MARRIAGE CONTRACT WITH THE COLD DOCTOR

MARRIAGE CONTRACT WITH THE COLD DOCTOR
Bab 21: Menyatakan perasaan


__ADS_3

Keesokan paginya..


Rea membuka matanya perlahan. Lalu menatap langit-langit dinding kamar. Cukup lama ia melamun, ia lalu membalikkan tubuhnya. Matanya membulat sempurna, melihat Dava tengah tidur terlelap di sampingnya.


"Mengapa dia bisa berada di sini?" Gumamnya pelan. Secepat kilat, wajahnya langsung berubah menjadi muram. Ia kembali teringat dengan kejadian kemarin siang.


"Cih! Dasar pria b******k! Beraninya naik keatas ranjang ku?" Geramnya, hendak memukul Dava. Namun tangannya terhenti, kala Dava sedikit bergeser dari posisinya tadi. Setelah Dava benar-benar tertidur kembali, ia langsung membuang nafasnya pelan.


"Fyuh!" Ia mengusap dadanya yang sempat tegang. Kemudian, ia bangkit perlahan dari posisi rebahannya, menuju ke kamar mandi.


Setengah jam lamanya ia berada disana, kini ia keluar hanya dengan mengenakan kimono mungilnya. Ia berjalan ke ruang ganti baju dan segera berpakaian rapi, seperti biasa. Karna hari ini, Rea akan kembali masuk kuliah. Tak lupa, ia memoles sedikit make-up diwajah cantiknya. Setelah selesai, ia berjalan menuruni anak tangga menuju ke dapur.


"Di dapur"


Kini Rea tampak sedang membuat sarapan untuk dirinya sendiri, yakni sepotong roti bakar. Biasanya, ia selalu menyiapkan sarapan untuk suaminya, namun kali ini tidak. Dikarenakan, moodnya sedang buruk. Lebih tepatnya masih marah terhadap Dava. Entah sejak kapan ia mulai merasa cemburu, melihat Dava dekat dengan seorang wanita.


Setelah selesai, ia segera duduk di meja makan. Dan melahapnya seraya memainkan ponselnya. Ia menyempatkan waktu, untuk menonton drama kesayangannya. Berselang beberapa waktu, tiba-tiba terdengar suara seseorang berbisik di telinganya.


"Selamat pagi!"


Hal itu membuat telinganya sedikit memanas, hingga wajahnya pun ikut memerah. "Ugh! Bulu kuduknya merinding. Ia langsung menoleh kebelakang dan mendapati Dava tengah menatapnya. Keduanya bertatapan cukup lama.


"Dia sangat tampan! Tapi akan lebih baik jika dia tidak sedingin es! Benar-benar es balok!" Umpatnya dalam hati.


Melihat dirinya sedang melamun, Dava segera melambaikan tangannya, tepat di depan wajahnya.


"Ada apa dengan mu?" Ucapnya. Hal itu menyadarkan Rea dari lamunannya.


"Ahh?" Kagetnya. Ia lebih terkejut lagi, saat Dava menyentuh bibirnya.


"Apa.. apa yang kamu lakukan?" Ucapnya terbata. Sekarang, matanya benar-benar membulat hampir terjatuh.


"Dasar anak kecil! Makan pun belepotan!" Ledek Dava, seraya menjilat serpihan roti yang tertinggal di sudut bibir Rea.


"Dia.. dia memakannya? Apa yang dia lakukan?" Gumam Rea merasa malu.


"Deg..deg..deg! Jantungnya berdegup kencang, tak karuan. Ia terdiam mematung, seolah mulutnya terbungkam rapat. Hal itu membuat Dava sedikit menyerngit.


"Ada apa dengannya? Tumben tidak cerewet?" Batinnya tak mengerti.


Ia lalu berpaling menatap keatas meja. Ternyata, tidak ada sarapan untuknya.


"Kamu.." ucapannya terhenti, melihat Rea masih bengong, dengan tatapan kosongnya. Dava melonggarkan dasinya, dan kembali menghampiri Rea. "Cup! Sebuah kecupan lolos mendarat di bibir ranumnya.


"Kamu?" Rea hendak mendorong tubuh pria dihadapannya, namun Dava sudah menahan tengkuknya, yang membuatnya sulit untuk menolak. Mereka berciuman cukup lama. Hingga membuat Rea hampir kehilangan nafas. Ia langsung memukul dada bidang Dava, agar bisa terlepas dari pagutannya.


"Kamu.. hosh, hosh! Kamu pria b******k!" Kesalnya sambil mengusap dadanya. Namun Dava malah tersenyum padanya, tidak merasa bersalah sama sekali.


"Itu karna kamu tidak membuatkan ku sarapan. Lain kali.. hukumannya akan lebih dari ini." Ucapnya tersenyum licik.


"Dasar b ******n!" Kesal Rea lagi. Ia hendak menghabiskan sisa roti di piringnya, namun langsung diambil oleh Dava.


"Aku juga lapar. Apa kamu tega melihat suami mu mati kelaparan?" Ucapnya sudah melahapnya ludes.


