
Pagi-pagi buta, Dava dan Rea kembali ke rumah mereka. Tadi malam, keduanya menghabiskan malam bersama, di rumah orangtua Rea.
"Brakk! Dava menutup pintu mobil. Lalu keduanya beranjak kedalam. Di ruang tengah, Rea menghentikan langkahnya.
"Kamu bergegaslah mandi. Aku akan menyiapkan sarapan!" Ucapnya lembut dan dibalas anggukan oleh Dava. Setelah Dava beranjak keatas, barulah ia bergegas ke dapur, untuk memasak.
"Di dapur"
Kali ini, Rea hanya memasak dua porsi nasi goreng saja. Ia tampak sangat senang. Setelah ia berbaikan dengan Dava, rasanya lega sekali. Ia jadi lebih tenang dari sebelumnya. "Ssstt! Suara bumbu masakannya meresap. Aromanya begitu menusuk kerongga hidung, yang akan semakin mengunggah selera makan.
15 menit kemudian..
Setelah Rea selesai memasak, ia lalu menyiapkannya diatas meja makan. Tanpa ia sadari, ternyata ia telah lama diperhatikan oleh Dava, dari lantai atas. Sesungging senyuman manis lolos terlukis di wajah pria dingin itu. Kemudian ia melangkahkan kakinya menuruni anak tangga.
"Ummm? Aromanya sangat wangi!" Ucapnya memuji masakan Rea. Rea memalingkan wajahnya sebentar, sebelum ia menyahutnya.
"Sudah selesai? Duduklah!" Pintanya. Ia memasang wajah berseri-serinya. "Emm! Dava mengangguk pelan. Lalu keduanya makan dengan lahap. Sesekali, Rea curi-curi pandang menatap pria dihadapannya. Ia bahagia, karna pagi ini sepertinya berbeda dari hari-hari sebelumnya. Biasanya, mereka akan melalui pertengkaran setiap saat. Tapi pagi ini, sangat tenang.
"Apa hari ini kamu tidak masuk kuliah?" Tanya Dava, membuyarkan lamunan Rea. "Hah? Ia merasa ambigu.
"Umm.. tidak!" Ucapnya. Dava hanya menganggukkan kepalanya sembari mengusap mulutnya dengan tisu. Kemudian, ia bangkit berdiri.
"Baiklah! Kalau begitu.. aku berangkat dulu. Hari ini, aku punya janji temu dengan banyak pasien, jadi harus buru-buru." Pamitnya. Rea terdiam sejenak.
"Padahal.. ini kan masih jam setengah tujuh?" Gerutunya dalam hati.
Tapi kemudian ia mengangguk, meski sedikit merasa kecewa. Baru beberapa langkah Dava beranjak, tiba-tiba Rea kembali menghentikannya.
"Tunggu dulu!" Ucapnya sedikit keras. Dava pun menolehnya. "Emm? Ia menaikkan sudut alisnya. Rea sedikit gugup menatap manik jernih pria itu.
"Itu.. kamu, maksudku kamu pulang jam berapa?" Ucapnya terbata. Ia tertunduk sembari memukul pelan bibirnya.
"Apa yang kamu lakukan Rea?" Batinnya.
Dava menatap jam tangannya sebentar.
"Mungkin.. sekitar jam 5 aku sudah kembali!" Sahutnya kembali menoleh Rea.
"Memangnya.. ada apa?" Tanyanya lagi. "Ahh? Rea mengangkat kepalanya.
"Aku.. aku hanya ingin memastikan saja. Aku akan memasak untukmu, maksudku untuk kita." Jawabnya gugup. Dava kembali manggut-manggut. Ia hendak beranjak pergi. Tapi, ia kembali membalikkan tubuhnya dan menghampiri Rea. "Cup! Ia mencium kening Rea dengan mesra, hingga membuat wajah Rea bersemu kemerahan bagai tomat.
"Dia mencium ku?" Gumamnya dalam hati.
Dava mengusap rambutnya lembut.
__ADS_1
"Aku pergi dulu. Jangan lari kemana-mana, mengerti?" Kekehnya dan beranjak pergi. Sementara Rea, ia memegangi wajahnya yang sudah memanas. Ia tidak percaya, ternyata Dava bisa bersikap romantis padanya. Ia lalu menoleh ke pintu, yang ternyata tidak lagi menampakkan punggung pria itu.
"Hati-hati di jalan, suamiku!" Teriaknya, berharap tidak di dengar oleh Dava. Tapi, Dava ternyata mendengar teriakannya. Ia tersenyum bahagia. Entah mengapa, ucapan Rea seolah membooster kekuatan tubuhnya.
"Sepertinya.. aku akan melewati hari-hariku dengan baik" Gumamnya pelan. Ia menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya menuju ke Rumah Sakit.
