MARRIAGE CONTRACT WITH THE COLD DOCTOR

MARRIAGE CONTRACT WITH THE COLD DOCTOR
Bab 22: Bingung


__ADS_3

Dava masih tercengang mendengar ungkapan hati dari sang istri. Entah ia juga merasakan hal yang sama, ia sendiri masih bingung dan belum menyadari isi hatinya yang sebenarnya. Bagaimanapun, ini adalah kali pertama baginya dekat dengan seorang wanita. Sebelumnya, para wanita yang mau mendekatinya, hanya ia anggap sebagai pengagum saja. Tidak pernah terpikirkan olehnya, bahwa ia akan membangun rumah tangga dilandasi oleh suatu perjodohan. Namun, hatinya tidak bisa berbohong. Seiring berjalannya waktu, ia benar-benar sudah terbiasa dengan kehadiran Rea disisinya.


"Apa wanita ini sadar dengan perkataannya barusan?" Gumamnya dalam hati.


Kemudian ia mengusap wajahnya perlahan. Lalu membenarkan posisi duduk Rea.


"Aku yakin, dia hanya mabuk saja. Tidak mungkin kan dia sungguhan menyukaiku? Lagipula.. bukankah dia yang ngotot mengatakan bahwa pernikahan ini hanya terjalin kontrak saja? Bahkan sampai membuat surat perjanjian. Lalu, apa ini?" Gumamnya pelan. Ia tidak mengerti mengapa Rea berkata demikian.


Kini, tatapannya melekat diwajah cantik Rea, yang sudah tertidur. Seketika, Dava menghela nafasnya melihat kondisi Rea yang tampak berantakan. Ia lalu membuka jaketnya untuk ia pakaikan ditubuh Rea.


"Wanita ini benar-benar tidak bisa menjaga diri!" Ucapnya pelan, lalu beralih menutup pintu mobil. Brak!


Setelah itu, ia kembali ke tempat duduknya. Lagi-lagi ia menatap Rea.


"Apa perkataannya tadi sungguhan?" Kata-kata inilah yang terngiang-ngiang di benaknya.


Tiba-tiba ia menggelengkan kepalanya.


"Aaahhh! Apa yang ku pikirkan?" Ucapnya frustasi. Tanpa banyak berpikir lagi, ia segera melajukan mobilnya menuju ke rumah.


Satu jam kemudian..


Setelah menempuh waktu yang cukup lama, mereka tiba di rumah. Dava membopong tubuh mungil Rea menuju ke kamar utama, dimana Dava biasanya tidur. Ia tidak lagi peduli apakah Rea akan mengomelinya besok. Yang ia pikirkan hanya untuk segera tertidur. Mengingat jam sudah hampir tengah malam. Dava juga sudah sangat mengantuk dan kelelahan.


Ia meletakkan tubuh Rea diatas ranjang. Ketika hendak melepaskan rangkulan tangannya dari tubuh Rea, tiba-tiba Rea kembali menahannya. Hingga membuat Dava sedikit membungkuk kedepan.


"Apa yang kamu lakukan?" Kagetnya sedikit mengerut


"Ugh..! Tunggu.. sebentar saja!" Sahut Rea masih dengan mata terpejam. Ia bangkit dari rebahannya dan sudah memeluk pinggang Dava. Dava membiarkannya saja. Mungkin dia bermimpi, pikirnya.


Beberapa saat kemudian, "hoek..hoek..hoek" terdengar suara muntahan Rea. Dava yang menyadarinya, langsung membulatkan matanya.


"Apa yang kamu lakukan?" Kesalnya, berusaha terlepas dari pelukannya. Namun, pelukan Rea terlalu erat. Hingga menyulitkannya untuk bisa terlepas.


"Ugh! Setelah selesai menuntaskan misinya, Rea kembali menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Dava semakin membulatkan matanya, melihat kemejanya yang sudah begitu kotor, dipenuhi dengan muntahan yang menjijikkan. Bulu kuduknya merinding, merasa jijik melihatnya. Secara, ia adalah seorang pria pembersih. Dan untuk kali pertama, seseorang berani memuntahi kemeja serta tubuhnya.


"S**t! Dasar wanita s****n!" Umpatnya, seraya menutup hidungnya. Secepat kilat, ia berlari menuju ke kamar mandi. Ia langsung mengguyur tubuhnya dengan shower. Berkali-kali, ia menggosok tubuhnya tanpa henti. Berharap tidak ada bau muntahan tertinggal di area tubuhnya. Meski pikirannya masih di penuhi dengan bayangan kejadian tadi.


Satu jam lamanya ia berada disana, kini ia telah keluar dengan hanya menggunakan bathrobe membalut ditubuh proporsionalnya. Kemudian, ia berjalan menuju ke wastafel. Disana terletak parfum khas aroma kesukaannya, yang biasa ia pakai. Ia langsung menyemprotkannya ke sekujur tubuhnya. Setelah itu, barulah ia kembali menghampiri Rea. Tapi, ia masih menutup hidungnya. Takut mencium aroma tak sedap lagi.


