MARRIAGE CONTRACT WITH THE COLD DOCTOR

MARRIAGE CONTRACT WITH THE COLD DOCTOR
Bab 15: Tidak menyadarinya


__ADS_3

"Di dalam mobil"


Rea hanya terdiam dan menunduk. Sesekali ia masih terisak kala mengingat kejadian tadi. Sementara Dava, masih menatap lekat wajah sembabnya tanpa berkedip. Ia mengepalkan tangannya di atas setir mobil. Melihat kondisi Rea saat ini, ingin rasanya menghabisi Rio si pria b******k itu. Namun, ia berusaha menahannya. Tidak ingin membuat keributan di tempat umum.


Beberapa saat kemudian, ia melajukan mobilnya menuju ke rumah. Mobil telah menyusuri jalanan ibukota dengan kecepatan sedang. Hingga mereka tiba di rumah. Dava turun lebih dulu. Lalu membukakan pintu untuk istrinya itu. Tanpa meminta persetujuan dari sang istri, Dava segera mengangkat tubuh mungil Rea dan membawanya masuk ke dalam rumah. Ia melangkahkan kakinya dengan cepat dan tatapannya tertuju ke depan.


"Dasar bodoh! Untuk apa menangisi pria b******k seperti itu? Apa hebatnya dia? Hanya seorang pria pengecut, tapi bisa membuat mu menangis? Benar-benar menyebalkan!" Gumamnya dalam hati.


"Di dalam kamar"


Dava segera merebahkan tubuh Rea di atas ranjang. Sementara wanita cantik itu masih terdiam tak bergeming seolah tidak mempedulikan apapun.


"Huh! Dava membuang nafasnya dengan kasar.


"Berhentilah menangis! Jangan menangisi pria b******k sepertinya. Benar-benar tidak pantas!" Ucapnya sambil membelai rambut indah milik Rea.


Namun, tak ada respon sama sekali darinya.


"Apa setiap wanita yang putus cinta seperti ini? Huh, membuatku kesal saja!" Gumamnya lagi.


"Tunggu dulu! Kenapa aku kesal saat dia menangisi b******n itu? Apa karna aku.. sudah terbiasa dengan kehadiran nya?" Lanjutnya lagi masih bergumam dalam hati.


"Istirahatlah! Aku pergi dulu!" Sahut Dava datar. Ia ingin pergi memberi pelajaran kepada Rio. Namun, tangannya dihentikan oleh Rea. Tanpa sadar, Rea mengucapkan sesuatu yang membuat Dava terkaget.


"Apa, apa, apa.. kamu juga akan me, meninggalkan aku?" Ucapnya terbata, masih dengan tatapan kosongnya.


"Hah? Tentu saja Dava kaget mendengarnya.


"Apa wanita ini kesetrum listrik? Kenapa dia tiba-tiba bersikap seperti ini? Membuatku tidak terbiasa saja!" Batinnya.


"Jadi, jadi kamu akan meninggalkan ku? Sama seperti pria b******k itu?" Sahut Rea lagi.


"Tidak. Tentu saja tidak. Aku tidak, tidak akan meninggalkan mu!" Timpal Dava berusaha menenangkannya. Ia mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang sambil membelai lembut wajah sembab wanitanya itu.


"Kamu harus berjanji!" Sahut Rea pelan, lalu memeluk tubuh Dava dengan erat dan meletakkan kepalanya di pangkuannya. Perlahan, ia memejamkan matanya. Dava tersenyum tipis melihatnya.


"Mengapa b******n itu tega menyakiti mu? Sepertinya, ada motif tersembunyi yang mereka rencanakan!" Ucapnya pelan, sembari mengusap lembut wajah sembab Rea.


Berselang beberapa waktu, tiba-tiba terdengar suara bell pintu luar ditekan oleh seseorang. Ternyata, orang tersebut adalah Alex. Tak menunggu waktu lama, Dava segera turun untuk membukakan pintu.


"Ceklek! Suara pintu terbuka.


"Ternyata kamu, Lex. Ayo masuk!" Sahut Dava mempersilakan masuk sahabatnya itu. Dan dibalas anggukan oleh Alex. Keduanya berjalan menuju ke ruang tamu.


"Di ruang tamu"

__ADS_1


"Duduk dulu!" Sahut Dava singkat. Lalu ia berjalan ke dapur untuk membuatkan kopi untuk mereka minum. Sementara Alex, ia hanya tersenyum tipis.


"Ternyata Dava masih betah juga tinggal disini!" Gumamnya pelan, sembari memperhatikan seisi ruangan.


Sepuluh menit berlalu, Dava datang dengan membawa 2 gelas kopi di tangannya.


"Ini, minum dulu!" Ia menyuguhkan segelas kopi untuk Alex. Alex segera meneguknya.


"Emmm.. istri kamu mana?" Tanya Alex penuh hati-hati.


"Dia lagi beristirahat di kamar!" Sahutnya singkat.


"Huh, sepertinya.. suasana hatimu sedang buruk?" Tanya Alex lagi. Kini, ia menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa sambil menatap ke langit-langit dinding ruangan tersebut.


"Emm!" Sahut Dava singkat, sembari menggoyang-goyangkan kopinya.


