
Di malam hari..
Setelah Rea tiba di rumah, ia segera makan malam karna sudah larut dan lagi perutnya sudah keroncongan sedari tadi.
Namun, dia sempat bertanya tentang Dava kepada si pelayan, karna tidak melihat sosok pria berdarah dingin itu di setiap sudut ruangan.
"Bi.. apa Dava belum pulang?" Tanyanya sembari mengunyah makanan nya.
"Ehh.. iya, belum.. Nyonya!" Sahutnya sedikit prihatin.
"Oh. Apa dia selalu lembur? Huh, dia kan punya banyak duit.. ngapain masih lembur coba, karna kalau.." ucapannya terhenti kala melihat wajah sendu bi Ely.
"Emmm? Ada apa bi? Apa bibi sakit?" Tanyanya merasa khawatir.
Namun, bi Ely mengalihkan pandangannya untuk menghindari agar Rea tidak melihatnya menitikkan air mata. Setelah beberapa saat, ia menarik nafasnya perlahan dan membalas ucapan Rea dengan lembut sembari tersenyum tipis.
"Tidak apa-apa, Nyonya! Nyonya, makanlah dengan baik. Saya ke dapur dulu, masih ada pekerjaan yang belum ku selesaikan!" Pamitnya sopan dan berlalu pergi.
Rea hanya menganggukkan kepalanya karna mulutnya terisi penuh dengan makanan.
"Bagaimana mungkin Tuan bisa pulang tepat waktu? Itu mustahil. Masalah makan saja terkadang lupa.. apalagi untuk pulang? Untuk menghindari mimpi buruk, ia selalu bekerja lembur. Dan dia akan tertidur setelah benar-benar sudah lelah. Sungguh memprihatinkan! Apa kehidupannya hanya akan sebatas ini saja? Tuhan, jangan biarkan anak ini selalu hidup menderita!" Gumamnya pelan. Tak terasa air matanya telah membasahi wajah keriputnya.
__ADS_1
Bi Ely adalah istri dari kepala pelayan Budi. Mereka telah lama bekerja untuk keluarga Dava. Bahkan, mereka ikut andil dalam pertumbuhan Dava, mulai dari kanak-kanak hingga dewasa bahkan sekarang sudah menikah. Dava sangat dekat dengannya juga suaminya. Mereka sudah menganggap Dava seperti anak sendiri, karna sebenarnya mereka tidak memiliki keturunan. Bahkan, terkadang Dava memanggil mereka dengan sebutan.. paman dan bibi. Namun, pasangan tersebut selalu menolak karna mereka merasa tidak pantas. Dava juga tidak ada hak untuk memaksakan mereka.
Setelah selesai makan, Rea langsung bergegas ke kamar dan segera mandi karna badannya terasa lengket seharian di luar.
...****************...
Beberapa saat kemudian, ia keluar. Dan tubuhnya hanya dibalut dengan kimono mungilnya. Karna itu adalah kebiasaannya sehabis mandi. Lalu ia duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Ia membalas setiap pesan yang masuk. Bahkan, ia memeriksa pesan masuk dari Rio, berharap kekasihnya itu mengiriminya pesan baru setelah pesta pernikahan mereka waktu itu. Namun, harapannya hanya sekedar harapan. Tak ada pesan ataupun notif dari Rio untuknya. Pesan yang dikirim Rea tadi pagi saja tak kunjung dibalasnya.
"Huh, apa dia sibuk? Tapi gak mungkin setiap saat kan? Apa yang dia lakukan sekarang? Kenapa perasaan ku jadi gak enak ya? Haish.. apa yang ku pikirkan?" Gumamnya pelan sambil menggelengkan kepalanya, berusaha untuk menghilangkan pikiran negatifnya.
"Lebih baik aku nonton! Biar gak depresi!" Ucapnya lagi menyemangati dirinya.
Rea memang suka nonton. Apalagi drama Korea dan juga China. Bahkan dia sangat terobsesi dengan kedua bahasa tersebut.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Dan Rea baru saja selesai menonton drama kesayangannya. Ia hendak bergegas ke tempat tidur, namun ia berhenti dan berbalik. Ternyata dia sudah sangat haus sejak tadi, tapi dia menahannya demi menyelesaikan tayangan drama yang baru saja ia tonton.
