MARRIAGE CONTRACT WITH THE COLD DOCTOR

MARRIAGE CONTRACT WITH THE COLD DOCTOR
Bab 19: Kesal


__ADS_3

Keesokan paginya..


Hari ini, Rea bangun agak kesiangan dari biasanya. Begitupun dengan Dava. Ia merasa nyaman tidur disamping sang istri. Hingga jam sudah menunjukkan pada pukul 9, namun kedua insan pasangan suami-istri itu, tak kunjung bangun juga.


Berselang beberapa waktu, terdengar suara ketukan pintu dari luar. "Tok..tok..tok! Mendengar hal itu, Rea membuka matanya dengan berat dan mengusapnya perlahan. Saat ia hendak beranjak untuk membuka pintu, tiba-tiba ia menyerngitkan dahinya. Perutnya terasa berat, seperti ada yang menimpa.


"Apa yang menimpa perut ku?" Gumamnya dalam hati.


Lalu, ia meraba perutnya yang rata dan tak sengaja bersentuhan dengan tangan pria disampingnya. Ia terbelalak seraya menatap Dava dengan matanya yang sudah membulat. Berungkali Rea mencoba untuk melepaskan pelukannya, namun kekuatan Dava tidak sebanding dengan dirinya. Bahkan sekarang, ia sedikit kesulitan untuk bernapas.


Mendengar suara ketukan pintu tak kunjung berhenti, mau tidak mau Rea harus membangunkannya dulu agar ia terlepas dari pelukan erat tubuh Dava. Tanpa menunggu persetujuan dari Dava, ia langsung menarik hidungnya. Hal itu membuat Dava sedikit meringis. "Ahh.." Ia mengigau agak keras.


"Haha..! Rasakan kamu! Siapa suruh memelukku sembarangan! Dasar es balok!" Ucapnya seraya tertawa jahat.


Namun bukan Dava namanya, jika ia tidak bisa menjahili Rea. Sekarang, ia semakin mempererat pelukannya seraya tersenyum licik.


"Ingin menjahiliku? Akulah rajanya!" Batin Dava senang.


Dan benar saja. Rea sampai keheranan melihatnya.


"Ternyata dia semakin berani? Dasar es balok!" Lagi-lagi Rea hanya bisa mengumpat dalam hati.


"Lepaskan! Atau aku akan..' belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Dava langsung memotongnya.


"Akan apa?" Godanya dengan manja. Kini, ia semakin berani. Dava menempelkan wajahnya dileher jenjang Rea. Hal itu membuatnya merasa sedikit geli.


"Ughhh..!" Wajahnya sudah memerah bagai tomat, tidak mampu berkata-kata lagi. Dava yang menyadarinya, malah tertawa bahagia dalam hati.


"Begini saja, sudah tersipu malu! Bagaimana dengan itu nanti?" Batinnya senang.


"Kamu.. kamu, lepaskan!" Titah Rea lagi seraya memukul pundak Dava.


"Tidak! Aku suka dengan aroma tubuhmu!" Sahut Dava pelan, masih mendengusi aroma tubuh istrinya. Hembusan nafasnya yang hangat, terasa dikulit halus nan mulus Rea.


"Apa? Apa yang terjadi dengan ku? Mengapa tubuhku terasa panas?" Gumamnya merasa bingung.


Saat ini, ia tidak bisa mengontrol tubuhnya. Wajar saja, Rea juga merupakan wanita normal pada umumnya.


Berselang beberapa menit kemudian, Rea kembali tersadar. Kala masih terdengar suara ketukan pintu dari luar. Untuk menghindari Dava, ia hanya punya satu pilihan. Langsung saja, ia menendang bagian bawah Dava hingga membuat pria itu meringis kesakitan.


"Apa? Apa yang kamu lakukan? Dasar wanita jahat!" Gerutunya, seraya memegangi bagian bawahnya tadi. Wajahnya memerah dan sudah berkeringat dingin. Namun Rea tidak mengindahkan perkataannya.


"Aku tidak sengaja! Itu semua salahmu!" Ucapnya tidak merasa bersalah sama sekali. Kemudian, ia berlari menjauh dari pandangan Dava. Sementara Dava, ia tak berhenti mengumpat dengan kekesalannya.


"S**t! Dasar wanita jahat! Bagaimana mungkin ini bukan salahmu? Lihat bagaimana aku menghukum mu nanti!" Ia meringkuk karna masih kesakitan. Disela-sela kekesalannya, tiba-tiba ia merasakan sentuhan tangan seseorang mendarat di kepalanya. Ia menoleh ke samping, ternyata ada mamanya disana. Dava kembali tersenyum licik, seolah memikirkan sesuatu.


