MARRIAGE CONTRACT WITH THE COLD DOCTOR

MARRIAGE CONTRACT WITH THE COLD DOCTOR
Bab 2: Kecewa


__ADS_3

Di sepanjang perjalanan menuju ke kampus.. hanya ada keheningan di dalam mobil. Dava sibuk menyetir sedangkan Rea memalingkan wajahnya menatap ke luar jendela mobil.


"Di kampus"


Setibanya di kampus, Rea tak ingin berlama-lama di sana. Dia segera bergegas keluar dari mobil.


"Kedepannya jangan menjemput ku lagi. Dan... terimakasih!" Ucapnya datar dan segera membuka pintu dan berlalu pergi. Sementara Dava hanya menatapnya tanpa ekspresi dan berlalu pergi ke rumah sakit tempat ia bekerja.


Rea yang baru datang langsung dihampiri oleh Rio.


"Hi, sayang! Baru nyampe?" Sapa Rio.


"Iya, sayang!" Sahut Rea sembari memeluknya. Rio pun membalas pelukannya.


Flashback off


Mereka telah menjalin hubungan semenjak duduk di bangku SMA. Rea adalah seorang siswa yang cerdas juga sopan. Tak heran jika dia memiliki banyak teman, tak terkecuali sahabatnya Jelly. Jelly adalah siswa pertama yang dikenalnya, ketika pertama kali masuk sekolah. Kemudian, mereka sahabatan. Berselang beberapa waktu, Rio mengutarakan cinta kepada Rea. Awalnya, Rea tidak menyukainya. Tapi karna Rio selalu baik dan perhatian kepadanya.. menimbulkan rasa suka dihatinya. Kemudian, mereka berpacaran. Jelly selalu mendukung hubungan mereka berdua. Jelly juga kenal dekat dengan kedua orangtuanya karna sering berkunjung ke rumahnya untuk mengerjakan PR.


Tapi, selama mereka menjalin hubungan.. kedua orang tua Rea tidak pernah menyukai Rio. Alasannya, karna dia tidak cocok dengan Rea yang begitu polos. Belum mengerti apa-apa. Hingga pada akhirnya, ketika Rea melanjutkan studinya ke perguruan tinggi, ia dijodohkan dengan putra sahabatnya. Dan memaksakan Rea untuk memutuskan hubungan dengan Rio, kekasihnya. Tentu saja dia tidak setuju. Dia berbohong dan berpura-pura putus dengannya.


Flashback on


Pagi ini Rea hanya ada satu kelas pagi. Kebetulan hari ini adalah anniv yang ke-4 tahun mereka. Ia berencana memberi kejutan kepada kekasihnya, dan dia ingin agar mereka merayakannya di sebuah taman hiburan untuk kali ini. Karna sebelumnya.. mereka akan merayakannya di caffe.


"Ahh.. dari tadi Rio nggak ada membahas tentang anniv kami. Tapi, sebaiknya jangan disinggung dulu deh! Dia pasti sibuk dengan perjamuan keluarganya kali ini" Batinnya.


"Sayang.. hari ini kamu ada waktu gak?" Tanyanya penuh harap.


"Emm.. kayaknya nggk ada deh sayang! Soalnya aku masih sibuk.. ini juga mau buru-buru pulang, sayang. Ga papa kan?" Sahut Rio sembari memegang tangan Rea. Ada sebersik rasa kecewa yang tersirat diwajah gadis cantik itu.


"Apa dia benar-benar melupakannya?" Batinnya.


Dia mencoba dan mencoba lagi agar Rio tinggal untuk melihat kejutan yang telah dibuatnya susah payah. Ia harus menghemat uang jajan dan terkadang bekerja paruh waktu agar dapat membayar biaya sewa taman hiburan, tempat ia membuat kejutannya untuk Rio. Namun, lagi lagi Rio menolaknya.


"Emm.. 15 menit juga ga papa kok sayang!" bujuknya lagi.


"Aku juga mau banget, sayang! Tapi acaranya akan berlangsung siang ini! Kamu tau sendiri kan.. kalau aku anak sulung keluarga ku. Jadi, aku harus datang lebih awal.. aku harus bisa menjadi contoh untuk adik-adik ku" Sahutnya.


