
Pagi ini, Dava dan juga Rea bangun agak kesiangan. Karna hari ini adalah hari weekend. Jadi, keduanya tidak memiliki kesibukan di luar rumah. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Tiba-tiba Rea membuka matanya perlahan. Nyawanya belum sepenuhnya menyatu. Ia menatap langit-langit dinding kamar tersebut. Beberapa saat kemudian, ia menyadari kalau perutnya ditimpa oleh sesuatu. Dia meraba perutnya yang rata, untuk memastikannya. Dan memang benar ada sesuatu di sana.
"Ahh.. apa ini? Tangan?" Gumamnya pelan. Kemudian, ia membalikkan badannya.. dan matanya terbelalak hampir saja keluar. Bagaimana tidak? Lagi-lagi ia tidur satu ranjang dengan pria dingin itu.
"Aahhhhhh!" Teriaknya begitu keras, hingga membangunkan si singa yang tertidur pulas.
"Aishh. Ini masih pagi, kenapa kamu begitu berisik, huh?" Kesal Dava, sembari membuka matanya perlahan.
"Kenapa kamu tidur di sini? Di kamar ku? Apa yang telah kamu lakukan?" Ucapnya penuh khawatir. Ia segera meraba-raba seluruh anggota tubuhnya. Untuk memastikan apakah Dava, ada menyentuhnya atau tidak. Ternyata, dia hanya terlalu banyak berpikir saja.
"Huh, untunglah.. si es kutub tidak menyentuh ku!" Gumamnya merasa lega.
"Kamu menyalahkan ku? Kalau begitu, siapa yang berinisiatif menarik tanganku ke ranjang tadi malam? Apa itu setan?" Kesal Dava lagi.
Mendengar perkataan Dava barusan, Rea berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi tadi malam.
"Benar juga. Tidak mungkinkan ada orang lain yang menarik tangannya tidur ke kasur ku? Lalu, siapa....?" Gumamannya terhenti.
"Aahhhh..." Teriaknya, lalu secepat kilat menutup wajahnya karena malu.
"Malu sekali? Apa yang harus ku lakukan?" Gumamnya pelan.
"Apa kamu sudah sadar sekarang?" Tanya Dava sembari memicingkan matanya sebelah.
"Itu itu, itu.. aku akan segera mandi!" Ucapnya terbata. Lalu, ia berlari kecil menuju kamar mandi. Sementara Dava, ia hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Rea barusan. Tiba-tiba ia menyerngitkan dahinya, seolah memikirkan sesuatu.
"Tumben aku bisa tidur nyenyak. Biasanya aku akan selalu memimpikan kakak! Tapi malam ini, berbeda dari sebelumnya. Ini adalah malam kedua aku bisa tidur dengan tenang." Batinnya.
"Apa karna wanita menyebalkan ini? Emm.. baiklah! Aku akan lebih merepotkan mu kedepannya!" Gumamnya pelan sembari mengusap wajah tampannya dengan lembut.
Lalu, ia mengambil ponselnya dan tampak sibuk dengan benda tersebut.
Beberapa saat kemudian, Rea sudah selesai mandi. Seperti biasa, ia hanya mengenakan kimono dan handuk kecil membalut rambutnya. "La..la..la..la, na..na..na..na!" Ia melangkahkan kakinya menuju ke ruangan ganti baju sembari bernyanyi kecil. Saat melewati tempat tidur, matanya terbelalak melihat Dava masih disana dan tengah menatapnya tanpa berkedip. Dava menelan salivanya dengan kasar, melihat pemandangan indah dihadapannya itu. Keduanya bertatapan dengan waktu yang cukup lama.
"Itu, itu. Hahaha.. aku akan mengganti pakaian ku!" Sahut Rea terbata sembari menunjuk ke arah ruangan ganti baju. Lalu, ia segera berlari dengan wajah semu meronanya bagai kepiting rebus. "Brak! Suara pintu tertutup.
