MARRIAGE CONTRACT WITH THE COLD DOCTOR

MARRIAGE CONTRACT WITH THE COLD DOCTOR
Bab 13: Ini salahku!


__ADS_3

Rumah terlihat sangat sepi. Semua para pelayan diliburkan oleh Dava untuk beberapa hari ke depan. Karna memang mereka tidak mengambil cuti dalam beberapa bulan terakhir untuk ikut andil dalam mengurus acara pernikahan mereka yang telah lalu. Waktu menunjukkan pukul 5 sore.


Kini, Dava masih berada di ruang fitness. Dia memang seorang pria pecinta olahraga. Meski sibuk bekerja, namun dia tetap menjaga kebugaran tubuhnya. Sementara Rea, ia masih dalam posisi rebahannya di ruang keluarga, sambil menonton drama kesayangannya. Meski hobi menonton, namun dia tidak akan lupa waktu.


Beberapa saat kemudian, ia bangkit dari rebahannya, lalu mematikan ponselnya dan meletakkannya di atas meja. Ia menatap jam dinding ruangan tersebut.


"Emm? Udah jam setengah enam ternyata?" Gumamnya pelan, sembari meregangkan otot-ototnya yang kaku. Ia mendengusi aroma tubuhnya, terutama di bagian ketiak.


"Aihkk... bau!" Ucapnya merasa jijik.


"Mandi dulu deh! Biar wangiiii... la,la,la,la... emm, la,la..." Ucapnya lagi sembari bernyanyi kecil tanpa lirik๐Ÿ˜… Lalu ia segera bergegas naik ke atas menuju kamarnya untuk membersihkan tubuhnya.


Tak menunggu waktu lama, ia turun dengan memakai dress rumahan selutut, berwarna hitam. Ia mengikat rambutnya asal, menampakkan leher jenjangnya yang halus. Dan tak lupa, ia memakai sendal rumahan mungilnya berwarna merah muda. Perlahan ia berjalan, namun matanya tak berhenti menoleh ke setiap sudut ruangan, seolah mencari seseorang. Siapa lagi kalau bukan si empunya rumah, alias suami kontraknya. Memang sedari tadi, pria itu belum menampakkan batang hidungnya sama sekali.


"Kruyuk..kruyuk.. kruyuk! Perutnya berbunyi. Ia segera menghentikan langkahnya.


"Aduh lapar banget lagi. Masak sendiri kali, ya? Tapi, mau masak apa coba?" Gerutunya pelan. Tiba-tiba, ia tersenyum lebar.


"Hehehe.. aku tau mau masak apa sekarang! Si es kutub kan gak suka makan makanan pedas. Kerjain ahk! Biar dia tau rasa. Makan ini gak boleh, makan itu gak boleh! Huh, dia belum tau aja, kalau makanan pedas itu.. beuhhh, damagenya uwu sekali, hahahaha...! Enak banget deh pokoknya!" Lanjutnya lagi sambil tertawa kegirangan. Kemudian ia kembali berjalan menuju ke dapur.


"Di dapur"


Ia memulai aksinya. Mulai dari memotong-motong berbagai macam sayuran, bawang dan bahan-bahan lainnya. Hari ini, dia akan memasak sayur tauco pedas dan juga ayam goreng pedas. Intinya, makanan-makanan pedas. Karna ia berniat mengerjai Dava.


"Hehehe.. selamat datang di neraka, tuan Dava yang terhormat!" Ucapnya tersenyum licik. Ia kembali melanjutkan aksinya. Rea tidak diragukan lagi. Selain pintar di bagian akademik, ia juga ahli dalam hal masak-memasak. Karna ibunya telah mengajarinya sejak ia duduk di bangku SMP.


"Oke, guys.. kita tambahkan air secukupnya, dan jangan lupa tambahkan garam ya! Lalu, kita cicipi dulu. Kalau rasanya kurang, tambahkan lagi sejemput garamnya. Makanan siap disantap, bla..bla..bla!" Seperti biasa, saat memasak.. Rea akan berubah menjadi vlogger dadakan tanpa gaji๐Ÿ˜‚


Di sela-sela memasaknya, ternyata ada sepasang mata yang memperhatikan aksinya sejak tadi. Siapa lagi kalau bukan Dava. Ia telah berada disana setengah jam yang lalu. Tanpa Rea ketahui. Sesekali ia tersenyum tipis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat keanehan Rea.


