MARRIAGE CONTRACT WITH THE COLD DOCTOR

MARRIAGE CONTRACT WITH THE COLD DOCTOR
Bab 23: Salah paham


__ADS_3

Keesokan paginya..


Rea membuka matanya perlahan. Sembari memegang kepalanya yang masih terasa pusing. "Emm" Ia mengigau kecil, mencoba mengingat-ingat kejadian kemarin malam.


"Aku pasti minum terlalu banyak!" Gumamnya dalam hati.


Ingatan terakhirnya memang saat ia mabuk-mabukan bersama Gigi di klub. Ia tidak mengingat saat Dava menjemputnya. Bahkan perkataannya kemarin, mungkinkah ia melupakannya? Hanya dia yang tahu.


Ia hendak bangkit dari ranjang, namun ada sesuatu yang menimpa perutnya. Pelukan erat Dava membuat dirinya susah untuk bergerak leluasa.


"Mengapa aku semakin sering tidur satu ranjang dengannya?" Gumamnya sambil menoleh kesamping. Ia berniat menyingkirkan tangan Dava dari atas perutnya. Tanpa sadar Dava semakin mempererat pelukannya. Namun Rea tak berhenti. Ia berusaha keras agar bisa terlepas. Beberapa saat kemudian, ia berhasil. Tapi kini matanya benar-benar membulat sempurna, melihat tubuhnya hanya ditutupi oleh sebuah kemeja berwarna putih milik Dava. Tanpa menggunakan bra ataupun CD.


"Aaaaahhhh!" Teriaknya begitu keras. Mendengar teriakannya, Dava pun terbangun.


"Aish! Ada apa pagi-pagi begini sudah ribut?" Kesalnya sambil mengusap wajahnya perlahan. Ia menatap manik indah milik Rea dengan lekat. Rea yang ditanyai malah terdiam tak bergeming. Namun pikirannya sudah berkecamuk, dipenuhi dengan pikiran tak karuan.


"Apa, apa dia sudah meniduri ku? Bagaimana ini bisa terjadi? Bukankah ini pelanggaran perjanjian? Dasar pria mesum!" Umpatnya dalam hati.


Dava kembali melanjutkan ucapannya, melihat Rea yang masih terdiam mematung.


"Ada apa dengan mu? Aku sedang bertanya, tahu?" Kesalnya, sambil memonyongkan bibirnya kedepan. Keningnya sedikit mengerut, kala Rea masih mengabaikan dirinya.


"Mengapa dia tidak berkata apa-apa? Apa dia kesurupan?" Tanyanya dalam hati.


Disela-sela gumamannya, tiba-tiba Dava membulatkan matanya, melihat Rea yang sudah menitikkan air mata.


"Aku.. aku tidak bermaksud membentak mu tadi. Tolong, maafkan aku!" Ucapnya merasa bersalah. Tapi lagi-lagi Rea tidak menyahutnya. Hanya ada isakan tangis yang keluar dari mulutnya. Dava yang merasa bersalah pun, segera mengulurkan tangannya, hendak mengusap bulir-bulir air mata gadis dihadapannya. Tapi tangannya langsung di tepis. "Plakk!


"Jangan menyentuh ku!" Teriak Rea begitu keras. Ia lalu beranjak dari tempat tidur. Dan berlari keluar dengan wajah yang masih dibanjiri air mata.


"Bahkan.. untuk meminta maaf pun, dia tidak bersedia. Dasar es balok! Aku membencimu!" Umpatnya dalam hati.


Ia berpikir bahwa Dava telah menodai dirinya. Dikarenakan tubuhnya yang hanya dibalut dengan sehelai kain saja.


Sementara Dava yang ditinggal pergi begitu saja, masih terlihat ambigu dan linglung dengan tingkah Rea barusan.


"Ada apa dengannya? Apa dia sedang datang bulan? Tapi tidak mungkin!" Gumamnya pelan. Ia mencoba mengingat-ingat kesalahan yang mungkin ia tidak sadari terhadap Rea, tapi memang tidak ada.