Setelah Dava berangkat kerja, Rea mulai beres-beres. Mulai dari menyapu, mengepel, hingga mencuci pakaian. Para pelayan memang sedang tidak disana. Kemarin malam, Dava meminta mereka untuk membantu orangtuanya yang baru saja pulang dari luar kota. Jadi sekarang, Realah yang mengerjakan semua pekerjaan rumah. Saat tinggal di rumah orangtuanya, ia sudah terbiasa melakukannya. Jadi, bukan hal baru lagi baginya.
"Nanana.. lalallalla..emmm.. duudu!" Seperti biasa, ia bernyanyi tanpa lirik. Sepertinya, suasana hatinya sedang bagus. Hingga ia menyelesaikan semuanya dalam waktu singkat. Jam telah menunjuk pada pukul 11 siang. Kemudian ia merebahkan tubuhnya diatas sofa ruang keluarga.
"Akhirnya.. selesai juga!" Ucapnya lega. Perlahan-lahan, matanya terpejam, masih memegang kemoceng ditangannya. Tampaknya ia sedikit lelah.
Cukup lama ia tertidur, hingga tak terasa jam sudah menunjuk pada pukul 3 sore.
"Umm..! Ia mengigau kecil sembari membuka mata beratnya. Ia duduk, lalu meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.
"Hoamm! Jam berapa sekarang?" Ucapnya pelan. Ia menoleh jam dinding ruangan. Matanya membulat melihatnya.
"Ya ampun! Udah jam segini? Mati aku, mati aku!" Kagetnya. Ia langsung berlari menuju ke dapur. Sebelum memulai aksi masaknya, ia lebih dulu menggulung rambutnya, hingga menampakkan leher jenjangnya. Setelah itu, barulah ia memasak. Ia memotong-motong sayurannya dengan cepat. Padahal masih jam 3, sedangkan Dava baru akan kembali jam 5. Tapi, sepertinya ia tidak ingin membuat pria itu menunggunya nanti.
Hari ini, Rea memasak soup ayam kesukaan sang suami. Bukan hanya itu, ia juga memasak rendang. Karna memang, semua masakannya tidak pernah ditolak oleh Dava. Jadi, ia sengaja masak banyak hari ini. Meski mereka hanya tinggal berdua saja.
Beberapa waktu kemudian, ia menyelesaikan semuanya. Rea menatap jam dinding. Ternyata masih ada waktu untuk membersihkan diri, pikirnya. Ia sengaja menyalakan api kompornya kecil, agar makanan tadi tetap panas. Kemudian ia beranjak keatas menuju kamarnya. Ia langsung membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Setelah selesai, ia memoles sedikit pelembab muka di pipi mungilnya. Dan menambahkan sedikit liptin di bibir tipisnya. Meski hanya memakai gaun rumahan saja, tapi aura cantiknya tetap terlihat. Tubuh mungil nan harum, membuatnya semakin menarik.
Tak menunggu waktu lama, terdengar suara mobil Dava berhenti di halaman rumah. Rea segera bergegas ke bawah. Ia membuka pintu sembari tersenyum lebar. Dan tampaklah Dava, si pria dingin tengah berjalan menghampirinya. Ia menatap heran pada Rea. Bagaimana tidak? Hari ini, penampilan gadis mungil itu tampak berbeda. Ia lebih ceria dari biasanya.
"Kamu pasti lapar kan?" Tanya Rea lagi. Ia mengambil tas serta jas kerja Dava. Lalu menarik tangan pria itu masuk ke dalam. Dava menatap keseisi ruangan yang tampak bersih mengkilat. Padahal tidak ada pelayan, tapi mengapa rumah bisa serapi ini? Pikirnya. Rea menuntunnya ke meja makan.
"Kamu duduk disini!" Ucapnya lembut. Dava hanya terdiam tanpa menyahut. Lalu Rea menyuguhinya berbagai macam hidangan makanan. Dava sedikit terkejut.
"Apa semua ini.. dilakukan olehnya?" Batinnya.
Ucapan Rea membuyarkan lamunannya.
"Aku memasak makanan kesukaan mu hari ini! Cobalah!" Ucapnya tulus. Dava menatapnya lekat.
"Kamu juga!" Ucapnya membuka bicara. Rea mengangguk, menyetujuinya. Lalu mereka mulai melahap makanan dihadapannya. Disela-sela makannya, Dava kembali menatap Rea.
"Apa begini rasanya.. memiliki istri sesungguhnya? Bukan hanya mengurus pekerjaan rumah tangga, tapi juga menyiapkan makanan untuk suami. Dia juga menyambut ku tadi. Hari ini benar-benar berbeda!" Batinnya.
"Emm? Rea menyerngitkan dahinya.
"Apa.. rasanya tidak enak? Itu.. lain kali, aku akan lebih banyak belajar lagi!" Ucapnya merasa bersalah. Tapi secepat mungkin Dava menggelengkan kepalanya.
"Ini enak! Enak banget malah!" Ucapnya lalu memakan makanannya. Rea lagi-lagi tersenyum malu padanya. Mereka kembali melanjutkan makannya.
__ADS_1
Setelah selesai makan, Rea mencuci pring-piring kotor bekas makan tadi. Sedangkan Dava, ia naik keatas untuk membersihkan tubuhnya. Hubungan keduanya tampak semakin membaik sekarang.
