
"Ting tong!"
Suara notifikasi handphone Piola mengalihkan perhatian dokter Rehan sontak melirik meja.
Dokter Rehan mengambil handphone itu dan tidak sengaja melihat beberapa foto Zain dan Naira yang dikirim oleh suruhan Piola sendiri.
Sontak membuat hatinya bergejolak, ada rasa amarah yang mulai membara menyelimuti. Tatapannya tajam melihat foto-foto itu.
Dokter Rehan menggenggam kuat handphone itu sampai kukunya memutih dan wajahnya masam.
Pantas saja Piola terlihat tidak karuan, ternyata semua perlakuan Zain memang sangat tidak adil baginya. Piola merupakan putri satu-satunya yang dia miliki tentu kebahagiaannya menjadi prioritas utama dan dia rela melakukan apapun untuk kebahagiaan anaknya.
Nalurinya sebagai seorang ayah terpanggil untuk melindungi sang putri termasuk dengan cara yang mungkin terbilang kotor.
***
"Papa?" Lirih Piola perlahan membuka matanya lalu menatap handphone yang berbeda dalam genggaman papanya.
"Ah!" Terkejut, seketika dokter Rehan mengubah rautnya menjadi lebih tenang lalu menatap putrinya.
"Kamu sudah bangun?" Membelai rambut Piola.
"Papa kenapa liat handphone Piola kayak gitu?" Tanyanya menatap papanya. Sebelum dokter Rehan mengubah rautnya Piola dapat melihat jelas raut masamnya menatap handphone.
***
Dokter Rehan tidak menjawab melainkan menatap sendu anaknya membuat Piola semakin tidak enak hati dan sedikit curiga dengan papanya.
Piola mengambil handphone yang tergeletak di sampingnya lalu membuka aplikasi WhatsApp dan melihat satu persatu foto itu.
Meski sebelumnya sudah pernah dapat kiriman foto yang sama tapi kali ini terlihat lebih mesra. Dimana dalam foto itu, Zain terlihat memegang pipi Naira.
Sekujur tubuhnya terasa dingin dan bergetar menatap foto itu. Matanya berkaca-kaca lalu perlahan meneteskan buliran air mata.
Piola tidak mengeluarkan sepatah katapun, wajahnya memerah sementara bibirnya bergetar.
Seketika dadanya seperti ditekan benda berat yang nyaris membuatnya sesak.
Dokter Rehan menatap sendu putrinya, hatinya ter-cubit seakan merasakan apa yang dirasaka anaknya.
"Piola tenang yah! Papa janji Zain hanya akan menjadi milikmu seutuhnya! Ucapnya dingin mengatupkan gigi kembali masam.
Piola menatap papanya dalam tangis, wajahnya terlihat buruk dan tidak berdaya. Jangankan berteriak, berbicara saja baginya sudah tidak mampu. Tekanan yang dia dapat terlalu berat hingga dia terlihat seperti putus asa.
"Yang terpenting sekarang kamu harus sehat agar bisa terus bersama Zain!" Tegasnya dan Piola mengangguk.
**RUMAH NAIRA**
"WHAT??? Sasa terkejut membulatkan mata "kamu serius Ra? Tanya Sasa dengan nada terkejut mendengar perkataan Naira dan dibalas anggukan.
"Nggak! Nggak!" Sambung Sasa menggelengkan kepala sambil memijat pelipis dengan kedua tangannya. Dia merasa sedikit syok mendengar Naira tiba-tiba punya pacar.
"Kamu juga pasti kenal kok orangnya!" Sahut Naira tiba-tiba semakin membuatnya syok.
"HAH???" semakin terkejut menatap wajah Naira yang terlihat senang. "Hufftth...! Hufftth...! Hufftth...!" Sasa menggerakkan tangannya naik turun mengikuti irama mengatur napasnya.
Baru 2 Minggu mereka tidak bertemu kepalanya tiba-tiba mumet dibuat sahabatnya.
"Ra kamu kenapa nggak bilang-bilang sih kalau sebelumnya deket sama seseorang? Gimana kalau dia orangnya nggak baik? Atau gimana kalau dia ternyata punya niat buruk atau gimana kalau dia punya banyak pacar diluar sana?" Celoteh Sasa membuat Naira sedikit mengerutkan dahi.
