
Di sisi pintu kamar, ibu Naira tersenyum haru melihat pertemanan mereka. Tidak dipungkiri kesetiaan Sasa kepada Naira sangat luar biasa dimatanya. Bahkan dia sendiri sudah menyayangi Sasa seperti anaknya sendiri.
"E'hemm.." berdehem.
Kedua sahabat itu saling melepaskan pelukan mendengar suara deheman dari ibu Naira.
"Udah pelukannya! sekarang waktunya makan malam."
"Makan malam?" kompak.
"Memang sekarang jam berapa Bu?" tanya Naira.
"Udah jam 7 malam."
"Jam 7?" kompak keduanya terlihat kaget.
Sasa menoleh melihat jam dinding di kamar Naira dan terlonjak.
"Oh iya bener Ra, udah jam 7."
"Nggak terasa yah Sa."
"Hehehh" kompak terkekeh, membuat Ibu Naira menggelengkan kepala tersenyum kecil.
"Kalian aja keasyikan ngobrol sampe lupa waktu, udah 4 jam loh kalian ngobrolnya."
Seperti itulah kedua sahabat itu, setiap kali bertemu pembahasannya tidak pernah ada habisnya sampai lupa waktu.
**APARTEMEN**
Malam itu Zain bersama Joy dan Angga sedang menikmati malam yang penuh bintang. Mereka duduk di teras outdoor ditemani beberapa minuman dan cemilan.
Ketiganya sering menghabiskan waktu kumpul bersama bahkan terkadang keduanya bermalam di apartemen Zain.
"Rencana kamu apa selanjutnya?" tanya Angga.
"Rencana?" Zain sedikit bingung.
"Iya, maksudku hubungan kamu dan Naira?" meneguk minuman kaleng miliknya.
"Mhhh." berpikir.
"Menurutmu aku kasih tau langsung nggak sih?"
"Kamu yakin?"
"Yah, sebenarnya yakin nggak yakin sih. Soalnya aku juga baru pertama ketemu."
Disaat mereka ngobrol serius berbeda dengan Joy, yang sibuk melempar kacang ke dalam mulutnya. Dia bahkan tidak memperhatikan pembahasan kedua temannya.
"Yah makanya itu. Naira itu berbeda dengan gadis lain. Biasanya mereka lebih peka dan selalu berhati-hati."
__ADS_1
Zain meneguk minuman kaleng miliknya. "Hhhhh" menghela napas.
"Tapi bukan berarti aku nggak yakin sama perasaanku. Cuma aku nggak tau aja harus memulai dari mana." menyilangkan kedua tangannya.
"Kalo menurut aku sih kamu jangan terlalu agresif tapi jangan terlalu lamban juga!" menepuk bahu Zain.
Mendengar penjelasan Angga membuat Zain mengangguk mulai memahami maksud perkataannya.
"Ya itu menurut aku sih. Kalo kamu gimana Joy?" tanya Angga meminta pendapat, tapi yang ditanya tidak ada respon.
**Hening**
Karena tidak ada jawaban Zain dan Angga kompak melirik Joy.
"Jooyy...?" Kompak.
"BUURRRRPP" sendawa.
Bukannya mendapat jawaban, yang ada suara sendawa Joy yang nyaring menyambutnya. Dia sudah menghabiskan 3 kaleng minuman di atas meja dan beberapa bungkus cemilan yang ludes dia makan sendiri.
"Jooyyy....!" kembali kompak sambil menutup hidung.
"Heee, sorry!" nyengir kuda.
Angga menggelengkan kepala melihat tingkah Joy sedangkan Zain hanya menunggingkan senyum kecil tapi cukup membuat lesung pipinya terbentuk dan terlihat manis.
Oh yah, diantara cowok cool ini Joy lah paling muda dan paling kekanak - kanakan. Tapi dia setia kawan dan periang meskipun kadang ngebung dan asyik dengan dunianya sendiri.
**RUMAH NAIRA**
Malam itu Naira, bersama Sasa ditemani ayah dan ibunya sedang menikmati makan malam bersama. Ini bukan kali pertama Sasa ikut makan bersama mereka, bahkan hidangan malam itu dibuat khusus kesukaan Sasa.
"Mhh,, masakan tante memang paling the best." Sasa sangat suka ayam goreng rica-rica buatan Ibu Naira.
"Makan yang banyak Sa!" sahut Naira tersenyum bahagia
"Tenang aja Ra, kalo ada aku semua ludes." terus memasukan ayam dalam mulutnya.
