
"Naira, ayo pulang sudah sore!" Ajak ayahnya.
"Naira boleh tinggal sebentar lagi Yah?" Lirihnya sedikit mendongak merasakan keberadaan ayahnya yang berdiri di sampingnya.
"Ya sudah. Nanti minta diantar pak Yayat pulang yah!" Mengelus kepala Naira.
"Bapak tenang aja! Selama ada Yayat pasti beres. Hehehh!" Sahut pak Yayat tiba-tiba.
"Baiklah kalau begitu saya pulang duluan!" Mengulas senyum, begitu juga dengan pak Yayat.
"Ayah hati - hati!" Mengulas senyum.
Setelah Ayahnya pulang ke rumah. Raut wajah Naira kembali terlihat lesu. Permen terakhir dalam kotak sudah dia makan. Tatapannya sendu dan rasa khawatir mulai menyelimuti.
Hubungan mereka tidak lebih dari sekedar teman dan hanya bertemu beberapa kali. Tapi ntah kenapa harapannya sangat besar agar Zain menemuinya saat itu juga.
"Non minum dulu yah!" Tawar pak Yayat.
"Terima kasih pak!" Meraba minumannya.
Naira mencicipi orange juice miliknya, membuat pikiran dan hatinya bergejolak. Sudah cukup dia memakan permen rasa jeruk, sekarang ditambah lagi dengan minuman dengan rasa yang sama.
Bukannya sedikit melupakan malah semakin mengingat.
"Pak Yayat.., seperti tidak ada rasa lain saja!" Gumamnya mengaduk orange juice.
***RS PERMATA KASIH***
Di salah satu ruangan VIP khusus rawat inap. Gadis cantik alias Piola sedang sibuk menata riasan wajahnya. Tapi bukan mempercantik diri, melainkan sengaja membuat wajah dan bibinya sedikit pucat seperti tidak memiliki aliran darah.
Wajahnya yang sma sekali tidak di beri riasan bedak tebal, tidak ada alis yang terang, tidak ada eyeshadow dan eyeliner bahkan bibir seksi yang biasanya merona kini menjadi putih efek olesan bedak tabur.
**SUPERMARKET**
Sedangkan Zain Angga dan Joy terlihat sedang memilih hampers di supermarket terdekat RS.
Kalau bukan karena perintah Papahnya, Zain merasa enggan untuk menemui Piola. Pikirannya terbangi antara Naira dan Piola.
"Za kamu nggak papa kan?" Tanya Joy saat melihat Zain yang sedikit termenung.
"Ah!" Terkejut. "Nggak papa!" Balasnya lalu mengambil salah satu hampers berisi buah segar.
Setelah selesai berbelanja, Zain Angga dan Joy kembali masuk ke dalam mobil dan langsung menuju ke RS Permata Kasih yang jaraknya sisa beberapa meter saja.
***NUSANTARA RESTO***
Setengah jam telah berlalu Naira mengaduk orange juice nya. Namun, sama sekali tidak ada tanda - tanda kedatangan Zain membuatnya sedih.
"Hhhhhh" menghela napas.
"Pak sekarang sudah jam berapa?" Tanyanya dengan nada berat.
"Sudah jam 17 : 00 sore Non!" Balas pak Yayat yang posisinya tidak jauh dari Naira.
"Sudah se sore ini dia belum datang?" Batinnya.
Ada banyak orang yang keluar masuk ke restoran, tapi Zain tidak ada di antara mereka.
"Mungkin dia memang tidak berniat menemui ku. Sepertinya aku saja yang terlalu berharap lebih, toh aku bukan siapa-siapanya juga!" Menunggingkan senyum kecut sambil terus membatin.
__ADS_1
"Restoran sebentar lagi tutup. Sebaiknya aku bersiap pulang, ayah dan ibu pasti sudah menunggu!" Gumamnya.
"Pak sudah tutup kan?" Tanyanya kepada Pak Yayat.
"Iya Non, ini sudah mau tutup!" Balasnya Merapikan meja.
Nusantara Resto buka setiap hari, pada jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Tapi akan kembali buka jam 7 malam sampai jam 11 malam. Karena pelanggannya cukup banyak jadi mereka bagi 2 shift dan karyawannya akan di rolling setiap 1 minggu.
"Pak Ayo kita pulang!" Ajak Naira.
**Hening**
Selama beberapa saat menunggu jawaban dari pak Yayat, yang tidak terdengar sama sekali membuat Naira beranjak dari duduknya.
Naira sedikit memutar badannya mencoba merasakan keberadaan orang - orang di restoran terutama pak Yayat.
Naira menggunakan ketajaman pendengarannya mencari suara. Tapi terdengar sunyi, tidak ada pergerakan yang dia rasakan.
"Mungkin mereka masih sibuk di dalam!" Batinnya.
Naira berniat untuk melangkah masuk ke dalam untuk mencari keberadaan pak Yayat. Sama seperti di rumah, tata letak dari benda yang ada di dalam restoran tidak ada perubahan besar, bahkan sebagian benda yang di anggap menghalangi di pindahkan ke tempat yang tidak terjangkau agar Naira bisa melangkah dengan bebas.
Naira Sangat menghapal jalan masuk restoran yang tidak terlalu panjang. Baru saja dia melangkahkan kakinya dua langkah tiba-tiba...
"Ah!" Terkejut.
Naira menghentikan langkahnya dan berbalik saat merasakan tangannya di tarik oleh seseorang.
