
sebenarnya hidup Ryan sudah sangat menyenangkan baginya, namun diatas kesenangan masih ada kesenangan lainnya, dan dia memilih untuk keluar dari zona nyaman nya itu, Ryan punya cita-citanya sendiri dan kemungkinan untuk sekolah lagi bersama saudara sepupu nya Santi dirasa amat menggiurkan, walaupun harus ada yang dikorbankan, yaitu keluar dari pekerjaan nya sekarang dan mencoba pekerjaan lain dengan gaji yang lebih besar.
sehari sebelumnya Ryan sudah berbicara dengan teman temannya dan juga tandi ,mereka semua mendukungnya dan mendoakan yang terbaik untuk Ryan, sayang mereka tak bisa ikut, karena mereka memang tak punya ijazah seperti Ryan, bahkan sekolah dasar pun mereka tidak tamat.
dan hari ini disini lah Ryan berada, dihalaman pabrik besar tempat kerja santi bersama para pelamar yang lain.
"Ryan, aku tinggal ya aku masuk dulu... moga kamu keterima, nanti aku akan titipkan kamu biar keterima, tapi kamu tetap harus ikut seleksi bersama yang lain ya" kata santi panjang lebar, tampaknya khawatir pada Ryan.
setelah bicara dengan beberapa orang di situ santi bergegas menuju ke tempat absensi dan masuk ke tempat nya bekerja.
Ryan duduk di ruang tunggu di sebelah pos satpam bersama dengan sekitar dua puluh pelamar lainnya.
"Hai, kamu melamar juga ya? " tanya orang di sebelah Ryan basa basi.
"iya aku diajak sepupu ku untuk melamar kesini" kata Ryan.
__ADS_1
"perkenalkan namaku siti nurjanah, panggil aja aku siti ya, moga kita keterima" katanya lagi ramah, sambil mengulurkan tangannya untuk berjabatan dengan Ryan.
"saya Ryan, senang berkenalan semoga kita keterima dan menjadi teman nanti kedepannya" kata Ryan menyambut uluran tangan siti.
waktu menunggu disitu lumayan lama karena bagian penerimaan karyawan masih mempersiapkan segala sesuatu nya, namun waktu menunggu itu tak terasa karena diisi dengan obrolan bersama orang baru yang ternyata ramah ramah... mereka merasa senasib karena sama sama sedang melamar kerja.
pukul sembilan barulah ada orang yang menghampiri ruang tunggu itu, dia seorang laki-laki setengah bayar yang rapi dengan seragam perusahaan berwarna biru
dan celana hitam bersepatu pantofel yang mengkilap.
setelah proses seleksi selesai, akhirnya karena memang perusahaan lagi membutuhkan karyawan semua pelamar hari itu diterima dan di bagi bagi ke beberapa divisi yang membutuhkan, Ryan bersama siti kebetulan ditempatkan di divisi yang sama yaitu divisi produksi, walaupun belum berpengalaman dalam bidang menjahit, tapi ada masa training dulu.
sebelum masuk ke line yang memproduksi pakaian jadi untuk export, karyawan baru dimasukan ke line percobaan yang memproduksi pakaian seragam karyawan, untuk belajar menjalankan mesin.
satu line terdiri dari sederet mesin jahit dan obras yang di jalankan oleh operator yang telah ahli di bidang nya, dan ada juga helper jait, yang membantu para operator untuk membuat pola ataupun apapun kebutuhan para penjahit.
__ADS_1
Ryan diajari oleh ketua line yang ramah, namanya teh jamilah orang subang, dia sangat sabar mengajar anak anak baru, yang belum pernah memegang mesin.
Ryan diberi kain kain yang tidak terpakai terlebih dahulu untuk melancarkan menjalankan mesin jahit dan obras, sampai waktunya pulang.
dia sangat antusias mencoba berbagai mesin yang baru dilihatnya, sebenarnya Ryan sudah bisa menjahit, namun mesin jahit dirumah adalah mesin manual yang diputar dan tidak memakai listrik, jadi Ryan tidak begitu kesulitan menjalankan mesin yang canggih ini, hanya sedikit beradaptasi dengan kecepatan nya saja.
***
_____________________________________________________
🌹🌹jangan goyah dengan omongan orang, karena hidup itu kamu yang jalani, jadilah diri sendiri 🌹🌹
***terimakasih kepada Corona, kau menyadarkan kami untuk hidup bersih.***
***kami sudah sadar, cepat lah kau pergi***
__ADS_1