"Nyam! Nyam! tidak berhenti mengunyah. "Enak banget Ra!" sambungnya.
"Heheheh!" Naira bersama ibu dan ayahnya terkekeh melihat Sasa.
"Sasa malam ini nginap yah! nanti kalo udah nikah ngga bisa lagi kan bebas nginap." Sahut ayah Naira.
"Memangnya kalo udah nikah, aku nggak bisa lagi yah om nginap?" tanyanya dengan sedikit bingung
"Bukan ngga bisa, tapi nanti Sasa nggak sebabas sekarang mau nginap kapan aja!" sambung ibu Naira.
Naira hanya duduk menyimak perbincangan mereka.
"Tapi selama ini Kak Rio ngga masalah Sasa mau nginap dimana, jalan kemana. Yah meskipun ditelponin terus ditanyain kabar terus kek emak-emak."
__ADS_1
"Heheheh" ayah dan ibu Naira terkekeh mendengar celoteh Sasa.
"Nggak boleh ngomong gitu! " sahut Naira
"Iya Nairaku sayang."
"Hehehh." Naira terkekeh.
"Itu tandanya dia sayang dan cinta sama Sasa, dia takut kamu kenapa - kenapa." sambung ayah Naira.
"Gini loh Sa, anak gadis yang sudah nikah itu baktinya sama suami, kewajibannya melayani suami, jadi nanti Sasa tidak bisa lagi memutuskan sesuatu sendiri." ibu Naira menjelaskan dengan lembut.
"Jadi nanti Sasa juga tidak bisa sembarangan lagi jalan sendiri, termasuk kalau mau nginap sama Naira harus ijin dulu sama suami." ayah Naira juga menjelaskan kepada Sasa.
"Pokoknya nanti kamu ngga boleh lagi dikit-dikit ngambek, kabur nginep di rumah!" sambung Naira menggoda Sasa.
"Ra..." Sasa terlihat malu-malu mencubit kecil lengan Naira.
"Hahahah" kompak tertawa.
Seperti itulah keceriaan yang mereka lewati malam itu dan Sasa berakhir bermalam di rumah Naira.
**APARTEMEN**
Tidak terasa waktu berlalu sudah jam 10 malam. Di ruang tamu apartemen milik Zain terlihat ketiga sekawan itu tertidur pules di sofa.
Zain tertidur dengan posisi terlentang di sofa panjang dan ada Joy yang juga terlelap dengan memeluk erat kaki kana Zain. Sementara Angga tertidur dengan setengah badannya di lantai sedangkan kedua kakinya bertumpu di sofa.
Apa ngga pegel tuh badannya Ga. Heheh..
Mungkin karena mereka terlalu lelah dan tidak bisa lagi menahan rasa kantuk jadinya gaya tidurnya terlihat asal-asalan. Tapi momen manis seperti itulah yang akan selalu terkenang dalam pertemanan mereka.
**ESOK HARI**
Keesokannya semua kembali menjalani rutinitasnya seperti biasa. Sasa terlebih dahulu berangkat ke kantor untuk menjalankan tugasnya sebagai pegawai bank.
Sementara Naira seperti biasa ikut dengan ayahnya ke restoran milik keluarga mereka.
**NUSANTARA RESTORAN**
Pagi itu udara segar menghembus memberikan kesejukan. Naira berjalan menyusuri jalan menuju restoran bersama ayahnya.
Kebetulan jarak rumah mereka dari restoran hanya beberapa meter, jadi bisa dijangkau hanya dengan berjalan kaki sekalian olahraga pagilah.
Naira melangkahkan kakinya dengan perasaan yang bahagia, meski matanya tidak dapat melihat keadaan tempat yang dia lalui tapi dengan melalui perasaan dan hatinya dia bisa mendengar beberapa suara di setiap tempat yang dia lalui dan bisa merasakan suasana pagi itu.
Kring.. Kring..
Suara krincing yang tidak asing terdengar jelas di telinganya. Suara itu terdengar sangat dekat dengannya saat itu. Naira menghentikan langkahnya dan menoleh mengikuti suara krincing yang melewatinya itu.
Disaat Naira mencoba memfokuskan pendengarannya, ada Zain yang tersenyum manis memperlihatkan lesung pipinya saat melihat Naira sembari terus medayu pedal sepedanya melewati gadis manis itu.
__ADS_1
Pemandangan yang tiada duanya bagi Zain. Pagi itu seisi pinggiran jalan seakan ditumbuhi bunga-bunga yang semerbak mewangi.
Bersambung...