
Dava segera beranjak kedalam rumah. Kini, ia telah berada dibalik pintu kamar Rea. Ia menghela nafasnya perlahan, berusaha untuk membuang rasa tegangnya. Ia menggerakkan tangannya, hendak meraih gagang pintu. Namun tangannya terhenti. Ia tidak tahu harus memulainya dari mana.
"Apa yang harus ku katakan padanya? Lagipula.. aku tidak pernah membujuk wanita sebelumnya. Dan lagi.. mengapa dia marah padaku?" Batinnya.
Ia menekuk dagunya di tangan kekarnya. Berkali-kali ia mencoba mengingat, entah kesalahan apa yang sudah ia lakukan. Tapi tidak juga menemukan jawabannya. Sang ibu mertua yang hendak beranjak ke dapur, kembali menghampirinya. Ia terheran mengapa menantunya ini masih saja berdiri diluar pintu.
"Apa Rea tidak membuka pintu?" Tanyanya mengagetkan Dava. Ia merasa syok, kala mendengar suara sang mertua.
"Nggak kok, ma." Ucapnya sambil mengibaskan tangannya.
"Terus.. kenapa nak Dava masih diluar, nggak masuk ke dalam?" Tanyanya lagi.
"Ini.. Dava baru aja mau masuk, ma!" Dava menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Kini, ia benar-benar sangat canggung.
"Yaudah. Kamu masuk gih. Kelamaan berdiri.. nanti kakimu jadi kram, kesemutan." Gurau wanita setengah baya itu. Ia pun berlalu pergi disertai dengan senyum mengembangnya.
Setelah kepergiannya, Dava pun segera menuntaskan misinya. Ia mulai mengetuk pintu dengan ragu-ragu. "Tok..tok..tok! Pada ketukan ketiga, terdengar suara khas Rea yang sedang menggerutu.
"Apalagi sih, ma? Rea mau istirahat!" Mendengar hal itu, Dava kembali mengerutkan keningnya.
"Baru juga diketuk, tapi udah marah-marah aja." Batinnya protes.
Namun ia tidak berhenti. Ia kembali mengetuk pintu yang akhirnya dibukakan oleh si empunya kamar.
"Apaan sih ma? Rea mau.." Rea mengatupkan mulutnya, kala melihat orang dihadapannya bukanlah sang mama.
"Kamu?" Ucapnya lagi. Ia memutar matanya malas dan hendak menutup pintu. Tapi langsung ditahan oleh Dava. Mau tidak mau, Rea terpaksa membiarkannya masuk. Meski dalam hati, ingin rasanya segera menghabisi pria itu sekarang juga.
Kini, keduanya telah duduk di tepi ranjang. Dava terdiam sejenak, tidak tahu harus memulai darimana. Melihat sikap Rea yang masih mengabaikannya, jadi ia merasa serba salah.
"Katakan.. apa tujuan mu kemari?" Ketus Rea dengan wajah datar. Dava pun segera mengangkat kepalanya. Ia menatap Rea yang tak sedikitpun menoleh padanya sedari tadi.
"Itu.. mengapa kamu pergi dari rumah?" Tanyanya penuh hati-hati.
"Kamu jauh-jauh datang kesini.. apa hanya untuk menanyakan hal ini?" Sahut Rea bertanya kembali. Kini, ia sudah mengalihkan pandangannya menatap manik Dava. Setelah adanya anggukan kepala dari pria di hadapannya, ia langsung tertawa menyeringai. "Heh! Lalu ekspresi wajahnya berubah menjadi sangat marah.
"S**t man!" Umpatnya sudah mengepalkan tangannya. Ia berpikir kalau Dava akan meminta maaf padanya. Tapi nyatanya tidak. Dava malah bersikap seolah tak bersalah padanya. Berbeda dengan Dava, ia semakin tampak bingung. Baru saja, Rea mengumpat dirinya, yang ia sendiripun tidak tahu alasan sebenarnya.
"Kenapa.. kenapa kamu marah?" Tanya Dava kebingungan. Ia mengusap wajahnya perlahan disertai dengan nafas panjangnya.
"Dasar wanita! Benar-benar makhluk yang sulit ditebak! Apa yang harus ku katakan lagi? Aku benar-benar serba salah sekarang!" Gumamnya dalam hati.
"Dasar b*****h! AKU BENCI...! AKU BENCI PADA MU!" Teriak Rea sambil memukul-mukul dada bidang Dava.
"Kamu.. pria b******n!" Lanjutnya berteriak. Kini, wajahnya telah dibanjiri oleh deraian air mata, yang membuat Dava semakin merasa bersalah. Ia lalu membawa Rea kedalam dekapannya. Meski Rea sempat memberontak, tapi tidak dipedulikannya sama sekali.
__ADS_1
"Hiks..hiks..hiks! Rea menangis cukup lama. Tapi, ada rasa nyaman dihatinya setelah Dava memeluk dirinya. Entah mengapa, pria itu seolah menjadi obat penenang baginya.