"Ahhh.. malu sekali! Dasar Rea bodoh! Kamu sungguh ceroboh sekali. Bagaimana kamu akan menyapanya nanti? Bodoh..bodoh..bodoh!" Ucapnya mengutuki dirinya sendiri sambil memukul pelan jidatnya.
Sementara itu, Dava yang masih berbaring dikasur baru saja bisa tersadar dari segala pikirannya yang bercampur aduk. Ia menggelengkan kepalanya.
"Apa yang ku pikirkan? Huh, lagipula.. apa menariknya dia? Bertubuh datar seperti itu, sama sekali tidak menarik!" Gumamnya pelan, berusaha menghilangkan pemandangan tadi dari pikirannya. Kemudian, ia bergegas keluar menuju kamarnya untuk segera membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.
Tak menunggu waktu lama, Dava keluar dengan mengenakan baju rumahan. Celana pendek berwarna hitam dan baju kaos berwarna putih, menunjukkan aura ketampanannya. Ia melangkahkan kakinya menuju ke ruang makan.
__ADS_1
"Silahkan, Tuan!" Sahut kepala pelayan sambil menarik satu kursi untuk tuannya duduki.
Dava hanya menganggukkan kepalanya. Ia melihat sekeliling, mencari keberadaan istrinya. Tapi, orang yang diharapkan tidak berada di sana.
"Dimana Nyonya?" Tanyanya penasaran.
"Ehh.. Nyonya belum keluar sejak tadi, Tuan!" Sahutnya pelan.
"Apaaa?" Teriaknya, yang membuat semua pelayan yang berada di ruangan tersebut terkaget. Bagaimana tidak? Ini adalah kali pertama tuannya marah sejak mereka bekerja disana.
"Apa, apa perlu saya panggilkan Nyonya, Tuan?" Tanya seorang pelayan penuh hati-hati.
"Tidak perlu!" Sahut Dava datar. Ia segera menaiki anak tangga menuju ke kamar seseorang yang berani membuatnya marah.
"Apa yang dilakukan wanita ini? Ini sudah hampir siang." Gerutunya dalam hati.
"Ceklek! Suara pintu terbuka. Matanya terbelalak melihat Rea yang tampak pucat dan sudah berkeringat dingin, tengah berbaring dilantai. Tanpa berpikir panjang, ia segera menghampirinya dan mengangkat tubuhnya menuju ke atas ranjang.
"Apa, apa yang terjadi?" Tanyanya penuh kekhawatiran.
"Uhh, sa.. sakit!" Sahut Rea sambil memegang perutnya. Tanpa bertanya lebih lagi, Dava segera berlari kekamarnya dan mengambil alat stetoskopnya. Tak menunggu waktu lama, ia kembali dan segera memeriksa kondisi Rea perlahan.
"Kamu.. datang bulan?" Tanya Dava memastikan. Rea hanya mengangguk kecil.
"Apa kamu selalu seperti ini?" Tanyanya sambil menekan kecil perut datarnya. Dan dibalas anggukan oleh Rea.
"Ini terjadi karna kamu jarang minum dan selalu begadang. Mulai sekarang, perhatikan pola hidup mu. Jangan sepelekan hal semacam ini, karna bisa membahayakan kesehatan mu di masa mendatang! Mengerti?" Tegasnya lagi dan masih menekan kecil perut datar Rea. Dan hanya dibalas anggukan olehnya.
"Dia sedang mengkhawatirkan ku?" Gumam Rea dalam hati.
"Baiklah, teh jahe hangat bisa meredakannya. Aku akan ke bawah mengambilnya." Sahut Dava, lalu melangkahkan kakinya menuju ke dapur.
"*Di dapur*"
Dava tampak sibuk sendiri di sana. Para pelayan hanya memperhatikannya dari kejauhan. Sebelumnya, mereka telah menawarkan untuk melakukannya. Namun, ditolak oleh Dava. Ia tampak tidak ingin merepotkan para pelayannya. Dan tentu saja. Hal ini mengejutkan mereka semua. Karna ini adalah pertama kalinya Dava menyentuh barang-barang di dapur.