Naira menatap bayangan putih keabu-abuan yang buram di depannya itu lalu mengulas senyum. Dia bisa membayangkan bagaimana raut paniknya Sasa sambil berceloteh seperti emak-emak.
"Ra! Aku nggak mau yah kalau sampai dia mempermainkan kamu! Pokoknya kamu nggak boleh sering - sering ketemu sama dia apalagi sampai jalan sama dia!" Sambungnya sambil menggenggam tangan Naira.
__ADS_1
Naira hanya tersenyum kecil mendengarkan Sasa membuat sahabatnya mengerucutkan bibir "ih Nairaaa! Akutuh khawatir sama kamu!" Menyilangkan kedua tangannya dengan wajah mengkerut.
"Sasa! Kamu nggak usah khawatir aku yakin kok dia orangnya baik!" Mengulas senyum.
Sasa mengerlingkan matanya, lalu kembali meneliti wajah Naira yang terlihat mengembangkan senyuman kecil serta matanya berbinar.
"Tapi Ra siapa orangnya? Perasaan teman-teman kita yang dari dulu naksir sama kamu semuanya ditolak?" Tanyanya mengernyit.
"Dia bukan dari teman sekolah kita!" Lirih Naura membuat Sasa melongo.
Sasa merasa bingung dan terkejut dengan perubahan sahabatnya. Pasalnya selama mereka berteman tidak satupun laki-laki yang mendekatinya dia terima. Sementara saat ini dia bahkan telah berani menjalin hubungan dengan orang asing.
Meski Naira mengatakan kalau Sasa kemungkinan juga mengenalnya tapi tetap saja dia masih khawatir. Tapi anehnya dia bukan bagian dari teman sekolah, lalu bagaimana bisa Sasa mengenalnya?
Semakin memikirkan semakin membuatnya mumet dan kembali memijat pelipisnya.
**Hening**
Naira sedikit mengerutkan dahinya lalu mulai meraba keberadaan Sasa. Karena mereka sedang duduk di atas kasur berhadapan dengan jarak dekat jadinya dia bisa menemukan dengan cepat.
Naira merasakan bagian tangan Sasa. "Sasa?" Lirihnya mengulas senyum membuat Sasa merasa tidak tega menatap wajah sendu itu.
"Kamu kok nggak ngomong sama aku sebelumnya Ra? Lirihnya menggenggam tangan Naira. "Kalau kamu ngomong, aku bisa bantu kamu dari awal buat mastiin dia benar-benar baik atau nggak!" Menatap lekat sahabatnya.
"Aku minta maaf yah! Aku juga nggak nyangka kejadiannya secepat ini. Aku bukan nggak mau ngomong, tapi aku nggak mau ganggu kamu lagi honeymoon!" Lirihnya lalu mengerutkan wajah dan bibinya membujuk Sasa.
"Iya. Iya. Aku nggak akan nentang lagi!" Balasnya dengan nada malas pura-pura terpaksa.
Naira mengulas senyum
"TAPI ADA SYARATNYA!" Sambung Sasa dengan lantang mengejutkan Naira dan langsung menarik senyumannya melongo.
***
"Mau nggak?" Kembali menyilangkan kedua tangannya sedikit mengerling.
"Iya deh! Apa syarat nya?" Lirihnya.
"Aku harus bertemu dengan dia secara langsung! Kalau dia terlihat tidak meyakinkan atau terkesan tidak tulus. Kamu tidak boleh lagi ketemu sama dia!" Kembali berceloteh tapi sebagai bentuk kasih sayang untuk sahabatnya.
Naira kembali tersenyum "Yeee.. Sasa memang the best!" Langsung memeluk Sasa dengan erat membuat Sasa menunggingkan senyum kecil.
"Terima kasih nyonya Rio! Heee!" Sambung Naira membuat Sasa tidak tahan dan tersenyum lebar.
"Hehehh!" Kompak terkekeh kecil.
**DUA HARI KEMUDIAN - CAFE**
Sore itu, Angga dan Joy kembali menikmati kopi di salah satu cafe tempat nongkrong mereka. Kalau sebelumnya mereka hanya berdua, maka hari itu mereka datang dengan formasi lengkap.
