
Beberapa hari kemudian...
Naira duduk di kursi pojok restoran. Terlihat sekilas sedang membaca buku, tapi nyatanya tidak.
Pandangannya mengarah keluar jendela kaca, wajahnya mengembangkan senyum. Hari-harinya berlalu dengan bahagia selama beberapa pekan.
Ternyata jatuh cinta memang seindah itu dibenaknya saat itu. Semua berubah menjadi manis dan membahagiakan.
"Non?" Panggil pak Yayat mengejutkan Naira.
"Pak Yayat?" Menoleh menatap bayangan putih keabu-abuan yang buram itu.
Saat itu pak Yayat sedang membisikkan sesuatu kepadanya membuat Naira semakin mengembangkan senyuman terlihat menawan.
"Terima kasih pak!" Lirihnya.
"Sama-sama non!" Balasnya juga tersenyum lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
Selama ini Naira paling dekat dengan pak Yayat bahkan sejak dia masih sekolah. Dan dia juga telah banyak membantunya termasuk dalam hubungannya dengan Zain.
**KANTOR**
"Ting tong!"
"Ting tong!"
"Ting tong!"
Notifikasi handphone Zain tiba-tiba berbunyi, memecah suasana hening di tengah-tengah keseriusan para karyawan dalam ruangan yang sedang bekerja.
Termasuk Angga dan Joy yang tadinya fokus menatap laya komputer sontak melirik Zain yang terlihat tersenyum memandang layar handphonenya.
"Pesannya sudah saya sampaikan mas! Dan non Naira setuju!" Isi chat dari pak Yayat yang membuatnya tersenyum bersorak dalam hati.
"Terima kasih pak!" Balasnya dalam chat.
"Sama-sama mas! ❤️❤️" Balas pak Yayat membuatnya sedikit terkekeh melihat sticker love.
Angga dan Joy saling melirik lalu menggelengkan kepala kompak sebelum melanjutkan pekerjaan mereka.
***
Setengah jam yang lalu...
"Derr.. "Derr.."
Pak Yayat merogoh handphone dari saku celananya dan melihat panggilan masuk dari Zain.
"Halo Assalamualaikum mas!"
"Waalaikumsalam, bapak sibuk?" Tanya Zain dengan serak dalam telepon.
"Oh nggak kok mas. Ada apa mas?"
"Naira ada pak?"
Paka Yayat meneliti sekitar dan melihat punggung Naira yang terlihat sedang membaca buku menghadap jendela kaca "Ada kok. Mas mau bicara?"
"Oh nggak perlu pak. Saya cuma mau minta tolong sama bapak, tolong sampaikan kalau besok sekitar jam 9 saya ingin mengajaknya ke pantai!"
"Oh gitu.. baik mas nanti saya sampaikan!"
"Terima kasih pak!"
"Sama-sama mas!" Balasnya menutup telepon.
__ADS_1
Sejauh ini pak Yayat telah menjadi penghubung diantara mereka. Zain tidak pernah menelepon Naira secara langsung dia takut akan mengganggunya terlebih saat berada di rumah.
Dia sangat berhati-hati menjaga hubungannya dengan Naira, itu sebabnya pak Yayat juga meyakini kalau sosoknya memang pantas untuk Naira.
**RUMAH NAIRA**
Malam itu, Sasa sedang berada di rumah Naira. Ditemani ayah dan ibu Naira mereka duduk di ruang tengah.
"Yah, Bu! Besok Naira mau ke pantai yah?" Izinnya dengan lirih.
"Pantai? Sasa ikut?" Tanya ibunya.
"Ikut kok tante.. heeh!" Balas Sasa tersenyum menyembunyikan rasa gugupnya.
Sementara Naira hanya diam mendengarkan Sasa. Tugasnya hanya meminta izin sementara pembicaraan selanjutnya menjadi tugas Sasa untuk menjelaskan agar mereka tidak dicurigai.
"Kalian cuma berdua?" Tanya ayah Naira membuat Naira sedikit membulatkan mata.
Sasa sedikit melirik ke arah Naira, sangat jelas rautnya mulai menegang.
"E... Sa..sama kak Rio juga heee!
"Beneran?" tanya ibu Naira mengamati wajah mereka.
"Bener kok tante. Iyakan Ra?" Sasa merangkul Naira sambil menepuk kecil bahunya sebagai kode.
"Iya bener hee!" Naira mengangguk tersenyum kaku.
Ayah dan ibu Naira terlihat mengerutkan dahi seperti ragu-ragu dengan perkataan mereka dan Sasa langsung meremas bahu Naira kembali memberi kode.