"Dasar makhluk aneh, hahaha!" Ucapnya pelan, sambil tertawa kecil.


Cukup lama ia berdiri di sana, kemudian ia beranjak pergi ke atas menuju kamarnya. Ia akan membersihkan tubuhnya dahulu, sebelum makan malam.


"Di meja makan"


Semua hidangan telah tertata rapi di meja makan. Rea juga sudah duduk manis disana, sembari menunggu si bos untuk ikut makan bersamanya. Air liurnya hampir berjatuhan, karna ia sudah tergiur dengan makanan-makanan dihadapannya itu.


"Aduh.. si es kutub kemana sih? Lama banget, mana udah lapar lagi. Bisa-bisa perutku keisi angin duluan nih!" Gerutunya pelan.


Makan-makanan itu seolah dapat berbicara dan menyuruhnya untuk segera menghabiskannya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Dava turun dengan memakai celana pendek berwarna navy, dipadukan dengan sweater hitamnya. Tangan kanannya, ia masukkan ke dalam kantong celananya. Dava tampak cool dan fresh. Rea sampai menganga melihat penampilan nya sekarang.


"Aduhhh.. si es kutub kok bisa setampan ini ya?" Gumamnya pelan sambil tersenyam-senyum. Ia menekuk wajahnya dengan kedua tangannya. Tiba-tiba ia tersadar dan memukul pelan jidatnya.


"Apa sih Rea? Dia itu manusia es kutub! Lagipula, Rio itu jauh lebih baik darinya!" Lanjutnya lagi. Lalu ia berdehem dan membenarkan posisi duduknya.


"Ehem, silahkan duduk Tuan! Dan selamat menikmati! Semoga Anda menyukainya!" Ucapnya sambil tersenyum paksa. Sementara Dava, ia segera duduk tanpa menjawabnya.


"Cih! Dasar es kutub! Apa susahnya berbicara sedikit untuk menghargai ucapanku barusan?" Gerutunya kesal.


Tapi, ia kembali tersenyum licik.


"Hehehe.. apa dia akan menangis seperti anak kecil? Aku menantikannya!" Gumamnya pelan.


Setelah keduanya berdoa, barulah mereka makan. Dan Rea sangat berbeda hari ini. Ia tampak lebih perhatian dari sebelumnya. Meski karna dia ada niatan untuk mengerjai Dava.


"Ini sangat enak! Dan ini sangat cocok untuk.. bla..bla..bla!" Ia tampak seperti seorang ibu yang sedang memberi anaknya makan.


"Sudah, cukup! Ini cukup!" Sahut Dava, berusaha menghentikan Rea. Namun Rea tak putus asa. Ia memicingkan matanya, seolah mengejeknya agar rencananya berhasil.


"Apa kamu sedang diet? Aihk.. aku saja sudah seorang wanita, tidak memikirkan tentang hal itu. Apa kamu takut gemuk? Atau.. takut tubuhmu tak berbentuk lagi? Hahaha.." Tawa Rea pecah. Ia tak ada hentinya mengejek Dava.


"Baiklah, baiklah, hahaha..! Tapi, kamu harus menghabiskannya! Mengerti?" Ucapnya dengan nada mengancam.


"Apa dia akan pingsan setelah memakannya? Hahaha.." Gumamnya dalam hati.


Sementara Dava, ia merasa ada yang salah dengan wanita dihadapannya itu.


" Apa dia sudah gila? Kenapa dia terus-terusan tertawa? Tapi, perasaan ku tidak enak. Apa yang akan terjadi?" Batinnya.


Tanpa pikir panjang, Dava segera memakan makanan yang ada di piringnya itu dengan cepat. Tiba-tiba...


"Ugh, sakit..!" Ucapnya pelan sambil memegangi perutnya. Ia tampak pucat dan sudah berkeringat dingin.