"Harusnya.. aku yang marah dan meminta pertanggungjawabannya karna sudah memuntahi ku kemarin. Tapi ini, dia malah marah tanpa sebab. Dasar wanita!" Gerutunya seolah tidak terima. "Fyuh! Ia menghela nafasnya.


"Sudahlah!" Batinnya pasrah.


Tanpa berpikir lagi, ia segera beranjak menuju ke kamar mandi. Karna hari ini, ia harus bekerja. Ditambah lagi jadwal kerjanya yang semakin padat.


"Di Kamar Rea"


Rea tampak duduk meringkuk di sudut ruangan kamar. Ia masih terisak sesegukan.


"Aku membencimu, pria mesum! Aku akan membunuh mu!" Batinnya.


Beberapa saat kemudian, ia mengangkat kepalanya keatas. Tangannya kembali terkepal kuat diatas lantai.


"Bagaimana mungkin.. dia melakukannya? Dia, dia tidak mencintai ku!" Ucapnya terbata seraya menggelengkan kepala. Hiks..hiks..hiks! Air matanya kembali membanjiri wajahnya.


"Mengapa, mengapa?" Teriaknya. Ia memukul-mukul dadanya tanpa henti.


"Mengapa?" Teriaknya lagi. Ia menangis cukup lama, hingga lupa waktu.


Saat jam sudah menunjukkan pukul 7.30, seseorang mengetuk pintu. "Tok..tok..tok! Mendengar hal itu, Rea langsung mengusap air matanya.


"Nyonya.. sarapan sudah siap. Tuan, sedang menunggu anda dibawah." Sahut seorang pelayan dengan sopan. Para pelayan memang sudah kembali pada subuh tadi.


Dengan ragu-ragu, Rea lalu menyahutnya.


"Aku.. aku belum lapar. Katakan pada Tuan mu, tidak perlu menunggu ku." Sahutnya berusaha tidak menangis.


"Baiklah, Nyonya! Jika Nyonya memerlukan sesuatu.. panggil kami saja!" Sahut pelayan sopan, dan berlalu pergi.


"Emm!" Rea hanya menyahut singkat. Ia kembali ke posisinya diawal.


Sementara itu..

__ADS_1


"Di meja makan"


Pelayan yang baru saja turun, segera melapor kepada tuannya.


"Tuan, Nyonya berpesan agar anda tidak perlu menunggunya. Nyonya bilang, beliau belum lapar!" Sahutnya penuh hati-hati.


"Hah? Dava menaikkan kedua sudut alisnya.


"Apa dia masih marah?" Batinnya.


Tiba-tiba ia menghela nafas panjangnya. "Fyuh!


"Emm, baiklah!" Ucapnya pelan. Ia masih tidak mengerti, mengapa Rea bisa-bisanya mengabaikan dirinya. Bahkan sampai menangis. Tapi.. sudahlah, pikirnya. Ia langsung melahap sarapannya. Meski tidak berselera. Karna biasanya, istrinya akan menyiapkan sarapan khusus untuknya. Namun kali ini tidak. Mau tidak mau ia tetap harus memakannya, agar maagnya tidak kambuh saat menemui para pasiennya nanti.


Setelah selesai sarapan, Dava segera berangkat menuju ke rumah sakit. Tanpa berpamitan kepada istrinya dahulu. Karna sudah banyak telpon masuk dari rumah sakit.


Siang harinya...


Waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa, kini jam sudah menunjuk pada pukul 11.30 siang. Para pelayan rumah masih sibuk beres-beres, menyiapkan makan siang dan segala pekerjaan lainnya. Ditengah-tengah kesibukan mereka, tiba-tiba Rea datang menghampiri.


"Bi.." Ucapnya sopan.


"Hah?" Kaget Bi Ati seraya mengusap-usap dadanya.


"Ternyata Nyonya." Ucapnya lega dan hanya dibalas senyuman tipis oleh Rea.


"Ada apa Nyonya? Apa Nyonya butuh sesuatu? Atau.. anda ingin makan sekarang?" Lanjutnya bertanya. Namun, Rea hanya menggelengkan kepala. Bi Ati menatapnya penuh keheranan. Kemudian matanya beralih ketangan Rea yang memegang sebuah koper berwarna hitam.


