Mata Hatiku

Mata Hatiku
11. Makan Malam


__ADS_3

"Malam Om. Tante!" Sapa gadis berpenampilan glamor dan seksi itu. Yang tidak lain adalah Piola.


"Malam dr. Rehan, Piola!" Balas Papa Zain.


Sementara Zain, masih tetap duduk melongo menatap Piola.


Hanya dalam beberapa jam waktu berputar, malam itu dia harus berhadapan dengan Piola, gadis yang selalu dia hindari.


"Silahkan duduk!" Sahut mama Zain mengulas senyum.


"Heheh terima kasih Bu." Balas Papa Piola.


Piola langsung bergegas mengambil tempat tepat di samping kiri Zain. Membuat mama Zain sedikit tidak enak dengan anaknya.


Posisi saat ini, mereka duduk melingkar di depan meja. Tapi pastinya bukan menggelar konferensi meja bundar yah. Heee..


Mereka makan malam bersama sambil berbincang dan tertawa ringan. Pak Bimo dan dr. Rehan telah berteman baik cukup lama.


Saat para orang tua itu berbincang-bincang. Piola malah mengambil kesempatan dalam kesempitan, dia terlihat sengaja mendekatkan diri dengan Zain.


Sementara Zain yang dari awal memasang wajah datar, tidak ada tanda kebahagiaan yang terpancar saat Piola mendekat dan menatapnya terus menerus.


Zain menyantap makanannya perlahan tanpa melirik Piola. Sementara Piola makan sambil menatap Zain.


"Zain, bagaimana kabar kamu?" Tanya dr. Rehan tiba-tiba.


Zain menghentikan makannya. "Baik om." Balasnya menunggingkan senyum, lalu kembali menyendok makanannya.


Papa Piola mengangguk tersenyum menatap Zain. "Sepertinya kalian sudah semakin dekat. Om harap kalian bisa menjalin hubungan lebih!. Bagiamana menurut pak Bimo? " Sambungnya.


"Owh tentu saja itu hal yang bagus pak!"


"Heheheh" Papa Zain dan Papa Piola kompak, sementara mama Zain memilih diam.


"Mulai sekarang kalian harus lebih saling memperhatikan. Apalagi Piola sangat mengagumi Zain." Papa Piola kembali mempertegas maksudnya.


"Piola gadis yang cantik dan sudah mengenal Zain dari dulu, mungkin dia bisa lebih memahami Zain!" Balas Papa Zain.


Mendengar perkataan itu, membuat Zain terlonjak. Hatinya bergejolak bahkan memanas. Sementara Piola sangat bahagia mendengar perkataan papahnya.


"Papa bisa aja." Jawab Piola tersipu.


"Heheheh!" Kuda orang tua itu kompak. Sementara mama Zain sendiri tidak berkomentar.


Sama seperti dengan keluarga kaya pada umumnya, Zain dan Piola tidak lepas dari rencana perjodohan.


Zain sedikit tertunduk menatap piringnya. Tiba-tiba saja nafsu makannya hilang.


"Ko ngga dimakan Za?" Tanya Piola menatap Zain.


"Udah kenyang." Bohongnya.


"Owh!" Piola kembali melanjutkan makannya sambil tersenyum sendiri. Hatinya bersorak, tidak sia-sia dia datang menemui papahnya untuk mengatur makan malam mereka.


Zain meraih segelas air putih di atas meja, lalu dengan cepat meminumnya. Dia meneguk habis air putih di tangannya sebagai bentuk peredam hatinya yang memanas.


Piola melihat hal itu menunggingkan senyum licik. Saat ini dia selangkah lebih maju. Selama bertahun-tahun dia mengejar Zain tapi selalu ditolak, membuatnya terpaksa meminta dukungan langsung dengan papahnya.


Mama Zain semakin khawatir melihat raut wajah anaknya yang datar dan tidak pernah mengeluarkan suara. Mulutnya terlihat seperti tersimpul erat, yang sewaktu-waktu bisa meledak.


Dia sangat tahu isi hati anaknya. Sebagai ibu, dia hanya ingin yang terbaik untuk anaknya. Sebenarnya terlepas dari sifatnya yang manja dan terkadang memaksakan kehendak sendiri, Piola cukup cantik dan terlihat sempurna.


