
Happy Reading❤❤
"Pria itu sangat tampan dan kelihatannya dia juga kaya." perawat di rumah sakit mengatakannya saat melihat Thomas Oderron yang berjalan di pintu masuk ruang gawat darurat. Mereka tergila-gila dengan Thomas dan mereka juga tersenyum ringan padanya.
"Ya, dia sangat keren!" perawat lain segera menjawab dengan kegembiraan yang terpancar di wajahnya. Dan mata yang gembira itu melihat ke arah Thomas yang sabar menunggu.
Sementara Vyvy sedang mengisi lembar informasi. Saat dia kembali, dia melihat para perawat yang membersihkan luka Thomas.
"Pesona orang ini benar-benar membuat setiap wanita waras menjadi gila." ucap Vyvy dalam hati.
Vyvy Shen yang memegang lembar informasi itu hanya menghela napas setelah melihat adegan di dalam ruangan.
Mata dingin Thomas tiba-tiba melihat ke arah Vyvy dari balik kaca, dan mata mereka saling bertemu. Vyvy Shen secara tidak sadar menundukkan kepalanya seolah-olah dia terjebak dalam situasi yang canggung.
Tiba-tiba telepon Vyvy berdering dan dia menjawabnya dengan cepat.
"Mommy, kenapa kamu belum pulang?" terdengar suara Shendy yang khawatir pada ibunya.
Ketika Vyvy mendengar suara anaknya, Vyvy Shen segera tersenyum dan dia berkata dengan suara lembut. "Shendy, Mommy bertemu dengan seorang teman dan sekarang kita ada di rumah sakit."
Thomas dapat melihat melalui kaca di ruang gawat darurat bahwa Vyvy tersenyum saat menjawab telepon. Sekarang sekitar jam sepuluh, apakah itu pacarnya? Sialan kenapa meraka masih tidak putus, Vyvy bahkan berani menunjukkan kemanisannya di depannya?
Mata Thomas sekali lagi menunjukkan pancaran berbahaya, wajahnya terlihat tak menyenangkan, tidak, sangat tak menyenangkan untuk dilihat! Wanita sialan itu masih berani memiliki pacar. Kenapa Vyvy tidak terpengaruh mengenai kejadian satu jam yang lalu?Sementara Thomas sendiri sangat khawatir dengan Vyvy bahkan rela mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan Vyvy.
Saat ini pikiran Thomas penuh dengan rasa kecemburuan.
Setelah luka-lukanya diobati, Thomas keluar dengan wajah suram.
"Selesai?" Vyvy Shen menatap lengan Thomas dengan kekhawatirannya. "Aku akan membayar tagihannya sekarang!"
.
.
.
__ADS_1
Ketika Vyvy kembali, Thomas berdiri di samping ruang gawat darurat dan menyalakan sebatang rokok sambil menatap Vyvy dengan sikap elegan namun matanya memancarkan sorot bahaya.
"Siapa yang menelpon barusan?" kata Thomas sambil menghembuskan asap tebal.
"Uh!" entah kenapa Vyvy mulai mendongak. "Apa katamu?"
"Aku bilang siapa yang menelponmu?" Thomas mengulangi pertanyaannya dengan sabar
"Bukan urusanmu!" Vyvy Shen agak tidak bisa dimengerti apa yang Thomas maksud.
"Mengapa Thomas mengajukan pertanyaan seperti itu padaku?" tanya Vyvy dalam hati
"Aku ingin tahu siapa itu?" Thomas berkata dan menatap Vyvy dengan tatapan yang mengerikan.
Sementara Vyvy mengelak dan tidak berani menatap Thomas. Bahkan Vyvy yang berjarak lima langkah dari Thomas, dia masih merasa tidak aman. Thomas seperti ingin memakan Vyvy dalam sekejap mata.
"Berikan aku jawabannya!"
"Apa jawaban yang Thomas inginkan?" Vyvy bertanya pada dirinya sendiri.