"Jadi, kamu tidak akan menjelaskannya padaku?" Alex memejamkan matanya menikmati suasana sepi rumah itu. Sudah lama sejak ia diluar negeri, jarang sekali ia bisa merasakan suasana yang begitu tenang.


"Kami.. hanya menikah kontrak!" Sahut Dava sambil membuang nafasnya dengan kasar.


Alex yang mendengarnya pun tertawa terbahak-bahak.


"Hahaha.. apa kata mu? Menikah kontrak? Ada-ada aja deh kamu, Dav. Ini zaman apa? Gak mungkinlah!" Ia berkata seolah tidak mempercayainya.


"Kamu tau sendiri kan? Kita itu dijodohkan" Kesal Dava tak terima ditertawakan.


"Apa aku terlihat bercanda?"


"Apa rencana mu selanjutnya?"


"Aku tidak tahu!"


"Emm? Apa kamu tertarik dengannya?"


Dava yang tengah menyeruput kopinya, tiba-tiba saja tersedak, mendengar ucapan Alex barusan.


"Uhuk..uhuk..uhuk! Ia memukul-mukul dadanya.


"Ehh, apa yang salah dengan mu? Pelan-pelan dong" Sahut Alex polos.


"Ini semua karna mu!" Kesal Dava.


"Aihkkk..! Aku kan tidak merebut kopimu? Dasar aneh!" Kesal Alex balik.


"Itu gak mungkin?"

__ADS_1


"Apa yang gak mungkin?"


"Menyukainya!" Sahut Dava datar.


"Hahahaha..! Awas nanti kemakan omongan sendiri lagi, baru tau rasa!" Timpal Alex sambil tertawa menyeringai.


"Aku gak percaya kamu tidak akan menyukainya. Dari caramu memperlakukannya tadi, anak kecil pun tau, kalau kamu menyukainya. Kamu hanya tidak menyadarinya saja. Dasar Dava bodoh!" Gumamnya dalam hati.


"Cih! Tau darimana kamu? Pacaran aja gak pernah, sok-soan menceramahi orang. Dasar jomblo!" Ledek Dava sambil menyunggingkan senyum liciknya.


"Cih! Emang kamu pernah?" Balas Alex meledek.


"Aku kan sudah menikah. Jadi, ngapain pacaran lagi? Aneh!!"


"Tapi kamu bilang, tidak menyukainya? Dan lagi.. kalian hanya menikah kontrak kan? Jadi, jika kalian bercerai... hahahaha!" Alex tertawa, membayangkan kehidupan Dava setelah bercerai.


"Apa yang kamu tertawakan?" Kesal Dava. Ia melemparkan bantal sofa ke wajah Alex. Namun, Alex tidak berhenti tertawa.


"Hahaha.. hahaha..! Itu, jika kamu bercerai nanti.. aku harus memanggilmu apa? Duda tampan kah? Atau si tampan jomblo akut? Atau yang lebih menariknya lagi adalah.. duda tampan si jomblo akut? Hahaha...!" Tawa Alex pecah. Dava semakin kesal. Ia tak henti melempari semua bantal sofa ke wajah tampan Alex. Keduanya memang kerap melakukan hal semacam itu. Membuat lelucon, untuk mengurangi beban masing-masing.


"Di Eagle Restaurant"


Tampak Rio dan Jelly masih berada di sana. Mereka masih dikelilingi oleh para pengunjung restoran. Tak terkecuali dengan Gigi. Ia masih berada di sana dan menunjukkan wajah muram yang diselimuti dengan penuh amarah.


"Dasar wanita j****g! Ternyata ini wajah asli busukmu yang selama ini terlihat begitu polos, huh?! Dan kamu Rio, kamu adalah seorang b******n! Pasangan tidak tau malu, cih!" Teriak Gigi sambil berdecih. Begitupun dengan orang sekitar. Karna saking emosinya.. mereka juga ikutan memaki dan mencemooh Rio dan Jelly.


"Gak tau malu, ya?"


"Benar-benar menyebalkan!"


"Aku sih ogah berteman dengan wanita busuk sepertinya."


"Dasar tidak tau malu. Taunya merebut milik orang lain"


"Haha.. pria itu juga seorang b******n! Gak mungkin kan tertarik sama j****g sepertinya"


"Benar. Tapi, Tuan muda Mourinho jauh lebih segala-galanya dari pria b******k ini!"


"Tidak akan bisa dibandingkan dengannya, Cih!"


Jelly menatap tajam ke arah mereka semua. Ingin rasanya menghabisi kalian semua sekarang juga, pikirnya. Namun dicegah oleh Rio.


"Jangan semakin memperkeruh suasana. Lebih baik kita pulang sekarang!" Sahut Rio berbisik ketelinganya.


"Tapi, kita belum...." ucapannya langsung dipotong oleh Rio.

__ADS_1


"Jika kamu tidak ingin lebih malu lagi, sebaiknya kamu menurut. Ayo pergi!" Tegasnya lagi. Jelly merapatkan giginya, seolah tidak terima. Tapi, mau tidak mau, ia harus menuruti keinginan Rio. Kini, keduanya berjalan keluar meninggalkan restoran mewah itu. Meski mereka telah pergi, namun masih banyak cibiran dari para pengunjung.


TBC


__ADS_2