
"Pa. Papa harusnya tidak menyalakan Piola! Papa harusnya bertanya, kenapa aku sampe seperti ini!" Ucapnya bergetar menatap Papanya.
Dokter Rehan sedikit mengerutkan dahi. "PAPA TIDAK MAU TAU! POKOKNYA MULAI SAAT INI KAMU TIDAK BOLEH KEMANA-MANA!" Tegas dokter Rehan lalu berbalik meninggalkan Piola.
"HAAAAAAA!" Teriaknya.
"BRAKKK!" Suara pecahan piring melengking saat Piola mendorongnya dengan sengaja membuat dokter Rehan menghentikan langkahnya.
Wajah dokter Rehan seketika menegang dan langsung berlari kembali masuk ke dalam kamar piola dan...
***
"PIOLA!!" Teriaknya saat melihat anaknya duduk tak berdaya di lantai bersama beberapa pecahan beling. Piola terlihat kacau, air matanya mengalir dan rambutnya yang terlihat kusut layaknya orang frustasi.
Dengan cepat dokter Rehan menghampiri anaknya. "Piola? Kamu tidak apa-apakan?" Tanyanya panik memegang pipi Piola.
Perlahan Piola menatap lekat papanya "Pa.. Papa sayangkan sama Piola?" Lirihnya bergetar dengan wajah memerah juga air matanya yang bercucuran.
"Tentu! Tentu papa sangat menyayangi Piola!" Balasnya merapikan rambut Piola.
"Tapi kenapa pa? Kenapa papa nggak merhatiin Piola? Papa malah memarahi Piola! Hiks. Hiks." Menatap sendu Papanya.
"Papa minta maaf!" Mengusap air mata anaknya.
Piola memeluk papanya "HIKS. HIKS. HIKS." Piola menangis sesenggukan dalam pelukan papanya. "Pa? Kenapa Zain tidak pernah menginginkan Piola? Hiks. Hiks." Sambungnya masih terisak.
Dokter Rehan mengelus kepala Piola. Hatinya sedikit tergerak, lagi-lagi Zain menjadi alasan Piola menangis!
"Pa. Zain sudah mencintai gadis lain! Dia sama sekali tidak menginginkan Piola Hiks. Hiks! Piola kurang apa pa....? Hiks. Hiks. Selama bertahun-tahun Piola menunggunya!" Piola menangis meluapkan kesedihannya!
Dokter Rehan bergetar mendengar perkataan putri semata wayangnya dan merasa tidak adil jika Piola terus diperlakukan semena-mena oleh Zain.
Wajahnya kembali menegang sampai rahangnya mengeras. Sorot matanya tajam.
"Kamu tenang yah!" Melepaskan pelukan lalu kembali memegang pipi Piola. "Papa sudah janji sama kamu dan papa tidak akan mengingkarinya!" Mengusap air mata anaknya.
Hatinya terasa ter cubit menatap wajah anaknya yang memerah, matanya sembab dengan tatapan sendu seperti kelelahan.
Piola mengangguk kecil mendengar perkataan Papanya.
**TAMAN LAVENDER**
__ADS_1
Di bawah pohon trembesi yang rindang, kedua sejoli duduk menikmati sejuknya hembusan angin dan aroma semerbak Lavender yang mewangi meningkatkan energi positif.
Zain dan Naira duduk di kursi kayu bawah pohon menatap hamparan warna ungu bunga lavender sambil menikmati ice cream rasa coklat.
Naira menikmati setiap gigitan ice cream nya sambil menatap wara putih keunguan yang buram bak lensa berembun di depannya. Hatinya terasa hangat, sejak dua tahun baru kali ini Naira kembali merasakan kebahagiaan yang luar biasa.
Hidupnya lebih berwarna sejak bertemu dengan Zain. Dunianya yang gelap seolah kembali menjadi terang sekejap.
Sementara Zain sendiri dibandingkan dengan ice cream nya. Dia lebih menikmati wajah cantik Naira. Pandangannya lekat menatap Naira, pipinya yang chubby terlihat menggemaskan.
Zain terus mengembangkan senyuman membuat lesung pipinya membulat dan terlihat sangat manis.
"Naira?" Lirihnya membuat Naira sedikit melirik mencari arah wajah Zain.
Naira menatap fokus ke bayangan coklat keabu-abuan di depannya. Hembusan angin yang sedikit kencang membuatnya mengerjapkan mata bulatnya.
Zain semakin terpesona melihat hal itu dan kembali mengembangkan senyuman yang lebih lebar memperlihatkan gigi depannya yang rapi juga lesung pipinya bahkan matanya yang sipit nyaris tertutup.
"Kamu bahagia berada di tempat ini?" Lirihnya masih menatap Naira.