"Kalau aku punya salah.. kamu harus mengatakannya padaku. Jangan hanya diam membisu. Agar aku tahu memperbaiki diriku kedepannya." Ucap Dava sembari memegang kedua pipi mungil sang istri.
"Kamu tahu sendiri.. kalau aku tidak pernah dekat dengan wanita manapun seumur hidup ini. Jadi, aku sama sekali tidak tahu bagaimana menyenangkan hati wanita. Aku tidak berpengalaman!" Lanjutnya lagi sembari mengusap air mata Rea. Setelah mencerna perkataannya barusan, barulah Rea membuka mulutnya.
"Kalau aku mengatakan.. bahwa aku, aku menyukaimu. Lalu apa jawaban mu?" Ucapnya jujur. "Glek! Dava menelan salivanya. Mulutnya terbungkam rapat saat mendengar pengakuan dari wanita dihadapannya. Sedangkan Rea, ia langsung melepas rangkulan Dava di pinggangnya. Ada rasa kecewa dihatinya, karna Dava hanya terdiam tak berucap.
"Pulanglah! Kamu masih harus bekerja besok!" Ucapnya sembari berjalan menjauh dari hadapan Dava. Ia menahan air matanya, yang sudah diujung tanduk.
"Aku.. aku akan mengurus surat perceraian kita." Lanjutnya lagi. Mendengar hal itu, Dava langsung menggelengkan kepalanya. Ia berjalan menghampiri Rea.
"Tidak! Hal itu tidak akan terjadi." Ucapnya sudah memeluk tubuh Rea dari belakang. Rea langsung membalikkan badannya, menghadap kearahnya.
"Untuk apa, huh? Untuk apa kamu mempertahankan rumah tangga.. yang jelas-jelas tidak ada cinta diantara kita? Itu hanya akan sia-sia saja. Lebih baik kita menyerah saja!" Ucapnya sedikit berteriak. Dava kembali menggelengkan kepalanya. Namun tidak dihiraukan oleh Rea.
"Pulanglah! Aku tidak akan kembali lagi! Kamu tidak perlu mengasihaniku" Lanjutnya. Kini, air matanya telah berlinang tanpa henti. Dava sendiri langsung mengusapnya dengan lembut.
"Kamu bisa berpikir untuk menyerah. Tapi, aku.. aku tidak akan melakukannya sayang!" Ucapnya berusaha meyakinkan Rea. Meski ia juga tidak tahu alasan dia mengatakan hal itu. Mungkinkah ia sudah mulai ada rasa dengan sang istri? Ia tidak tahu. Yang ia rasakan adalah rasa sakit hati, ketika Rea menyebutkan perceraian di hadapannya.
"Untuk apa kamu menahan ku? Kamu jelas-jelas tidak menyukai ku! Berhentilah membuat ku terus berharap! Apa menurut mu.. ini lelucon? Apa kamu senang dengan semua ini? Kamu adalah pria terkutuk! Dasar es balok!" Teriaknya tanpa henti. Rea mengalihkan pandangannya kearah lain. Namun air matanya, tiada usai berhenti sejak tadi.
"Aish! Mengapa aku harus bertemu dengan pria seperti mu?" Rea mengusap bulir-bulir air matanya. Dava pun segera meraih tangannya.
"Jadi, tolong ajari aku. Ajari aku untuk mencintaimu. Tolong beri aku kesempatan!" Pinta Dava memohon. Ia menggenggam erat kedua tangan mungil Rea disertai dengan wajah memelasnya. Rea sempat terdiam dan berpikir untuk menolak permintaan Dava. Setelah beberapa saat kemudian, barulah ia membuka mulutnya.
"Kamu harus percaya padaku. Aku akan berusaha!" Timpal Dava serius. Namun Rea kembali dibuat bimbang dengan wanita di restoran saat itu.
"Bagaimana dengan.. gadis di restoran saat itu? Kamu bilang tidak pernah dekat dengan wanita manapun. Lalu.. dia siapa?" Kesal Rea menatap tajam kearah Dava. "Hah? Dava mengerutkan alisnya. Tiba-tiba ia mencubit kecil pipi mungil Rea.
"Maksud mu adalah.. Mila?" Tanyanya terkekeh.
"Aku tidak peduli siapa namanya!" Ketus Rea masih dengan kekesalannya.
"Apa kamu.. cemburu padanya?" Goda Dava, yang membuat wajah Rea bersemu kemerahan. Dava tidak mengerti mengapa Rea bisa cemburu hanya karna seorang Mila saja, yang jelas-jelas ia anggap sebagai adiknya sendiri. Ia memang tidak menyadari kalau Mila ternyata menyukai dirinya.
"Aku tidak!" Bantah Rea tak ingin mengakui. Namun Dava tidak lagi memperpanjangnya. Ia kembali membawa Rea kedalam dekapannya.
