
"Ting!"
Pintu lift terbuka. Zain keluar dari lift dengan langkah ringan. Perasaannya teramat bahagia hari itu usai bertemu dengan Naira.
Pipinya terus mengembangkan senyuman memperlihatkan lesung pipinya sepanjang menyusuri lorong apartemen unit miliknya, yang kebetulan berada di lantai empat.
Tanpa terduga...
***
Senyuman itu tiba-tiba pudar dalam sesaat setelah melihat sosok Piola yang berdiri di depan pintu apartemen.
Piola sengaja datang ke apartemen untuk menemuinya.
"Piola!" Lirihnya menatap gadis seksi yang mengenakan dress mini berwarna merah.
Piola mengulas senyum perlahan melangkah mendekati Zain yang berada di depannya. Sedangkan Zain hanya mematung.
"Kamu dari mana aja? Tadi aku telfon tapi nggak di angkat!" Menatap Zain.
"Aku sibuk!" Balasnya datar.
"Owh gitu?" Kembali tersenyum.
"Kamu sendiri ngapain di sini?" Menatap dengan wajah datar.
"Aku ke sini pengen ngajak kamu makan!"
"Aku lagi malas jalan!" Balasnya serak.
"Ya udah pesan aja! trus makan di dalam!" Kembali mengulas senyum.
"Aku kenyang!" Masih dengan nada yang sama sambil berjalan mendekati pintu apartemen, membuat raut Piola sedikit masam dengan penolakan Zain.
"Aku ajak makan nggak mau! Aku mau makan di dalam kamu juga nggak mau!" Ucapnya ketus.
Zain tidak memperdulikan perkataan Piola membuatnya menatap sinis punggung Zain yang berdiri tepat di depan pintu bersiap membuka pintu apartemen.
"Tit. Tit. Tit. Tit. Tit. Tiiit!"
Pintu apartemen terbuka setelah Zain memasukkan sandi.
Saat Zain ingin melangkahkan kakinya masuk ke dalam tiba-tiba...
"Kenapa?? Kenapa kalau aku yang ajak kamu tidak pernah mau? Apa karena gadis itu? Sahutnya dengan nada lebih keras.
"DUG!!!!!"
Zain terlonjak mendengar perkataan yang terlontar dari Piola. Wajahnya menegang lalu perlahan menelan saliva. Bahkan tangannya yang memegang gagang pintu sedikit bergetar.
***
Zain tidak menjawab apapun menegakkan kepala lalu mulai mendorong gagang pintu apartemen.
"ZAIN! JAWAB AKU!!" Teriaknya kembali membuat Zain terlonjak membulatkan mata.
Sekali lagi itu tidak mengubah apapun. Zain tetap melanjutkan langkahnya masuk ke dalam meninggalkan Piola yang berdiri dengan tatapan tajam.
"ZAIN!! ZAIN!! AKHHH!! Teriaknya kesal menghentakkan kaki.
Dengan perasaan marah Piola berbalik meninggalkan tempat itu. Langkahnya terburu-buru membuat suara heelsnya mengetuk dengan irama yang lebih cepat dan keras.
***
"Hhhhhhh!" Zain melempar badannya di atas sofa panjang yang berwarna abu-abu. Pandangannya menatap langit-langit. Kepalanya terasa mumet mengingat perkataan Piola tadi.
Rasa penasaran dalam hatinya muncul. Ntah dari mana Piola dapat informasi tentang Naira. Sementara yang mengetahui cuma Angga dan Joy.
"Joy memang kadang ember tapi nggak mungkin kalau dia yang memberitahu Piola!" Batinnya.
"Mama?? Mama juga nggak mungkin!"
Zain tiba-tiba khawatir dengan Naira. Piola gadis yang nekat sedangkan Nira, dengan kondisinya yang sekarang tidak memungkinkan untuk melindungi dirinya sendiri.
Sejak malam itu, Zain bertekad melindungi Naira dari gangguan Piola.
**RUMAH NAIRA**
Malam itu, Naira teramat bahagia kala mengingat kejadian tadi sore.
__ADS_1
Naira mengigit kecil ujung ibu jarinya tersipu merasakan aliran cinta yang menggetarkan hatinya.
"Aku laki-laki dewasa yang jatuh cinta di saat pertama kali melihatmu!!"