Mama Zain tidak pernah membenci Piola, hanya saja terkadang tidak setuju dengan sikapnya. Terlebih lagi Zain tidak memiliki perasaan lebih untuknya, membuat mamanya tidak berani ikut campur dalam rencana perjodohan mereka.


**RUMAH NAIRA**

__ADS_1


Malam itu Naira berdiri di dekat jendela, sambil merasakan hembusan angin menerpa wajahnya.


Matanya tidak dapat melihat keadaan para bintang di langit, dia tidak tahu apakah ada banyak bintang menghiasi malam itu atau bahkan tidak ada sama sekali.


Merasakan hembusan angin malam itu disertai beberapa suara bising dari kendaraan, membuat hatinya meyakini malam itu cukup terang, bahkan mungkin langit dipenuhi jutaan cahaya bintang.


Apalagi saat ini dia telah memiliki bintang paling terang di hatinya. Siapa lagi kalau bukan si pemilik permen rasa jeruk.


**MH HOTEL**


Tidak terasa waktu berlalu, sudah jam 21:00 malam. Kedua keluarga itu telah menyelesaikan makan malamnya.


Mereka berjalan ke koridor bersama. Seperti biasa, Piola dengan manjanya menggandeng tangan Zain berjalan mengikuti orang tua mereka yang telah berjalan lebih dulu.


Saat melewati koridor, semua pasang mata yang melihat mereka berpikir saat itu Zain dan Piola seperti pasangan yang sudah resmi berpacaran.


Itu semua karena Piola yang sudah seperti tokek menempel pada Zain.


Zain yang tampan dan Piola yang cantik bertubuh seksi. Tentu saja semua orang berpikir tidak mungkin ada pria yang menolaknya.


"Itu Pak Zain kan?" Bisik salah satu petugas hotel (1).


"Iya bener, sudah lama tidak terlihat dia masih saja terlihat tampan." Jawab petugas lain (2).


"Kalau menurut aku yah, dia terlihat seperti idol KPOP." Balas petugas (1).


"Kalo ngga salah yang leadernya BTS itukan?" Balasnya memeluk kedua tangannya merasa kagum (3).


"Bener banget!" Kompak petugas (1, 2).


"Tapi wanita itu pacarnya? Lumayan cantik." Sambung petugas (1).


"Iya yah, mereka terlihat cocok." Balas petugas (3).


Kurang lebih seperti itu percakapan para petugas hotel yang saling berbisik.


Saat berada di depan pintu masuk hotel, mobil milik kedua keluarga itu sudah terparkir dan masing-masing memiliki supir pribadi yang bersiap mengantar mereka pulang.


"Pak, Bu kami duluan yah!" Sahut papa Piola mengulurkan tangannya.


"Hati-hati pak!" Balas Papa Zain menjabat tangan dr. Rehan dan di susul mama Zain.


"Za, aku pulang duluan yah!" Tersenyum, sedangkan Zain hanya mengangguk tanpa senyum.


"Om. Tante, aku pulan dulu yah!" Pamitan dengan ramah membuat Zain memutar bola matanya.


Di dalam perjalanan pulang, Zain tidak mengeluarkan suara. Dia bersandar di kaca mobil menatap lampu setiap sudut kota yang dia lewati.


Malam itu langit dipenuhi bintang, bahkan kerlap - kerlip lampu indah menghiasi setiap sudut kota. Orang-orang terlihat bahagia menikmati malam itu.


Tapi berbeda dengan Zain, dia bahkan tidak dapat merasakan suasana indah itu. Tatapannya lurus dan kosong, belum lagi hatinya bergejolak.


"Hhhhhh" menghela napas.


Zain merogoh saku jasnya, lalu memasukkan satu permen rasa jeruk ke dalam mulutnya.


Perlahan Zain mengunyah permennya merasakan rasa manis yang sedikit asam itu. Dia menatap bungkus permen ditangannya.


Seketika ingatan tentang Naira terlintas dibenaknya. Semakin memikirkan membuat hatinya sedikit menghangat.


Zain menunggingkan senyum memperlihatkan lesung pipinya yang membuatnya terlihat sangat manis. Lalu kembali mengunyah permennya.


