
Warning💣💣💣 18+
"Aku tidak menyesal!"
Dia berkata dengan berani dan tegas. Untuk ibunya, dia rela berkontribusi. Ibunya adalah satu-satunya keluarga yang Vyvy miliki.
Mata dingin dan tajam di balik topeng tiba-tiba melembut, menatap Vyvy dengan tenang. Kemudian berbisik, "Apa kau yakin dan tahu apa yang akan terjadi setelah ini?"
.
.
.
Vyvy dibawa ke tempat tidur besar di kamar tidur. Pria itu melepas jasnya dan meletakkannya di sofa. Pria itu mendekatinya. Vyvy memandangnya dan dia yakin bahwa pria itu pedophil.
"Aku tahu!" suaranya berani dan tegas, selama ibunya akan membaik, semuanya sepadan. Tiba-tiba, Vyvy merasa sangat sakit ketika lengannya dipegang oleh sepasang tangan besar. Kekuatan Pria itu cukup kuat hingga rasanya Vyvy ingin menangis. Derai air matanya mengalir sambil mengigit bibir bawahnya, menampakkan bahwa Vyvy tidak bahagia.
"Kau benar-benar mengkhianati dirimu sendiri, Apakah ini menguntungkan? Kau merasa malu?" kata pria itu
Vyvy merasa hatinya terluka, air mata mengalir deras di matanya. Bagaimana dia tidak malu pada orang asing yang akan melakukan persetubuhan dengannya? Vyvy tidak punya pilihan, dia tidak bisa membiarkan ibunya mati. Namun, dia tidak bermaksud menjelaskan apa pun. Bagaimanapun, dia melakukan ini hanya demi ibunya.
Melihatnya diam, Pria itu tampak agak tidak bahagia. Pria itu mendorong tubuh Vyvy ke tempat tidur. Salah satu tangannya masuk ke dalam piyama Vyvy dan mencibir,
"Apakah sudah ada yang menyentuh ini sebelumnya?" pria itu menggoda Vyvy
Tiba-tiba tubuh Vyvy merasa kedinginan dan bergetar, menahan sensasi tak tertahankan. Bibir Pria itu melesat di tulang selangka wanita itu. Pria itu mulai menciumnya dengan penuh gairah memicu hasrat seksual.
Vyvy marah dan malu, dia secara naluriah mulai menghindar ke sisi lain tempat tidur. Bahkan ada dorongan untuk melarikan diri dalam benaknya, tetapi jika dia tidak melakukannya, bagaimana dengan biaya operasi ibunya? Biayanya dibutuhkan sesegera mungkin.
Pria itu meraih Vyvy dan melepas piyamanya. Lalu dia mencium tubuh Vyvy yang baru saja dia sentuh dan cibir.
"Tidakkah kau mau uang? Kenapa kau ingin melarikan diri? Aku sudah memperingatkanmu sebelumnya. Jika kau ingin melarikan diri, uang itu akan hilang!" kata pria itu
"Tidak bisakah kita melakukannya besok?" Vyvy berteriak panik
Vyvy mendorong tubuh Pria itu dan berjuang untuk berguling ke sisi lain tempat tidur, tetapi dengan cekatan Pria itu malah sudah ada di atas tubuhnya.
Vyvy takut, benar-benar takut! Pria ini terlalu mengerikan.
"Kau tidak ingin uang? Baiklah, Kau bisa pergi sekarang!" Pria itu mendengus dan membiarkan Vyvy pergi.
Vyvy tiba-tiba terpana, apa yang dia lakukan? Melihat topeng rubah di depan matanya, dia tiba-tiba memeluk lengan Pria itu dengan bersemangat, bergetar dengan suara rendah. "Aku tidak akan menghindar lagi!"
Pria itu menyeringai, dia meraih tubuh Vyvy lagi dan menarik piyamanya. Sosok tubuh putih itu terkena cahaya lampu kamar, kulitnya mulus dan tubuhnya hangat.
Vyvy sangat takut sehingga dia menggigit bibir merahnya dan menatap Pria itu dengan tatapan ngeri.
Pria itu mendekat, ia melumat bibir Vyvy. Lidahnya masuk ke dalam mulut Vyvy, mencicipi rasa bibir wanita yang lembut tersebut.
Vyvy melebarkan mata dan menatap Pria di depannya. Gambar topeng rubah terlintas di depannya. Dalam beberapa tahun ke depan, dia pasti tidak akan bisa menghapus gambar ini dalam mimpinya.
__ADS_1
Jari Pria itu yang tepat berada di dagunya secara bertahap meluncur turun dengan sensasi alkohol yang memicu panas dikulitnya. Vyvy menggigil sedikit dan meraih seprai dengan tangan kecilnya. Dia tahu pria itu akan mengambil keperawanannya kali ini. Vyvy mencium bau alkohol yang datang dari napas Pria itu, tetapi itu menambah kesenangan yang mengubah emosinya menginginkan Vyvy kembali.
Pria itu membuka seluruh pakaian yang menepel padanya dan tubuh Vyvy. Pria itu membuka lebar paha Vyvy dan langsung memasukkan juniornya pada milik Vyvy.
Jeritan Vyvy terdengar sangat lantang. Pria itu tahu bahwa Vyvy masih perawan, jadi pria itu terdiam sesaat dengan juniornya yang masih terbenam seluruhnya di milik Vyvy. Kemudian sesekali Pria itu melihat noda darah yang ada di seprainya.
Pria itu mulai mencium bibir lembut Vyvy lagi, namun Vyvy berteriak,
"Tidak.....!!!!"