Melihat Vyvy yang tidak berbicara, Thomas langsung memadamkan puntung rokoknya dan menarik tangan Vyvy, berjalan lebih cepat dan memasukkan Vyvy ke dalam mobil lagi.
"CEO, aku bisa pulang sendiri!" kata Vyvy
Thomas juga masuk ke dalam mobil. "Apa yang menelponmu tadi pacarmu?"
Vyvy Shen tertegun. "Ya, dia pacarku. Dia bertanya padaku kenapa aku masih belum pulang ke rumah!"
Thomas tiba-tiba terdiam dan tidak berbicara. Dia hanya memaki Vyvy dalam hatinya. "Wanita sialan, dia berani tinggal bersama dengan pacarnya."
"Tuan, terima kasih telah menyelamatkan aku hari ini dan membantuku mendapatkan teleponku kembali. Sekarang bolehkah aku pulang ke rumah?" Vyvy Shen mencoba membujuk Thomas agar membiarkannya pergi.
Thomas melirik Vyvy Shen, suasana mencekam di dalam mobil membuat Vyvy ketakutan dan dia menelan ludahnya sendiri.
Kemudian Vyvy mendengar suara mobil dinyalakan dan melaju secepat peluru tanpa jejak.
__ADS_1
"Ah ... hentikan mobil ini!" jeritan Vyvy dari dalam mobil dan itu bisa terdengar dari luar.
Mobil tiba-tiba berhenti di halaman sebuah tempat para kalangan kelas atas.
"Kau ... kau ... apakah kau sudah gila?" Vyvy Shen berteriak pada Thomas, suaranya gemetaran dengan rasa takut keluar dari mulutnya. Ketika Vyvy mendongak, dia melihat tempat yang aneh. "Eh, dimana tempat ini?" kata-kata Vyvy belum selesai dia ucapkan tapi dia sudah diseret ke luar dari mobil dan berjalan menuju lift.
Tangan kecil Vyvy membelai dadanya, saat itu dia melihat mata tajam Thomas Oderron.
Dengan cepat Thomas melemparkan tubuh Vyvy ke atas sofa putih di dalam tempat itu dan Vyvy masih berani bertanya pada Thomas. "Apa yang kau lakukan?"
Vyvy takut dengan Thomas. Dia bertanya-tanya dalam benaknya kenapa Thomas membawanya kesini?
"Jadilah wanitaku!" kata Thomas dengan nada penuh penekanan
Malam ini, Thomas bergerak mendekat pada Vyvy dalam semenit, dan hal itu benar-benar membuat Vyvy terdiam dan merasakan perasaan gugup secara tiba-tiba.
"Kau akan tidur disini bersamaku!"
Thomas segera meraih Vyvy, menciumnya dengan kasar dan menyentuh seluruh tubuhnya. Thomas mengurung tubuh Vyvy di atas tubuh kekarnya.
Vyvy tersentak dan tidak bisa lepas dari mata menawan Thomas yang menjengkelkan. Vyvy akhirnya berteriak, "Kau gila?"
Thomas berhenti dan dia mulai mencubit dagu Vyvy yang runcing dan memaksa Vyvy untuk menatap matanya. Kemudian Thomas berkata, "Aku tidak peduli apa pun ucapanmu padaku, apakah aku gila di matamu atau tidak. Aku tidak akan membiarkanmu pergi. Tidak sampai kau mau menerima jadi wanitaku. Apa kau tahu ... kau membuatku gila dan membuatku merasa seperti suami yang sedang cemburu, bukankah kau tahu itu?"
Vyvy Shen menutup matanya. Dia merasa jengah dengan ocehan pria di atasnya ini.
*
*
*
*
*
__ADS_1
Kuucapkan makasih buat kalian yang sudah mau mampir di cerita aku ini. Terima kasih juga buat yang udah mau like and coment. Dan juga mohon dukungannya yaa dengan kasih Vote berupa poin atau koin. Dukungan kalian sangat berarti buat author... 😊😊