Mata Hatiku

Mata Hatiku
3. SENYUM SUMRINGAH


__ADS_3

**NUSANTARA RESTO**


Pagi itu Naira sedang berdiri di depan restoran miliknya yang jaraknya tidak jauh dari kantor Zain.


Dia terlihat membawa buku di kedua tangannya, tapi secara tidak sengaja menjatuhkan salah satu buku yang dibawanya.


Naira terpaksa berjongkok mencoba meraba bukunya yang terjatuh.


***


"Ah" terkejut.


Naira terkejut saat merasakan sentuhan di tangannya. Saat itu dia tidak sengaja menyentuh tangan seseorang yang telah membantunya mengambil buku yang dia jatuhkan.


"Sini aku bantu!" sekali lagi Naira terkejut mendengarkan suara serak laki-laki di dekatnya.


Laki-laki itu tidak lain adalah Zain. Dengan cepat Naira kembali berdiri, dia merasa sedikit terkejut dan gugup. Berbeda dengan Zain yang dari tadi tidak henti-hentinya tersenyum melihat wajah Naira sampai lesung pipinya membulat.


***Hening***


Tanpa sadar Zain terus tersenyum dan terhanyut dalam lautan wajah indah Naira. Hatinya berubah seperti dipenuhi bunga yang bermekaran di pagi hari.


Sepertinya harapannya telah tersampaikan melalui kepakan merpati-merpati indah itu.


Naira perlahan menegakkan kepalanya mencoba meneliti sosok yang ada di depannya. Tapi yang dilihat hanya seperti setitik cahaya putih yang buram seperti berembun.


Selain cahaya yang buram bak lensa yang berembun itu, Naira mendapatkan satu hal menarik yang seketika membuatnya merasakan kehangatan.


Aroma parfum milik Zain yang kuat, namun tersimpan aroma soft saat semakin lama terhirup membuat Naira bisa merasakan sosok yang di depannya seperti seseorang yang tidak biasa dan terkesan memberi kehangatan.


Untuk sesaat Naira hampir saja terhanyut dalam aroma khas milik Zain, tapi saat ini dia masih memiliki kewarasan sehingga dengan cepat dia menata pikirannya.


Berbeda dengan Zain yang tidak berhenti tersenyum sumringah.


"Terima kasih."


Suara lirih Naira akhirnya membuat Zain tersadar. Dengan cepat meletakkan buku yang dia pegang di atas tumpukan buku yang dibawa Naira.


"Sama-sama." balasnya.


Tak lama kemudian salah satu pelayan laki-laki mengajak Naira masuk ke dalam restoran, pandangan Zain mengiringi langkah Naira.


Setelah beberapa saat Zain baru tersadar ternyata mereka belum sempat kenalan. Zain sedikit menggelengkan kepala menunggingkan senyum kecil memikirkan kecerobohannya.


Dia kembali mengambil sepedanya yang dia di pinggir jalan saat hendak menolong Naira lalu dengan cepat menyebrang. Kebetulan kantornya berada di sebrang jalan pas di depan restoran milik Naira.


Dengan perasaan bahagia Zain masuk ke dalam ruangannya lalu membuka tirai jendela yang mengarah tepat ke restoran.

__ADS_1


Dia memutar kursinya menghadap ke jendela sambil melanjutkan pekerjaannya. Sejak masuk ruangan wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Bibirnya terus memancarkan senyuman manis membuat Joy kebingungan.


Awalnya Joy tidak ingin menghiraukan tapi kalau didiamkan lebih lama malah membuatnya menyimpan sejuta rasa penasaran.


Joy mendekati Zain dengan segudang rasa penasarannya. Tapi tidak langsung bertanya melainkan meneliti wajahnya untuk lebih memastikan.


Mengingat seminggu terakhir Zain terlihat sering melamun tiba-tiba pagi itu terlihat lebih ceria.


"E'hemm." berdehem. Yang di kode tidak ada respon.


Joy dengan wajah julidnya meneliti sekitar ruangan, bahkan melongo ke jendela tapi tidak menemukan sesuatu yang dapat memancing senyuman dengan kata lain tidak ada yang lucu.


Saat itu Joy hampir sakit mata melihat Zain yang tidak berhenti tersenyum menatap layar komputer bahkan matahari sudah menembus kaca jendela menerpa wajahnya.