"Kalau siang ini nggak ada, tengah malam juga ga papa kok!" ucapnya memanyumkan bibirnya.


"Yaudah.. nanti aku bakal ke sana. Kamu sharelok aja, sayang" ucapnya sembari mencium keningnya.


"Janji, ya?"


"Iya, iya!"

__ADS_1


Rio segera berlalu pergi. Sementara Rea kembali ke rumah untuk mengganti pakaiannya dan mengambil sesuatu di sana. Ia memakai dress berwarna merah maroon, lengan pendek, rambutnya terurai indah dan memoles sedikit riasan diwajahnya, tidak menor seperti tante-tante.


Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore, dia pergi ke taman hiburan lebih awal untuk memastikan segala sesuatunya. Waktu terus berjalan, tak terasa matahari telah terbenam dan langit telah disinari oleh cahaya bintang-bintang yang indah. Namun, sang kekasih yang ditunggu-tunggu sedari tadi belum juga menampakkan batang hidungnya.


Ia mencoba menghubunginya beberapa kali.. namun tak ada jawaban sama sekali.


"Mungkin acaranya belum selesai, jadi dia sibuk! Aku akan menunggu di sini sampai dia datang" Ucapnya menyemangati dirinya.


Ia tetap setia menunggu dan menunggu, di kursi taman hiburan tersebut. Angin malam menerpa kulit putih halusnya. Ia meringkuk kedinginan. Hingga jam telah menunjukkan pukul 10 malam. Namun, Rio tak kunjung datang. Sang karyawan yang bekerja di sana bertanya kepadanya..


"Mbak.. kenapa dari tadi sendirian? Apa pacarnya gak jadi datang? Sia-sia dong, udah di dekorasi sebagus ini malah gak datang.. Jam 12 kita harus tutup mbak. Kalau mbak enggak keberatan biar saya pesan taxi aja, mau nggak mbak? Soalnya ini udah larut. Takutnya di cariin sama yang di rumah. Kan kasian mereka khawatir" ucap seorang karyawan wanita merasa khawatir karna dia meringkuk kedinginan di sana.


"Ehh.. makasih! Tapi nggak usah mbak! Bentar lagi dia bakalan dateng kok! Mbak gak usah khawatir.. Ucapnya sembari tersenyum tipis. Dia sendiri pun tidak tau kapan Rio akan datang ke sana. Meski ada sedikit keraguan, tapi dia masih memberi Rio secercah harapan.


"Yaudah kalau gitu! Saya permisi dulu ya mbak. Masih ada kerjaan yang harus ku lakukan!" Ucapnya lagi, sembari melangkahkan kakinya berlalu pergi.


Rea hanya menganggukkan kepalanya.


Dia kembali menelpon kekasihnya.. namun tak kunjung dijawab. Bukan hanya melalui telpon.. bahkan WeChatnya pun tak dibalas.


"Rio kemana sih? Kok bisa lama banget, ponselnya juga gak bisa dihubungi! Gak mungkin kan sampe jam segini acaranya belum selesai?" Ucapnya gusar. Dia sudah sangat kedinginan, namun dia memilih untuk tetap menunggu di sana.


"Aku gak mau usahaku kali ini sia-sia gitu aja" Ucapnya pelan. Dia merasa kecewa dengan Rio.


"Di rumah keluarga Sean"


"Kalau aku telfon Rea.. mungkin dia segan meminta izin untuk pulang! Kalau aku telfon Dava.. takutnya mengganggu! Tapi, kok aneh ya? Biasanya.. kalau Dava mau jalan sama Rea, dia bakal minta izin sama kita. Ini pertama kalinya mereka jalan, kok Dava gak ngasih tau dulu ya? Ahk.. udahlah namanya juga anak muda, mungkin mereka pengen saling mengenal dulu kali ya?" Ucapnya sembari memegang dagunya.


"Kenapa sih, ma?" Sahut papa Rei dari ruang kerjanya yang melihat istrinya sedari tadi mondar-mandir.


"Ini loh, pa.. Rea belum pulang!" Ucapnya datar.


"Apaaaaaaa? Uhuk..uhuk..uhuk! Papa Rei yang sedang minum tersedak mendengarnya.


"Papa.. pelan-pelan dong" Sahut mama Laila sambil menepuk-nepuk punggung suaminya.


