MARRIAGE CONTRACT WITH THE COLD DOCTOR

MARRIAGE CONTRACT WITH THE COLD DOCTOR
Bab 4: Penandatanganan Kontrak


__ADS_3

Keesokan harinya..


"Di Sweety Caffe"


Dava tiba lebih awal dari waktu yang telah disepakati. Ia langsung duduk di kursi pojokan kafe.


Sementara Rea yang masih diperjalanan menuju ke sana, masih terlihat gugup dan malu kala mengingat kejadian tadi malam. Setelah beberapa waktu kemudian.. taxi yang ditumpanginya tiba di tempat tujuan. Ia ragu untuk turun.


"Apa yang harus ku lakukan? Aku sangat gugup! Ini semua karna si Dava pria mesum itu" Gumamnya pelan. Setelah ia membayar ongkosnya, ia segera turun dan membuang kasar nafasnya.


"Fyuh... aku pasti bisa!" ucapnya menyemangati dirinya sendiri.


Ia berjalan menuju ke dalam kafe. Dan matanya tertuju ke arah Dava yang tengah duduk di pojokan kafe sembari memainkan ponselnya. Dia langsung menghampirinya dan duduk tepat dihadapan Dava.


"Kamu, udah lama nyampenya?" Tanyanya.


"Ya" Sahut Dava singkat.


"Jawaban macam apa itu? Apa dia lahir di kutub Utara? Hingga ia ketularan hawa dingin di sana.. jadi dia tak tertolong lagi?" batinnya.


"Baiklah! Kita langsung to the point aja. Sekarang.." ucapannya langsung dipotong oleh Dava.


"Aku lapar, belum makan!" Ucapnya singkat.


"Ahh... oh, baiklah! Yaudah... kamu makanlah dulu" Ucapnya mencoba untuk tetap tersenyum.


"Bagaimana denganmu?" Tanya Dava memastikan.


"Aku.. aku masih kenyang" Ucapnya dengan nada serius. Sebenarnya, dia bukan tidak lapar atau lebih tepatnya dia ingin makan siang di sana. Tapi.. mengingat uangnya telah kandas ia mengurungkan niatnya. Lebih baik makan di rumah saja, pikirnya. Tapi, tiba-tiba.. "Kruyuk... kruyuk.. kruyuk!" perutnya berbunyi. Dia merasa malu. Lalu ia menundukkan kepalanya. Sementara Dava menatapnya sedikit menyerngit.


Sebelumnya, Dava telah memesan makanannya. Tapi, karna Rea si gadis cerobohnya ini.. membuatnya harus menunggu kembali. Ia memanggil kembali pelayan yang pergi belum jauh dari meja mereka.


"Semua pesanan saya tadi menjadi 2 porsi" Ucapnya kepada pelayan.


"Baik, tuan!" Sahut di pelayan sopan.


Sementara Rea masih menundukkan karna malu. Dan suasana di sana menjadi sangat canggung.


"Betapa bodohnya aku? Mau di taro di mana muka aku ini? Malu banget deh!" Gumamnya pelan.


Ia mengangkat kepalanya dan ternyata Dava masih menatapnya sedari tadi.


"Ma.. maaf!" Sahutnya pelan.


"Apa?" Tanya Dava pura-pura tidak mengerti.


"Ahh... tidak! Sebenarnya aku tidak punya uang lagi, makanya tadi aku berbohong!" Sahut Rea menjelaskan. Lalu ia tersadar dan memukul pelan mulutnya.


"Dasar bodoh! Bisa-bisanya aku mengungkap aibku sendiri" Gumamnya lagi. Dava hanya menatapnya sekilas tanpa mengindahkan perkataannya.


Beberapa saat kemudian, pelayan datang mengantarkan pesanan mereka.


"Silahkan dinikmati Tuan, nona!" Sahutnya.