Sepertinya selain permen rasa jeruk, Naira juga menjadi obat penawar rasa galaunya Zain.


**RUMAH NAIRA**

__ADS_1


Setelah puas merasakan suasana di malam itu, Naira beranjak ke kasurnya bersiap untuk tidur.


Saat itu dia berbaring sambil memeluk guling dan tak lupa membungkus dirinya dengan selimut. Wajahnya terlihat tenang seperti bayi yang tertidur nyenyak.


Sementara di dekat kepalanya ada kotak bening. Sepintas kotak itu biasa saja, tapi menariknya. Kotak itu berisi secarik kertas bertuliskan nomor handphone Zain, serta 5 butir permen rasa jeruk yang juga diberikan oleh Zain.


Hemm.. Selain wajah dan senyuman Zain yang manis, sepertinya tingkah Naira tidak kalah manis.


**RUMAH ZAIN**


Setelah sampai di rumah, Zain bergegas masuk ke dalam kamar.


Zain melempar jasnya ke pinggir kasur, lalu melonggarkan dasi dan membuka 2 kanci teratas kemejanya. Kemudian langsung menghempaskan badannya di atas kasur.


Pandangannya ke langit -langit kamar, perasaannya mendadak lelah memikirkan kejadian makan malam.


"tok. tok."


Suara ketukan kecil dari balik pintu kamar membuatnya sontak bangun dan duduk.


"Mama boleh masuk?" Tanyanya dari balik pintu.


"Boleh Ma!" Balasnya dengan nada berat.


"Ceklek"


Setelah mendapat ijin dari Zain, mamanya langsung masuk dan menghampiri anaknya dan duduk tepat di sampingnya.


"Kamu kenapa nak?" Tanyanya memandang wajah anaknya yang terlihat tidak semangat.


"Mama nyuruh aku pulang ke rumah karena rencana makan malam inikan Ma?" Melirik mamanya.


"Maafkan mama Za. Mama sama sekali tidak bermaksud seperti itu, mama memang merindukanmu nak." Menggenggam tangan Zain.


Zain sendiri tidak menatap wajah mamanya lagi, wajahnya menegang merasa kecewa.


"Papa kamu dan dr. Rehan yang mengatur ini, dan mama baru tau setelah menelpon kamu nak." Menjelaskan dengan lembut membuat Zain melunak. Dia selalu percaya kalau mamanya selalu memihaknya.


"Yang bener Ma?" Tanyanya menatap binar wajah mamanya.


"Kamu ingat waktu mama telpon kamu? Papa bersama mama saat itu.


1 jam sebelum Zain pulang ke rumah...


"Mama sehat, nak malam ini kamu balik yah! Mama sudah lama tidak melihat anak mama, rasanya rumah sangat sunyi nak."


"Baik Ma, Zain pulang hari ini!" Balasnya sambil menutup telepon.


Mama Zain mengulas senyum sambil menutup telepon, sementara di sampingnya ada suaminya dari tadi mendengarkan percakapan mereka.


"Zain jadi pulangkan malam ini?" Tanyanya dengan antusias.


"Papa tumben semangat begitu Zain mau pulang ke rumah?" Balasnya sedikit mengerutkan dahi.


"Ma. Malam ini dr. Rehan dan Piola mengajak kita makan malam bersama."


"Tapi Pa, Zain tidak suka dengan Piola!"


"Tidak ada tapi-tapi!" Beranjak dari tempat duduknya. "Dan ingat, mama jangan coba-coba memberitahu Zain soal ini atau melarangnya pulang kali ini!! Tegasnya lalu meninggalkan ruang tamu menuju ke halaman belakang, membuat istrinya sedikit kesal.


***


"Mama tinggal yah, kamu tidur gih! Katanya besok pagi ada kerjaan di luar. menepuk bahu anaknya lalu keluar dari kamar.


"Hhhhhh" Zain menghela napas lalu mengusap wajahnya setelah mendengar penjelasan mamanya.

__ADS_1


2 tahun lalu dia selalu dipaksa untuk belajar mengambil alih "MH HOTEL" dan tahun ini bukan hanya Hotel, tapi sepertinya dia juga akan dipaksa menerima Piola.


Bersambung...


__ADS_2