"Apa.. Nyonya ingin, ingin kabur?" Tanyanya penuh selidik. Secepat kilat Rea mengibas-ngibaskan tangannya.


"Bukan! Saya hanya ingin mengunjungi orang tua saya! Akhir-akhir ini, aku terlalu sibuk. Jadi tidak lagi pernah kesana. Aku sudah merindukan mereka." Ucapnya masih tersenyum tipis.


"Ahh? Begitu ya?" Sahut Bi Ati merasa lega. Karna dugaannya ternyata salah.


"Benar, Bi!" Sahut Rea mengiyakan.


"Lalu.. berapa lama Nyonya menginap disana?" Tanya Bi Ati lagi. Mendengar hal itu, Rea menaikkan kedua sudut alisnya. "Emm?


Rea tampak berpikir sejenak.


"Lagipula.. pria es balok itu belum minta maaf padaku. Untuk apa aku kembali? Bukankah dia akan sangat senang?" Batinnya.


"Aku akan kembali secepatnya!" Sahut Rea berbohong. Ia berniat menghabiskan waktu bersama keluarganya, untuk membiasakan diri tanpa kehadiran Dava disisinya.


"Baiklah, Nyonya! Saya akan meminta supir untuk mengantar anda!" Sahut Bi Ati menawarkan. Namun ditolak olehnya.


"Tidak perlu Bi. Biar saya naik taksi saja." Ucapnya menolak. Kemudian ia berlalu pergi menuju kerumah orang tuanya.


Sepanjang perjalanan, ia hanya terdiam sambil menatap keluar jendela mobil. Tiba-tiba air matanya terjatuh begitu saja.


"Aish!" Ia menghela nafasnya.


"Mengapa aku begitu cengeng?" Gerutunya dalam hati.


Kemudian ia mengusap air matanya.


"Gak boleh nangis, Rea! Nanti mama papa bisa salah paham!" Ucapnya berusaha menenangkan dirinya sendiri. Ia tidak ingin terlihat sedih dihadapan kedua orang tuanya. Dan untuk alasan kepulangannya kali ini, ia terpaksa harus membohongi kedua orangtuanya. Mengatakan kalau Dava sedang diluar kota. Dengan begitu, orangtuanya tidak akan mencurigainya dirinya.


"Mustahil es balok itu akan mencari ku!' Batinnya sudah memejamkan matanya.


"Di ruang kerja Dava"


Dava tampak masih sangat sibuk. Menghadapi begitu banyak pasien memang melelahkan baginya. Tapi ia sudah terbiasa dengan hal itu. Disamping itu, ia juga bisa tersenyum menghadapi para pasiennya. Berbeda saat ia menjalani kehidupan nyatanya.


Setelah waktu menunjukkan pukul 5 sore, ia mulai membereskan segala peralatan medisnya. Karna kini, sudah waktunya untuk kembali.


"Akhirnya selesai juga!" Ucapnya lega sambil meregangkan otot-otot kekarnya. Tak lama kemudian, ia keluar dari ruangannya, menyusuri koridor rumah sakit. Para perawat disana tak lupa untuk selalu menyapa dirinya.


"Selamat sore, Dok!"


"Selamat sore, Dok!"

__ADS_1


Ia hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Banyak para perawat wanita disana, sangat mengagumi dirinya. Tak sedikit pujian yang terlontar kala berpapasan dengannya.


"Dr.Dava adalah pria tertampan disini!"


"Tapi sayangnya, dia sudah menjadi milik orang lain!"


"Apaan sih. Itukan karna dijodohin. Belum tentu juga mereka saling suka! Jadi, kita masih ada kesempatan."


"Tapi istrinya cantik, tahu?"


"Bodoamatlah! Yang penting.. selama ada dia di sini, aku akan semangat kerja."


Berbeda dengan Dava. Ia sama sekali tidak pernah peduli dengan perkataan mereka. Kini, langkah kaki panjangnya menuju ke area parkir mobil. Setelah tiba disana, ia segera melajukan mobilnya menuju kerumah.


