
Assalamualaikum, teruntuk semua pembaca yang sempat mampir, sebagai author pemula mungkin karya ini masih jauh dari kesempurnaan. Mohon bijak dalam berkomentar! 🙏
"Kring.. Kring.. Kring.."
Suara krincingan sepeda terdengar merdu menghiasi di pagi hari yang cerah, mengusik gadis yang sedang duduk di taman depan Boutique.
"KRING.. KRING.."
Suara itu terus berbunyi dan terdengar lebih keras. Naira (22) mempertajam pendengarannya mengikuti suara nyaring yang menggema di telinganya.
Jelas-jelas suara itu hanya krincingan dari sebuah sepeda. Tapi ntah kenapa hatinya terasa hangat ditambah lagi dengan hembusan angin yang sejuk di pagi itu.
"KRING."
Sekali lagi suara itu terdengar dan lebih dekat dengannya, membuat sekumpulan merpati indah di sekitar Boutique spontan berterbangan.
"Ah" terkejut.
Suara kepakan merpati - merpati itu mengejutkannya bahkan beberapa berterbangan di atasnya membuat hembusan angin dari kepakan merpati menerbangkan rambutnya.
Meski matanya tidak bisa melihat dengan jelas. Namun, dia bisa merasakan dengan kuat betapa indahnya suasana itu membuatnya tersenyum lebar.
Gadis cantik bermuka chubby itu, memiliki kulit putih, sepasang mata bulat, alis sedang, hidung yang tergolong mancung dan bibir sedang telah kehilangan penglihatannya sejak dua tahun terakhir.
meski dunianya yang terang telah terenggut, tapi tidak dengan harapan, semangat dan keceriaannya.
Sementara itu, sosok pria berpostur tubuh tegap asyik mendayu pedal sepedanya menyusuri pinggir jalan.
Dia meneliti sekitar menikmati sejuknya suasana pagi itu dan saat melewati Boutique pandangannya tertuju kepada Naira yang duduk tersenyum lebar.
Zain (23) memelankan laju sepedanya. Ntah kenapa melihat Naira membuat hatinya tiba-tiba hangat.
Pemandangan yang sangat indah di mata Zain, sampai membuatnya tidak berkedip dan tanpa sadar tersenyum sendiri memperlihatkan lesung pipinya yang manis melihat sosok Naira saat itu.
Seperti itulah kesan pertamanya saat melihat Naira untuk pertama kalinya. Sementara Naira sendiri tidak menyadari sosok yang sedang memperhatikannya, dia masih terus tersenyum lebar merasakan merpati-merpati yang berterbangan seolah menari-nari di atasnya.
sayangnya, Zain tidak bisa berlama-lama menikmati wajah indah itu karena harus bergegas ke kantor.
"KRING!"
Sekali lagi Zain membunyikan krincing sepedanya sebelum meninggalkan tempat itu.
Membuat Naira kembali terusik mendengarkan suara kerincing sepeda yang terdengar melewatinya.
Naira sontak menegakkan kepalanya ke depan mengikuti suara krincing dan Zain Pun kembali mendayu pedal sepedanya meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Naira sedikit memicingkan matanya dan hanya seperti melihat bayangan kekuningan yang sangat buram dan perlahan menghilang.
Yah. saat itu Zain memakai kemeja luaran berwarna kuning. Penglihatan Naira tidak hilang sepenuhnya, dia masih bisa merasakan kilasan benda di depannya.
Tapi itu sangat sulit, karena hanya terlihat seperti tertutup embun yang tebal sehingga tidak bisa melihat bentuk yang seutuhnya, hanya bisa merasakan bagian-bagian tertentu yang mencolok seperti bayangan warna.
Naira sekali lagi tersenyum, meski kehilangan penglihatan tapi tidak dengan perasaannya, justru menjadikannya lebih peka.
Meski tidak melihat dengan jelas, namun dia dapat meyakini bayangan tadi merupakan sosok pemilik sepeda dan sedang menyapanya dari suara krincing terakhir yang dia dengar.
**KANTOR**
Dengan perasaan bahagia yang terpancar dari raut wajahnya, Zain merebahkan badannya di kursi putar miliknya. Sebuah kertas di atas meja yang menarik perhatiannya. Kemudian Zain mengambilnya lalu perlahan mulai membuka dan membacanya.
"Bagaimana, kamu tertarik?"