Seketika aroma khas dari parfum mendominasi, membuat Naira menghangat. Aroma yang kuat namun saat semakin menghirupnya semakin soft.
Tatapan Naira seketika berbinar menatap bayangan warna hitam kehijauan yang bercampur, menjadi sedikit lebih gelap seperti berembun.
"Apa aku telat?" Suara serak namun cukup lembut dan mampu menggetarkan hati Naira.
Naira menggelengkan kepala sedikit menunduk tersipu membuat Zain mengulas senyum sampai lesung pipinya membulat.
***
Kini Naira kembali duduk di temani Zain. Beberapa jam sebelumnya wajahnya murung sekarang berubah 360 drajat. Wajahnya terlihat lebih fresh begitu juga dengan hatinya yang menghangat.
Saking bahagianya, Naira sampai tidak tahu harus berbuat apa, rasanya seperti sedang melayang di tambah lagi jantungnya yang berdetak kencang.
Dia tidak berani mengangkat wajahnya dan terus meremas kota bening keberuntungannya.
Zain dapat melihat tingkah Naira yang terkesan grogi membuatnya gemes sendiri. Tapi kotak bening juga tidak kalah menarik, terlebih saat Zain melihat secarik kertas yang pernah dia berikan.
"Maaf, tadi aku ada urusan. Kamu pasti menungguku kan?"
"Tidak apa-apa!" Lirihnya.
"Oh yah, besok kamu sibuk?" Tanya Zain dan Naira hanya menggelengkan kepala.
"Boleh aku mengajakmu ke suatu tempat?"
Naira terlonjak mendengar pertanyaan Zain. Di satu sisi dia sedikit ragu dan terkejut, tapi di sisi lain dia sangat bahagia mendengar ajakan itu.
"Tapi..."
"Kamu tenang aja, aku ngga macam-macam kok!"
__ADS_1
***
"Baik!" Satu jawaban singkat yang cukup membuat Zain bersorak dalam hati.
Ntah dari mana Naira mendapat keberanian itu sampai dia setuju untuk pergi bersama Zain. Yang jelas saat ini dia hanya mengikuti kata hatinya.
***RS PERMATA KASIH***
"Ceklek"
Piola merapikan rambutnya saat mendengar suara pintu dibuka, bersiap menyambut Zain dengan memasang wajah berpura-pura terlihat lemas.
Tapi diluar dugaan. Piola terkejut dengan apa yang dia lihat saat itu.
Piola berdiri menatap tajam kedua laki - laki di depannya yang tidak lain adalah Angga dan Joy.
"Kenapa kalian sih yang datang? Zain mana?" Tanyanya dengan ketus.
"Memangnya kami tidak boleh datang?" Tanya Joy membuat Piola semakin membara.
"Aku tanya kalian dimana Zain??" Kembali bertanya dengan nada lebih keras.
"Dia ada keperluan mendesak, jadi kami yang menggantikannya!" Jawab Angga dengan datar.
Mendengar jawaban dari Angga membuat Piola semakin menajamkan tatapannya. Hatinya mulai bergejolak. Wajahnya yang pucat membiru seperti tidak memiliki aliran darah membuat Joy merasakan hawanya yang mendominasi.
"Ini ada titipan dari Zain!" Angga meletakkan hampers dan juga buket bunga di atas meja dan Piola hanya meliriknya dengan tatapan tajam yang menusuk.
"Kalau begitu kami pulang dulu!" Sahut Angga lalu meninggalkan Piola diikuti Joy.
***
"BRAKKK!!!"
Suara yang tiba-tiba mengejutkan membuat Angga dan Joy sontak berbalik dan cukup terkejut melihat buah-buah yang berserakan di lantai, saat Piola dengan sengaja menjatuhkan hampers bersama dengan buket.
Raut Piola semakin terlihat buruk. Bola matanya membulat memancarkan tatapan elang yang seolah siap menerkam mangsanya. Kedua tangannya mengepal dengan kuat sampai kuku jarinya memutih.
Angga tidak terlalu memperdulikan apa yang terjadi dengan Piola dia kembali melanjutkan langkahnya. Sementara Joy, menyempatkan diri memungut satu buah apel merah mengkilap yang bergelinding di dekat kakinya kemudian dengan cepat menyusul Angga.
30 menit sebelumnya...
***AREA PARKIR RS***
"Kamu yakin mau menemui Piola?" Tanya Joy dan Zain mengangguk.
"Lalu bagaimana dengan Naira? Dia pasti sedang menunggu!" Sambung Joy.
Mendengar perkataan Joy, membuat Zain kembali berpikir. "Bagaimana kalau Naira marah dan menjauhinya?" Batinnya.
"Biar kami yang menggantikan mu menemui Piola!" Sahut Angga.
Tanpa berpikir panjang Zain pun setuju dengan tawaran Angga dan dengan cepat menuju ke tempat Naira. Dia menggunakan mobil milik Joy.
***
Saat ini Angga dan Joy berjalan berlenggak seperti tidak ada beban bahkan seakan tidak pernah melihat kejadian seperti tadi.
Sepanjang jalan lorong RS, Joy menikmati setiap gigitan buah apelnya membuat Angga menggelengkan kepala tersenyum. Tidak dipungkiri, sosok Joy meskipun agak rada-rada tapi tingkahnya cukup menghibur. baginya.
__ADS_1
Bersambung...