Joy sedikit berdelik lalu perlahan menyentuh dahi Zain, satu tangannya diletakkan di dahinya sendri untuk membandingkan suhu mereka. Suhu badan Zain normal tidak panas sama sekali.


Karena tingkah Joy membuat Zain risih dan spontan melepas tangan Joy dari dahinya.


"Kenap sih?" tanyanya dengan nada terkejut.


"Justru kamu yang kenapa? Dari tadi senyum-senyum bikin merinding tau nggak?"


Bukannya dapat jawaban Zain malah mendorong kursi putar milik Joy menjauh membuatnya kembali berada di depan meja kerjanya.


"Eh, Eh, jawab du..luu!"


**RUMAH ZAIN**


Hari itu di kediaman milik keluarga Zain, seorang gadis cantik berbodi ramping dan modis.


Gadis itu bernama Piola (25) teman masa kecil Zain, merupakan anak dari keluarga kaya. Piola gadis yang berpenampilan glamor, dan manja.


"Tante apa kabar?"


"Baik. Gimana liburannya, seru?"


"Seru banget tante, oh yah aku juga bawain oleh-oleh buat tante."


Piola mengeluarkan tas branded yang dia bawa dari liburan di Paris.


"Duh, kamu kenapa repot-repot sih?"


"Nggak ko' tante, ini tuh edisi terbaru loh tante dan bajetnya juga besar loh." menyodorkan tas.


"Makasih yah!"


Sebenarnya Ibu Maya (40) tidak terlalu senang dengan sikap Piola yang terkesan pamer dan boros, tapi karena takut mengecewakan, dia tetap menerima setiap barang pemberiannya.

__ADS_1


"Oh ya tante, Zain mana?"


"Zain sudah seminggu nggak pulang ke rumah."


"Hah?" terkejut.


"Tan, Zain masih kerja jadi fotografer?"


"Masih."


"Duh, tan. Tante nggak khawatir dengan keadaan Zain? "


"Yah, tante juga khawatir cuma kan dianya nggak mau ninggalin kerjaannya!"


"Tapikan tan.. "


"Udah yah, kamu tenang aja! Zain itu udah dewasa dia bisa ngurus dirinya sendiri!" wajah Piola sedikit masam mendengar ucapan bu Maya tapi dia tidak berani menjawab lagi.


Tujuan utamanya saat ini adalah mengambil hatinya agar bisa bersama dengan Zain.


"Baik tante." balasnya menunggingkan senyum kecil.


**KANTOR**


Kurang 5 menit jam 12 siang, Zain sudah tidak sabar menunggu jam istirahat. Pandangannya terus tertuju ke jendela melihat restoran.


Satu tangannya di atas meja mengetuk kecil meja menghitung mundur waktu yang tersisa 5 menit. Satu lagi kejadian yang menambah tumpukan rasa penasaran Joy.


Zain terus menghitung mundur dengan sura kecil hingga 5 detik terakhir. "5, 4, 3, 2.... 1." tepat jam 12 siang, Zain terlonjak kembali tersenyum manis memperlihatkan kedua lesung pipinya.


"Mau ma..kka....?" belum sempat Joy bertanya Zain sudah berlari meninggalkan ruangan. Yang ditinggal hanya bisa terdiam melongo.


"Zain kenapa tuh?" tanya Angga (25) yang juga teman Zain. Joy hanya menggelengkan kepala.


"Makan yuk!" Ajak Angga tapi yang diajak masih duduk melongo.


Tidak ingin membuang waktu, Angga menggandeng tangan Joy yang digandeng cuma pasrah.


**RESTORAN**


Zain duduk di bagian belakang, dia sengaja duduk dipojok karena tidak ingin terlihat jelas sedang mencari keberadaan Naira.


Bahkan sepanjang hari dia rela duduk menghadap jendela hanya untuk memastikan Naira keluar dari restoran. Tapi anehnya selama berjam-jam dia tidak melihat tanda-tanda Naira keluar dari restoran.


Karena hal itulah dia memiliki ide untuk mencari sosok Naira di restoran. Sesekali Zain menoleh ke kiri dan ke kanan meneliti seisi restoran.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2