
"Di ruangan kamar Dava"
Rea yang baru saja masuk, langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan sudah membalut seluruh tubuhnya dengan selimut tebalnya.
"Aku tidak akan membiarkan mu begitu saja! Tuan Dava yang terhormat.. aku pasti akan membalasmu!" Gerutunya seraya merapatkan giginya.
"Ceklek! Pintu terbuka. Dava segera melangkahkan kakinya menuju ke tempat tidur. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar omelan Rea yang tiada hentinya.
"Kamu lihat saja. Aku tidak akan membiarkan mu tidur dengan tenang malam ini!" Gerutunya masih dengan kekesalannya. Ia berniat membiarkan Dava tidur di atas sofa tanpa selimut, bahkan sehelai kain pun itu, tidak akan. Ia sudah membulatkan niatnya.
Sementara Dava yang mendengarnya, tampak sangat menikmati omelan istrinya itu. Ia terkekeh kecil sambil menggelengkan kepalanya.
"Ckckck.. kita lihat saja! Siapa yang lebih kuat, aku atau kamu?" Ucapnya menggoda Rea. Ia berusaha membuat Rea semakin kesal dengannya. Karna menurutnya, Rea tampak menggemaskan ketika sedang marah.
"Kamu..? Dasar mesum!" Teriak Rea seraya melempari bantal kearah Dava berdiri. Namun, Dava berhasil menghindar. Lalu, ia melangkahkan kakinya menuju ke tempat tidur dan tidak mengindahkan perkataan Rea sedikit pun. Ia merebahkan tubuhnya di sana dan sudah memejamkan matanya.
"Apa yang kamu lakukan? Cepat menjauh dariku! Kamu tidak diijinkan untuk tidur disini. Malam ini, kamu tidurlah di sofa!" Teriak Rea sembari mendorongnya untuk menjauh. Lagi-lagi Dava tidak peduli seolah tak mendengarnya. Ia malah berpura-pura mengancamnya agar Rea bisa terdiam.
"Emm? Sebaiknya kamu diam dengan tenang! Atau aku akan benar-benar memakanmu malam ini!" Sahutnya dengan nada mengancam.
"Glek! Rea menelan salivanya dengan kasar.
"Jika dia benar-benar melakukannya.. maka, habislah sudah! Kesucian ku yang ku jaga selama puluhan tahun lebih akan sia-sia begitu saja, diambil oleh manusia es balok ini!" Gumamnya dalam hati.
Bulu kuduknya merinding mendengar perkataan Dava barusan.
"Tidak boleh! Hal itu tidak boleh terjadi. Sebaiknya, aku diam saja!" Batinnya lagi.
Dava melirik kecil kearahnya. Ia tertawa bahagia dalam hati.
"Ckckck.. akhirnya aku punya senjata untuk bisa membuatnya menurut" Batinnya senang.
Lama keduanya terdiam, tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk dari luar. "Tok..tok..tok! Rea segera bangkit dari rebahannya dan bergegas membukakan pintu. "Ceklek!
"Ehh, mama?" Ucapnya sambil tersenyum tipis.
"Apa mama mengganggu kalian?" Goda ibu mertuanya merasa senang. Ia menatap Rea yang hanya memakai dress tidurnya dan juga Dava yang tampak tak mengenakan pakaian atasannya. Sepertinya, aku akan benar-benar memiliki cucu dalam waktu dekat, pikirnya.
"Ehh.. tidak! Tentu saja tidak!" Sahut Rea merasa canggung.
Tiba-tiba saja, tangan kekar Dava merangkul pinggang ramping nya. Rea melotot menatapnya.
"Dasar b******n! Selalu saja mengambil kesempatan dariku!" Umpatnya dalam hati.
Namun ia masih berusaha menunjukkan senyum mengembangnya dihadapan mertuanya itu.
"Benar! Mama memang mengganggu malam indah kami!" Sahut Dava pura-pura kesal.
__ADS_1
"Benarkah?" Tanya mamanya merasa bersalah.
"Apa yang dilakukan manusia kutub ini? Rasanya sangat canggung!" Geram Rea dalam hati.
"Emm.. mama tidak perlu merasa bersalah begitu! Dava hanya bercanda saja!" Ucapnya lembut, menunjukkan senyum palsunya.
"Benarkan sayang?" Lanjutnya lagi sudah memalingkan wajahnya kearah Dava. Lalu mencubit perut eksotisnya sedikit bertenaga. Hal itu membuat Dava sedikit meringis.
"Ahh.. apa yang kamu lakukan sayang?" Kesalnya.
"Hahahah..." mamanya malah tertawa bahagia melihat tingkah keduanya.
"Emm.. ini! Mama hanya ingin memberi menantu kesayangan mama teh jahe hangat. Biar lebih fit! Mama jamin kamu pasti tidak akan kelelahan!" Sahutnya lagi seraya menyodorkan gelas tersebut ke tangan Rea. Rea hanya diam terpaku, tanpa menyahutnya.
"Apa, apa ini? Apa maksud perkataan mama barusan? Jangan bilang..." gumamannya terhenti. Kala mertuanya menyadarkannya.
"Minumlah sayang!" Ucapnya seraya tersenyum lebar. Rea hanya mengangguk mengiyakan. Lagipula hanya teh jahe hangat, pikirnya. Tanpa pikir panjang, ia langsung meneguknya. "Glek..glek..glek! Ia menghabiskannya dalam sekali tegukan.
"Makasih ma!" Ucapnya singkat dan dibalas anggukan olehnya.