"Mama ternyata!" Ucapnya bahagia. Sepertinya, ini adalah waktu yang tepat untuk balas dendam, pikirnya.

__ADS_1


"Ma.." Ia ingin menjahili Rea kembali, namun perkataannya langsung dipotong oleh mamanya.


"Dasar anak nakal! Beraninya masih bersikap manja begini pada mama? Kamu lelaki atau bukan sih? Mengapa kamu membiarkan istrimu beranjak dari kasur?" Kesalnya berbisik ditelinga Dava. Ia berpikir bahwa putra dan menantu kesayangan nya itu telah melakukan hubungan suami istri seperti rencananya sebelumnya. Sehingga ia marah terhadap Dava. Mengapa membiarkan istrinya beranjak dari kasur? Bagaimanapun, kemarin malam pastilah malam yang melelahkan baginya, pikirnya.


"Glek! Dava menelan salivanya mendengar omelan mamanya.


"Sebenarnya, aku putramu bukan sih? Aku merindukan mamaku yang dulu! Mengapa seolah Rea lah anak kandungnya sekarang? Benar-benar tidak adil" Gerutunya dalam hati.


Semenjak kehadiran Rea, Dava memang sering diasingkan oleh ibunya. Tapi bukan berarti ia tidak lagi mencintai Dava. Namun, ia ingin mengajari putra semata wayangnya itu untuk lebih mencintai istrinya. Bagaimanapun, ia adalah ibunya. Ia sudah lebih banyak tahu tentang bagian luar dan dalam putranya itu.


"Berhenti menatapku seperti itu!" Kesal mamanya lagi. Kini, ia telah menyalingkan kedua tangannya seraya menunjukkan tatapan mematikannya.


"Glek! Lagi-lagi Dava hanya bisa menelan salivanya. Kemudian, ia menoleh kearah Rea berdiri, berharap ia bisa menolongnya. Namun Rea sama sekali tidak mempedulikannya. Ia memutar matanya malas seraya mengalihkan pandangannya keluar jendela. Dava yang menyadari sikapnya pun semakin kesal.


"Aku pasti akan menghukum mu!" Kesalnya dalam hati.


"Itu.. bagaimana kalau, uhuk! Kalau kita pergi belanja!" Bujuknya. Ia tahu kalau mamanya paling suka belanja. Begitupun dengan Rea, mendengar hal itu.. matanya berbinar-binar. Rea juga seorang pecinta fashion. Namun, kali ini wanita paruh baya itu tidak setuju. Ia tidak ingin membuat Rea semakin lelah.


"Apa yang kamu katakan? Maksud mu.. dengan istrimu?" Tanyanya memastikan. Dan dibalas anggukan oleh Dava. Sontak mamanya membulatkan matanya.


"B******n ini! Kenapa aku bisa memiliki putra yang menyedihkan sepertinya!" Gumamnya dalam hati.


Ia memijit-mijitt keningnya. Rea yang tidak mengerti maksud perkataan mertuanya itu, tiba-tiba meraih tangannya. Hal itu membuat wanita paruh baya itu menoleh ke samping.


"Iya, ma! Kita pergi aja yuk! Lagipula.. bosan juga dirumah terus!" Bujuknya dengan nada manja. Ia menunjukkan senyum mengembangnya.


Bukannya menyahut mertuanya malah melongo melihatnya.


"Dia benar-benar wanita kuat! Bagaimana mungkin, ia bisa menahannya? Pantas saja anak nakal ini lama terbangun!" Gumamnya dalam hati.


Disela-sela lamunan mamanya, Dava kembali melanjutkan ucapannya. Hingga membuat wanita paruh baya itu tersadar kembali.


"Ma?" Sahutnya seraya melambai-lambai tangannya.


"Ahh? Iya, sayang?" Kagetnya. Rea yang menyadari sikap aneh mertuanya, seketika menoleh kearah Dava mencoba mencari tahu jawabannya. Namun Dava hanya mengedikkan bahunya. Sebenarnya, ia sudah tahu apa yang dipikirkan oleh mamanya. Tapi Dava memilih untuk tidak memberitahu Rea. Karna tidak ingin membuat Rea membenci mamanya.


"Kalau begitu, emm.. mama akan ganti baju!" Ucapnya lagi, berusaha untuk tetap tersenyum. Kemudian, ia langsung keluar menuju kamarnya. Meski ia tampak bingung, tapi yaudahlah. Bagaimanapun, putra kesayangan nya itu akan mentraktirnya. Jarang-jarang Dava bisa berinisiatif sendiri untuk mengajaknya keluar. Ini adalah hari bahagia yang langka baginya.


Sementara Rea, ia masih tersenyam-senyum sendiri.