"Rea belum pulang, tapi mama dengan santainya memberitahukan ini ke papa? Apa mama sudah kehilangan akal? Ini sudah pukul 11.30 malam loh, ma! Anak perempuan jangan dikasih izin pergi malam-malam. Kenapa mama ngijinin Rea pergi?" Ucapnya marah.


"Iya, papa tenang dulu.. Rea pergi bareng Dava. Dava itu anak baik-baik.. jadi gak bakalan terjadi apa-apa, ok? Papa percaya deh sama mama!" Dia mencoba menenangkan suaminya.


"Papa gak bisa tenang, ma.. kalau Rea belum pulang! Sekarang mama telfon si Dava, biar Rea segera diantar kembali! Ini udah larut malam, gak pantes anak perempuan keluyuran di malam hari." Ucapnya tegas, membuat ibu Laila menelan salivanya. Ibu Laila segera menghubungi Dava.


"Di rumah Sakit"


Dava yang baru saja mau pulang, tiba-tiba ponselnya berdering.

__ADS_1


"Kring..kring..kring (Tante Laila is calling)! Dia langsung menjawabnya.


"Ya, halo tante! Ada apa tante nelpon Dava malam-malam begini?" ucapnya sembari berjalan menuju parkiran.


"Itu... Rea, Rea.. kapan diantar pulang, nak? Ini udah larut malam.. dia harus segera kembali!" Sahut ibu Laila dari seberang telpon.


Dava yang sedang kebingungan pun, merasa aneh tidak tau maksud perkataan ibunya Rea.


Dia hanya terdiam dan bergumam dalam hati.


"Apa gadis itu menipu orang tuanya lagi dan melibatkan aku, huh? Gadis yang menyebalkan!"


Ini bukanlah kali pertama Rea membohongi ibunya, untuk bisa jalan dengan si Rio.. jadi dia harus melibatkan Dava agar mamanya mengijinkan dia pergi.


"Nak.. Dava? Apa kamu masih di sana?"


"Ehh.. iya tante! Dava akan segera mengantar Rea pulang"


"Baiklah, hati-hati dijalan. Jangan ngebut, ya? Tante tunggu di rumah"


"Iya, Tante!"


"Kemana lagi gadis ini pergi? Aku akan memberi dia pelajaran nanti!" Ucapnya kesal. Dia melajukan mobilnya dan sebelum itu dia menghubungi seseorang.


"Za... tolong periksa lokasi nomor ponsel ini, secepatnya. Lalu ia mengirim nomor ponsel Rea kepada seseorang yang dihubunginya barusan.


Itu adalah Reza sahabatnya, ia merupakan seorang hackers hebat dan paling bisa diandalkan.


Tidak butuh waktu lama, ponselnya berdering lagi ada pesan dari Reza. Ia mengirimkan lokasi keberadaan Rea yang berada di taman hiburan kota.


"Ternyata disini, heh! Rahangnya mengeras, tangannya terkepal kuat di setir mobil. Dava kesal karna Rea selalu melibatkannya di dalam masalah percintaannya.


"Di taman hiburan kota"


Dava yang sudah diselimuti oleh hawa dingin penuh amarah segera turun dari mobil. Dia berjalan kesana kemari mengelilingi taman tersebut, mencari-cari seorang gadis yang berani membuatnya marah.


Matanya terbelalak melihat sosok seorang gadis cantik yang tak lain adalah Rea sedang meringkuk kedinginan di kursi taman. Dengan kepala diletakkan di atas lututnya yang mungil. Dava iba dan tak tega melihatnya. Ia segera menghampirinya, membuka jaketnya dan segera memakaikannya ke tubuh mungil Rea. Sontak membuat Rea kaget.


"Ri... ucapannya terhenti. Kala orang itu bukanlah orang yang di nantikannya, melainkan si es balok.


"Ka, kamu... Ke.. kenapa kamu?" Ucapnya gemetar karna sudah kedinginan.


Tanpa pikir panjang, Dava langsung menggendongnya dan membawanya ke dalam mobil.


"Turunkan.. turunkan aku" ucapnya sembari meronta.

__ADS_1


"Diamlah! Jangan banyak bergerak"


TBC


__ADS_2