"Baiklah, kalian istirahatlah! Mama tidak akan mengganggu lagi!" Ucapnya senang. Ia hendak beranjak pergi dari sana, namun langkahnya terhenti kembali. Ia membalikkan badannya dan berjalan menghampiri Dava.
"Aku sudah melakukan bagian ku! Kini giliran mu, anak nakal! Jangan membuatku kecewa, mengerti?" Bisiknya ke telinga Dava, namun sedikit ditekankan.
"Hah?" Kaget Dava.
Sementara Rea, ia memicingkan matanya sebelah menatap ekspresi aneh Dava.
"Apa yang membuatnya kaget begitu?" Tanyanya dalam hati.
"Huh, sudahlah! Lagipula bukan urusanku!" Gumamnya pelan. Ia segera melangkahkan kakinya masuk kedalam. Namun, baru beberapa langkah ia berjalan, terdengar suara teriakan ibu mertuanya dari bawah.
"Segera buatkan cucu untukku!' Teriak wanita paruh baya itu.
"What? Cucu?" Kaget Rea sudah membulatkan matanya. Sementara Dava, ia masih diam terpaku disana, mencoba untuk menelaah semua perkataan dari ibunya barusan. Yang artinya, otaknya belum cair sepenuhnya.
Lama ia berdiri disana, ia kembali masuk ke dalam sudah pasrah. Bodoamatlah, pikirnya.
"Di dalam kamar"
Dava mendapati Rea sudah membalut tubuhnya dengan selimut tebalnya. Ia tidak terlalu mempedulikannya lagi. Terserahlah, yang penting tidak mengomel-ngomel lagi seperti tadi, pikirnya. Tanpa berpikir panjang, Dava segera merebahkan tubuhnya di sampingnya. Tanpa selimut pun ia bisa tertidur. Karna sudah terbiasa.
10 menit berlalu..
Entah mengapa, sedari tadi Rea merasa tidak tenang. Ia membolak-balikkan badannya ke kanan dan ke kiri. Hal itu membuat pria disampingnya sedikit risih. Dava melirik sekilas kesamping.
"Ada apa dengannya?" Gumamnya dalam hati, namun ia tidak terlalu mempermasalahkannya.
__ADS_1
Ia kembali memejamkan matanya.
Baru berselang beberapa waktu, Rea kembali bergeser ke kanan dan kiri, seperti cacing kepanasan. "Ugh! Ia menghempaskan selimutnya dari tubuhnya.
"Ada apa denganku? Ini terasa sangat panas!" Gumamnya dalam hati.
Ia kembali menggeliat kesana-kemari. Karna tak kuasa menahannya lagi, ia lalu melonggarkan pakaiannya. Wajahnya tampak memerah dan sudah dipenuhi dengan keringat.
"Ahhh.." Teriakannya terdengar risih ditelinga Dava.
"Ada apa de.." ucapannya menggantung. Kala melihat gunung kembar Rea serta posenya yang mampu membangkitkan gairah birahinya. Ia menelan salivanya dengan kasar. "Glek!
"Wanita ini!" Geram Dava dalam hati.
"Panas.. sangat panas! Emm.. tolong aku!" Sahut Rea tak kuasa menahan panas yang menjalar disekujur tubuhnya.
"Panas?' Tanya Dava merasa heran. Matanya terbelalak, kala mengingat perkataan ibunya tadi.
"Pasti ada yang salah dengan teh hangat tadi. Pantas saja, ibu sedikit mengancam ku. Ternyata ini?" Gumamnya pelan.
Tanpa menunggu persetujuan dari si empunya kamar, Rea langsung menarik Dava kedalam dekapannya.
"Panas...! Tolong aku!" Ucapnya pelan. Tanpa disadari, wajah eksotis Dava berubah menjadi memerah.
"Huh, kali ini.. aku akan melepas mu. Tapi lain kali.. jangan harap!" Geramnya pelan. Lalu ia membawa tubuh Rea menuju ke kamar mandi. Ia langsung meletakkan tubuh mungil Rea kedalam bath up dan mengguyurnya dengan air dingin.
"Panas.. panas! Sahut Rea lagi. Perlahan, suaranya menghilang.
"Apa dia pingsan?" Sahut Dava merasa khawatir. Ia lalu memeriksa denyut nadinya.
"Ternyata ketiduran? Huh, anggap saja kamu beruntung malam ini!" Celotehnya. Ia kembali mengangkat tubuh Rea menuju ke tempat tidur dan segera memakaikan pakaian tidurnya.
Butuh perjuangan ekstra, agar piyamanya berhasil dipakaikan oleh Dava. Setelah selesai, ia menutupi tubuh Rea dengan selimut tebalnya. Lalu ia berdiri seraya berkacak pinggang.
"Ini semua karna mama!" Kesalnya sudah merapatkan giginya.
Sementara di kamar lain...
Wanita paruh baya itu tampak terlihat senang, meski sendirian dikamar yang begitu luas itu. Sesekali ia tertawa kecil membayangkan apa yang akan terjadi nantinya. Aku akan segera menimang cucu, pikirnya.
"Haha.. usahaku tidak akan sia-sia kali ini! Aku akan segera memiliki cucu!" Ucapnya merasa senang.
"Emm? Apa yang mereka lakukan sekarang?" Lanjutnya lagi berbicara seorang diri.
"Ahhh.. sudahlah! Yang penting, rencanaku berhasil!" Ucapnya lagi. Ia membalut seluruh tubuhnya dengan selimut tebalnya.
"Cucuku.. kelak kamu harus mengingat usaha nenek mu ini!" Gumamnya dalam hati.
__ADS_1
TBC