
Zain mematung memikirkan perkataan dari dokter Rehan. Niatnya membawa Piola cepat pulang demi bertemu Naira malah membuatnya harus menghabiskan waktu lebih lama.
"Za?" Sahut dokter Rehan membuat Zain kembali tersadar.
"Ah! B..aik Om!" Balasnya mengangguk.
"Terima kasih!" Menepuk bahu Zain sebelum pergi.
"Ceklek!"
Mendengar pintu dibuka, Piola mendongak tersenyum lebar menatap laki-laki yang sangat ia dambakan. Sementara Zain hanya membalasnya dengan senyuman kecil itu pun sangat berat dia keluarkan.
Saat itu, dia merasa mungkin badannya lebih lemas dari Piola. Tapi bukan badannya yang perlu dirawat melainkan hatinya.
"Kamu nggak papa?" Berdiri di samping Piola.
Piola menggelengkan kepala. "Makasih ya kamu mau menemaniku!" Menggenggam tangan Zain dan hanya dibalas anggukan.
Kalau saja bukan permintaan langsung dari dokter Rehan, dia juga enggan berada di samping Piola lama-lama. Dan kalau saja dia bisa menghindar sudah pasti dia melarikan diri dari tadi.
Zain terpaksa menuruti permintaan dokter Rehan agar tidak memperkeruh permasalahan yang dia buat kemarin.
"Hhhhhhh!" Menghela napas "Anggap saja ini penebus kesalahan kemarin!" Batinnya menatap genggaman Piola.
Zain tidak menyalakan Piola sepenuhnya tentang perasaannya. Tapi tetap saja cinta tidak bisa dipaksakan.
"Aku mau makan apel!" Sahutnya membuyarkan Zain.
Karena kondisi tangan Piola diinfus membuatnya sulit beraktivitas sendiri dan mau tidak mau Zain lah yang melayani.
Zain mengangguk melepaskan genggaman Piola dan mengambil satu buah apel untuk dikupas.
"Apakah tidak masalah jika makan apel?" Tanyanya mengangkat buah apel memperlihatkan ke Piola.
Piola menggelengkan kepala "Nggak papa. Tadi kamu dengar sendiri kan tekanan darahku sedikit rendah. Dan aku merasa gastritis ku sudah membaik!" Mengulas senyum.
Zain duduk di kursi yang berada di samping Piola lalu perlahan mengupas buah apel, terakhir memotong kecil-kecil lalu meletakkannya di piring.
Tak puas membuat Zain mengupas Piola malah meminta dilayani lebih.
"Suapin yah!" Sahutnya saat Zain menyodorkan piring berisi apel.
Zain sedikit tidak suka dengan sikap Piola yang terkesan memanfaatkan situasi. Tapi dia harus tetap melakukannya walau hati dan pikirannya ada sama Naira.
Zain mulai menyuapi Piola yang dalam posisi setengah duduk. Wajah Zain datar kala menyuapinya sedangkan Piola tidak memperdulikan perasaan Zain. Dia terus melahap potongan buah apel darinya.
Selesai makan buah apel, Piola mulai merasa ngantuk.
"Aku ngantuk!" Lirihnya.
"Ya sudah kamu tidur dulu!" Membantu merapikan selimut.
"Za!" Kembali menggenggam tangan Zain. "Kamu jangan kemana-mana yah, temani aku! Aku tidak ingin tinggal sendiri lagi di sini!" Menatap sendu.
***
Zain merasa seperti ditampar tapi bukan di wajah melainkan di hati. Kembali badannya lemas. Dengan berat menelan saliva "em!" Mengangguk. Membuat Piola kembali tersenyum puas.
Zain duduk memandangi punggung Piola yang mulai terlelap. Tatapannya sendu, sesekali melirik jam tangannya yang sudah menunjukan pukul 16 : 30 sore.
Kali ini Zain merasa lebih buruk dari kemarin. Sepertinya sudah tidak ada harapan untuk menemui Naira saat itu membuatnya harus menelan pahit perasaannya.
