Mata Hatiku

Mata Hatiku
10. Hari yang Cerah


__ADS_3

Satu hari telah berlalu. Sasa dan Rio telah bersiap untuk menikmati bulan madu mereka.


**INTERNATIONAL AIRPORT**


Siang itu, awan putih telah menghiasi langit yang berwarna biru, tak kalah dengan sang Surya yang menampakkan sinarnya menghiasi seluruh sudut kota.


Sasa dengan stelan mini dresnya lengkap dengan kaca mata hitam, membuatnya terlihat menawan. Dia terlihat sibuk dengan handphonenya mengabadikan momen menjelang keberangkatan mereka.


Sementara Rio yang menggunakan hoodie sepasang dengan jeans, terlihat sedang mengeluarkan koper dari bagasi dibantu oleh Joy.


Sasa tipe orang yang aktif di medsos, dia kerap membagikan momennya melalui akun pribadinya. Saat itu, dia sudah berputar 360 derajat menyorot setiap sudut.


Rio dan Joy hanya bisa menggelengkan kepala melihatnya, sementara orang yang lalu lalang sesekali menoleh tersenyum kecil melihat aksinya. Bahkan ada beberapa yang saling berbisik.


Beberapa menit berlangsung, Joy hampir sakit mata melihat tingkah kaka sepupunya itu.


"Kak. Buruan masuk!" Sahut Joy kepada Rio sekaligus untuk menghentikan aksi Sasa.


"Sa. ayo!" Panggil Rio membuat Sasa mengakhiri kesibukannya.


"Kami pergi dulu yah!" Sahut Sasa sambil mencubit kedua pipi Joy, membuat yang dicubit sedikit meringis memasang muka cemberut.


"Ihhh...sana masuk!" Balas Joy mengerucutkan bibirnya membuat Sasa terkekeh.


Rio terkekeh menggelengkan kepala melihat mereka. Sikap jahil mereka sebagai salah satu cara menunjukkan kasih sayang bagi keduanya.


Sasa sering menggoda adik sepupu laki-lakinya itu, membuat Joy terkadang risih dan malu-malu karena dia sudah bukan anak kecil lagi.


**NUSANTARA RESTO**


"Ra! Ayah pulang dulu yah!" Mengelus kepala Naira.


Naira memalingkan sedikit mukanya dengan tatapan yang lurus, merasakan kehadiran ayahnya yang berdiri di sampingnya.


"Hati-hati Yah!" Lirihnya mengulas senyum.


Beberapa menit kemudian...


"Selamat datang, silahkan masuk!" Sahut pak Yayat selaku pelayan sambil menunjuk ke kursi pojok tempat Naira. Membuat laki-laki yang tidak lain adalah Zain, mengulas senyuman melihat pujaan hatinya.


Zain terlihat cool, badannya yang tegap, wajahnya yang sedikit bulat dengan mata yang sedikit tipis plus hidungnya yang mancung. Belum lagi kulitnya yang sawo matang membuatnya terlihat menawan saat berjalan ringan memasuki restoran.


Langkahnya semakin mendekati gadis yang menggunakan sweater pink. Saat jarak keduanya tersisa beberapa langkah, hembusan aroma parfum khas Zain mengudara mendominasi ruangan.


Naira yang duduk menghadap kaca jendela, seakan sedang menunggu sesuatu terlonjak membulatkan mata menghirup aroma yang familiar itu.


Semakin lama aroma kuat itu semakin menusuk, namun memercikan aroma soft di dalamnya membuat Naira hampir saja terlena.


"tok. tok." Ketukan kecil di atas meja menggema ditelinga Naira.


"Assalamualaikum!" Suara serak namun cukup lembut menggetarkan hati Naira.


Dia menoleh mengikuti suara itu, lalu sedikit mendongak merasakan seseorang yang berada di dekatnya.


"Waalaikumsalam!" Lirihnya mengulas senyum kecil namun cukup membuat Zain meleleh.