"Huh, haus banget lagi. Lebih baik aku ambil minum dulu deh ke bawah" Gumamnya dalam hati. Lalu ia menuruni anak tangga menuju ke dapur.
Saat ia minum, terdengar suara mobil dari luar sedang berhenti. Ia menoleh kecil saat seseorang membuka pintu. Ternyata orang itu adalah Dava, si pemilik rumah sekaligus suami kontraknya. Ia tampak berantakan dan kelelahan. Lalu, Dava segera merebahkan tubuhnya di atas sofa dan memejamkan matanya. Rea memperhatikan setiap gerak-gerik Dava sejak tadi.
"Apa dia lembur lagi? Kenapa dia selalu lembur? Bahkan, aku hampir setiap hari tidak melihatnya di rumah. Memangnya pekerjaan apa hingga membuatnya selalu lembur? Apa bosnya tidak memperhatikannya?" Gumamnya pelan sambil melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana. Namun, langkahnya terhenti saat Dava berteriak histeris.
__ADS_1
"Jangan.. jangan pergi! Tolong, tolong jangan tinggalkan aku. Tetaplah hidup, kumohon!" Teriaknya dan ia sudah terisak.
Rea yang melihatnya pun merasa iba.
"Apa dulu.. Dava ditinggalkan kekasihnya ya? Sampai-sampai ia trauma begini! Apa dia sangat mencintainya? Huh, dasar es balok. Ternyata kamu bisa juga ya.. jatuh cinta sama orang?" Ucapnya pelan.
Rea berpikir bahwa Dava selalu memimpikan gadis yang meninggalkan dan mencampakkannya. Dan ternyata.. itu jauh berbeda dari kenyataan.
"Emang enak ya.. ditinggalin pas sayang-sayangnya? Heh, es balok rasain kamu. Kamu gak tau aja sih.. kalau muka es balok mu ini, sikap dingin mu ini, juga rasa percaya diri mu ini.. bisa membuat orang-orang muak dengan mu, bahkan kekasih mu sekalipun" Ucapnya mengejek sambil menunjuk ke wajah sendu Dava.
"Tapi.. dia seperti ini, membuat semua orang akan merasa iba padanya. Heh, kenapa kamu harus menunjukkan wajah menjijikkan mu ini di hadapan ku? Aku tidak tega melihat mu begini. Meskipun kamu pria terjahat yang pernah ku temui.. tapi aku juga tidak boleh egois sekarang! Emm.. kamu harus membayarnya suatu saat nanti" Ucapnya lagi. Kemudian, ia duduk di tepi sofa. Perlahan ia membelai puncak kepala Dava dengan lembut. Dava meraih tangannya lalu memeluknya dengan erat.
"Ehh.. ehh.. apa yang kamu lakukan? Lepaskan! Aku hanya menenangkan mu tadi, kenapa kamu memeluk tangan ku? Apa kamu juga selalu memeluk tangan wanita lain saat-saat seperti ini? Cih! Dasar es balok mesum!" Kesalnya sedikit berteriak dan berusaha meronta. Namun, Dava semakin mempererat pelukannya.
"Jangan.. jangan tinggalkan aku! Ku mohon!" Ucapnya lirih. Tangannya gemetar dan wajahnya pucat seperti mayat.
"Ehh.. kenapa kamu? Apa dia selalu mimpi buruk? Kenapa dia selalu seperti ini.. saat aku melihatnya tertidur? Apa mungkin dia trauma dengan suatu hal? Tapi gak mungkin deh kayaknya. Secara.. dia kan anak orang kaya, kapan dia bisa ngalamin hal gituan? Huh, impossible! Mungkin aku aja yang berpikir terlalu jauh" Gumamnya dalam hati. Ia kembali membelai rambut Dava dengan lembut.
"Semoga saja ini yang terakhir!" Lanjut Rea penuh harap.
Beberapa saat kemudian, ia juga ikut terlelap. Tanpa sadar ia merebahkan tubuhnya di samping Dava. Dan Dava langsung menyambutnya dengan hangat. Dava mendekap tubuh mungil Rea ke dada bidangnya. Keduanya tidur dengan mesra layaknya hubungan pasangan suami istri yang normal. Tidak seperti sebelumnya, seperti Tom and Jerry, selalu berdebat.
__ADS_1
TBC