
Setelah pernikahan usai, Rea juga Dava langsung kembali ke rumah mereka. Rumah yang cukup besar dan tertata rapi, yang ditinggali oleh Dava seorang diri sebelumnya.
Saat kedatangan mereka, langsung disambut oleh seorang pelayan pria paruh baya.
"Selamat datang kembali, tuan!" sahutnya sopan.
Dava hanya menganggukkan kepalanya, sementara Rea hanya tersenyum tipis.
"Tolong antarkan nyonya ke kamar, di sebelah kamar ku. Aku masih harus pergi. Ada urusan" sahutnya datar.
"Ehh.. Tuan, maksud, maksud anda adalah?" tanyanya kebingungan.
Dava mengernyitkan dahinya.
"Ada apa? Lakukan seperti yang ku minta!" ucapnya dengan nada serius.
"Baik, baik.. Tuan!" sahutnya terbata.
"Aihk.. kenapa pasangan suami istri ini pisah kamar? Apa keduanya baru saja bertengkar? Tapi ini, ahh.. sudahlah. Lebih baik aku menuruti permintaan nya. Lagipula ini urusan bos, aku tidak pantas" gumamnya dalam hati.
"Sebelah sini, Nyonya! Saya akan menunjukkan kamar anda!" ucapnya sopan.
"Baiklah" ucapnya dengan senyum manisnya.
Setelah kepergian keduanya, Dava langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu. Dia melipat kedua tangannya, dahinya menyerngit seolah memikirkan sesuatu dan tertidur di sana.
Sementara pelayan baru saja mengantarkan Rea menuju kamarnya.
"Nyonya, ini kamar anda! Jika butuh sesuatu anda bisa memanggil saya ataupun bawahan lainnya!" sahutnya sopan.
"Iya, terimakasih pak!" sambutnya sopan.
"Nyonya, jangan terlalu sungkan! Kalau begitu saya pergi dulu " ucapnya lagi lalu berlalu pergi dari sana.
Setelah kepergian pelayan tadi.. Rea langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang tanpa mengganti pakaiannya dahulu.
Dia kembali mengingat kejadian tadi. Dimana pujaan hatinya menyelamatinya dengan mimik wajah sumringahnya.
"Kenapa Rio gak kesel ya tadi.. waktu Dava mencium ku? Dan malah menyelamati ku dengan sikap bahagianya. Bingung deh jadinya! Tapi yaudah lah.. bagus juga dia gak marah. Huh!" gumamnya pelan.
Lalu ia bangkit dari rebahannya dan mengambil ponsel dari tas kecilnya. Lalu mendial nomor seseorang yang tak lain adalah Rio kekasihnya.
"Tut..Tut..Tut!" Maaf nomor yang anda tuju sedang sibuk.
__ADS_1
Hanya ada sahutan dari telepon operator.
Namun,dia tidak menyerah. Berulang-ulang dia mencobanya dan tetap saja tidak ada jawaban dari orang yang diharapkannya.
"Apa dia marah? Kemana dia pergi? Kenapa perasaan ku gak enak, ya? Akhir-akhir ini, hubungan kami juga semakin jauh." gumamnya dalam hati.
"Huh, dasar Rea bodoh! Apa yang kau pikirkan? Jangan mikirin yang aneh-aneh deh, Rea. Tetap positif thinking, ok?" ucapnya menyemangati dirinya berusaha untuk tetap mempercayai Rio, walaupun masih ada jejak keraguan di hatinya.
"Sebaiknya aku mandi dulu, untuk menghilangkan pikiran kotor ku" gumamnya lagi lalu beranjak ke kamar mandi.
Setelah selesai mandi, ia langsung berganti pakaian. Berbagai mode-mode baju keluaran terbaru telah tersedia di sana. Entah sejak kapan Dava mempersiapkannya, pikirnya.
Tapi, dia tidak ambil pusing. Dia langsung memakainya dan semua ukuran baju tersebut memang sesuai dengan ukurannya.
"Sejak kapan dia tahu ukuran baju ku? Apa sebenarnya.. dia seorang desainer ya? Tapi pura-pura jadi dokter, hahaha" ucapnya sembari terkekeh.
"Kruyuk.. kruyuk.. kruyuk!" Perutnya berbunyi minta di isi.
"Ahh... laper banget lagi. Oh ya,dari tadi aku emang belum makan. Pantasan aja perut ku keroncongan" ucapnya sambil memakai pakaiannya.
Setelah selesai, dia beranjak menuju ke dalam tempat tidurnya. Ia mengambil gagang telepon dari atas nakas samping tempat tidurnya dan hendak menelepon pelayan untuk mengantarkan makanan ke kamarnya.
Namun, dia mengurungkan niatnya dan kembali meletakkan gagang teleponnya.
"Ahh... apa yang ku lakukan? Ini tidaklah sopan bersikap sesuka hati di rumah orang. Sebaiknya aku turun sendiri ke bawah. Ya, aku tidak akan mau jadi wanita pemalas" ucapnya pelan.
Di tangga terakhir, langkahnya terhenti.. melihat Dava sedang tertidur pulas di atas sofa.
