
Setelah acara makan malam keluarga usai, pasangan pengantin baru itu segera berpamitan kepada orang tua mereka dan langsung pulang ke rumah. Di sepanjang perjalanan, keduanya hanya sibuk dengan urusan masing-masing. Dava sibuk menyetir, sedangkan Rea sibuk memainkan ponselnya. Beberapa menit kemudian, Rea berhenti mengotak-atik ponselnya. Ia sudah lelah sekaligus mengantuk. Karna tak kuasa menahan kantuknya, ia menyandarkan kepalanya ke punggung kursi yang ia duduki.
Seketika ia memejamkan matanya dan tertidur pulas. Dava meliriknya sekilas dan sedikit menyerngit seolah memikirkan sesuatu.
"Apa dia selalu seperti ini? Habis makan tidur? Tapi, meskipun tertidur.. ia tetap cantik." Ucapnya tanpa sadar.
Tak menunggu waktu lama, mobil yang mereka kendarai tiba di rumah mereka tinggal. Dan langsung disambut oleh sang asisten.
"Selamat malam, Tuan!" Sahutnya sopan dan dibalas anggukan oleh Dava. Melihat Nyonya nya sedang tertidur, sang asisten berinisiatif untuk menggendong dan membawanya ke dalam rumah. Karna biasanya, Dava tidak pernah mau menyentuh wanita manapun.
Dia berjalan ke arah pintu dimana Nyonya nya duduk ketiduran. Belum sempat ia meraih pintu mobil, ia langsung dibentak oleh Dava.
"Mau apa kamu?" Teriak Dava.
Sontak sang asisten menghentikan tangannya. Ia terkejut dengan bentakan tuannya sembari menelan salivanya dengan kasar.
"Ehh.. ini, ini. Maaf Tuan! Saya, saya tidak ada maksud lain. Saya hanya ingin membantu Nyonya!" Sahutnya terbata.
"Tidak perlu. Aku bisa melakukannya!" Ucap Dava tegas, menunjukkan wajah dinginnya.
"Ehhh.." Lagi-lagi ia terkejut.
"Biasanya.. Tuan tidak akan pernah berdekatan apalagi bersentuhan dengan seorang wanita. Tapi, mengapa? Sepertinya.. Tuan tertarik dengan nyonya?" Gumamnya dalam hati.
"Tunggu apalagi? Kamu pulanglah!" Sahut Dava lagi dengan wajah kesalnya.
"Baik, baik Tuan" Ucapnya sambil tersenyum pahit. Lalu segera berlalu pergi dari sana. Dia tidak mau melihat tuannya itu marah bagai singa yang kelaparan.
Sementara itu, Dava sudah menggendong tubuh mungil sang istri dan segera beranjak masuk ke dalam. Dan membawanya menuju ke kamar si gadis cerewetnya itu.
"Di dalam kamar"
Setiba di dalam kamar, Dava langsung membaringkan tubuh mungil Rea di atas ranjang. Lalu menyelimutinya dengan hangat.
__ADS_1
Ia menatap lekat wajah si empunya kamar. Sesaat kemudian, ia menciumnya dengan lembut.
"Dasar pemalas! Selalu saja tertidur!" Ucapnya pelan. Kemudian ia duduk di tepi ranjang sambil memainkan ponselnya.
Seketika ia bangkit berdiri. Ia berpikir untuk kembali kerumah sakit. Ya, seperti biasa. Dia akan bekerja sepanjang waktu untuk menghindari mimpi buruknya.
"Sebaiknya aku pergi bekerja. Tidak ada yang bisa ku lakukan sekarang. Tidur pun susah" Gumamnya dalam hati.
"Huh" Ia membuang nafasnya dengan kasar.
Tiba-tiba tangannya ditahan oleh Rea, membuatnya berhenti melangkah. Dia menoleh kebelakang dan menyerngitkan dahinya.
"Kamu mau kemana? Jangan pergi!" Sahut Rea setengah sadar. Ia masih memejamkan matanya.
"Hahh?" Dava kaget mendengarnya. Tapi, ia tetap bersikeras untuk kembali ke rumah sakit.
"Aku akan meminta bibi menemanimu. Aku harus pergi!" Ucapnya pelan sambil mengusap wajah Rea dengan lembut.
Namun, lagi-lagi Rea menahan tangannya.
Melihat wajah sendunya, membuat Dava tidak tega meninggalkannya. Dia kembali teringat dengan kakaknya. Rasanya ingin lenyap saja dari dunia ini, tapi begitu banyak orang yang mencintainya. Dan lagi, ia belum membalaskan dendam kakaknya. Ia menarik nafasnya panjang lalu membuangnya dengan kasar. Kemudian, ia mengusap wajahnya dengan kasar dan menarik rambutnya dengan kuat.