"Di ruang keluarga"
Jam sudah menunjukkan pukul 20.00 malam. Rea baru saja menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya. Dan sekarang, saatnya menonton drakor kesayangannya. Begitulah hari-harinya ia lalui. Saat sedang santai, ia menghabiskan waktunya untuk menonton drakor ataupun membaca komik maupun novel-novel kesukaannya.
"Hihihi.." Ia tertawa cekikikan, menonton drama di layar laptopnya. Rea tidak hanya menyukai drama ataupun novel romansa. Ia juga kerap menonton drama atau membaca novel bergenre humor. Mungkin orang lain akan menganggapnya gila, jika melihatnya tertawa sendiri seperti sekarang ini. Tapi, ia sama sekali tidak peduli akan hal itu. Karna baginya, hobi setiap orang itu berbeda-beda. Dan inilah hobinya. Hal yang bisa mengganti suasana hatinya.
Hingga tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 21.30 malam, Rea masih berada disana. Dava yang baru saja mengambil minum dari dapur, lalu berjalan menghampirinya.
"Kamu.. belum mengantuk?" Tanyanya menghentikan tawa Rea. "Hah? Rea berbalik badan menolehnya.
"Aku.. aku akan segera tidur!" Ucapnya gugup. Wajahnya kembali memerah setiap kali ditatap oleh pria itu. "Emm! Dava menganggukkan kepalanya. Rea kembali berbalik badan, untuk melanjutkan tontonannya tadi. "Hahahahah..!" Ia tertawa terbahak-bahak menatap layar laptopnya. "Ya ampun! Hahahah.." Lagi dan lagi, Rea kembali tertawa.
"Yahh.. habis?" Gerutunya. Karna episodenya telah habis. "Hoamm! Ia menguap sambil menutup laptopnya. Ternyata sudah jam 22.00. Waktunya untuk tidur, pikirnya. Saat ia berbalik, matanya membulat melihat Dava masih berdiri dibelakangnya. Ternyata, Dava menunggunya sedari tadi.
"Kamu.. kamu, masih disini?" Tanya Rea ragu-ragu. Dava menganggukkan kepalanya. Ia masih menatap Rea, yang semakin membuat Rea merasa gugup.
"Aku.. aku akan segera tidur!" Ucapnya lagi. Ia berjalan menaiki anak tangga dan diikuti oleh Dava. Saat ia hendak menuju ke kamarnya, Dava menahan tangannya. "Hah? Rea menatapnya penuh tanda tanya.
"Bukankah kita sudah berbaikan? Untuk apa masih pisah kamar?" Ucap Dava serius. "Ehh? Rea kembali membulatkan matanya.
"Apa.. dia mengajakku untuk tidur bersama?" Batinnya.
Wajahnya semakin memanas. Pikirannya berkecamuk. Tapi, ucapan Dava membuatnya kembali tersadar.
"Jangan khawatir! Malam ini.. aku tidak akan menyentuhmu!" Sahutnya menunggu jawaban dari Rea. Rea pun mengangguk kaku.
"I.. iya!" Ucapnya malu. Dava menuntunnya masuk kedalam kamarnya. Ia lalu mengambil laptop Rea dari tangannya.
"Letakkan saja disana!" Ucapnya menunjuk ke atas meja. Rea masih berdiri kaku disana. Ia tidak berani naik ke tempat tidur. Meski ini bukan lagi pertama kali baginya. Tapi rasanya sangat canggung.
"Fyuh! Dava menghela nafasnya. Lalu menarik lembut tangannya.
"Berbaringlah disini!" Ucapnya pelan. Rea pun mulai memberanikan dirinya. Ia merebahkan tubuhnya disana. Secepat mungkin ia membalut sekujur tubuhnya dengan selimut tebal Dava. Posisinya membelakangi Dava. Rasanya sangat gugup, menyadari pria itu sudah berbaring disampingnya. Ada aura hangat yang keluar dari tubuh pria itu. Rea berusaha untuk memejamkan matanya. Tapi, hingga jam 23.00, ia belum juga tertidur. Ia bergeser-geser seperti cacing kepanasan. Dava yang menyadarinya, langsung memeluknya dari belakang. "Ehh! Wajah Rea kembali memblush. Pria itu melingkarkan tangan kekarnya, di pinggang ramping Rea. Ia memberi Rea pelukan hangat.
"Tidurlah!" Bisiknya. Rea bisa merasakan hangatnya nafas pria itu. Dava semakin mempererat pelukannya. Rea membiarkannya, tidak berani protes.
"Lagipula.. kami sudah menjadi suami istri!" Batinnya.
Perlahan ia mulai tenggelam dalam pelukan hangat Dava. Begitupun dengan Dava, ia merasa nyaman saat memeluk Rea. Keduanya pun mulai tertidur tanpa adanya perdebatan seperti biasa.
TBC
Halo para readers setiaku:)
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak sayπ
I lovyu allπ