"Ehh.. bukankah dia ada urusan? Kenapa dia masih di sini? Ahhh.. apa yang ku pikirkan? Sudahlah! Sebaiknya aku mengabaikannya saja, lagipula sesuai perjanjian kontrak.. gak boleh ikut campur urusan pribadi satu sama lain." gumamnya dalam hati.
Segera ia meninggalkan Dava dan berjalan menuju ke dapur.
Dia melihat sekeliling.. ternyata tidak ada orang. Semua pelayan sudah beristirahat. Dan waktu telah menunjukkan pukul 10 malam. Untung saja aku tidak jadi menelepon mereka.. atau aku akan mengganggu waktu istirahat mereka, pikirnya.
"Sepertinya.. aku harus masak sendiri nih!" ucapnya pelan. Lalu ia mengambil celemek dan memakainya. Kemudian, dia mulai sibuk dengan kegiatan masak memasaknya..
Tak menunggu waktu lama, seporsi nasi goreng telah matang dan siap untuk disantap.
Dia duduk di meja makan dan melahapnya dengan rakus karna sudah merasa lapar.
"Emm.. ini baru berasa bernyawa. Dari tadi seperti mayat hidup yang kelaparan, hehehehe" ucapnya terkekeh.
Setelah selesai makan, dia mencuci piringnya serta alat-alat masak yang ia pakai barusan.
__ADS_1
Kemudian, ia berjalan hendak pergi menuju kamarnya. Namun, lagi-lagi langkahnya terhenti. Terhenti melihat Dava masih dengan posisi yang sama. Tertidur tanpa memakai selimut, padahal cuaca sangat dingin.
Tanpa pikir panjang, Rea langsung berlari kecil menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Dia mengotak-atik seluruh isi lemarinya mencari sesuatu.
"Ahh.. dapat!" Ternyata yang dicarinya adalah selimut.
Dia kembali berlari kecil menuruni anak tangga sambil membawa selimut tebal ditangannya.
Lalu, ia segera menyelimuti seluruh badan Dava yang sudah sedingin es.
"Bagaimana bisa si es balok tidur di sini? Apa dia tidak kedinginan? Ah.. aku baru ingat. Dia kan manusia kutub Utara, jadi tidak akan kedinginan walau tanpa selimut di malam hari, hahaha!" ucapnya terkekeh.
"Aihkkk.. Kenapa aku berinisiatif untuk mengambilkannya selimut? Huh, dasar Rea bodoh!" gerutunya lagi.
Saat dia hendak beranjak pergi, tiba-tiba tangannya di genggam oleh Dava.
"Tidak.. Jangan... Ahhhh!" teriak Dava.
"Aishh! Apa dia lagi ngeprank aku, ya? Main pegang-pegang tangan segala lagi. Atau.. dia kesurupan? Idih.." ucapnya merasa geli bercampur kesal.
"Jangan mendekat.. jangan mendekat!" teriak Dava lagi.
"Jangan mendekat, tapi megangin tangan aku. Dasar es balok" gerutunya kesal.
Dava sudah keringat dingin dan meneteskan air matanya.
"Ehh.. dia menangis? Apa dia bermimpi buruk? Aduh.. kenapa lagi-lagi aku begitu bodoh? Rea.. Rea, dasar makhluk ghaib lo!" gerutunya sambil menjambak rambutnya pelan.
Lalu ia duduk di tepi sofa dan menepuk-nepuk pundak Dava pelan. Dia merasa iba melihat keterpurukan si es balok.
"Kamu tenanglah! Tidurlah, ok? Aku akan menemani mu!" ucapnya pelan, berusaha menenangkan Dava.
Perlahan, Dava kembali tertidur pulas masih memegang tangan Rea.
"Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Baru kali ini melihat seseorang sepertinya menangis dalam mimpi" gumamnya dalam hati.
Sewaktu Dava masih berusia 5 tahun, ia dan juga kakaknya diculik oleh para preman berbaju hitam, yang diperintahkan oleh pesaing bisnis keluarganya. Mereka dibawa dan dipukuli di sebuah gudang yang begitu gelap. Para preman itu menyiksa mereka berdua habis-habisan. Dan kakaknya, sejak lahir.. sudah terkena penyakit gagal ginjal.
Karna siksaan yang begitu luar biasa, membuat kondisinya semakin memburuk dan akhirnya dia meninggal di tempat, tepat dipangkuan Dava.
Sejak saat itu, Dava berubah drastis. Temperamennya menjadi dingin dan tidak pedulian. Dan kejadian itu, membuatnya benci jika berhubungan dengan masalah bisnis. Karna masalah persaingan bisnis, dia harus kehilangan kakak kesayangannya. Itulah mengapa dia memilih untuk bekerja sebagai dokter dan tidak ingin melanjutkan bisnis keluarganya.
__ADS_1
Dan sejak saat itu juga, setiap malam di akan memimpikan kejadian histeris itu seperti seseorang yang traumatis. Tak pernah satu malam pun dia lewati tanpa mimpi mengerikan itu, membuatnya terus-terusan begadang. Dan untuk menghindarinya, ia sering menyibukkan diri di rumah sakit.
Itu adalah kehidupan masa lalu Dava yang begitu mengerikan dan hampir membuatnya gila.