MARRIAGE CONTRACT WITH THE COLD DOCTOR

MARRIAGE CONTRACT WITH THE COLD DOCTOR
Bab 7: Takut kegelapan


__ADS_3

"Cit..cit..cit! Suara burung berkicau menyambut kedatangan sang fajar. Semua orang kembali melakukan aktivitasnya.


Deringan ponsel membangunkan Rea. Dia mengusap matanya perlahan, lalu mengambil ponsel yang sedang berbunyi di atas nakas samping tempat tidur.


"Ya, halo!" Sahutnya dengan suara khas bangun tidurnya. Dan masih memejamkan matanya.


"Ehh.. sayang! Mama tadi mau ngomong sama Dava, tapi karna kamu yang angkat.. jadi mama sampein ke kamu aja, gapapa kan?" Sahut seseorang dari seberang telpon yang tak lain adalah ibu mertuanya.


"Emm, iya.. kenapa ma?" Sahutnya masih dengan mata terpejam.


"Nanti malam, mama mau mengundang kalian makan malam di rumah mama. Kamu tenang aja sayang, orang tua dan adikmu juga ikutan kok. Karna sekarang kita udah jadi keluarga, jadi mama sengaja ngadain acara nanti malam untuk semakin mempererat hubungan kita semua. Yaudah, mama tutup dulu ya sayang? Dahh.. mama tunggu kedatangan kalian!" Sahut ibu mertuanya senang.


"Iya, ma!" Sahutnya tersenyum tipis.


Lalu, dia membuka matanya, hendak memainkan ponselnya. Dia terkejut melihat benda pipih tersebut bukanlah miliknya.


"Ehh.. ini bukan ponsel ku? Dimana ponsel ku? Ponsel siapa ini?" Dia berbicara sendiri. Kemudian, segera bangkit dan..


"Ini juga bukan kamar ku? Kamar ini dominan lebih ke style cowok. Kamar ku kan bagus, bukan gini. Ini.. Apa, apa aku diculik?" Glek! Dia menelan salivanya merasa takut.


"Ceklek! Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka.


"Aaaaahhhhh!" Teriaknya sambil menutup matanya dengan kedua telapak tangannya.


Dava baru saja keluar dari kamar mandi, dan tubuhnya hanya berlilit handuk di pinggangnya. Dava menghampirinya, dan hal itu membuat Rea semakin takut.


"Apa, apa yang ingin kamu.. kamu lakukan? Berhenti di sana! Atau.. atau aku akan menggigit mu!" Ucapnya terbata-bata.


Dava hanya menyerngitkan dahinya tanpa mengindahkan perkataannya.


Rea masih memejamkan matanya. Sementara Dava langsung mengambil ponsel yang berada ditangannya.


"Ehh..! Perlahan dia membuka matanya.


"Fyuhh, ternyata hanya mengambil ponselnya. Aku kira dia akan... huh, jika itu sampai terjadi akan ku potong telinganya" ucapnya pelan merasa lega.


"Apa kamu pikir aku lelaki cabul? Keluarlah!" Sahut Dava kesal.


"Cih! Kamu memang cabul" Gerutunya dalam hati.


"Tunggu dulu! Bukankah ini kamarmu? Apa kamu tidak akan memberiku sebuah penjelasan untuk ini?" Tanya Rea penuh selidik.


"Penjelasan untuk apa?" Timpal Dava yang sudah duduk di tepi ranjang.


"Kenapa aku bisa berada di kamar mu? Bukankah kamu seharusnya memberiku sebuah penjelasan? Apa kamu berbuat cabul lagi?" Sahutnya setengah berteriak ditambah lagi dengan tatapan mematikannya.

__ADS_1


"Cih! Aku tidak tertarik dengan perempuan datar seperti mu ini! Sungguh kamu sangat percaya diri, nona! Huh.." Sahutnya sambil tertawa menyeringai.


"Lalu kenapa aku bisa di sini?" Teriaknya.


"Berterimakasih lah padaku, karna aku masih mau menampung mu tadi malam, dan tidak melempar mu dari jendela" Ejeknya.


Rea kembali tersadar. Dia mengingat kejadian kemarin malam.


Kemarin malam..


Dava yang tertidur di sofa ruang tamu terbangun menyadari posisi tidurnya tidak nyaman.


"Emm.. ! Dia menggeliat kesana-kemari. Dan menyadari tangannya di pegang oleh seseorang, yang merupakan istrinya sendiri.


"Kenapa dia ada di sini?" Gumamnya pelan.


Dan dia menyadari ternyata Rea yang telah menenangkannya di mimpi buruknya kali ini.