"Aku benar-benar tidak berguna!" Ucapnya sedikit berteriak dan sudah menitikkan air mata. Setiap orang pasti akan terluka, jika kehilangan seseorang yang dicintai. Bahkan depresi hingga gila bisa terjadi. Tapi, yang pria ini alami adalah selalu dihantui oleh mimpi buruk tentang kejadian masa lalu kelamnya malam itu. Bukannya dia menginginkannya, tapi kejadian itu selalu menghantuinya hingga saat ini. Jika bisa memilih, dia ingin menggantikan kakaknya yang malang itu.
Dia menangis seperti orang bodoh. Tiba-tiba, Rea menarik tangannya, hingga tubuhnya terbaring di samping Rea.
"Jangan pergi!" Sahut Rea lagi dengan wajah sendunya. Dava kembali menatapnya dengan deraian air mata masih mengalir di wajah tampannya. Sontak ia memeluk Rea dengan erat. Rea juga membalas pelukannya dengan hangat. Entah dia sedang bermimpi atau apa, hanya dia yang tahu.
"Tetaplah seperti ini!" Sahut Dava pelan.
Beberapa saat kemudian, keduanya sudah tertidur pulas dengan posisi berpelukan. Ini adalah kali pertama bagi Dava, ia bisa tertidur dengan lelap selama belasan tahun terakhir.
"Di Hotel Mutiara"
__ADS_1
Sementara di hotel Mutiara, hotel bintang lima, tampak dua orang pasangan muda sedang berduaan di kamar suite hotel tersebut. Keduanya tengah asyik berciuman hingga ke hal yang lebih sensitif. Tangan pria itu tengah asyik bergerilya di area sensitif si wanita. Begitupun dengan si wanita itu. Ia tidak menolaknya sama sekali. Malahan, ia tampak menikmatinya. Siapa lagi kalau bukan Rio dan juga Jelly. Mereka sudah terbiasa menghabiskan malam berdua tanpa diketahui oleh Rea. Ternyata, sahabat terbaiknya mengkhianati dirinya yang sudah menganggapnya sebagai saudara sendiri.
Setelah beberapa lama kemudian, keduanya kembali berbaring dengan normal. Keduanya tampak masih ngos-ngosan. Rio memeluk Jelly yang tampak kelelahan.
"Apa kamu lelah?" Tanya Rio sambil mengusap lembut wajah wanita dihadapannya itu. Jelly hanya menggeleng, tanpa berbicara. Lalu, ia segera memeluk Rio dengan erat, membuat si pria tertawa kecil.
"Haha.. ada apa?" Ucapnya pelan.
"Kamu sudah berjanji padaku. Putuskan Rea secepatnya!" Sahut Jelly ketus. Ia menatap wajah Rio, sambil memicingkan matanya. Tersirat banyak pertanyaan di benaknya.
"Tentu saja. Tapi, kamu harus sabar sayang! Aku berjanji! Hanya kamu satu-satunya wanita yang ku cintai." Balasnya sambil mencium kening wanitanya itu. Dan dibalas anggukan olehnya.
Tiba-tiba... ponsel Rio berdering. Ia segera mengambil benda pipih tersebut dari atas nakas samping tempat tidurnya. Ternyata, panggilan telepon dari sang ibu.
"Kenapa ibu tiba-tiba menelpon di saat seperti ini? Apa ada masalah?" Gumamnya dalam hati.
Lalu, ia segera mengangkatnya.
"Halo, Bu! Ada apa?" Sapanya dengan lembut sambil berjalan menuju ke balkon kamar. Ia menyalakan rokoknya lalu menghisapnya dengan lembut.
"Ibu ingin bertemu dengan mu besok. Dimana kamu? Apa kamu tidak pulang lagi malam ini? Wanita mana yang kau ajak tidur malam ini?" Celotehnya tak berhenti. Ia tahu persis kalau Rio memang selalu bermain-main dengan para wanita dan tanpa identitas yang jelas.
"Hemm. Aku tau apa yang kulakukan. Bu.. aku sudah dewasa. Bukan anak-anak lagi. Aku harus beristirahat. Selamat malam, ibu,!" Sahutnya pelan lalu mematikan ponselnya secara sepihak.
Jelly yang penasaran dengan si penelepon barusan, segera menghampiri Rio.
"Siapa?" Tanyanya penuh selidik.
"Hemm. Itu adalah ibu. Dia ingin bertemu dengan ku besok!" Sahutnya.
"Ibu?" Tiba-tiba ia menjadi merasa senang.
"Kalau begitu.. aku akan ikut dengan mu besok menemuinya!" Balasnya dengan senyum mengembangnya.
__ADS_1
Rio hanya menganggukkan kepalanya tanpa mempermasalahkannya.
TBC