Rea semakin kesal dengannya. Ia bangkit dari duduknya hendak pergi, namun lagi-lagi tangannya di genggam oleh Dava.


"Apa lagi yang kamu inginkan, huh? Tuan Dava yang terhormat?" Pekiknya dengan kekesalannya. Tanpa mengindahkan perkataannya, Dava segera meraih tangannya dan menuntunnya masuk kedalam mobil. "Brakk! Suara mobil tertutup. Ia menatap Rea yang masih mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil.


"Apa yang sebenarnya terjadi dengannya? Mengapa wajahnya muram sejak kemarin?" Batinnya.


"Aku akan terlambat, kalau kamu masih belum melajukan mobilnya!" Sahut Rea, yang menyadarkan lamunannya.

__ADS_1


"Hah? Emm, baiklah!" Sahut Dava merasa linglung. Ia lalu melajukan mobilnya menyusuri jalanan ibukota menuju ke kampus Rea.


Sesampainya di kampus, Rea langsung keluar tanpa berpamitan kepada sang suami. Hal itu semakin membuat Dava merasa aneh dengan tingkahnya.


"Hah? Apa dia mengabaikan ku?" Gumamnya pelan. Kemudian, ia membuang nafasnya perlahan. "Fyuh!


"Dasar wanita!" Ucapnya lagi. Tanpa menunggu lagi, ia kembali melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit, mengingat banyaknya janji temunya dengan pasien langganannya hari ini.


Satu Minggu kemudian..


Seminggu telah berlalu, namun Rea masih saja bersikap dingin terhadap Dava. Baik saat dirumah maupun saat Dava mengantarkannya ke kampus.


Kini, jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. Rea baru saja keluar dari gerbang kampus. Ia sibuk mengotak-atik ponselnya, hendak memesan ojek online. Namun, teriakan seseorang membuyarkan kesibukannya.


"Rea...?" Teriaknya. Rea segera menoleh kearah suara tersebut.


"Gigi?" Sahutnya senang. Ia segera berlari menghampiri Gigi dan memeluknya dengan penuh kasih.


"Aku merindukan mu!" Ucapnya senang.


"Sama, aku juga. Kita nongkrong, yuk?" Ajak Gigi penuh semangat. Rea tampak berpikir sejenak, memikirkan tentang ajakan sang sahabat.


"Haruskah aku memberitahu si es balok? Cih! Tapi, dia tidak akan peduli juga kan?" Batinnya.


"Yaudah! Ayuk!" Sahutnya antusias. Ia langsung merangkul lengan Gigi. Lagipula, sudah lama tidak bertemu dengan kesayangan ku yang satu ini, pikirnya. Memang, sejak kejadian di Restoran saat itu, keduanya tidak lagi pernah bertemu.


Keduanya langsung, beranjak menuju ke mobil Gigi, yang terparkir diseberang jalan. Keduanya tampak sangat bahagia, seolah tidak memikirkan apapun. Tanpa menunggu waktu lama, Gigi segera melajukan mobilnya.


"Kemana kita akan pergi?" Sahutnya ditengah-tengah kesibukannya menyetir.


"Emm? Rea tampak sedikit menyerngit. Tiba-tiba, ia tersenyum lebar memikirkan sesuatu.


"Ke klub aja deh" Ucapnya santai.


"Memangnya kenapa?" Tanya Rea balik.


"Bukan apa-apa. Tapi, apa kamu yakin?" Tanya Gigi untuk memastikannya. Rea hanya menganggukkan kepalanya. Gigi pasrah saja. Banyak yang terjadi selama 2 tahun ini. Mungkin saja, dia memang sudah pandai minum, pikirnya.


"Di Heaven Hell Club'"


Setengah jam kemudian, mereka tiba di tempat tujuan. Keduanya langsung keluar dari mobil. Dari luar, sudah terdengar jelas, suara musik yang begitu keras memenuhi seisi ruangan. Rea langsung menarik tangan Gigi menuju kedalam.


Sesampainya didalam, Rea langsung memesan banyak bir. Dan meneguknya, hingga menghabiskan beberapa botol. "Gluk..gluk..gluk! Gigi yang melihatnya pun, merasa keheranan.


"Hah? Apa ini masih Rea sahabat ku?" Ucapnya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Namun, ia tidak terlalu mempermasalahkannya.


Satu jam telah berlalu. Kini, kesadaran Rea perlahan menghilang. Penglihatannya mulai kabur. Namun tak menghentikannya untuk meneguk bir dihadapannya, lagi dan lagi.


"Hahaha..! Ternyata, minum bir jauh lebih menenangkan daripada memiliki seorang suami!" Ucapnya sedikit berteriak.


"Apa maksud mu?" Tanya Gigi tak mengerti.


"Emm? Apa kamu tahu? Aku, Rea.. lebih baik menjomblo seumur hidup, daripada harus menikahi, menikahi si pria b******k itu." Ia terus mengigau, seraya menunjuk-nunjukkan jari-jemarinya kewajahnya.


"Ugh.. hahaha..! Dia b******n! Ya, dia b******n!" Ucapnya lagi.


