
"Besok aku boleh kesini?" tanya Zain dan lagi-lagi yang ditanya hanya mengangguk malu-malu.
**KANTOR**
Setelah beberapa saat Zain kembali ke kantor dengan perasaan yang berbunga-bunga.
Saat itu suasana dalam ruang kerja, ada Zain yang sibuk melanjutkan kerjaannya dan tak hentinya memancarkan aura kebahagiaan.
Senyuman manis diwajahnya terpancar menghiasi seisi ruangan, dia tidak mengeluarkan sepatah kata tapi matanya berbinar dan bibirnya terus melebar menatap layar komputer.
Bagi Zain saat itu ruangan kerjanya berubah jadi taman bunga mengeluarkan aroma semerbak membuatnya seakan melayang.
Disisi lain, ada Joy dan Angga duduk melongo memperhatikan perubahan tingkah Zain yang berbeda dari biasanya.
Joy dan Angga saling melirik, wajah mereka menyimpan tanya dan terlihat bingung.
"Ga, sekarang lu ngertikan maksud gue apa tadi di kantin?" tanya Joy yang terus memperhatikan Zain dan yang ditanya hanya mengangguk.
"DONE"
Zain telah menyelesaikan pekerjaannya, dia meregangkan tangannya lalu merebahkan punggungnya ke kursi putar bermaksud mengistirahatkan badannya.
Siapa sangka saat merebahkan badannya tiba-tiba Joy dan Angga kompak memutar kursi milik Zain lalu menariknya.
Saat ini posisi Zain diapit oleh kedua temannya itu yang sudah tidak tahan lagi untuk meluapkan rasa ingin tahunya.
**Hening**
Joy dan Angga menatap wajah Zain dengan teliti sementara yang ditatap tidak berani bersuara hanya duduk mematung terpojok.
Joy dan Angga saling melempar pandangan memberi kode untuk segera memulai proses interogasi.
Suasana canggung mendominasi ruangan bahkan suhunya terasa lebih dingin membuat Zain sedikit gugup dan mengerti apa yang akan ditanyakan oleh mereka terutama Joy.
"Mmhh.. mmhh.. ada apa nih B..r..oo? Hee!" Zain bertanya dengan nada ragu-ragu lalu tersenyum masam.
Joy dengan gaya estetik-nya menarik dagu Zain membuat Zain menahan napas.
"Sebenarnya ada apa sih? dari tadi senyum sendiri kek orang kesambet tau ngga?" tanyanya dengan nada penasaran lalu melepaskan dagu Zain.
"Hhhhhh." menghela napas.
Zain tidak langsung menjawab melainkan menggaruk kepala yang tidak gatal dan terlihat sedikit salah tingkah. Melihat responnya membuat Angga mengerutkan dahi dan seakan mengerti pemikiran Zain.
"Udahlah Bro, kamu jujur aja! Kitakan temen nggak usah malu-malu!"
Lagi-lagi Zain tidak menjawab tapi malah tersenyum manis memperlihatkan lesung pipinya yang menawan.
"Maksud kamu apa Ga?" tanya Joy masih bingung.
Angga tersenyum kecil. "Lu gimana sih Joy, masa nggak ngerti. Jelas-jelas dia lagi jatuh cinta."
__ADS_1
"Hussttt!" Zain spontan membekap mulut Angga.
"Jangan kenceng-kenceng ngomongnya nanti didenger yang lain!" sambungnya melirik seisi ruangan.
"Iya sorry. Heheh" balas Angga sedikit terkekeh.
"Wah, hebat lu Ga bisa tau pikiran Zain." Joy mengacungkan jempol ke Angga
"kamu-nya aja yang loading, sampe bengong seharian di kantin." balasnya menjitak kecil kepala Joy membuat yang dijitak sedikit cemberut.
"Eh tapi ko kamu bisa tahu sih?" tersenyum lebar.
"Yah kamu pikir aja, dari tadi senyum - senyum sendiri! Kek orang yang lagi kerasukan. Apa coba namanya kalau bukan jatuh cinta?" Yang dimaksud kembali tersenyum tersipu.
"Nah, nah tuh liat tuh dia senyum lagi kan?" menunjuk Zain yang tidak hentinya tersenyum.
"Bener ya kata orang, cinta itu bisa membuat kita gila." balas Joy
"Hahahahh." ketiganya kompak.
