
**APARTEMEN RIO - SASA**
Satu hari telah berlalu. Joy bermaksud menemui kakak sepupunya di apartemen untuk menyerahkan album foto pernikahan serta film dokumenter pra pernikahan sampai menjelang resepsi.
"Ting tong!"
"Ting tong! Ting tong!"
Bel apartemen berbunyi beberapa kali sebelum akhirnya pintu di buka.
"Ceklek"
Mendengar pintu terbuka, Joy perlahan menjulurkan kepalanya seperti orang yang sedang mengintip.
"Sore kakak ipar!" Menyapa Rio dengan senyuman lebar.
"Sore. Masuk gih!" Ajak Rio yang terlihat gagah dalam balutan baju kaos oblong hitam sepasang training abu-abu.
Badannya yang tinggi dan tegap terlihat keren meskipun hanya mengenakan pakaian sederhana.
Rio berjalan santai menuju ruang tengah diikuti oleh Joy. Di sana terlihat Sasa duduk santai di sofa sambil streaming Youtube.
"Duduk Joy!" Sahut Rio mempersilahkan dan Joy langsung duduk di samping Sasa begitu juga dengan Rio.
Sasa meletakkan handphonenya di atas meja. "Adik ganteng gue akhirnya datang!" Sahut Sasa menggoda sepupunya membuat yang digoda mengerutkan bibir sambil memutar bola mata.
"Nih album fotonya nyonya..!!" Joy menyodorkan album foto yang cukup tebal kepada Sasa.
"Makasih!" Sasa mengambil album itu dengan raut bahagia.
"Dan ini DVD yang kakak minta!" Kembali menyodorkan kepada Sasa.
"Waahh,, akhirnya dokumenternya jadi juga! Sekali lagi thanks ya!" Sasa mencubit kedua pipi Joy membuat yang dicubit meringis.
"Awwh!!" Joy menggosok pipinya yang memerah dan sedikit terasa perih.
"Heheheh!" Sasa dan Rio terkekeh.
Sasa sengaja minta dibuatkan dokumenter dalam bentuk DVD agar dia bisa melihatnya dimasa tua nanti bersama dengan anak dan cucunya.
"Makasih ya Joy. Sampaikan juga terima kasih kami kepada Angga dan Zain yah kalau tidak salah?!"
"Iya kak bener namanya Angga dan Zain!" Tersenyum menatap Rio.
"Oh yah malam ini makan malam disini aja yah!" Ajak Rio.
Joy melirik jam tangannya yang menunjukkan 16 : 30 sore hari!
"Iya udah lamakan nggak ngerasain masakan kakak cantikmu ini!" Sahut Sasa mengibaskan rambutnya memuji diri sendiri.
Joy dan Rio saling melirik sebelum tertawa "heheheh!"
***
Tepat jam 19 : 00...
Sasa mulai menata meja makan dengan beberapa hidangan masakannya sendiri. Sejak SMA Sasa mulai belajar masak sedikit-sedikit. Itu sebabnya dia mengetahui beberapa resep makanan untuk rumah tangga dan cita rasanya lumayan.
"Wah istriku masak enak nih!" Sahut Rio memeluk pinggang Sasa dari belakang sambil menghirup aroma makanan yang menggugah selera.
__ADS_1
"Hee iya dong!" Balas Sasa mengulas senyum sedikit melirik wajah suaminya dan...
"Cup!"
Satu kecupan manis mendarat di pipi kanan Sasa.
***
"E'Hem!" Joy berdehem melihat pasangan suami istri itu. "Gue diajak makan malam atau diajak jadi obat nyamuk sih? Tanya Joy sedikit ketus membuat mereka melirik muka julid khas Joy.
"Sorry hee!" Sahut Rio melepaskan pelukannya lalu menarik satu kursi dan duduk.
"Sirik aja lu! Buee! " Celetuk Sasa.
"Hhhhhh!" Joy menghela napas memutar bola matanya sambil menarik kursi dan duduk bersama Rio.
Ketiganya menikmati makan malam dengan tenang.
"Masakan kak Sasa lumayan. Tapi gue heran deh kok bisa sih modelan kakak bisa masak??" Celetuk Joy menggoda kakak sepupunya.
"Iya dong! Itu berkat ajaran Naira!" Ucapnya bangga.
"Pantesan aja yang ajarin orangnya cantik!" Balas Joy tiba-tiba membuat Sasa dan Rio saling melirik. Sementara Joy sendiri tidak memperhatikan mereka tetap melanjutkan makannya.
"Mm,, kok lu tau Naira sih? Perasaan waktu lu pindah sekolah di Singapore, lu belum pernah ketemu Naira deh?" Tanya Sasa menunggingkan senyum kecil.
Joy menghentikan makannya menatap Naira dan Rio bergantian. "Yah.. itu karena gue liat dia waktu kakak nikah. Dan.. yah dia memang cantik meskipun sederhana!" Balasnya dengan wajah polos lalu kembali menikmati makanannya.
"Oooo... Gi..tuu! Tapi kok kesannya kamu seperti merhatiin dia dengan baik?" Balas Sasa sedikit menggoda sambil menahan tawa.
"Ihh apa sih kak?" Balas Joy yang menyadari maksud Sasa menggodanya membuat Sasa tersenyum lebar.
