf? Demi gue? Nggak.. nggak! Gak mungkinlah.. palingan juga otaknya kesamber petir tadi. Gak mungkin banget si es balok minta maaf demi gue" batinnya.
"Sekali lagi maafin Dava om, Tante!" sahutnya lagi.
Deg..deg..deg! Jantung Rea berdegup kencang. Ia tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Lagi-lagi gue nyusahin dia! Nggak... aku gak boleh egois. Aku gak mau libatin dia terus dan membawa-bawa dia ke dalam masalah ku lagi. Ini cukup. Aku sudah berbohong terlalu jauh selama ini" Batinnya.
"Ma.. pa.." Belum selesai Rea berbicara, langsung dipotong oleh Dava.
"Ini bukan salah Rea om, Tante!" sahutnya lagi memotong pembicaraan Rea.
__ADS_1
"Kenapa dia begitu keras kepala? Seharusnya kejadian ini bisa menjadi alasannya untuk membatalkan pernikahan kita. Tapi kenapa.. kenapa dia tidak melakukannya? Apa dia bodoh atau gimana? Dasar manusia es balok!" umpatnya dalam hati.
"Yaudah.. Om akan memaafkan mu kali ini! Tapi lain kali jangan diulangi lagi. Kalian masih belum sah menjadi suami dan istri. Jadi kalian harus ingat waktu" Jelas papa Rei.
"Baik, om.. Tante!" Sahutnya.
"Iya. Ini juga sudah larut.. sebaiknya nak Dava kembali pulang saja" Ucap papa Rei, sembari berjalan masuk ke dalam rumah diikuti oleh mama Laila.
"Baik, om" sahutnya.
Dava hendak beranjak dari sana, namun tangannya dihentikan oleh Rea.
"Tunggu! Aku ingin berbicara" Sahut Rea.
Dava hanya terdiam. Masih diposisi membelakangi Rea. Rea segera menghampirinya dan menatap lekat wajah dingin Dava.
"Aku minta maaf!" Ucapnya lembut sambil menundukkan kepalanya.
Namun, Dava masih mengabaikannya. Tidak melihat sedetik pun kearah Rea. Rea menyadarinya. Namun, ia tetap nekat agar Dava mau memaafkan dan menoleh ke arahnya.
Dava mulai menoleh ke arahnya dan menatap lekat manik indah Rea yang tengah menitikkan air mata.
"Huh" Ia membuang nafasnya kasar dan mengusap kasar wajahnya. Lalu ia memegang pipi Rea dan mengusapnya dengan lembut. Lalu membawa tubuh Rea dan mendekapnya kedalam pelukannya.
Rea membalas pelukannya. Ia tidak mempedulikan apapun. Saat ini, ia hanya merasa nyaman dengan pelukan hangat si es balok.
Lama mereka berpelukan, lalu Dava melepaskan pelukannya. Dan memegang kembali dagu Rea, berpindah menyentuh bibir rona merahnya. Ia mengusapnya perlahan dan langsung... Cup!
Ia m*****t bibir mungil Rea dengan lembut. Rea sempat menolaknya, namun tengkuknya di tahan oleh Dava. Yang membuat Rea mau tidak mau harus mengikuti permainannya. Ia hanya menutup matanya tanpa membalas ciuman Dava. Karna ini adalah pertama kalinya seseorang mencium bibirnya. Jadi dia hanya terdiam dengan semua perlakuan Dava.
"Buka mulut mu!" Ucap Dava kesal.
"Ahh... kenapa?" Tanyanya polos.
"Cihh.. Apa dia sungguh tidak tau berciuman? Sudah usia begini juga masa gak tau, sih?" Batinnya.
Rea baru tersadar dengan apa yang mereka lakukan barusan.
__ADS_1
"Dia mencium ku? Aaaaa.." Teriaknya.
Dava langsung menutup mulut Rea dengan tangannya.
"Apa yang kamu lakukan? Apa kamu ingin membangunkan om dan tante?" Bisiknya. Lalu melepaskan tangannya kembali.
"Kamu.. kamu! Kamu mencium ku? Ini adalah ciuman pertama ku. Aku bahkan belum pernah melakukannya dengan pacar ku. Tapi, kamu... Kamu mencium ku begitu saja. Dasar es balok s****n!" Kesalnya.
"Jadi kamu belum pernah melakukannya sebelumnya? Baguslah! Jadi calon suami mu ini tidak akan rugi untuk menikahi mu!" Ucapnya sambil tersenyum tipis.
"Kembalikan... kembalikan ciuman pertama ku!" Kesalnya lagi sedikit berteriak.
Lalu Dava menciumnya kembali.
"Cup! Ini sudah ku kembalikan. Aku pulang dulu." Ucapnya sembari tersenyum tipis. Dan segera berlari menuju ke dalam mobil. Sedangkan Rea masih berdiri mematung di sana.
"Ini ciuman pertamanya? Aku sungguh beruntung. Tapi, dia terlalu polos di usia begini" Gumamnya pelan. Lalu ia melajukan mobilnya menuju rumah pribadinya.
Sementara Rea.. masih mengomel-ngomel sambil berjalan ke kamarnya. Ia langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Menatap langit-langit kamar dan mengingat kembali kejadian yang mereka lakukan tadi bersama Dava. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Shit! Dasar Dava b******g buas! Awas aja kamu. Aku akan membalasmu" Teriaknya.
"Aku harus berjaga-jaga mulai dari saat ini. Siapa tau dia akan memakan ku ketika kami menikah nanti! Aku akan membuat perjanjian dengannya besok! Jadi.. dia tidak akan berani melakukannya." Ucapnya tersenyum licik.
Lalu ia mengambil ponselnya dari tas kecilnya. Lalu, mengirim pesan kepada seseorang yang tak lain adalah Dava.
"Besok aku ingin bertemu dengan mu! Ada sesuatu yang ingin ku bahas dengan mu. Di kafe Sweety, jam 1 siang."
Lalu dibalas singkat oleh Dava.
"Baiklah"
"Cihh! Dasar es balok. Kalau tidak ya, emm, baiklah, ok! Apalagi yang bisa kamu katakan selain itu, huh? Bisa-bisa mulutmu beku karna jarang berbicara. Tapi, kamu adalah salah satu b******g buas yang langka, hahaha" Ucapnya asal sambil cekikikan.
Lalu ia segera bangkit dari rebahannya dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Setelah itu, ia mengenakan pakaian tidurnya lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
TBC
__ADS_1