"EM!" Naira mengangguk mengulas senyum lalu kembali menatap bayangan putih keunguan begitu juga dengan Zain.
"Kamu tahu? Di tempat ini cuma ada kita berdua. Tempatnya indah dan bersih!"
"Tidak!" Jawabnya serak. "Hanya ada bunga Lavender berwarna ungu yang luas. Dan juga satu pohon trembesi yang rindang. Saat ini kita sedang duduk bernaung di bawahnya!" Lirihnya serak.
"Lalu bagaimana dengan cuaca hari ini?" Lirihnya masih menatap taman Lavender.
"Cerah! Langit berwarna biru dan dihiasi awan putih bersih. Beberapa burung berterbangan menari-nari di udara! Dan... Hembusan angin sedikit kencang tapi cukup sejuk! Menatap wajah Naira.
Naira juga perlahan memalingkan pandangannya ke Zain.
"Pemandangan yang sangat cantik! Terima kasih sudah memberitahu ku! Aku jadi merasa seperti melihatnya langsung!" Lirihnya mengulas senyum.
Zain Menggenggam tangan Naira lalu perlahan meletakkan di wajahnya. Tangan yang lebih kecil darinya terasa hangat menggetarkan hati.
"Mulai sekarang aku adalah matamu!" Ucapnya serak namun cukup membuat Naira bergetar.
Naira merasa tersentuh mendengar ucapan Zain. Matanya sedikit memerah bibirnya bergetar. "Terima kasih!" Ucapnya bergetar "Aku akan selalu melihatmu melalui hatiku! Dimanapun, kapanpun dan apapun keadaannya aku akan tetap melihatmu!" Naira menitihkan air matanya sambil menatap bayangan coklat keabu-abuan yang buram di depannya.
Zain mengusap lembut air mata Naira yang mulai membasahi pipinya. Naira perlahan memejamkan mata merasakan tangan lembut dan hangat itu mengelus wajah halusnya.
__ADS_1
Disaat mereka terlarut dalam lautan cinta yang menggetarkan hati. Lagi-lagi...
***
"Cekrek!"
"Cekrek!"
Sebuah mobil sport kembali memantau mereka dari jauh dan berhasil mengabadikan beberapa momen mesra mereka.
**RUMAH PIOLA**
Piola terlihat terlelap dalam balutan selimut berwarna pick. Wajahnya terlihat pucat dan matanya sembab.
Hanya dengan melihat rautnya sudah menandakan kalau dia sedang mengalami tekanan dan cukup kelelahan.
"Bi tolong buatkan sup untuk Piola!" Perintah dokter Rehan.
"Baik tuan!" Balas art lalu dengan cepat menuju ke dapur.
"Hhhhhh!" Menghela napas. Dokter Rehan menghampiri Piola yang masih terlelap dan duduk di sampingnya.
"Maafkan papa karena selama ini kurang perhatian! Kamu pasti sangat kesulitan mengahadapi semua ini sendirian!" Batinnya mengelus kepala anaknya.
Sejak ditinggal ibunya, Piola hanya memiliki papanya. Dokter Rehan selalu sibuk dengan kerjaanya membuat Piola selalu mencari perhatian. Sosok Zain teman masa kecilnya membuat Piola terbiasa dan nyaman dengan kebersamaan mereka.
Dulu waktu kecil, Zain selalu ada untuk menghiburnya. Itu sebabnya selain papanya dia selalu mencari perhatian dari Zain.
Piola selalu mengagumi Zain yang selalu ada setiap dia butuh teman, penyemangat. Karena dengan momen-momen berharga itulah membuatnya menaruh hati hingga saat dewasa dia merasa telah jatuh cinta dengan sosoknya yang perhatian dan lembut.
sejak kecil hanya Piola gadis yang berada disisi Zain. Tiba-tiba mendapat kabar kalau ternyata Zain memiliki seseorang yang dia cintai tentu menjadi tamparan keras baginya.
Dia tidak rela posisinya di hati Zain tergantikan begitu saja.
***
Setelah puas menikmati kebersamaan mereka. Zain kembali mengantar Naira pulang ke rumah dengan berboncengan sepeda.
terkesan sederhana, tapi cukup romantis terlebih saat itu Naira memeluk erat pinggang Zain. Naira dapat merasakan pinggang miliknya yang kekar, aroma parfum khas yang menusuk namun menyimpan aroma soft saat semakin menghirupnya.
sementara Zain sendiri cukup menikmati momen itu. berada dalam pelukan Naira terasa hangat.
__ADS_1
keduanya mengembangkan senyuman bahagia menikmati kebersamaan itu. Ada harapan yang terbesit aga mereka bisa terus bersama dalam momen seperti itu untuk selamanya.
Bersambung...