Ia menatap Rea yang tidur terlentang.


"Dasar wanita pemalas! Apa dia lupa untuk mandi?" Ucapnya sedikit menggerutu. Ia menepuk-nepuk pipi Rea perlahan.


"Hei, bangunlah! Mandi dulu baru kembali tidur." Ucapnya pelan. Namun Rea tidak menyahutnya. Ia tidak putus asa. Lagi-lagi, ia menepuk-nepuk kedua pipi Rea.


"Apa kamu mendengar ku? Nanti tubuhmu dihinggapi lalat, jika tidak mandi." Lanjutnya lagi. Melihat Rea yang tidak ada respon, membuatnya sedikit menyerngit.


"Apa dia sudah tertidur? Tapi.. tubuhnya akan bau!" Batinnya.


Ia menekuk dagunya diatas tangannya.


"Apa yang harus ku lakukan?" Ucapnya berusaha berpikir.


"Tidak mungkin kan.. aku yang memandikannya? Oh, come on men! Aku ini seorang pria!" Ucapnya lagi sambil menunjuk dirinya sendiri.

__ADS_1


Ia berjalan mondar-mandir kesana-kemari, berusaha menemukan solusinya.


"Pelayan masih cuti! Hanya ada kita berdua yang tinggal disini. Sudah selarut ini.. meminta pelayan untuk kembali benar-benar bukan hal yang pantas" Ia kembali berbicara sendiri.


"Tapi, wanita ini benar-benar harus mandi." Gerutunya lagi.


Cukup lama ia berpikir sendiri. Kini, ia sudah pasrah.


"Sepertinya.. memang harus aku yang turun tangan. Tapi, bagaimana caranya?" Meski masih dilanda kebingungan, tapi saat ini benar-benar tidak ada orang lain disana, yang akan membantu dirinya. Ahh, sudahlah pikirnya. Ia membopong tubuh Rea dan meletakkannya kedalam bathtub yang sudah berisi air.


Kemudian ia kembali menuju ke lemari pakaiannya. Ia tampak mengambil sehelai kain berwarna hitam sebagai penutup matanya.


Sekarang, matanya benar-benar tertutup rapat oleh sehelai kain tadi. Ia kembali melanjutkan misinya. Dibukanya baju Rea perlahan, meski dengan tangan yang sedikit gemetar. Bagaimana tidak? Ini pertama kalinya bagi Dava, bersentuhan dengan seorang wanita. Bahkan harus memandikannya sendiri.


"Cobaan macam apa ini?" Gerutunya dalam hati.


Setelah ia selesai melepas pakaian Rea, hingga tak ada sehelai kain pun yang menutupi tubuhnya, Dava kini tengah meraba-raba area sekitarnya. Mencari-cari peralatan mandinya. Tak menunggu waktu lama, ia berhasil menemukannya.


"Ahh, ini dia!" Ucapnya senang. Ia kembali menghela nafasnya.


"Tapi.. bagaimana caranya aku bisa membedakan mana shampoo dan mana sabun badan? Apa aku sudah gila?" Ucapnya mengutuki dirinya sendiri. Seketika Dava menampar wajahnya sendiri, untuk membuatnya tetap sadar. Jangan sampai bertindak bodoh, pikirnya. "Plakk! Suara tamparan yang begitu keras mendarat di pipi bagian kirinya.


"Ahhhh! Ternyata sakit!" Ucapnya sedikit meringis.


Setelah tersadar kembali, akhirnya ia menemukan solusinya. Ia mendengus kedua botol, untuk membedakan mana shampoo dan mana sabun badan. Setelah itu, barulah ia mulai memandikan Rea. Pertama, ia membasahi rambut Rea terlebih dulu, lalu mengusapkan beberapa semprot shampoo di rambut panjangnya. Ia berlanjut ke bagian tubuhnya. Saat tangannya menyentuh kedua gunung kembar Rea, sontak membuat Dava membulatkan matanya. Ia menelan salivanya. "Glek! Wajahnya bersemu merah.


"S**t!" Umpatnya dalam hati.


Kemudian, ia mengusap wajahnya.


Agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan, ia segera mempercepat aksinya.


15 menit kemudian..


Kini, Dava tengah mengangkat tubuh Rea kembali dan menaruhnya di atas ranjang. Sekujur tubuh Rea hanya dibalut dengan sehelai handuk, yang biasa Dava gunakan sehari-hari.


"Akhirnya selesai juga!" Ucapnya lega. Ia hendak membuka penutup matanya, tapi tangannya terhenti.