Sementara Rea, ia tertawa melihatnya. Ia berpikir bahwa Dava hanya berpura-pura saja sekarang.


"Hahaha... dasar es kutub! Masa makan cabe aja gak bisa?" Ledeknya terkekeh.


"Prang! Gelas yang dipegang Dava terjatuh ke lantai. Ia semakin meringis kesakitan. Saat itulah Rea menyadarinya kalau Dava benar-benar tidak bercanda. Secepat kilat ia berlari kecil memutari meja ke arah Dava. Lalu dipegangnya punggung Dava pelan.


"Ada apa? Kamu kenapa? Aku, aku tidak ada menaruh racun di dalam makanan ini!" Ucapnya merasa khawatir.

__ADS_1


"Ugh, sakit!" Dava kembali meringis sambil memejamkan matanya.


"Baiklah, baiklah! Kita ke sofa dulu!" Sahut Rea. Lalu, memapah tubuh Dava menuju ke sofa ruang tamu. Ia membaringkan Dava di sana, diatas sofa.


"Ini semua salahku! Apa yang harus ku lakukan?" Ucapnya merasa bersalah.


"Ambilkan, ambilkan obat... uh, obat di laci ruang kerjaku, huh..." Sahut Dava dengan nafas tidak teratur.


"Baiklah! Sahut Rea singkat. Ia segera berlari bagai ninja ke ruang kerja Dava. Hanya ada sebotol obat di laci tersebut. Ia mengambilnya, dan kembali berlari menuju ke bawah.


"Di ruang tamu"


"Hosh, ini.. ini obatnya!" Sahut Rea sembari menyerahkan obatnya. Dava segera meminumnya, barulah ia merasa baikan. Ia memejamkan matanya, masih memegang perutnya dengan erat. Tidak tega melihatnya kesakitan, Rea juga ikutan menempelkan tangannya ke perut Dava. Perlahan, ia memijat-mijat area tersebut. Setelah membaca kegunaan obat itu, ia baru mengetahui kalau Dava terkena gangguan pada lambung. Dan tidak diperbolehkan mengonsumsi makanan yang mengandung banyak minyak dan cabai.


"Dasar Rea bodoh! Ini semua salahmu! Hanya ingin mengerjainya saja, tapi bisa sampai begini. Kenapa kamu tidak hati-hati sih? Bagaimana jika nyawanya terancam?" Sahut Rea mengutuki dirinya sendiri. Namun, ucapannya barusan didengar oleh Dava.


Ia memakluminya. Mungkin karna kesal dengannya, jadi Rea berniat mengerjainya. Jika dia tahu sejak awal, tidak mungkin dia akan melakukannya.


"Berhenti menyalahkan diri mu! Ini bukan salahmu!" Sahut Dava masih dengan mata terpejam.


"Ehhh, huh? Oh..!" Rea gelagapan menjawabnya.


"Berbaringlah di samping ku!" Sahut Dava lagi.


"Apa? Ber.. berbaring?" Tanya Rea tak percaya.


"Benar. Hitung-hitung untuk menebus dosa mu kali ini!" Ucapnya pelan.


"Benar juga. Ini memang salah ku!" Batin Rea. Kemudian, ia mengiyakan perkataan Dava barusan. Ia membaringkan tubuhnya di samping pria dingin itu. Tiba-tiba Dava memeluk erat tubuhnya.


"Ehh, apa yang kamu lakukan?" Tanyanya khawatir.


"Jangan banyak bertanya! Aku hanya ingin memelukmu saja!" Sahut Dava dengan nada malas. Nafasnya terasa hangat berhembus ditelinga Rea.


"Kamu belum makan apa-apa!" Timpal Rea. Ia kembali merasa khawatir.


"Aku tidak lapar lagi. Aku ingin tidur sekarang!" Sahutnya lagi. Ia semakin mempererat pelukannya sembari tersenyum tipis.


"Baiklah!" Sahut Rea tidak lagi mempermasalahkannya sekarang.


TBC

__ADS_1


__ADS_2