__ADS_1


Dan dibalas anggukan oleh Rea. Namun, Dava langsung melahap makanannya tanpa berbicara.


Setelah selesai makan, Rea mengeluarkan secarik kertas putih dari tasnya.


"Ini.. Kita akan menikah dalam waktu dekat. Dan kamu tau sendiri kita hanya dijodohkan oleh orang tua kita dan kita tidak saling mencintai. Tapi.. membatalkan pernikahan ini sekarang, bukanlah pilihan yang tepat. Aku tidak mau jadi anak yang durhaka, yang tidak menuruti perkataan orang tua.


Sekarang.. aku mau membuat perjanjian kontrak dengan mu. Kita tetap akan menikah, tapi kita hanya akan menjalani pernikahan ini hanya dalam satu tahun. Jika waktunya tiba..kita akan berpisah. Dan.. ini tentunya tidak akan merugikan mu bukan?" Jelasnya tegas.


"Terserah padamu!" Sahut Dava datar, dan masih menatap Rea.


"What? Gue jelasinnya panjang lebar gitu. Susah payah nyusun kata-katanya dari kemarin, sampe-sampe gue begadang lagi. Tapi, jawabannya hanya ini? Apa dia benar-benar manusia? Kenapa aku bisa bertemu dengan pria aneh ini?" Gumamnya dalam hati.


"Itu.. Aku juga punya syarat lain" lanjut Rea lagi.


"Lanjutkan!" ucapnya singkat.


"Syarat pertama, selama setahun penuh.. kamu tidak boleh menyentuhku. Kedua, jangan mencampuri urusan pribadi masing-masing. Ketiga, kita tetap tinggal serumah.. tapi pisah kamar" Jelasnya lagi. Sebenarnya, ia ragu dengan syarat pertama ini. Namun, ini dia lakukan untuk tetap menjaga kesuciannya untuk suami yang dicintainya kelak.


"Baiklah! Ada lagi?" Sahutnya. Dava tidak terlalu peduli dengan pernikahan ini. Jadi, tidak masalah baginya dengan semua persyaratan Rea. Karna ia seorang pria gila kerja. Waktu dirumah pun hanya sedikit.


"Emmm... itu saja! Karna kamu udah setuju, jadi kamu harus menandatanganinya sekarang" Sahut Rea dengan senyum manisnya. Dia bahagia, karna Dava menyetujui syarat yang diajukannya.


"Surat perjanjian nikah kontrak"


Saya Andrea Carlissa Sean sebagai pihak 1.


Dan Beryl Davano Mourinho sebagai pihak kedua.


Dengan ini menyatakan bahwa kami akan mengajukan pernikahan kontrak.



Pihak ke-2 dilarang menyentuh pihak 1 selama masa kontrak.


Pihak 1 maupun pihak ke-2 tidak diijinkan mencampuri urusan pribadi masing-masing.


Kedua pihak tetap akan tinggal serumah tapi harus pisah kamar.


Pernikahan hanya berlangsung selama 1 tahun.



Demikian, surat ini dibuat dengan sebenar-benarnya. Jika kontrak dilanggar oleh salah satu pihak, maka pihak yang melanggarnya akan dikenakan sanksi.


Setelah menandatangani surat perjanjian ini, itu berarti saya menyetujui seluruh persyaratan yang tercantum dan tidak akan bisa diganggu gugat lagi.


( Andrea ) ( Davano )


Pihak 1 Pihak ke-2


Tidak butuh waktu lama, mereka sudah selesai menandatanganinya dan juga melakukan pembayaran.


"Aku akan mengantarmu pulang" Ucap Dava hanya melihatnya sekilas.

__ADS_1


"Ahh... itu.. itu tidak perlu. Aku.. aku bisa pulang sendiri. Ya, aku bisa pulang naik taksi" Ucapnya terbata.


"Bukankah kamu tidak ada uang?" Tanya Dava sedikit menyerngit.