"Huh, ternyata kamu tidak seburuk yang ku pikirkan!" Ucapnya pelan.


Lalu, ia membopong tubuh Rea menuju kamarnya. Sesampai di kamar Rea, Dava segera membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan mematikan lampu kamarnya. Lalu beranjak pergi.


Rea yang tidak terbiasa dengan lampu off saat tertidur, segera membuka matanya.


"Aaaaahhhhh" Teriaknya histeris. Dia ketakutan. Dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Ada apa? Kamu kenapa Rea?" Tanyanya khawatir.


"Aku takut, hiks..hiks..hiks!" Sahutnya lirih dan sudah menangis tersedu-sedu.


"Hah? Takut? Takut kenapa?" Tanyanya bingung.


Dia langsung memeluk Dava dengan erat. Namun, belum juga berhenti menangis.


Dava mengusap lembut rambut hitam panjang Rea.


"Aku.. aku tidak ingin tidur di sini, hiks.. hiks..hiks!" Ucapnya ketakutan dan masih tetap menangis.


"Jika tidak di sini.. dimana lagi? Kamar yang lain belum dibersihkan. Tidak mungkin menyuruh pelayan untuk membersihkannya sekarang kan? Ini sudah larut!" Ucapnya pelan. Dan berpikir keras untuk menemukan solusi.


"Aku gak mau tidur di sini! Pokoknya aku gak mau, hiks!" Teriaknya.


"Baiklah. Jangan menangis lagi, ini sudah larut. Kamu tidak akan tidur di sini, ok?" Sahutnya pelan.


Tanpa pikir panjang, Dava langsung menggendong tubuh mungil Rea menuju ke kamarnya. Lalu meletakkannya di atas ranjang dan menyelimutinya.

__ADS_1


"Tidurlah di sini! Aku akan tidur di sofa!" Ucapnya pelan. Lalu beranjak menuju ke sofa ruangan kamar itu.


"Tung.. tunggu!" Sahut Rea penuh keraguan.


"Ada apa?" Timpal Dava, masih menatap lekat wajah cantik Rea.


"Jangan.. jangan matikan lampu!" Ucap Rea pelan.


"Hah? Baiklah!" Sahut Dava merasa heran. Namun, tak terlalu mempedulikannya.


"Ternyata.. dia takut gelap!" Gumamnya dalam hati.


Flashback on


"Emm.. itu, maaf! Aku tidak sengaja,! Aku tidak akan mengulanginya lagi" Ucapnya dengan wajah memelasnya.


"Hemm.." Dava hanya membalasnya singkat.


"Itu.. tadi, ibumu menelpon mu dan aku tidak sengaja mengangkatnya!" Dia terdiam karna Dava sibuk dengan ponselnya dan tidak menoleh ke arahnya.


"Lanjutkan!" Ucapnya tegas.


"Hah? Ehh.. baiklah! Ibumu mengundang kita untuk makan malam di rumah mereka nanti.


Lebih tepatnya acara keluarga. Keluarga ku juga akan hadir di sana!" Sahutnya.


"Hemm.. baiklah!" Sahutnya singkat.


"Cih! Dasar es balok. Kenapa kamu menjadi manusia.. dan bukan jadi es batu saja? Perangai dingin mu ini bisa membekukan seluruh dunia!" Gerutunya dalam hati.


"Apa kamu sedang memaki ku dalam hati?" Sahut Dava tanpa menoleh. Dia seolah tahu isi hati Rea, yang sedang mengumpatnya.


"Ahahahhh.. Aku tidak akan berani, Yang Mulia!" ucapnya dengan senyum paksanya.


"Itu.. aku pergi dulu. Hari ini aku ada kelas pagi. Terimakasih sudah mengijinkan ku tidur di sini!" Ucapnya sembari tersenyum tipis.


Dia berlari kecil menuju ke dalam kamarnya.


"Pulanglah lebih awal" Pinta Dava.


"Baiklah" Sahutnya mengiyakan


Sesampainya di dalam kamar, bukannya mandi.. Rea langsung merebahkan tubuhnya kembali di atas ranjang. Ia menatap langit-langit kamar.


"Huh, kenapa Mama gak jodohin Rea sama Rio aja sih? Ini malah sama si es balok. Benar-benar deh mama. Kalau sampe mama tau sifat Dava yang cuek.. mungkinkah mama tidak menyukainya lagi? Ahh.. apa yang ku pikirkan? Lebih baik aku segera bersiap-siap untuk pergi ke kampus. Atau aku akan terlambat" Gumamnya pelan

__ADS_1


Lalu, ia segera bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


TBC


__ADS_2