Wajahnya yang chubby tidak hentinya mengembangkan senyuman mengingat perkataan Zain belum lagi saat dia merasakan kelembutan saat memegang setiap inci wajahnya.
Rasanya seperti sedang bermimpi terbang jauh di atas awan. Naira berada dalam fase ter love - love, selama beberapa saat melamun tersenyum sendiri seperti orang kerasukan.
Yah emang kerasukan sih. Kerasukan cinta Zain.. Hee!
"Derr... Derr..."
Suara dering handphone membuyarkan lamunannya. "Ah" terkejut, kembali menata pikirannya.
Sejak kehilangan penglihatan Naira hampir tidak pernah menggunakan handphonenya menelpon. Biasanya dia hanya menjawab panggilan dan tidak pernah menelpon seseorang.
Naira meraba handphonenya yang di atas kasur tempatnya duduk melamun.
"Halo, Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam NAIRAAAA!" seperti biasa teriakan yang cempreng dari Sasa menyambutnya setiap menjawab panggilan.
Naira sedikit menjauhkan handphonenya dari telinga. "Sasa! Apa kabar?" Panggilnya kembali mendekatkan handphonenya.
"Kabar baik, yuhuuu!" Balasannya heboh membuat Naira sedikit mengernyit.
"Kok kedengarannya bahagia banget. Ada kabar apa nih? Mengulas senyum.
"Coba tebak! Aku dimana?!"
"Yah.. London kan?"
"No! No! No!" Balasnya genit membuat Naira sedikit bingung.
"Hehehh terus dimana dong?"
**INTERNATIONAL AIRPORT**
"Aku udah di Indonesia sekarang!!" Balasnya sambil berjalan berlenggak menuju pintu keluar bandara bergandengan tangan dengan Rio.
"What?? Yang bener?" Balas Naira dalam telepon.
"Iya. Kapan sih aku bohong!"
"Sama! Ya sudah aku tutup dulu yah!" Menutup telepon lalu melirik suaminya mengulas senyum begitu juga dengan Rio.
Malam itu kepulangan mereka dari honeymoon dipercepat, karena Rio ada kerjaan yang tidak bisa ditunda.
**BAR**
Tepat jam 21 : 00 malam...
Di sebuah bar, suara dentuman musik di iringi kerlap kerlip lampu berdisko.
Dua gadis seksi bertubuh molek dengan busana seksi memperlihatkan lekukan tubuhnya yang ramping. Sedang duduk menikmati minuman yang ada di tangannya masing-masing.
Siapa lagi kalau bukan Piola dan temannya.
"Udahlah lu nggak usah galau! Cowok di dunia ini bukan cuma Zain aja!" Melirik Piola yang sedang mencicipi minumannya.
"Bagi gue cuma dia yang menarik!" Menunggingkan senyum.
"Mhh OK! Tapi sekarang lu lupain aja dulu, mending kita happy-happy aja!" Ajaknya.
"Nggak ah!" Tolaknya dengan nada malas mengangkat gelasnya lalu kembali meneguk minuman jenis whiskey.
Piola sudah menghabiskan 5 gelas minumannya membuat temannya sedikit khawatir dengan keadaan wajahnya yang memerah.
"Udah!" Merampas gelas milik Piola tapi Piola menolak.
"Biarkan aku minum sedikit lagi!" Sahutnya serak menepis tangan temannya. akhirnya Piola meminum beberapa gelas lagi sampai puas.
***
"PIOLA! AYO! Huuuu!!" Ajak temannya menarik tangan Piola ketengah pengunjung yang asyik berjoget.
"KEMON PIOLA!" Aja temannya yang lain.
Meski bukan kali pertama masuk ditempat seperti itu. Tapi biasa Piola hanya sekedar minum lalu pergi, tidak pernah berbaur berjoget bersama dengan temannya.
__ADS_1
Piola yang awalnya enggan mulai terpancing, perlahan mulai menggerakkan tubuhnya menikmati musik.
Beberapa saat kemudian dibawa pengaruh alkohol, kesadaran Piola mulai memudar dan perlahan tidak terkontrol.