Mendengar pertanyaan itu, Zain menoleh melihat Joy (22) teman kerjanya yang duduk di sampingnya.
"Mmmh.." berpikir sejenak.
"Boleh juga!" sambungnya menunggingkan senyum memperlihat lesung pipinya sambil mengingat kembali sosok Naira, semakin menambah kesan manis melengkapi senyumannya itu.
Saat ini Zain bekerja sebagai fotografer dan cukup kompeten di bidang kerjanya. Bahkan dia sering bekerja sama dengan model-model terkenal karena hasil karyanya cukup memuaskan.
Zain memasukkan selebaran kertas tersebut di dalam tas selempangnya, lalu mulai meng-utak atik komputer di depannya untuk melanjutkan pekerjaannya. Begitu juga dengan Joy yang meja kerjanya bersebelahan dengan Zain.
Dia merupakan sosok laki-laki dewasa yang berparas tampan dengan kulit yang tergolong sawo matang.
Wajahnya sedikit bulat, memiliki alis sedang, mata yang sipit, hidung mancung, bibir atas yang tipis sedangkan bagian bawah sedikit lebih tebal dan yang terpenting dia memiliki lesung pipi.
Itu sebabnya dia terlihat tampan dan manis saat dia tersenyum sehingga mampu membuat yang melihatnya terpesona dengan dimple smile-nya itu.
Zain memiliki kepribadian yang tenang, pintar serta bersifat lembut.
**BOUTIQUE**
"Ra. Maaf yah aku telat."
Naira mengangkat kepalanya ke sumber suara lalu tersenyum kecil.
"Ngga papa Sa."
Sasa (22) meraih tangan Naira membantunya berdiri lalu masuk bersama ke dalam Boutique.
Sasa sahabat Naira dari SMA. Sejak kehilangan penglihatan Sasa berperan banyak dalam membantunya sampai dia bisa lebih mandiri dan menyesuaikan dengan keadaan seperti sekarang.
__ADS_1
Dia juga selalu yakin bahwa suatu saat nanti Naira bisa melihat kembali.
Hari itu, Naira menemani Sasa untuk fitting baju pernikahannya yang akan diselenggarakan 2 minggu kemudian.
Naira duduk tenang di sofa menunggu sahabatnya yang sedang mencoba gaun pengantinnya.
"Sa?" panggilnya.
***Hening***
Karena tidak ada jawaban akhirnya Naira berdiri dari sofa.
"Sasa, udah belum?" tanyanya sambil menoleh mencari keberadaan Sasa.
"Ah" Terkejut.
Naira terkejut merasakan sentuhan saat Sasa menggenggam tangannya.
" Udah Ra. Gimana cantik ngga?" tanyanya dengan tersenyum lebar menatap Naira.
Naira perlahan mulai meraba bagian pundak Sasa menelusuri lengan dan bagian pinggang. Dengan insting dan kepekaannya dia dapat merasakan gaun yang berbahan halus, dan beberapa tambahan permata indah berwarna biru di bagian depan yang membuat mata Naira melihat sedikit bayangan kebiruan itu.
"Emm." mengangguk tersenyum
" Gaungnya indah, terasa lembut dan permatanya juga bagus pas untukmu. Sudah pasti kamu sangat cantik. Hee!"
Naira memegang pipi Sasa dan tersenyum, matanya berlinang membuat Sasa terharu.
"Ra, kenapa nangis?" dengan lirih Sasa bertanya dan memegang pipi Naira.
"Ngga papa, aku seneng aja akhirnya kamu akan menikah dan punya pendamping yang akan selalu ada untuk melindungi."
Mendengar ucapan sahabatnya membuat hati Sasa ter-cubit dan langsung memeluknya dengan erat.
"Suatu saat nanti kamu juga akan bertemu dengan orang yang akan selalu mencintai dan melindungi mu."
"Bener?"
Sasa melepas pelukannya lalu tersenyum menggenggam kedua tangan Naira.
"Bener, aku yakin hari itu akan tiba dan yang terpenting kita akan tetap menjadi sahabat selamanya."
"Janji?" Naira tersenyum mengangkat jari kelingkingnya dan langsung disambut oleh Sasa.
"Sahabat selamanya! Hehehe!" kompak menautkan kelingking dan tertawa bersama.
__ADS_1
Ketulusan dan kekompakan mereka membuat pemilik Boutique yang dari tadi berdiri di samping mereka tersenyum haru.
Bersambung...