**RUMAH ANGGA**
Malam itu, Angga berdiri di balkon kamar menikmati hembusan angin malam yang terasa dingin.
Wajahnya sedikit lesu seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat.
"Ga?" Suara laki-laki yang berusia sekitar 40 tahun tiba-tiba memanggilnya.
Angga sontak menoleh "Papa?" Balasnya menatap papanya yang sedang berdiri di sampingnya.
"Seminggu lagi ada undangan dari dokter Rehan untuk perayaan hari jadi RS PERMATA KASIH yang ke 30. Papa harap kali ini kamu datang!" Tegas papanya lalu berbalik meninggalkan Angga.
Angga menatap sendu punggung papanya. Bahkan dirinya belum sempat menjawab dia sudah berbalik meninggalkannya.
Selama beberapa tahun hubungan mereka kurang baik lantaran sang papa memilih menikahi perempuan lain setelah beberapa bulan ibunya diceraikan.
Papa Angga sendiri merupakan salah satu dokter spesialis mata di RS PERMATA KASIH. Sementara ibunya sendiri seorang wartawan berbakat.
Sejak putus pengadilan, Angga tinggal bersama papanya bersama ibu sambung dan 1 saudara bawaan dari ibu sambungnya, sedangkan ibunya kembali ke rumah neneknya. Sesekali Angga datang menemui ibunya jika dia sedang rindu.
"Hhhhhh!" Menghela napas lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
Angga selalu menolak jika diajak bepergian bersama keluarga baru papanya. Tapi.. kali ini sepertinya dia memang harus ikut serta dalam perayaan itu.
**APARTEMEN RIO - SASA**
Usai makan bersama, Joy berjalan melihat beberapa foto yang tergantung di dinding ruang tengah. Beberapa foto masa pacaran Sasa dan Rio, juga foto masa kecilnya bersama kakak sepupunya yang ternyata masih disimpan dengan baik oleh Sasa membuat Joy menunggingkan senyum.
__ADS_1
Lalu Joy kembali melihat foto yang lain. Sebuah bingkai berukuran sedang menarik perhatiannya. Joy mengambil bingkai yang terletak di atas lemari kaca berukuran sepinggan lalu menatapnya.
"Gimana cantik kan?" Tanya Sasa tiba-tiba berjalan menghampiri.
Joy sedikit terkejut menoleh menatap Sasa lalu meletakkan bingkai yang berisi foto Sasa dan Naira. Mereka terlihat mengenakan seragam putih abu-abu sambil memegang ice cream coklat favorit Naira.
Joy tidak menjawab apapun melainkan hanya mengangguk tersenyum kecil.
"Udah malam. Aku pulang dulu yah! Mas Rio aku pamit yah!" Ucapnya.
"Nggak nginap aja?" Tanya Rio yang sedang duduk di sofa!"
"Ogah jadi obat nyamuk!" Berbalik meninggalkan ruang tengah.
"Hehehe!" Sasa Rio kompak.
***
Jam 22 : 00 malam hari..
Sasa yang melakukan ritual perawatan wajah dan kulitnya sambil terus mengembangkan senyum.
Dia terlihat memakai body lotion dengan raut bahagia bahkan menyemprotkan parfum badannya sambil terus tersenyum lebar.
"Baby. Kenapa sih kok sepertinya bahagia banget?" Tanya Rio yang sedang duduk di atas kasur sambil melihat album foto.
Sasa menghampiri suaminya duduk di atas kasur. "Baby... seperti Joy dan Naira punya hubungan spesial deh?"
Rio sedikit mengerutkan dahi "Tahu dari mana?" Menatap Sasa yang tersenyum menatapnya.
"Soalnya Naira bilang dia sudah punya pacar dan katanya aku juga kenal orangnya!"
"Terus?"
"Tadi kamu lihat sendiri kan gimana cara Joy memuji Naira bahkan dia menatap lekat foto Naira yang di ruang tengah." Balasnya yakin memegang kedua pipinya sambil menatap langit-langit kamar.
Sasa merasa bahagia, di satu sisi sahabatnya di sisi lain adik sepupunya. Membayangkan orang yang dia sayangi bisa bersatu membuat hatinya bahagia.
***
"Baby kayaknya kamu salah paham deh!" Sahut Rio membuat Sasa terkejut menatap bingung suaminya.
"Salah paham?" Tanyanya dengan nada bingung.
Rio memperlihatkan foto pernikahan mereka di album. Foto itu sangat jelas terlihat Zain menatap Naira bahkan ada foto dimana Zain merangkul Naira membuatnya melongo selama beberapa saat.
***
Sasa mengambil album itu lalu memperhatikan foto itu dengan baik. Sangat tidak terduga, biasanya dia selalu peka terhadap orang-orang yang mendekati sahabatnya.
Tapi kali ini berbeda, bahkan dia tidak tau sama sekali kalau saat foto bersama Zain berani merangkul Naira. Bisa-bisanya dia kecolongan oleh seorang Zain.
"Baby?? Kamu nggak papakan?" Tanya Rio.
"Ini teman Joy kan yang bantu kita pas pernikahan?" Tanyanya dan Rio mengangguk.
"Dasar Naira! Punya pacar ganteng nggak ngomong-ngomong dari awal!" Grutunya mengerucutkan bibir membuat Rio terkekeh.
Bersambung...
__ADS_1