Vyvy menutup bibirnya rapat-rapat sambil menarik selimut dan memegangnya dengan erat guna menutupi seluruh tubuh telanjangnya.
"Lepaskan selimut itu dari tanganmu anak kucing kecil." ucap Pria itu
"Aku ......."
Vyvy ingin mengatakan sesuatu yang keras, tapi dia hentikan. Dia hanya bisa menangis dan menjerit berulang kali dalam diam.
.
.
.
"Ahhhhhh!!!!!!! tolong hentikan Tuan !!!!!!"
"Ahhh.......ahhhh....."
Setelah sekian lama, pria itu akhirnya berhenti. Dia merasa gadis itu sedikit gemetaran. Dia perlahan-lahan tenang dan mulai mengasihani wanita itu.
"Dia tidak tahu apa-apa" kata pria itu dalam benaknya
"Oke, jangan menangis!" pria itu mengulurkan tangan dan memegang lengan Vyvy, mencium air mata di wajahnya dengan lembut.
"Jika kau ingin uang, kau harus melalui ini. Aku akan membayarmu lebih banyak!" hati Vyvy sakit ketika mendengar apa yang dikatakan Pria itu, dan dia tiba-tiba saja Vyvy mendorong Pria itu.
"Puas? Apakah cukup puas untuk malam ini?" ucap Vyvy
"Apa menurutmu kau bisa menolakku? Apa kau belum mengerti isi kontraknya?" pria itu mengatakannya dengan marah, mengabaikan air mata di pipi wanita itu.
Meski ini adalah pertama kalinya, dia tidak akan membiarkan Vyvy pergi, berapa lama? Dia juga tidak tahu jawabannya. Dia tidak akan membiarkannya segera pergi. Wanita ini begitu polos dan wajahnya cantik, membuat Pria itu merasa menginginkannya lebih dan lebih. Dia akan gila setiap kali dia mencium dan membelai Vyvy.
Pria itu melakukannya sekali lagi, Vyvy terisak-isak dan ingin menangis tapi dia tidak bisa berteriak. Sekali lagi, dia merasa sedih menyernyit merasakan rasa sakit. Kali ini, Pria itu lebih kasar dari sebelumnya. Vyvy tidak tahu apakah dia masih bisa selamat. Vyvy tidak tahan dan mulai berjuang melawan, tetapi dia tidak bisa melakukannya karena Pria itu terlalu kuat. Pria itu menginginkan Vyvy, dia menyetubuhinya lagi dan lagi sampai dia merasa puas.
"Biarkan aku pergi! Biarkan .... aku ..... pergi!" suara Vyvy terputus-putus karena rasa sakit. Pria itu mengangkat dagu Vyvy dengan satu tangan dan menatapnya dengan dingin.
"Tidak bisakah kau sedikit bersabar? Apa kau tidak menginginkan uang?" ucap Pria itu
.
.
__ADS_1
.
Setelah sekian lama, Pria itu akhirnya melepaskan Vyvy ... rumah itu tampak sepi kembali, sedangkan pria itu pergi ke kamar mandi. Vyvy terbaring di tempat tidur seperti boneka, dengan air matanya yang masih mengalir.
.
.
.
Telepon berdering saat ini, memecahkan keheningan di ruangan tersebut. Pria itu cepat keluar dari kamar mandi dengan masih memakai topeng, menjawab teleponnya, dan berbisik dengan nada yang sangat lembut,
"Yangmei, kenapa kau belum tidur?" nada bicara Pria itu lembut seperti menceritakan kisah cinta dengan kekasih. Vyvy tersenyum-senyum sendiri mendengar Pria itu mengobrol di telepon.
"Pria itu benar-benar pandai dalam berakting." itulah yang Vyvy pikirkan tentang pria itu.
.
.
.
Selang beberapa menit Pria itu menutup telepon dan mulai menyeka tubuhnya. Dia tidak melepas topeng rubah yang menutupi wajahnya. Mata Vyvy menatap langit-langit kamar dan tidak melihat pria itu.
Ketika Pria itu berpakaian, dia melirik darah di seprai, dan hatinya tersentuh oleh sesuatu. Suaranya serak dan dingin,
"Bangun dan mandilah, ganti sepreinya, aku tidak ingin melihat ada kotoran di kamar ini. Di dalam kabinet ruangan ini ada banyak sprei."
.
.
.
Pria itu baru saja mengambil keperawanan seorang gadis berusia 17 tahun. Gadis tersebut bersih dan itu membuat pria itu semakin tergila-gila.
Vyvy tidak bergerak, air matanya mengalir deras, lelaki ini benar-benar pedophil. Pria ini berpakaian dan berdiri di depannya, menatap dengan merendahkannya,
"Kau hanya seorang ibu pengganti. Setelah kau melakukan pekerjaanmu, kau akan diperlakukan dengan baik. Aku jamin itu. Kau sudah menerima setengah dari kompensasinya. Jangan merasa kasihan pada dirimu sendiri, kita sudah sepakat bersama melalui kontrak!"
"Terima kasih atas uangnya, Tuan"
Beberapa menit kemudian, telepon Vyvy berdering, dan dia dengan cepat bangun dari tempat tidur, mengabaikan rasa sakitnya, dan tidak peduli apakah Pria didepannya itu melihat tubuh telanjangnya karena orang yang memanggilnya saat ini adalah ibunya.
Pria itu melihat Vyvy dengan bersemangat mengangkat telepon, matanya menghela nafas kemarahan. Pria itu seharusnya pergi tetapi niatnya dia urungkan karena dia tidak bisa meninggalkan Vyvy sendirian.
*
*
*
__ADS_1
Jangan lupa like and coment yaa❤❤❤