"Itu, itu.. tapi" ucapannya terpotong.


"Jangan banyak tapi-tapian! Jika kamu tidak mau.. aku akan segera pergi" Ucapnya dengan nada mengancam. Dan dia sudah berjalan mendahului Rea.


"Benar juga. Aku tidak punya uang sekarang. Jika aku naik taksi.. aku tidak akan bisa membayarnya. Gak mungkin kan aku jalan kaki sampe ke rumah. Bisa-bisa aku nyampenya minggu depan lagi, huh! Lebih baik aku terima saja tawarannya." Gumamnya dalam hati.


Rea langsung berlari menghampirinya.


"Tunggu.. tunggu aku! Tolong antarkan aku pulang!" Ucapnya masih ngos-ngosan karna habis berlari.


Dava langsung masuk ke mobil diikuti oleh Rea. Mobil telah melaju menuju ke rumah keluarga Sean.


Di sepanjang perjalanan, tak ada satupun diantara mereka yang membuka pembicaraan. Hanya ada keheningan di sana. Rea sibuk dengan ponselnya sedangkan Dava sibuk menyetir. Sesekali Rea mencuri-curi pandang melihat makhluk ciptaan Tuhan yang sempurna itu.


"Dia sangat tampan. Pantas saja banyak wanita yang terpikat dan tergila-gila dengannya. Mungkin jika mereka tahu aku akan segera menikah dengan pangeran pujaan hatinya.. bisa-bisa mereka membunuhku!" Gumamnya dalam hati.


"Mungkin jika pertemuan kami dari awal berjalan dengan baik dan jika dia tidak sedingin es.. mungkin aku sudah jatuh cinta padanya. Ahh.. apa yang ku pikirkan? Ingat Rea kamu sudah punya Rio yang sangat baik dan peduli padamu" Gumamnya lagi sambil memukul bibirnya pelan.


Dava melirik kearah wanita disampingnya.


"Apa dia sudah tidak waras? Kenapa dia memukul bibirnya sedari tadi?" Batinnya. Tapi dia tidak menghiraukan nya lagi dan tetap fokus menyetir.


Beberapa saat kemudian, mobil mewah milik Dava telah tiba di rumah orang tua Rea.


Rea langsung turun dan diikuti oleh Dava untuk menyapa orang tua Rea yang sedang menyiram bunga.


"Halo, Tante!" sahut Dava sopan dan menyalim calon mertuanya itu.


"Ehh... ada nak Dava, ya? Ayuk masuk dulu ke dalam.." ajaknya sembari tersenyum.


"Emm.. nggak usah Tante! Dava mau segera ke rumah sakit, Tante. Lain kali aja.. Dava akan mampir" Ucapnya dengan senyum manisnya.


"What? Dia bisa tersenyum manis gitu ke mama? Giliran sama aku aja, mukanya datar mulu kek es balok" Gerutunya dalam hati.


"Yaudah, gapapa kok! Tapi nak Dava harus sering-sering mampir kesini ya.." pinta mama Laila.


"Iya, Tante" ucapnya sembari tersenyum.


"Rea... kamu anterin tuh nak Dava ke depan.. mama masih ada kerjaan" Sahutnya tersenyum bahagia.


"Iya, ma!"


Mereka berjalan beriringan menuju ke mobil mewah milik Dava.


"Makasih, ya udah anterin aku. Kamu tenang aja... kalau aku udah ada uang, pasti akan ku ganti. Aku gak mau punya hutang dengan orang lain. Dan, satu lagi.. jangan beritahu mama papa tentang perjanjian yang sudah kita sepakati hari ini, ok?" Ucapnya tegas.


"Ya" ucapnya datar. Dan menyalakan mesin mobilnya lalu pergi meninggalkan rumah keluarga Sean.


"Fyuh... semoga ucapannya bisa dipegang" Gumam Rea pelan. Lalu beranjak masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


TBC


__ADS_2