"Ceklek!"
Suara pintu terbuka membuyarkan pandang Zain dengan cepat melirik pintu. Tampak dokter Rehan sedang berjalan menghampiri.
"Bagaimana dengan Piola?" Menatap Zain.
"Baru saja tertidur. Sepertinya sudah membaik!" Balasnya beranjak dari duduknya.
__ADS_1
"Mm!" Mengangguk.
"Om boleh Zain ijin pulang?"
"Tentu. Terima kasih telah menemani Piola!" Menepuk bahu Zain.
Zain keluar meninggalkan mereka. Sedangkan Piola sediri perlahan membuka matanya yang ternyata tidak tertidur. Tatapannya tajam menunggingkan senyum licik.
Sebenarnya kondisinya tidak seburuk yang terlihat. Walau tekanan darahnya hanya 90/60 mmHg tapi, tidak membuatnya merasa pusing sama sekali.
Semua sudah direncanakan olehnya, sebelum Zain datang ke rumah sakit.
Beberapa jam sebelumnya (08 : 00 pagi)
"Nona Piola saatnya kami melakukan pemeriksaan!" Sahut salah satu perawat.
Dengan cepat perawat itu memasangkan alat pengukur tekanan darah digital ke lengan Piola.
"Bagaimana hasilnya?"
"Apakah nona merasa sedikit pusing atau lemas?"
"Tidak!" Menggelengkan kepala.
"Tekanan darah Nona sedikit rendah. 90/60 mmHg! Apakah nona memiliki keluhan lain?" Perawat kembali bertanya dan Piola hanya menggelengkan kepala.
"Kalau begitu saya permisi nona!"
"Terima kasih!"
Piola menunggingkan senyum menemukan akal. Sebagai Putri seorang dokter dia tau beberapa informasi masih tentang kesehatan. Termasuk dengan keluhan orang yang mengalami tekanan darah rendah pada umumnya.
Biasanya tekanan darah Piola dalam batas normal 110 / 70 mmHg, dan dia sangat tahu kalau dengan kondisinya saat itu, sangat berpotensi mengalami pusing, sakit kepala dan merasa lemas.
***
Zain berlari kecil menyusuri lorong rumah sakit, sepanjang jalan dia berharap agar masih memiliki waktu untuk bertemu dengan Naira. Paling tidak dia bisa memberikan alasan mengapa dia terlambat.
**NUSANTARA RESTO**
"Pak sekarang jam berapa?" Lirihnya.
"17 : 15 Non!"
"Sudah sesore ini tapi Zain tidak datang! Bahkan ini lebih lambat dari kemarin!" Batinnya.
Ada rasa kecewa menyelimuti. Tatapannya sendu.
"Non ayo pulang!" Ajak pak Yayat.
Dengan berat Naira melangkahkan kakinya meninggalkan restoran. Rautnya sedikit lesu, sepanjang jalan dia berharap ada Zain memanggil dan mengejarnya.
Tapi kini bahkan dia sudah hampir sampai. namu, Zain tidak kunjung datang.
"Apa kali ini kamu benar-benar tidak datang?" Batinnya menghentikan langkah begitu juga dengan pak Yayat.
***
Selama beberapa saat Naira berdiri menunggu. Ada rasa tidak rela dalam hatinya untuk melanjutkan langkahnya.
"Non Ayo!"
Naira akhirnya memutuskan untuk tidak lagi menunggu Zain.
***
Saat Zain datang, restoran sudah dalam keadaan tertutup. Dengan raut panik berlari melihat sekitar tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Naira. Membuatnya merasa lemas, dia menatap pintu restoran yang tertutup dengan sendu.
"Hhhhhh!" Menghela napas mengusap wajahnya. Matanya sedikit memerah ada rasa penyesalan pastinya.
__ADS_1
Seketika kepalanya terasa berdenyut memikirkan kesalahan yang telah dia lakukan hari itu.