"Berdandan lah dengan cantik, ma!" Ucapnya sedikit berteriak. Hal itu membuat Dava merasa keheranan.


"Ada apa dengannya? Apa dia kesurupan sekarang?" Batinnya merasa aneh.


Tiba-tiba Rea kembali menunjukkan senyum manisnya kepadanya.


"Aku mandi dulu!" Ucapnya lembut dan langsung berlari menuju ke kamar mandi. Ia bernyanyi kecil tanpa lirik seperti biasanya." Emm.. nanana.. lalala!" Meski suaranya cempreng bagai radio rusak. Tapi kamar mandi memang pilihan paling tepat untuknya membuat konser dadakan.

__ADS_1


"Hah? Apa yang sebenarnya terjadi dengannya? Benar! Mungkin dia benar-benar kesurupan sekarang!" Ucapnya asal. Ia tidak tahu kalau Rea bahagia karna traktirannya.


Beberapa saat kemudian, ia lalu keluar menuju kekamar sebelah. Ia akan mandi disana. Agar mereka bisa pergi lebih cepat mengingat jam sudah jam setengah sepuluh, dan lagi.. perutnya juga sudah keroncongan.


Beberapa saat kemudian, ketiganya keluar dengan memakai pakaian cassualnya. Rea memakai dress polos berwarna putih dipadukan dengan sepatu ketsnya berwarna hitam. Ia tampak sangat cantik dan menawan, dengan rambutnya yang ia ikat dengan asal. Mertuanya juga tidak kalah hitsnya darinya. Ia juga memakai dress cantik, namun berbeda warna dengan menantunya. Sedangkan Dava, ia memakai celana hitam dipadukan dengan kaos putihnya, beserta sepatu sportinya berwarna hitam. Tak lupa, ia juga memakai kacamata hitam andalannya. Benar-benar lelaki yang tampan. Para wanita akan jatuh cinta saat melihatnya.


Tanpa menunggu waktu lama, mereka segera melangkahkan kakinya menuju ke mobil. Rea duduk disamping setir tepat disebelah Dava. Sedangkan mertuanya, ia duduk dibelakang.


Kini, Dava telah melajukan mobilnya menuju ke mall di pusat perbelanjaan ibukota. Sepanjang perjalanan, mereka berbincang-bincang santai, tanpa ada perselisihan seperti biasa.


"Di pusat perbelanjaan ibukota"


Tak menunggu waktu lama, mobil berhenti tepat diparkiran mal. Ketiganya langsung keluar dan berjalan masuk menuju ke salah satu restoran andalan wanita paruh baya itu.


Sesampainya disana, mereka langsung memesan berbagai hidangan makanan mewah dan langsung menyantapnya habis karna sudah kelaparan.


"Ahh.. makanannya enak banget ma!" Sahut Rea merasa puas. Mertuanya tersenyum tipis mendengarnya.


"Tapi, masakanmu lebih enak sayang! Nggak ada duanya!" Ucapnya memuji. Ia memang sangat menyukai masakan Rea. Namun kali ini, mereka terpaksa makan diluar karna bangun kesiangan.


"Mama bisa aja deh!" Sahutnya tersipu malu.


"Ehh, mama beneran kok, sayang! Tanya aja sama suami mu!" Sambungnya lagi seraya menoleh kearah Dava.


"Emm, mama benar sayang!" Sahut Dava membalas perkataan mamanya. Namun Rea tidak terlalu mempedulikannya. Ia berpikir kalau Dava hanya terpaksa saja, tidak benar-benar dari isi hatinya.


"Cih! Dasar es balok! Bermuka dua!" Gerutunya dalam hati.


Disela-sela pembicaraan mereka, wanita paruh baya itu tiba-tiba ingin ke toilet.


"Aduh! Mama ke toilet dulu ya? Kalian tungguin mama disini!" Ucapnya, lalu bergegas pergi meninggalkan keduanya. Mereka hanya mengangguk mengiyakan.


Kemudian, Rea kembali memainkan ponselnya. Sedangkan Dava sibuk menerima panggilan telepon dari anak buahnya.


Ditengah-tengah kesibukan keduanya, tiba-tiba seorang wanita datang menghampiri mereka dan langsung duduk tanpa permisi dulu. Rea yang menyadari kehadirannya, merasa aneh dan risih.


"Siapa wanita ini? Apa dia kekasih Dava? Tidak tahu sopan santun!" Gumamnya dalam hati.


TBC


Halo para readers setiaku:)


Maaf lama up ya guys.. soalnya author lagi kurang fit!


Tapi kedepannya akan lebih sering up kok.


Jangan lupa kasih jempol dan komentarnya say😍

__ADS_1


I lovyu all😘


__ADS_2