Tak menunggu waktu lama, ia naik keatas dengan membawa segelas teh jahe hangat beserta beberapa potong roti.
"Ini, minumlah selagi hangat!" Sahutnya pelan sambil menyodorkannya ke tangan Rea.
"Ehh, baiklah!" Timpal Rea merasa heran. Ia heran dengan tingkah Dava yang tampak sangat mengkhawatirkannya.
"Glek! Dia meminumnya hingga habis. Dan sekarang, perutnya sudah mulai membaik. Karna teh jahe hangat memang bisa menghilangkan kram diperut apalagi saat sedang menstruasi.
__ADS_1
"Kamu harus mengisi perutmu. Karna yang terpenting saat sedang menstruasi adalah jangan sampai telat makan!" Lanjutnya lagi.
"Ahh.. dia tau semuanya. Aku memang jarang sarapan, apalagi saat haid. Tidak pernah terpikirkan oleh ku, bahwa inilah penyebab perutku selalu kram saat sedang haid!" Batinnya.
Ia hanya menuruti semua perintah Dava barusan. Tanpa mengomel seperti biasanya.
Sedangkan di tempat lain, tepatnya di Sunrise cafe...
Tampak seorang wanita paruh baya tengah duduk di sana. Ia duduk sambil memainkan ponselnya. Sesekali ia menyeruput segelas coffe americano yang telah ia pesan sebelumnya. Ditengah-tengah kesibukannya, tiba-tiba sepasang kekasih muda datang menghampirinya. Siapa lagi kalau bukan Rio, putra kesayangannya beserta kekasih Rio, yang tak lain adalah Jelly.
"Hai, ma! Mama udah lama nunggu, ya?" Sahut Rio tersenyum tipis.
Reni, mamanya Rio, langsung berhenti memainkan ponselnya, setelah mendengar suara putra kesayangan nya itu.
"Ehh, enggak kok! Mama baru aja nyampe." Ucapnya sambil tersenyum lebar. Tiba-tiba senyumannya perlahan menghilang, kala ia melihat Jelly tengah berdiri di samping Rio.
Rio dan juga Jelly menyadari tatapan wanita paruh baya itu. Rio segera memperkenalkan Jelly padanya.
"Ehm! Itu.. dia pacarku, ma!" Sahut Rio agak gugup.
"Pacarmu?" Tanyanya datar.
Jelly segera mengiyakannya sambil tersenyum lebar.
"Iya, Tante! Kenalin.. saya Jelly, kekasih Rio!" Ucapnya bangga.
Berbanding terbalik dengan Rena, ia malah merasa jijik melihat penampilan Jelly saat ini.
"Cih! Apa bagusnya perempuan ini? Dia jauh lebih buruk dari Rea, anaknya si Rei!" Gumamnya dalam hati.
Tiba-tiba ia tersenyum licik.
"Tapi bagus juga. Aku bisa memanfaatkan wanita bodoh ini." Gumamnya pelan, namun terdengar oleh Jelly, meski tidak terlalu jelas.
"Maksud Tante?" Tanya Jelly penasaran.
"Ehh, bukan. Maksud tante, kamu terlihat cantik! Hahaha.. iya, berbeda dengan Rea." Ucapnya berbohong.
Dan benar saja. Si wanita bodoh ini telah masuk ke perangkap. Jelly sangat senang mendengar wanita paruh baya itu memujinya. Tanpa tahu tentang kebenarannya.
"Makasih Tante!" Ucapnya sembari tersenyum. Lalu, ia segera duduk di samping Rio.
"Dasar tidak tahu malu! Beraninya dia merayu anakku! Cih! Kalau begitu, jangan salahkan aku wanita bodoh, jika aku memanfaatkan mu!" Gumamnya dalam hati.
__ADS_1
Ketiganya menghabiskan waktu yang cukup lama di sana. Sesekali mereka berbincang dan tertawa bersama. Meskipun penuh dengan kemunafikan yang tersimpan di hati ibu Rio.
TBC