"Mba! Naira sudah pulang?" Tanyanya saat melihat salah satu karyawan yang baru saja ingin pulang.
"Oh sudah Mas! Beberapa menit lalu diantar sama pak Yayat!" Menatap Zain.
"Bisa minta alamatnya?" Dengan tatapan memohon.
"Mas lurus aja ke depan! Pas pertigaan ada rumah dua lantai dengan pagar coklat Mas!" Balasnya mengulas senyum.
"Makasih Mba!" Balasnya lalu dengan cepat berlari menyusuri jalan.
Setidaknya ada sedikit harapan baginya. Sepanjang jalan Zain berlari berharap agar dia masih memiliki kesempatan.
"Non sudah sampai!" Sahut pak Yayat.
"Terima kasih pak. Bapak tidak perlu mengantar saya!" Ucapnya berdiri tepat di depan pagar besi yang ber chat coklat.
"Apa non Naira tidak apa-apa saya tinggal?" Sedikit khawatir.
"Pak Yayat tenang aja. Naira hafal kok jalannya!" Mengulas senyum.
Pak Yayat akhirnya pergi meninggalkan Naira. Sementara yang di tinggal kan mulai berbalik. Baru saja ingin melangkah tiba-tiba...
"Naira!" panggil Zain mengejutkannya.
"Ah!" terkejut lalu berbalik.
Seketika aroma parfum khas mendominasi, sosok kelembutan yang selalu Naira cari hampir setiap saat.
Tapi Naira merasa sedikit kecewa dengan Zain saat itu. Dia menundukkan kepala terlihat enggan mencari keberadaan Zain yang berdiri di depannya.
Zain cukup peka dan merasa bersalah atas kelakuannya.
**Hening**
"Kamu marah?" Tanya Zain memecah keheningan di antara mereka selama beberapa saat.
Naira tidak menjawab malah terlihat meremas tangannya sendiri. Ada rasa kesal dan sedih menyelimuti.
Melihat respon Naira membuat hatinya tercubit. Bagaimana bisa dia membiarkan gadis seperti Naira menunggunya seharian.
"Bodoh dan keterlaluan!" Kata yang tepat untuk dirinya saat itu.
Zain menatap sendu gadis polos di depannya.
Zain memberanikan diri menggenggam tangan Naira yang terasa dingin kala itu "Aku minta maaf telah membuatmu menunggu terlalu lama! Aku tahu aku salah dan mungkin membuatmu kecewa!" Ucapnya bergetar.
Naira masih belum ada respon membuatnya semakin khawatir.
"Kamu boleh marah! Atau kamu bisa memakiku sekalipun aku tidak peduli! Tap..."
"Aku nggak papa!" Sahut Naira memotong penjelasan Zain.
Zain cukup terkejut mendengar jawabannya. Ada secercah harapan baginya.
"Kamu mau memaafkan ku?" Menatap lekat masih menggenggam tangan Naira bahkan lebih erat.
Naira merasakan tangan kekar namun terasa lembut saat berada dalam genggaman Zain.
Dalam keadaan menunduk perlahan mengangguk membuat Zain bernapas legah dan mengulas senyum yang memperlihatkan kedua lesung pipinya bahkan membuat kedua matanya yang sipit hampir tertutup.
Andai saja Naira bisa lihat senyuman yang sangat manis itu, pasti bisa membuatnya meleleh saat itu juga.
Zain mengubah genggamannya dengan menautkan kelingkingnya dengan kelingking Naira membuat Naira mengingat saat pertama mereka berkenalan. "Apa aku masih punya kesempatan? Aku berjanji besok akan ku penuhi janjiku! Tidak peduli apapun yang terjadi kupastikan aku ada untukmu!
Walau sedikit kesal tapi setidaknya Zain datang, itu jauh lebih baik daripada tidak sama sekali. Perlahan hati Naira tergerak kembali mengangguk.
Keduanya kembali merasakan sinyal-sinyal cinta tanpa mereka sadari sebuah mobil sport sedang memantau mereka.
__ADS_1
Bersambung....