Zain menarik kursi tepat di depan Naira, lalu duduk berhadapan dengannya. Jarak mereka terpisah beberapa senti, membuat Zain cukup puas memandang wajah Naira.

__ADS_1


Perawakannya yang terlihat tenang. Sepasang mata bulat, hidungnya terbilang mancung tapi tidak se mancung Zain, kulitnya yang putih bersih. Sangat mempesona bagi Zain.


Zain menatap binar sosok gadis di depannya, rasa kagumnya semakin kuat. Sementara Naira mencoba menatap Zain yang di depannya. Bayangan putih berembun bercampur warna kehijauan dengan samar terlintas dibenaknya.


Saat itu Zain sedang memakai kaos over size yang bermotif garis putih hijau. Sepintas bayangan yang ditangkap oleh Naira cukup membuatnya sedikit dapat gambaran kira-kira seperti apa dasar pakaian Zain saat itu.


Melalui hatinya dia memiliki pendapat sendiri mengenai Zain saat itu. Sudut bibirnya semakin mengembang membentuk senyuman.


Saat keduanya terlarut dalam sinyal-sinyal cinta. Zain meraih tangan kanan Naira membuat yang punya tangan kembali terlonjak, hatinya semakin bergetar dan sedikit gugup merasakan sentuhan lembut itu.


Meski tidak dapat melihatnya dengan jelas, tapi melalui sentuhan itu dia dapat merasakan tangan Zain yang lebih besar darinya, sudah menggambarkan dibenaknya kalau jari-jarinya pasti lebih panjang dan terasa lembut.


Naira tidak mengeluarkan sepatah katapun, hatinya bergejolak. Bahkan hawa dingin AC tiba-tiba berubah di bawa 16 derajat semakin menusuk baginya saat itu.


Zain dapat merasakan tangan lembut yang lebih kecil darinya terasa dingin saat berada dalam genggamannya. Dia sangat menyadari kegugupan yang dirasakan Naira.


Zain merogoh tas selempangnya, lalu memasukan sesuatu di dalam genggaman Naira, membuat Naira kembali meraba melalui sentuhan benda yang dia pegang saat itu.


Sebelumnya, Zain sudah pernah memberikan kepadanya benda seperti itu, sudah pasti Naira tahu apa yang dia pegang saat itu.


Sejak kehilangan penglihatan. Naira menggunakan perasaan, pendengaran, sentuhan dan hatinya untuk menghapal dan bedakan sesuatu menjadikannya lebih peka.


"Permen?" Tanyanya mengeratkan genggamannya pada permen rasa jeruk itu.


Kalau sebelumnya Zain memberikan 1 butir permen, kali ini dia memberikan 5 butir.


"Iya. Aku beri 5 permen karena selama 5 hari ke depan, aku mungkin tidak menemuimu." Zain menjelaskan dengan lembut maksudnya.


Mendengar perkataan Zain membuat hati Naira kembali bergetar, namun kali ini getarannya membuat tubuhnya terasa lemas.


Naira tidak mengatakan apapun selain merasakan tubuhnya yang terasa lemas dan menatap lurus ke arah Zain.


Mendengar perkataan Zain membuat Naira sedikit lebih semangat menunggingkan senyum.


"Aku pamit yah!" Zain melangkah keluar dari restoran meninggalkan Naira.


Naira mencoba mengikuti bayangan buram bak lensa berembun itu yang semakin menghilang.


Jelas-jelas mereka baru bertemu beberapa kali dan hanya sebatas teman biasa, tapi ntah kenapa rasanya sedikit berat kalau 5 hari ke depan mereka tidak bertemu.


"KRING! KRING!"


Suara krincing yang nyaring terdengar jelas ditelinga Naira, membuatnya terlonjak spontan berbalik ke arah jendela kaca restoran.


Naira meyakini suara itu berada di sekitar restoran dan baru saja melewatinya. Dia terus meneliti ke arah jendela tapi tidak banyak yang bisa dia lihat selain titik putih berembun.


Dia kembali teringat Zain yang baru saja keluar dari restoran, ini kedua kalinya suara itu hadir setiap Zain habis menemuinya.


