
Wanita yang baru saja datang menghampiri mereka, langsung duduk tanpa permisi dulu. Ia tampak memakai pakaian seksi yang menampakkan belahan dadanya. Dan kini, wanita itu tengah menatap sinis kearah Rea. Berbeda dengan Rea, ia malah bersikap acuh tak acuh terhadapnya.
Berselang beberapa saat kemudian, Dava selesai dengan urusannya. Ia masih belum menyadari kehadiran wanita disampingnya. Tampak wanita itu sedang tersenyum bahagia. Tanpa rasa malu, ia langsung memeluk lengan Dava dan menaruh kepalanya diatas bahunya.
"Hah?" Dava terkejut, menyadari lengannya dipeluk oleh seseorang.
"Halo, Dav! Lama tidak bertemu. Aku sangat merindukan mu!" Ucapnya manja, sambil memejamkan kedua bola matanya.
"Kenapa kamu datang?" Tanya Dava datar.
Mendengar perkatannya, wanita itu langsung mengangkat kepalanya dan menoleh keatas, menatap wajah tampan Dava.
"Tentu saja karna aku merindukan mu! Tidak bolehkah?" Ucapnya masih dengan nada manja. Sementara Rea, ia sudah jijik melihat tingkah manjanya saat ini.
"Dasar lebay!" Umpatnya dalam hati.
Dava menatap Rea sekilas. Namun Rea malah memalingkan pandangannya kearah lain. Mila yang menyadarinya langsung merapatkan giginya. Ia membulatkan matanya, seperti singa yang ingin melahap mangsanya.
"Cih! Hanya seorang mahasisiwi biasa, tidak akan bisa dibandingkan dengan ku. Aku yakin, tante Zahra akan lebih menyukai ku daripada wanita rendahan ini!" Gumamnya dalam hati.
"Dava.. apa kamu tidak ingin membawa ku berkeliling? Bagaimanapun.. aku sudah lama tidak kembali. Banyak yang telah berubah dalam beberapa tahun terakhir ini!" Sahutnya lagi, yang menyadarkan Dava dari lamunannya.
"Ahh? Baiklah!" Ucapnya mengiyakan. Rea yang mendengarnya pun langsung menaikkan kedua alisnya. Ada sebersik rasa kecewa dihatinya.
"Dasar es balok! Sejak kapan dia menjadi penurut begitu?" Geramnya dalam hati.
Seketika ia, memukul pelan jidatnya.
"Apa yang membuat ku marah? Tidak mungkin kan aku cemburu? Lagipula.. pernikahan kami hanya didasari oleh sebuah kertas bertuliskan kontrak. Apa yang ku harapkan dari semua ini? Dasar Rea bodoh!" Gumamnya lagi. Ia lalu berdiri dari duduknya.
"Kalau begitu.. aku tidak akan mengganggu kalian lagi! Nikmatilah hari mu!" Ucapnya pura-pura tersenyum manis. Ia segera berlalu dari sana. Tanpa terasa, bulir-bulir air matanya lolos terjatuh dan kini telah membasahi wajah cantiknya.
"Mengapa hatiku sakit? Sakit.. ketika wanita lain lebih akrab dengannya dibandingkan aku?" Teriaknya dalam hati.
Ia berlari secepat mungkin dan langsung menghentikan sebuah taksi yang tak jauh dari sana. Rea memutuskan untuk kembali ke rumah tanpa menunggu mertua dan suaminya.
"Di Restoran"
Dava yang masih kebingungan, belum mengerti mengapa Rea pergi secara tiba-tiba. Ia mengiyakan perkataan Mila, itu karna ia juga ingin mengajak Rea berkeliling. Bagaimanapun, ini adalah waktu yang langka baginya bisa menghabiskan waktu bersama istri dan ibunya.
"Ya udahlah!" Ucapnya pasrah, meski ia juga tampak kecewa dengan sikap Rea kali ini.
"Padahal.. tadi baik-baik saja, dan sudah setuju untuk menghabiskan waktu bersama. Tapi, wanita itu berani mengingkarinya! Dasar wanita pembohong!" Gerutunya dalam hati.
Sementara Mila, sudah tersenyum kemenangan.
"Cih! Baru juga begini, udah langsung menyerah. Dasar wanita lemah! Memang tidak pantas dibandingkan dengan ku!" Ia tertawa menyeringai.
Berselang beberapa waktu, mama Zahra datang menghampiri mereka. Pandangannya tertuju ke setiap sudut ruangan, mencari keberadaan menantu kesayangan nya. Bahkan tidak mempedulikan kehadiran Mila.