"Ahh.. wanita ini masih belum memakai baju!" Ia memukul jidatnya pelan. Hampir saja lupa, pikirnya. Tapi.. pikirannya sekarang sudah dipenuhi dengan adegan-adegan mesum.


"Tapi, jika aku membukanya sekarang.. bukankah aku akan melihat pemandangan yang sangat indah?" Ucapnya seraya mengangguk-anggukkan kepala. Ia kembali tersadar, mendengar suara igauan Rea.


"Emm.. dingin sekali!"


Mendengar hal itu, Dava langsung menggelengkan kepala.


"Aish..! Apa yang kamu pikirkan Dava bodoh!" Gerutunya lagi, mengumpat diri sendiri. Ia segera kembali menuju kearah lemari pakaiannya dan mengambil sebuah kemeja berwarna putih miliknya.


Tanpa berpikir panjang, ia langsung memakaikannya ke tubuh mungil Rea. Tanpa menggunakan bra dan juga CD. Karna tidak memungkinkan lagi untuk mencarinya ke kamar Rea di jam segini. Ditambah lagi, ia sudah sangat mengantuk. Ia menarik kain penutup matanya dan mencampakkannya ke sembarang arah.


"Benar-benar melelahkan!" Gerutunya, dan langsung merebahkan tubuhnya disamping Rea. Perlahan, ia menutup matanya.


Baru saja ia hampir tertidur, lagi-lagi ia terganggu oleh bunyi deringan ponselnya. "Kring..kring..kring! Mendengar hal itu, membuatnya kembali terbangun.


"Siapa malam-malam begini masih saja berani mengganggu ku?" Kesalnya. Ia meraih ponselnya dari atas nakas samping tempat tidurnya. Keningnya sedikit mengerut menatap layar ponselnya.

__ADS_1


"Mama?" Batinnya.


Ia penasaran mengapa mamanya menelponnya ditengah malam seperti ini. Tanpa menunggu lagi, ia segera mengangkatnya.


"Halo, ma!" Ucapnya santai.


"Emm, halo!" Sahut mamanya dari seberang telpon.


"Ada apa ma.." Belum selesai ia dengan perkataannya, langsung dipotong oleh sang mama.


"Bagaimana? Apa Rea sudah hamil?" Tanya mamanya penuh selidik. "Hah? Dava membulatkan matanya mendengar hal itu.


"What? Mama.. nelpon malam-malam begini, hanya untuk menanyakan hal ini?" Gumamnya dalam hati.


"Halo, halo! Dava.. kamu masih disana kan?" Sahut mamanya lagi.


"Ahh! Dava menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Be, belum ma!" Ucapnya terbata.


"Apa? Bagaimana mungkin?" Pekik mamanya dari seberang. Dava hanya bisa menelan salivanya.


"Bagaimana Rea bisa hamil? Sementara.. aku belum pernah menyentuhnya? Lagipula.. pernikahan ini hanya sementara saja!" Batinnya.


"Apa Rea tidur bersamamu?" Tanya mamanya lagi, menyadarkan lamunannya.


"Emm, iya ma. Sekarang, dia sudah tidur!" Sahut Dava seraya menoleh sekilas kearah Rea.


"Baguslah! Ingat kata-kata mama sebelumnya. Perhatikan pola makan istrimu! Mengonsumsi makanan tidak sehat akan menghambat proses kehamilannya. Apa kamu mengerti?" Tegas mamanya.


"Iya, ma!" Timpal Dava mengiyakan.


"Baiklah! Lusa mama sama papamu akan kembali ke Jakarta. Jadi, kita akan mampir ke rumah kalian!" Lanjut wanita paruh baya itu lagi. Sementara Dava, ia hanya terdiam mendengarnya.


"Mama pasti merencanakan sesuatu lagi!" Batinnya sambil memijit-mijitt keningnya.


"Mama tutup dulu ya? Jaga istrimu baik-baik! Daaah sayang!" Sahut mamanya, memutuskan panggilan teleponnya. Dava kembali menghela nafasnya.


"Bahkan, untuk mengakhiri telepon pun.. malah menyuruhku menjaga wanita pemabuk ini. Apa posisi ku sebagai anak kandung sudah tersingkirkan sejak kehadirannya?" Gerutunya pelan. Ia kembali menatap Rea lekat. Seketika ia memeluknya, sambil mencium keningnya sekilas.


"Tapi.. aku benar-benar sudah terbiasa dengan kehadiran wanita ini!" Batinnya.


Ia semakin mempererat pelukannya.


"Biarkan aku memelukmu! Hari ini benar-benar melelahkan!" Ucapnya lembut. Perlahan ia menutup matanya dan terbawa kealam mimpinya.


TBC


Halo para readers setiaku:)


Jangan lupa kasih jempol, komentar dan votenya ya say😍


Maaf lama up🐨 Dikarenakan author sibuk🐨


Mianeo🙏🙏

__ADS_1


I lovyu all😘


__ADS_2