"Aish! Gigi tampak memijit-mijitt keningnya.


"Apa dia sudah mabuk? Apa yang harus ku lakukan?" Ucapnya sudah kebingungan. "Emm? Tiba-tiba ia menyerngitkan dahinya.


"Aku punya ide!" Ucapnya seraya menjentikkan jarinya.

__ADS_1


Secepat kilat, ia mengambil ponsel Rea dari dalam tasnya dan segera menghubungi Dava. Untung saja pin ponselnya adalah tanggal lahirnya, jika tidak entah kepada siapa lagi Gigi meminta tolong.


"Halo!" Sahut Dava dari seberang telpon.


"Ya, halo!" Sahut Gigi.


"Ada apa?" Tanya Dava lagi.


"Itu.. Rea mabuk. Aku tidak tahu harus meminta tolong siapa. Kamu kan suaminya? Bisakah kamu datang kemari?" Ucapnya penuh hati-hati.


"Apa? Mabuk? Sekarang.. dia ada dimana?" Terdengar suara Dava yang tampak khawatir.


"Aku akan mengirimkan alamatnya padamu!" Sahut Gigi lagi. Ia segera mematikan ponselnya dan mengirimkan alamatnya kepada Dava. Sembari menunggu kedatangan Dava, ia hanya bisa menjadi pendengar setia bagi Rea. Ia mendengarkan setiap keluh kesah maupun kekesalannya terhadap suaminya.


"Ckck..! Ternyata.. dia mengajakku kemari hanya karna kesal dengan suaminya? Benar-benar lucu!" Ucapnya seraya tertawa kecil.


"Huh! Aku khawatir, jika anak ini sudah jatuh hati dengan suaminya. Berjuanglah nak!" Lanjutnya lagi.


Setengah jam kemudian, Dava tiba disana. Ia tampak mencari-cari keberadaan sang istri. Ia menoleh kesana-kemari. Dan matanya terhenti, mendapati Rea yang sudah tampak acak-acakan.


"Wanita ini!" Geramnya. Ia langsung menghampiri keduanya. Tanpa menunggu persetujuan dari Rea, ia langsung membopong tubuhnya ala bridal style.


"Hah? Rea tampak terkejut, menatap wajahnya samar-samar.


"Apa yang kamu lakukan, huh? Turunkan aku!" Ucapnya sedikit berteriak. Ia meronta-ronta, berusaha untuk melepaskan diri, namun kekuatannya bukanlah apa-apa bagi Dava.


"Kalau begitu, aku akan membawanya pergi!" Sahut Dava datar, menoleh kearah Gigi.


"Emm, baiklah! Tolong jaga istrimu baik-baik! Jangan membuatnya kesal lagi. Atau dia akan lebih parah dari ini, kedepannya!" Sahut Gigi menasehati. Ia juga berlalu pergi dari sana, setelah membayar bilnya.


"Hah? Dava hanya mendongak mendengar ucapannya.


"Apa maksudnya?" Ucapnya tak mengerti. Namun, itu tidaklah lebih penting sekarang, pikirnya. Ia segera membawa Rea keluar dari sana menuju ke mobilnya.


"Di dalam mobil"


Dava menaruh tubuh Rea tepat disamping setir mobil. Belum sempat ia beranjak dari sana, Rea langsung menarik kerah bajunya.


"Dasar pria jahat! Aku membencimu!" Teriaknya. Hal itu membuat Dava sedikit terkejut.


"Kamu.. apa kamu..?" belum sempat ia melanjutkan perkataannya, Rea langsung mencium bibirnya. Dava semakin membulatkan matanya.


"Apa setiap wanita mabuk, akan seperti ini?" Batinnya.


Ia menikmati ciuman Rea. Tiba-tiba, ia meringis, kala Rea menggigit bibir bagian bawahnya.


"Hah? Apa yang kamu lakukan?" Kesalnya.


"Kamu b******n!" Lagi-lagi Rea mengumpati dirinya.


"Fyuh! Dava hanya bisa menghela nafasnya. Ia tidak mengerti, kesalahan apa yang ia perbuat hingga membuat gadis didepannya tak berhenti mengumpatnya.


"Karna kamu sedang mabuk, maka aku tidak akan memperhitungkannya kali ini." Ucapnya seraya membelai lembut rambut Rea. Tiba-tiba Rea kembali meraih tangannya. Tanpa terasa air matanya terjatuh begitu saja. Hal itu semakin membuat Dava merasa cemas.


"Apa.. apa aku menyakiti mu?" Ucapnya khawatir. Rea hanya menggelengkan kepalanya.


"Aku.. aku, aku menyukaimu!" Sahut Rea terbata. Ia semakin mempererat pelukannya ditubuh kekar Dava. Bukannya menyahut, Dava malah membulatkan matanya tak percaya.


Akankah perasaan Rea terbalas? Tetap nantikan kelanjutannya say๐Ÿจ


Jangan lupa tinggalkan jempol, komentar dan votenya ya say๐Ÿ˜

__ADS_1


I lovyu all๐Ÿ˜˜


TBC


__ADS_2