"Ada apa, ma?" Tanya Dava sedikit menyerngit.
"Rea dimana?" Tanyanya to the point. Namun masih menoleh kesana-kemari.
__ADS_1
"Udah pulang, ma!" Sahut Dava polos.
"Apa?" Wanita paruh baya itu berteriak tak percaya.
"Benar, tante!" Sahut Mila seraya tersenyum tipis.
Mama Zahra menyipitkan matanya melihat penampilan Mila. Ia lalu mengepalkan tangannya.
"Ini semua pasti gara-gara Mila! Dasar wanita pengganggu!" Geramnya dalam hati.
Tanpa berpamitan, wanita paruh baya itu langsung pergi menjauh dari pandangan keduanya. Dava semakin bingung dibuatnya. Mengapa mamanya tiba-tiba berubah melihat kehadiran Mila.
"Bukankah mereka dulunya sangat akrab? Bahkan keakrabannya lebih seperti hubungan antara ibu dan anak. Tapi mengapa?"
Dava bertanya-tanya dalam hati. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Flashback Off
Mila sendiri adalah teman masa kecil Dava. Dulunya, Mila memang sangat akrab dengan mamanya Dava. Bahkan keduanya kerap dijuluki sebagai pasangan ibu dan anak. Hal itulah yang membuat mama Zahra, ingin sekali bahkan menginginkan Mila sebagai menantunya. Meski ia tahu, kalau Dava hanya menganggapnya sebagai sahabat saja, tidak lebih.
Hingga mereka beranjak dewasa dan mulai mengejar cita-cita masing-masing, mama Zahra masih sangat akrab dengan Mila. Dava memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya dibagian kedokteran. Sedangkan Mila mulai meniti karirnya di dunia hiburan.
Suatu malam..
Mama Zahra pergi menemui para teman-teman arisannya sekaligus istri para pejabat tinggi perusahaan suaminya. Tanpa sengaja, ia melihat Mila bergandengan dengan seorang pria paruh baya, yang tak lain adalah atasan tertinggi dimana Mila bekerja. Mereka tampak memasuki sebuah kamar hotel. Saat itu, mama Zahra enggan untuk mempercayainya. Tapi untuk memastikan apakah dugaannya benar atau salah, ia memilih untuk mengikutinya. Dan benar saja dugaannya. Mila benar-benar menjual dirinya demi sebuah pekerjaan. Wanita setengah baya itu, menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana Mila bersikap menjijikkan dihadapan pria itu. Sejak saat itu, mama Zahra tidak lagi menyukainya, bahkan sudah sangat membencinya. Ia tidak suka dengan wanita yang menjual harga dirinya hanya demi uang. Meski demikian, ia tidak memberitahukan hal itu kepada siapapun, termasuk Dava. Karna ia tahu, Dava tidak pernah menyukainya.
Setelah Dava menyelesaikan studinya, mama Zahra menjodohkannya dengan Rea, putri sahabatnya. Karna Rea sendiri adalah gadis baik-baik tidak seperti Mila. Bahkan Rea bukanlah seorang gadis manja dan cengeng. Itulah yang membuatnya sangat menyukai Rea, dan sudah menganggapnya sebagai putrinya. Untung saja, di hari pernikahan mereka saat itu, Mila berada di luar negeri. Jadi, ia tidak ada waktu untuk mengusik keduanya.
Flashback On
"Ada apa?" Tanya Mila tak senang.
"Maaf! Aku harus pergi! Lain kali.. jika ada waktu, aku akan mengajakmu berkeliling!" Timpal Dava dengan nada datar.
"Tapi.." Mila hendak menghentikannya. Namun Dava lagi-lagi menegaskannya, yang membuat keberanian Mila semakin menciut.
"Jika kamu ingin pergi sekarang.. mintalah Rey menemanimu! Aku tidak punya waktu" Lanjutnya lagi dan segera berlalu pergi.
Sementara Mila, ia sudah merapatkan giginya. Tidak terima dengan perlakuan dingin Dava, bahkan ibunya.
"Bukankah tante Zahra menyukai ku? Mengapa mereka mengabaikan ku? Ahhh.. ini pasti gara-gara wanita s****n itu. Aku harus menyingkirkannya sesegera mungkin!" Emosinya meluap tak tertahankan lagi. Entah apa yang akan ia rencanakan kedepannya hanya dia yang tahu.
Sedangkan Dava, ia segera menemui mamanya di parkiran.
"Ma.." Sahutnya sedikit berteriak.