Dia terus menggoyang kan badannya, mengangkat kedua tangannya mengikuti irama musik DJ bersama teman-temannya meluapkan beban pikirannya.
keadaan saat itu, Piola terlihat liar dengan busana dan gayanya saat berjoget di tengah pengunjung yang sama-sama di bawah pengaruh alkohol.
***
Waktu telah menunjukkan pukul 23 : 30 tengah malam...
Baik Naira maupun Zain. Keduanya telah berada di pembaringan kamar masing-masing..
Dengan posisi yang sama - sama terlentang dalam balutan selimut mereka bersiap untuk tidur. Tak lupa saling mengirim ucapan selamat malam melalui telepati.
"Selamat malam Naira / Zain!" Keduanya kompak lalu perlahan memejamkan mata terlelap menuju mimpi yang indah!
**BAR**
Sementara, Piola yang sudah cukup puas bersenang-senang dengan temannya berjalan menuju parkiran seorang diri.
Langkahnya berat sempoyongan. Matanya terasa berat mulai meneliti keberadaan mobil sport miliknya.
Piola melirik sekitar, ada beberapa kendaraan yang terparkir dan sulit baginya melihat jelas mobil miliknya sendiri, karena pengaruh alkohol membuat pandangannya kabur.
Piola merogoh tasnya mengeluarkan kunci mobil, lalu menekan tombol on.
"Tit. tit!"
Piola melirik sumber suara dan melihat lampu yang berkedip.
"Ternyata di situ!" Menunjuk mobilnya, tersenyum dengan raut mabuk berat, matanya hampir tertutup.
Piola melanjutkan langkahnya yang sempoyongan dan...
"Akh!" Sedikit terkejut saat seorang laki-laki spontan menahan tubuhnya yang hampir saja terjatuh.
Dibawah pengaruh alkohol Piola berada dalam dekapan laki-laki itu. Pandangannya yang kabur hampir tidak dapat membuka matanya.
Piola mencoba menatap wajah laki-laki itu.
***
"Zain? Heh!" Ucapnya mengulas senyum lalu perlahan memejamkan matanya tidak sadarkan diri lgi lagi.
**ESOK HARI**
"Hooaammm!"
Di dalam kamar yang bernuansa biru mudah itu, Piola baru saja membuka matanya kembali menguap. Rasa kantuknya masih ada dan kepalanya terasa berat.
"Duh!" keluhnya memegang kepalanya yang berat. perlahan melebarkan matanya melihat sekitar.
semalam dia ingat sedang asyik bersama teman-temannya di bar lalu sekarang tiba-tiba terbangun sudah berada dalam kamarnya. Piola melirik badannya, pakaiannya masih sama seperti semalam. Tapi dia tidak ingat sama sekali bagaimana caranya bisa kembali ke rumah.
"Tok. Tok."
Piola melirik ke arah pintu dan terlihat seorang art yang sedang membawa nampan berisi makanan dan pil penghilang rasa mabuk akibat alkohol.
"permisi non ini makannya!" meletakkan nampan di atas meja. Lalu berbalik melangkah keluar.
"Tunggu!" panggilnya serak dan art itu sontak berbalik melihatnya.
"Bibi tahu siapa yang membawaku pulang?" tanyanya penasaran.
"Seorang laki-laki non. Tapi bibi tidak tahu siapa namanya!" balasnya lalu meninggalkan kan Piola yang mematung.
Selema beberapa saat Piola terdiam memikirkan laki-laki mana yang menolongnya. "Apa Zain?" batinnya kembali memegang kepalanya yang masih sedikit berat.
***
"PIOLA!" Panggil dokter Rehan yang tiba-tiba muncul di ambang pintu dengan wajah tegang.
Piola menyadari kemarahan dari wajah papahnya, membuatnya perlahan menelan saliva menatap terkejut.
"Pa.. Papa!" lirihnya.
"PAPA KECEWA SAMA KAMU KALI INI!" Bentaknya. "PAPA TIDAK PERNAH MENGAJARKAN KAMU UNTUK MENJADI GADIS NAKAL SAMPAI PULANG TENGAH MALAM DALAM KEADAAN MABUK!" wajahnya memerah.
__ADS_1
Piola menatap sendu papanya yang marah. selama ini dia tidak pernah kehilangan kendali seperti selama. Semalam dia benar-benar diluar kendali karena cukup frustasi.
Bersambung...