Naira kembali berbesar hati dan meyakini kalau selama ini yang selalu menyapanya melalui suara krincingan sepeda tidak lain adalah Zain.


Naira mendongak mengulas senyum menatap keluar jendela merasakan sinar sang Surya menerpa wajahnya. Siang hari yang terik, dengan awan putih menghiasi langit yang biru terlihat cerah secerah hati Naira saat itu.


**RUMAH ZAIN**


Sore itu, untuk pertama kalinya setelah 1 bulan Zain kembali ke rumah mewah milik keluarganya. Kali ini dia kembali bukan tanpa alasan.


1 jam sebelumnya...

__ADS_1


**APARTEMEN ZAIN**


Saat itu Zain berbaring di sofa apartemennya sambil mengutak atik handphone. Tiba-tiba panggilan masuk menghiasi layar handphonenya.


"Assalamualaikum Ma."


"Waalaikumsalam, apa kabar nak?" Tanya Mama Zain dalam telepon.


"Baik. Mama sendiri gimana?"


"Mama sehat, nak malam ini kamu balik yah! Mama sudah lama tidak melihat anak mama, rasanya rumah sangat sunyi nak."


Mendengar perkataan mamanya yang terdengar sedikit berat membuat Zain merasa kasihan dengan mamanya.


"Baik Ma, Zain pulang hari ini!" Balasnya sambil menutup telepon.


Kurang lebih seperti itulah percakapan mereka saat itu.


**RUMAH ZAIN**


"Assalamualaikum!" Zain memberi salam saat pertama masuk ke dalam rumah.


"Waalaikumsalam, anak Mama akhirnya pulang." Memeluk Zain.


"Mama." Zain menyambut pelukan hangat dari mamanya.


"Ayo temui Papa, dia ada di halaman belakang!"


" Pah, Zain sudah pulang." Sahut mama Zain menggandeng tangan anaknya.


Papa Zain menoleh melihat anaknya yang sudah lama tidak pernah kembali ke rumah.


"Pulang juga kamu. Kamu tau ngga, nama itu tiap hari menyebut nama kamu loh."


"Udah Pah, Zain capek butuh istirahat. Besok aja papa ceramahin!" Sahut Mama Zain.


"Tap..ii?" Baru saja ingin melanjutkan perkataannya, Zain sudah ditarik oleh mamanya menuju kamar membuat papahnya terpaksa menarik napas dalam-dalam.


Zain duduk di kasur sedangkan mamanya berdiri dekat pintu kamar.


"Kamu istirahat dulu yah! Mama akan menyiapkan makan buat kamu." Ucap mamanya membuat Zain mengangguk.


Saat ingin menutup pintu, mama Zain tiba-tiba teringat sesuatu menghentikan langkahnya lalu berbalik ke arah Zain.


"Oh yah nak, malam ini kamu siap-siap yah kita akan makan malam di hotel!" Tersenyum lalu menutup pintu kamar.


Zain sedikit mengerutkan dahi. Tidak biasanya mereka tiba-tiba makan malam bersama, kalau tidak ada perayaan khusus atau kumpul bersama keluarga. Tapi sebelumnya tidak ada informasi.


Zain tidak ingin terlalu memikirkan hal itu langsung merebahkan badannya berbaring terlentang. Perlahan memejamkan mata, bahkan saat tertidur pun wajahnya terlihat tampan dan manis.


**MH HOTEL**


Malam itu, Zain bersama kedua orang tuanya sedang duduk dalam ruangan private. Beberapa hidangan mewah telah memenuhi meja.


Beberapa saat kemudian, dua orang menyusul mereka masuk ke dalam ruangan private itu.


"Selamat malam Pak!" Suara bapak-bapak menggema ditelinga Zain, membuatnya mendongak menatap pemilik suara.

__ADS_1


Zain terlonjak membulatkan mata, tidak terbesit dalam hatinya kalau yang akan ditemani makan malam adalah mereka.


Bersambung...


__ADS_2