"Ahhh.. kamu sudah datang?" Ucapnya datar. Ia lalu mengusap wajahnya dan membuang nafasnya pelan.
"Fyuhh! Tidak bisakah kamu menghargai perasaan istrimu sekali saja? Mengapa kamu menjadi seperti pria b******n? Kapan aku pernah mengajarimu begitu, huh?" Bentaknya. Dava yang tidak mengerti dengan perkataan mamanya, malah bengong mencoba mencerna perkataan mamanya.
"Dava.." Teriak mamanya lagi.
"Ahh.. iya ma! Ada apa?" Kagetnya sambil mengelus dadanya yang hampir saja copot.
__ADS_1
"Benar-benar anak nakal! Tidak bisa diandalkan!" Kesal mamanya.
"Apa yang harus.. Dava lakukan?" Tanyanya hati-hati.
"Aishhh..! Masih berani bertanya? Tentu saja mencari istrimu bodoh!" Geram mamanya lagi seraya melepas sepatunya, hendak memukul Dava karna saking kesalnya. Namun Dava sudah secepat kilat berlari masuk ke mobil.
"Aku.. aku pergi sekarang!" Ucapnya sedikit berteriak.
"Mama tidak pulang hari ini! Ingatlah untuk menjaga istrimu, mengerti?" Teriaknya. Barusan, ia memang mendapat telpon dari suaminya dan mengatakan bahwa ia harus ikut dalam perjalanan bisnis ke Tokyo. Tidak seperti kebohongannya sebelumnya. Kali, ini benar-benar nyata adanya.
Tak menunggu waktu lama, seorang supir pribadinya datang menjemputnya.
"Silahkan Nyonya!" Sahutnya sopan dan dibalas anggukan olehnya. Kini mobil telah melaju menuju ke rumahnya.
Sementara itu..
"Di rumah Dava"
Dava yang baru saja tiba, langsung masuk kedalam rumah. Langkahnya terhenti tepat di ruang tamu, yang tak jauh dari pintu. Ia membulatkan matanya, mendapati Rea yang kini tengah berbaring sembarang diatas sofa.
"Wanita ini!" Ucapnya lega. Ia lalu menghampiri Rea dan hendak mengangkat tubuhnya menuju ke kamar. Namun, Rea langsung menepis tangannya.
"Jangan sentuh aku!" Ucapnya datar, namun masih memejamkan matanya.
"Ba.. baiklah!" Dava hanya bisa pasrah. Meski ia juga bingung mengapa Rea bersikap aneh secara tiba-tiba. Ia tidak tahu kalau Rea sedang dilanda rasa cemburu. Entah sejak kapan pria ini berhasil mengisi hatinya, ia tidak tahu. Yang jelas, saat ini.. ia marah karna melihat kedekatannya dengan wanita tadi.
"Apa kamu haus?" Tanya Dava lagi. Namun Rea hanya menggelengkan kepalanya.
"Hah?" Dava menyerngitkan dahinya.
"Apa dia sedang datang bulan atau bagaimana? Mengapa emosinya tidak terkontrol?" Tanyanya dalam hati.
Ia kembali menatap wajah Rea. Dan kali ini, matanya benar-benar membulat sempurna, melihat bulir-bulir air mata yang membasahi wajah cantik gadis dihadapannya.
"Dia menangis?" Ucapnya pelan. Tanpa menunggu persetujuan Rea, ia langsung memeluknya.
"Mengapa kamu menangis?" Ucapnya pelan seraya mengelus-elus lembut pucuk kepalanya.
"Dasar b******n! Jangan menyentuhku! Hiksss..!" Rea berteriak sesegukan. Ia meronta, berusaha lepas dari pelukan Dava, namun kekuatan pria itu sama sekali bukanlah tandingannya.
"Ssttt! Tidurlah!" Ucapnya lagi dengan nada lembut.
"Dasar b******n! Kamu b******n Dava. Es balok! Aku membencimu!" Rea mengigau tanpa henti. Perlahan ia memejamkan matanya. Entah mengapa, setelah pria itu memeluknya, ia merasa tenang dan nyaman.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah aku yang seharusnya marah, karna dia meninggalkan ku begitu saja? Tapi.. dia sudah memakiku lebih dulu!" Gumam Dava tak mengerti
"Huh, dasar wanita jahat!" Lanjutnya lagi. Lalu ia membopong tubuh Rea menuju ke kamar.
TBC
Halo para readers setiaku..
Jangan lupa kasih jempol, komen and votenya ya sayπ Maaf lama update..
__ADS_1
Terimakasih untuk kalian yang masih setia dimari!
I lovyu allπ