
Sore harinya...
"Di dapur"
Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Rea, si gadis cantik pun kembali memasak untuk makan malam mereka nantinya. Ia mulai memotong-motong berbagai macam sayuran-sayuran dan juga bumbu masak lainnya. Hari ini ia akan memasak rendang, makanan kesukaan ibu mertuanya, serta sup ayam kesukaan suaminya.
"Emmm, la..la..la, emm...! Ia bernyanyi kecil tanpa lirik seperti biasanya.
"Ok bunda! Sekarang, kita masukkan semua bumbunya, lalu tumis hingga harum. Setelah itu, masukkan dagingnya, dan.. bla..bla..bla!" Kebiasaannya menjadi vlogger dadakan pun tak pernah lepas dari dirinya.
Satu jam lamanya Rea memasak, kini semua hidangan telah tertata rapi di meja makan. Tinggal menunggu kedatangan mertua serta suaminya saja. Ia melepas nefronnya dan melangkahkan kakinya menuju ke ruang tengah, dimana orang yang ditunggu-tunggu berada. Ia sempat menghentikan langkahnya.
"Huh.. harus berakting lagi nih!" Gumamnya pelan, sembari memegang erat genggaman tangannya. Seketika ia mengubah ekspresinya menjadi begitu hangat. Sudut bibirnya melengkung, membentuk sebuah senyuman manis diwajah cantiknya. Ia kembali melangkahkan kakinya.
"Sayang.. mama, waktunya makan malam!" Ucapnya lembut, sambil tersenyum manis.
"Ehh, iya sayang! Mama juga udah laper banget!" Ucapnya manja, sambil memegangi perutnya yang kosong. Sementara Dava, ia malah tersenyum licik menatap Rea. Entah apa lagi yang akan dilakukan pria ini untuk mengerjai istrinya.
"Sepertinya.. umurku akan berkurang jika tidak mengerjainya sekali saja!" Batinnya tersenyum licik.
Rea yang menyadari tatapannya barusan, terlihat sedang bingung. Ia menautkan kedua alisnya.
"Ada apa dengannya? Dasar es balok!" Batinnya masih belum menyadari tujuan Dava yang sebenarnya.
"Ehem! Aku juga lapar banget, ma! Tapi malam ini, kita akan dipuaskan oleh masakan enak istriku! Mama bisa makan sepuasnya." Timpal Dava tersenyum licik. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Rea. Dirangkulnya pinggang ramping wanita itu dan mengecup keningnya sekilas. "Cup!
"Benarkan sayang?" Lanjutnya lagi tersenyum puas. Sementara Rea, ia sudah sangat geram. Lagi-lagi Dava mengambil keuntungan darinya, apalagi didepan ibu mertuanya saat ini.
"Ingin rasanya membunuh pria ini sekarang juga!" Geramnya dalam hati. Namun, ia mengurungkan niatnya. Raut wajahnya seketika berubah, menampakkan senyum mengembangnya.
"Benar, ma! Jadi, mama tidak perlu khawatir!" Ucapnya dengan nada lembut. Ia kembali mengalihkan pandangannya ke arah Dava dan sudah melotototinya dengan tatapan mematikannya. Sementara Dava, pria ini malah terlihat senang.
"Hahaha.. akhirnya aku berhasil membuatnya kesal!" Batinnya tertawa senang.
__ADS_1
"Emm.. kalian ini memang pasangan serasi. Mama jadi merasa seperti nyamuk saja!" Sahutnya sambil memonyongkan bibirnya dan dibalas tawa oleh keduanya.
"Pasangan serasi dari mana coba? Orang anaknya es balok begini kok. Udah dingin, mesum lagi, wanita manapun gak akan betah disampingnya." Gerutu Rea dalam hati.
"Yaudah.. yuk, kita makan!" Sahut Rea lagi. Ibu dan anak itu hanya menganggukkan kepala menuruti perkataan nya. Karna memang keduanya sudah sangat lapar.
"Di meja makan"
Rea segera mengambilkan nasi untuk mertua dan suaminya dahulu. Setelah itu, barulah ia mengambilkan untuk dirinya sendiri. Ia juga menyodorkan lauk-pauknya kehadapan ibu dan anak itu. Disela-sela kesibukannya, ternyata ada sepasang mata yang memperhatikannya sejak tadi. Siapa lagi kalau bukan Dava. Ia tersenyum tipis menatap wajah mungil Rea yang tanpa tersentuh riasan sedikitpun.
Mama Zahra yang melihatnya pun tersenyum senang.
"Sepertinya, Dava sudah mulai menaruh hati padanya? Ku pikir.. hatinya akan benar-benar membeku seumur hidup. Ternyata aku salah sangka!" Gumamnya dalam hati.
Ia sempat berpikir bahwa hubungan keduanya tidaklah baik. Mengingat, karna mereka memang dijodohkan. Jadi akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk saling mengenal. Ditambah lagi dengan tabiat Dava selama ini. Sudah banyak wanita-wanita dari kalangan menengah keatas yang dikenalkan olehnya kepada Dava, namun putranya itu tidak pernah tertarik sama sekali. Dan pada akhirnya, pilihan terakhir jatuh kepada Rea. Dava sendiri pun tidak ada alasan lagi untuk menolak keinginan kedua orangtuanya.
"Ehem! Ia berdehem, membuyarkan lamunan putranya itu.