Zain yang sebelumnya absen kini kembali hadir nongkrong bersama.
"Pesanannya mas!" Barista itu meletakkan 3 cangkir kopi di meja.
"Thank mas bro!" Balas Joy tersenyum lebar memperlihatkan barisan gigi depannya yang cukup rapi.
***
"Bro gue mau nanya sama kalian nih!" Sahut Zain serak.
"Apa?" Balas Angga melirik Zain yang duduk di sampingnya.
Sementara Joy terlihat menopang dagu menatap kedua temannya sambil menghirup aroma latte di depannya.
__ADS_1
"Piola!" Balasnya serak.
"Piola kenapa?" Tanya Angga dengan datar.
"Beberapa hari lalu dia tiba-tiba datang di apartemen."
"Diakan memang sering datang tiba-tiba!"
"Bukan itu masalahnya!" Zain melempar pandangannya ke jendela dengan wajah datar.
"Terus?" Angga menatap Zain serius begitu juga dengan Zain yang kembali mengalihkan pandangannya ke Angga.
"Sepertinya dia sudah tahu tentang Naira!" Balasnya dengan nada berat dan tatapannya tiba-tiba sendu.
"Ha?? Lu serius?" Angga membulatkan mata terkejut dan Zain hanya mengangguk.
***
"SRUP!"
"HUFFTTH!"
" SRUP!"
Disaat mereka bersiap membahas dengan serius ada suara seruput yang nyaring dari seorang Joy saat menikmati kopinya.
"Joy!!" Tegur Angga melotot menatap Joy.
Joy sontak menghentikan aktivitasnya lalu menatap kedua temannya sementara tangan kanannya masih mengudara sambil memegang cangkir miliknya.
"Panas Ga. Sorry Bro! Heee!" Nyengir kuda lalu dengan cepat kembali meletakkan gelasnya.
"Emang rese nih bocah!" Angga menunjuk Joy yang kembali menopang dagu.
"Adek luh tuh!" Celetuk Zain membuat Joy mengulas senyum mengedipkan mata ke Zain sementara Angga memutar bola matanya.
Disaat Joy melakukan hal konyol atau sedang bertingkah aneh ada Angga yang selalu menasihati atau mendisiplinkannya, sementara Zain selalu bersikap bijak terkadang membelanya jika Angga mulai menegurnya dengan tegas.
Joy sendiri tidak mempermasalahkan karena dia cukup memahami kalau kedua temannya itu sangat peduli dengannya.
"Jadia gue mau nanya sama kalian! Kira-kira dari mana Piola tahu? Sementara cuma kita bertiga aja yang tahu soal ini!" Menatap kedua temannya bergantian.
Angga terdiam terlihat sedang berpikir, sementara Joy hanya menggelengkan kepala.
"Joy lu yakin nggak keceplosan sama Piola?" Tanya Zain sementara Angga hanya terdiam masih terlihat memikirkan sesuatu.
"Nggak mungkin Bro! Gue nggak pernah ketemu sama Piola apalagi telponan diakan nggak tau nomor gue!" Mengubah posisinya dengan menyilangkan kedua tangannya dan Zain cukup memahami kalau Joy sedang tidak berbohong. "Kecuali sama tante Maya, lu tau sendiri mana bisa gue bohong sama orang tua!" Sambunya menatap serius Zain.
"EM!" Zain mengangguk.
"Kalau kamu gimana Ga?" Joy menatap Angga di ikuti Zain.
Dia masih terdiam bengong membuat Joy mengerutkan dahi "Ga!" Menepuk kecil bahu Angga.
"Eh! Ya. Sorry! Kenapa?" Menatap kedua temannya.
"Kamu nggak pernah ngasih tau siapapun kan tentang Piola?" Tanya Joy mewakili Zain.
"Ng..gak! Ngg..ak tuh!" Menggelengkan kepala sedikit terbata lalu dengan cepat menyeruput kopinya.
Joy mengangguk sambil mengangkat kedua alisnya sementara Zain hanya menunggingkan senyum kecil.
Ketiganya kembali menikmati kebersamaan mereka hari itu sambil ngobrol.
__ADS_1
Bersambung...