"Jangan khawatir! Dia bukan siapa-siapa! Mulai sekarang.. hanya kamu satu-satunya wanita yang akan mengisi hatiku." Sahut Dava lembut. Ia mengecup kening Rea dengan mesra. Sedangkan Rea, sudah tersipu malu sejak tadi. Ada rasa senang, sedih yang tersimpan dihatinya. Ia senang, suaminya menolak bercerai dengannya. Terlebih mengetahui tentang posisi Mila dihatinya. Tapi ia juga sedih, entah ia bisa atau tidak membuat Dava membuka hatinya untuknya.
"Semoga kamu bisa mencintaiku kelak. Karna jujur saja. Aku hanya ingin membangun rumah tangga bersamamu selamanya!" Batin Rea penuh harap.
Ia menatap manik Dava dengan dalam. Seketika ia mengecup bibir pria itu sekilas.
"Aku mencintaimu!" Ucapnya penuh arti. Dava hanya tersenyum padanya. Untuk saat ini, ia belum bisa membalas perasaan Rea. Meski ia sudah terbiasa dengan kehadirannya.
__ADS_1
"Jadi, apa nona setuju untuk pulang bersamaku?" Goda Dava yang membuat Rea terkekeh geli. Ia lalu menganggukkan kepalanya.
Baru saja keduanya berpikir untuk pulang, tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk. "Tok..tok.. tok!
"Rea.. makan malam udah mama siapin nih. Ajakin suami mu. Kita makan sama-sama!" Ternyata orang dibalik pintu adalah mamanya. Rea tampak menghela nafasnya. Ia berteriak kecil, menyahut sang mama.
"Iya, ma!"
Kemudian, keduanya keluar menuju ke meja makan. Disana, ayah serta adiknya telah menunggu mereka sejak tadi.
"Kakak, kok lama banget sih?" Protes Gio, yang langsung mendapat tatapan tajam dari sang mama.
"Udah, Gio. Jangan banyak protes deh." Kesal mamanya. Gio hanya bisa menelan ludah. Karna memang, sejak kakaknya menikah, entah mengapa ia tidak diperbolehkan lagi untuk menjahilinya seperti biasa. Sementara Rea dan Dava hanya bisa tersenyum saling bertukar pandang.
"Yaudah, kita makan yuk? Jangan pada bengong!" Ajak si Tuan rumah. Lalu mereka pun langsung menyantap makanan yang telah dihidangkan.
"Di dapur"
Setelah makan malam usai, Rea membantu mamanya mencuci piring-piring kotor bekas makan tadi. Sementara Dava, ia diajak oleh ayah mertuanya untuk bermain catur bersamanya.
"Rea..!" Ucap mama Laila disela-sela kesibukannya.
"Iya, ma?" Sahut Rea menoleh.
"Apa masalah kamu dan suamimu udah kelar?" Tanyanya. "Hah? Rea mendongak mendengarnya.
"Itu..." Belum sempat Rea berucap, langsung didahului oleh mamanya.
"Mama nggak akan kepo, kok. Tapi Rea.. kamu harus ingat! Kalau ada masalah.. jangan langsung datang kerumah mama. Bukannya mama melarang kamu. Mama senang kok, dijenguk sama putri kesayangan mama ini. Tapi, kalau ada masalah.. sebisa mungkin kamu harus mendiskusikannya dengan suamimu. Itulah gunanya kita berumah tangga. Dia sudah menjadi suamimu. Tempat berteduh dan teman untuk saling bertukar pikiran. Jadi, apa-apa jangan langsung pulang kerumah mama. Apa kata orang nanti? Terlebih juga mertuamu. Bisa-bisa mereka jadi salah paham kan?" Ucapnya menasehati. Rea menghentikan kesibukannya dan langsung berhambur kedalam pelukannya.
"Iya, ma! Rea akan belajar dari hari ini." Ucapnya semakin mempererat pelukannya. Wanita setengah baya itu lalu mengusap-usap rambut Rea dengan lembut. Tiba-tiba saja, matanya berkaca-kaca.
"Mama minta maaf ya, sayang. Gak seharusnya mama memaksamu menikah dengan menantu pilihan mama." Ucapnya merasa bersalah. Namun Rea malah menggelengkan kepalanya.
"Mama gak pernah salah! Aku tahu, mama hanya ingin yang terbaik untukku." Ucapnya sembari memegang kedua tangan mamanya.
"Dava adalah orang baik. Dan.. Rea nggak pernah menyesal menikah dengannya. Rea janji ma! Rea akan lebih dewasa kedepannya! Mama jangan khawatir ya? Rea bahagia kok!" Lanjutnya lagi berusaha meyakinkannya. Keduanya menangis haru dalam pelukan hangat mereka.
"Jadi, segeralah beri mama cucu. Mama udah gak sabar!" Goda mamanya yang membuat Rea terkekeh malu.
"Mama.. apaan sih?" Gerutunya. "Hahahah..! Keduanya terkekeh bersama-sama.
TBC
Halo para readers setiaku:)
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejaknya sayπ
I lovyu allπ