"Benarkan sayang?" Lanjutnya lagi, menoleh ke arah Dava. Dava hanya tersenyum kaku mendengarnya.
"Apa mama bisa membaca pikiran?" Batinnya.
Mamanya menggelengkan kepala tidak percaya.
"Anak bodoh ini! Apa dia sungguh tidak tahu bagaimana cara meluluhkan hati seorang wanita? Apa dia hanya menatapnya dari jauh saja, seperti sekarang ini? Benar-benar tidak bisa diandalkan! Sepertinya.. aku harus menjalankan rencanaku malam ini. Kalau tidak.. aku harus menunggu sepuluh tahun lagi agar bisa menimbang cucu!" Gerutunya dalam hati.
Lalu ketiganya segera makan dengan begitu lahap. Masakan Rea memang tidak diragukan lagi. Rasanya tidak kalah jauh dari buatan tangan ala chef terkenal lainnya. Pintar masak seperti ibunya, itulah yang menjadi daya tariknya tersendiri.
Setelah mereka selesai makan, Rea segera membereskan kembali peralatan masak dan makan yang mereka gunakan barusan. Mertuanya hendak membantunya, namun dicegah olehnya. Karna ia sudah terbiasa dengan itu semua. Meski hidup keluarganya berkecukupan, namun ia tidak manja seperti gadis-gadis lain pada umumnya. Ia kerap membantu ibunya mempersiapkan pesanan catering, ataupun memasak untuk mereka jika ibunya sedang sibuk. Itulah mengapa, mama Zahra sengaja memilihnya sebagai menantunya. Ia percaya, kalau Rea akan menjadi istri serta ibu yang bertanggung jawab nantinya untuk putra dan cucu-cucunya kelak.
"Di ruang keluarga"
Dava tampak sedang sibuk dengan laptopnya. Ia sibuk membalas setiap email yang masuk, baik dari pasiennya ataupun dari bagian departemen tempat ia bekerja. Sedangkan mamanya, ia sibuk menonton film Bollywood kesayangannya. Ia terhanyut ke dalam suasana drama yang ia tonton.
__ADS_1
Tak menunggu waktu lama, Rea datang dengan membawa nampan berisi cemilan, serta dua gelas teh manis hangat. Ia meletakkannya di atas meja, dan menyuguhkannya kehadapan Dava dan mertuanya.
"Emm, sayang.. mama.. ini aku buatkan teh manis! Diminum dulu selagi masih hangat!" Ucapnya lembut sambil menoleh ke arah keduanya.
"Emm, iya sayang!" Sahut mertuanya tanpa menoleh. Ia masih terlihat sibuk menonton film kesukaannya itu. Sedangkan Dava, langsung menyeruput tehnya.
"Emm, terimakasih istriku!" Ucapnya tersenyum licik dan dibalas tatapan tajam oleh istrinya. Ia hanya terkekeh kecil mendapat tatapan Rea. Sebenarnya, Dava adalah seorang pecinta kopi. Tapi, setelah ia terkena gangguan pada lambung, ia mulai berhenti mengonsumsinya. Karna kopi memang tidak dianjurkan untuk dikonsumsi oleh si penderita maag ataupun lambung.
Lama mereka sibuk dengan urusannya masing-masing, mereka kembali berbincang santai sambil menikmati cemilan yang tersedia.
"Emm.. apa mama mau tidur denganku malam ini? Takutnya mama tidak terbiasa tinggal disini!" Sahut Rea membuka bicara. Sebenarnya, ia sedang mencoba untuk menghindari tidur sekamar dengan Dava. Seperti kesepakatan sebelumnya, kalau mereka akan tidur dikamar yang sama selama mertuanya tinggal disana, untuk menghindari kecurigaannya. Namun bukannya setuju, mertuanya malah membuatnya menganga mendengar penuturannya.
"Mama gak apa-apa kok! Kamu gak usah khawatir sayang... mama udah biasa! Sebaliknya, kalian harus lebih berusaha lagi, agar cepat dapat momongan!" Ucapnya penuh arti.
"Ehh!" Rea gelagapan mau menjawab apa. Sementara Dava, ia malah dengan entengnya menjawab mamanya.
"Mama tenang aja! Kita pasti akan segera ngasih mama cucu. Tinggal menunggu waktunya saja! Benarkan sayang?" Sahut Dava tersenyum licik kearah Rea. Namun hanya dibalas anggukan kaku olehnya.
"Dasar es balok! Tunggu pembalasan ku!" Geramnya. Ia merapatkan giginya penuh emosi.
"Baiklah! Mama senang mendengarnya!" Sahut wanita paruh baya itu senang. Lalu ia berjalan menghampiri Rea dan berbisik ke telinganya.
"Semangat sayang! Kamu pasti bisa!" Bisiknya menyemangati, membuat Rea membelalakkan matanya. Mama Zahra, kembali mengalihkan pandangannya ke arah putranya.
"Bersikaplah lembut! Mengerti?" Ketusnya dan berlalu pergi dari hadapan keduanya.
"Apa dia sungguh ibuku? Mengapa aku seolah menjadi anak tiri sekarang?" Batinnya menangis.
Rea kembali menggerutu menyadarkan lamunannya.
"Kamu jangan senang dulu! Aku akan membalas mu! Huh!" Ketusnya dan berlalu pergi juga, meninggalkan Dava yang tampak sudah frustasi oleh keduanya.
TBC
__ADS_1