Setengah jam kemudian...


Dava telah tiba di rumah. Dan langsung disambut hangat oleh para pelayan.


"Selamat datang kembali, Tuan!" Sahut mereka sopan. Dava hanya mengangguk kecil. Namun matanya sudah tertuju keseisi ruangan. Mencoba mencari keberadaan istrinya. Bi Ati yang menyadari tingkahnya, langsung memberanikan diri untuk bertanya.


"Apa Tuan sedang mencari Nyonya?" Tanyanya penuh hati-hati. Dava langsung menoleh kearahnya.


"Emm! Dimana dia?" Sahutnya bertanya kembali.


"Tadi siang Nyonya sudah pergi, Tuan! Beliau juga membawa kopernya. Dan..." Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Dava sudah berteriak lebih dulu.


"Apaaa?" Kagetnya sudah membulatkan matanya. Ia lalu membuang nafasnya dengan kasar. "Aish!


"Kemana dia pergi? Mengapa tidak memberitahu ku?" Tanyanya lagi.


"Nyonya.. dia pergi ke rumah orangtuanya, Tuan!" Sahut Bi Ati sedikit khawatir. Hanya mendengar Nyonya pergi, bagaimana mungkin Tuan semarah ini, pikirnya. Tanpa menyahutnya lagi.. Dava langsung kembali ke mobil dan sudah menyalakan mesinnya. Ia segera melajukan mobilnya kembali, tanpa meninggalkan pesan.


Sementara para pelayan, sudah dibuat kebingungan olehnya.


"Aku kan.. belum selesai berbicara.!" Sahut Bi Ati masih ambigu. Tiba-tiba ia tersadar kembali.


"Jangan-jangan.. Tuan salah paham lagi? Tidak! Tuan, tunggu! Nyonya tidak bermaksud meninggalkan rumah selamanya!" Teriaknya berharap Dava mendengarkan. Tapi mobilnya sudah melaju begitu jauh dari pandangannya.


"Sudahlah! Semua pasti baik-baik saja!" Gumam Bi Ati penuh harap.


"Di dalam mobil"


Ekspresi wajah Dava, kini tampak sangat muram. Ia berkali-kali memukuli setir mobilnya. "Bugh..bugh..bugh! Disertai teriakan rasa bersalahnya. "Aaahhh!"


"Harusnya aku membujuknya tadi. Tapi, aku sama sekali tidak bermaksud membentaknya." Ucapnya merasa frustasi. Ia semakin mengebut mobilnya.


"Tapi.. mengapa dia harus pergi dari rumah? Apa dia begitu membenci ku?" Batinnya.


Beberapa saat kemudian..


Sesampainya dirumah mertuanya, ia langsung turun dari mobil mewahnya. "Brakkk! Suara pintu mobil tertutup. Sang ibu mertua yang sedang menyiram bunga langsung menoleh kearah suara tersebut. Ia terkejut melihat kehadiran Dava disana.


"Hah? Nak Dava?" Kagetnya.


"Iya, ma!" Sahut Dava sudah melangkah menghampirinya. Ia lalu menyalim sang ibu mertua. Lalu pandangannya beralih kedalam rumah, berusaha mencari keberadaan Rea.


"Bukannya kamu ada tugas diluar kota, ya?" Tanya ibu mertuanya lagi, yang membuatnya kembali tersadar dari lamunannya.


"Hah? Luar kota?" Kaget Dava tak mengerti. Melihat ekspresi ambigunya, membuat ibu mertuanya sedikit menghela nafasnya. "Fyuh! Ia sudah mengerti maksud kedatangannya.


"Pasti kedua bocah ini sedang ada permasalahan! Biarkan saja mereka menyelesaikannya sendiri. Lagipula.. mereka bukan lagi anak kecil!" Gumamnya dalam hati.


"Masuklah! Istrimu berada dikamarnya!" Ucapnya mempersilakan. Dava pun menganggukkan kepalanya disertai senyum canggungnya.


TBC


Halo para readers setiaku:)


Jangan lupa tinggalkan jejak say❤️


I lovyu all😘

__ADS_1


__ADS_2