"Eh, itu artinya kamu udah menemukan gadis itu dong?" tanya Joy membuat yang ditanya mengangguk.
"Bentar, maksud kamu sebelumnya dia udah pernah ngasih tau kamu?" tanya Angga dan Joy langsung mengangguk.
"Tau gitu kenapa kamu harus ngebung di kantin." kembali menjitak kecil kepala Joy.
"Heee.. Yah sorry ngga kepikiran aja. Seminggu inikan dia resah gara-gara gadis yang dia taksir hilang bagai ditelan bumi. Siapa sangka tiba-tiba ketemu." celoteh Joy membuat kedua temannya terkekeh.
**MH HOTEL**
"Gimana mba, mas. apa masih ada kekurangan yang ingin ditambahkan?" tanya manager hotel.
"Oh nggak kok, menurut kami semuanya udah sesuai." jawab Sasa.
"Kalo gitu kami permisi yah." sambung Rio.
"Ea silahkan!" Manager hotel mempersilahkan
Sasa dan Rio berjalan bergandengan menuju lobi hotel. Sebenarnya Rio merupakan kaka kelas Sasa waktu sekolah, tapi mereka mulai menjalin hubungan saat di bangku kuliah.
"Baby, hari ini aku mo ke rumah Naira yah!"
"Aku antar yah!"
"Nggak usah, aku naik taxi aja."
"Yakin? " Rio mengelus lembut kepala Sasa.
Sasa mengangguk tersenyum. "ya udah aku jalan yah!"
"Hati-hati, kalau ada apa-apa langsung telpon!" Rio memegang kedua pipi Sasa dengan lembut.
__ADS_1
"Hehehh,, ia tenang aja cuma ke rumahnya Naira ko.!" Sasa terkekeh melihat Rio yang selalu mengawasinya setiap dia kemana-mana sendirian.
Sosok Rio memang sangat perhatian dan hangat, hal itulah membuat Sasa yakin memilih Rio sebagai pendampingnya.
**KANTOR**
Kembali ke tiga sekawan, saat itu Zain menceritakan kepada kedua temannya tentang Naira dengan terbuka.
"Aku jadi penasaran pengen liat Naira seperti apa." ucap Joy setelah mendengar penjelasan Zain.
"Dia bener hebat, Piola aja gadis idaman kamu tolak." sambung Angga.
"Apaan sih loh Ga." Joy menyenggol tangan Angga.
"Hee, Sorry ngga kebayang aja gimana reaksinya Piola kalau dia tau."
Mendengar ucapan Angga membuat Zain dan Joy saling melirik. Angga yang tersadar dengan omongannya itu langsung bungkam.
"Jangan sampai dia tau!" ketiganya kompak berdelik.
Piola sosok gadis yang cantik dan modis, dia berbeda dari gadis pada umumnya. Sifatnya sedikit angkuh dan manja itu karena terlahir dari keluarga kaya membuatnya terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Kalian jangan sampe kasih tahu Piola masalah ini, apalagi kalian tau sendirikan keadaan Naira seperti apa!" Zain memperingatkan temannya.
"Tenang aja Bro, keep silent." keduanya kompak.
"Thanks yah!" Zain tersenyum.
**RUMAH NAIRA**
Sore itu Naira dan Sasa tengah berbaring di atas kasur milik Naira.
Keduanya sibuk berbincang mengenai persiapan pernikahan Sasa ditemani beberapa cemilan.
"Gimana tadi di hotel Sa, semuanya lancar?"
"Alhamdulillah, lancar!"
"Alhamdulillah, aku seneng banget Sa kalian udah mau nikah."
Sasa melirik wajah Naira yang terlihat tenang." Oh, Yah masa sih?" Sasa menggoda Naira
"Mhh,, iya. Biar ka Rio ngga repot aja ngawasin kamu kemana-mana sendirian.
"ihh kok gitu sih? Jadi yang dikhawatirin ka Rio aja nih?" Sasa sedikit cemberut mendengar jawaban Naira.
"Hee,, iya bercanda kok." Naira terkekeh mendengar Sasa yang terkesan kesal
"Pokoknya Sasa yang terbaik." tersenyum.
"Owwh,, Naira ku tersayang." Sasa memegang lembut kedua pipi Naira.
__ADS_1
"Hehehe" berpelukan sambil terkekeh.
Bersambung...