"Bener kok yah!"
hehehh!" Keduanya akhirnya kompak terkekeh bersama.
"Ya sudah, tapi kalian harus jaga diri!"
***
Naira sebenarnya sedikit ragu jika memberitahu Sasa, karena itu rencana Zain. Tapi, di satu sisi Naira sudah berjanji mempertemukan Sasa dengan Zain. Sementara di sisi lain, Naira belum berani memberitahu ayah dan ibunya tentang Zain.
Jadi dengan adanya Sasa akan membantunya dalam menjalankan drama izinnya yang dibubuhi sedikit trik demi meyakinkan orang tuanya.
***
Di dalam kamar, Naira dan Sasa saling berbisik. Rupanya setelah mendapat ijin bukan berarti permasalahan selesai malah sedikit rumit.
"Lu gimana sih Sasa? Kenapa pake ngomong segala kalau kak Rio juga ikut?" Sedikit panik.
"Yah abis gimana? Kalau gue ngomong cuma kita berdua trus nanti om dan Tante nggak ngizinin gimana coba? Setidaknya kalau ada kak Rio berarti ada yang jagain kita!" Bisiknya.
"Iya juga sih!" Balas Naira.
"Lagian tadi mereka mulai curiga tau nggak?"
"Yah sorry, gue nggak mahir drama-dramaan soalnya!" Tersenyum kecut.
"Hemm... Itulah dirimu jaman sekolah diajak bolos nggak pernah mau. Keterusan deh sampe sekarang susah diajak akting!" Balasannya sambil merebahkan badannya di kasur.
"Kalau gue ikut bolos siapa ngasih contekan kalau lagi ulangan? Huu!" Balas Naira.
Sasa tidak menjawab hanya menunggingkan senyum kecil.
**Hening**
"Lagian nih yah kalau Zain niatnya baik nggak mungkin keberatan kok!" Celetuknya
__ADS_1
masih berbaring.
"Kok lu tahu kalau orangnya Zain?" Tanya Naira terkejut.
Sasa bangun dari pembaringannya lalu meraba tas selempangnya mengeluarkan selembar foto.
"Gua dan kak Rio liat foto kita pas nikahan. Ehh tau-taunya lu dan Zain udah sedekat itu!" Ucapnya membuat Naira mengerutkan dahi perlahan berjalan dan duduk di kasur bersama Sasa.
"Di foto ini nih sangat jelas gimana caranya Zain menatap kamu dan parahnya lagi, bisa-bisanya dia rangkul lu dan gue nggak nyadar!" Sambungnya blak-blakan membuat Naira kembali mengingat kejadian itu.
Naira tersenyum membuat Sasa sedikit heran "Dih senyum-senyum lagi!" Ucap Sasa.
"Zain ganteng nggak menurut kamu?" Tanya Naira tersenyum membuat Sasa menarik napas panjang. Rupanya dari tadi dia ngomong panjang lebar bukannya dapat penjelasan malah nanya balik.
"Cek!" Berdecak "iya emang sih dia ganteng mukanya oriental. Tapi bukan berarti kesepakatan kita tidak berlaku. Gue tetap harus pastiin langsung!" Balasnya dengan wajah serius.
Tapi Naira tidak mendengar omongannya melainkan memasang wajah bahagia melamun memikirkan sosok Zain.
***ESOK HARI**
Untuk pertama kalinya Zain menjemput Naira menggunakan mobil miliknya. Zain terlihat tampan dan keren dalam balutan kemejanya.
Dia berdiri bersandar di pintu mobil sambil memainkan ponsel menunggu Naira keluar.
"Zain?" Panggil Naira Sontak membuatnya menegakkan kepala mengulas senyuman memperlihatkan lesung pipinya menatap pujaan hati.
Naira juga tersenyum terlebih saat menghirup aroma parfum khas Zain yang selalu menghangatkannya.
Selama beberapa saat mereka tersenyum merasakan aliran cinta yang menggetarkan hati.
***
"Ra Ay....." Ajak Sasa yang baru saja keluar membuyarkan keduanya.
Sementara Sasa sendiri melongo menatap Zain yang tampan dan senyumannya sangat manis.
Zain menatap Sasa yang terlihat rapi lalu melirik Naira. Wajahnya terlihat bingung.
"Za. Naira juga ikut yah?" Tanyanya membuat Zain sedikit membulatkan mata terkejut.
Dengan cepat Sasa menggelengkan kepala menata pikirannya lalu memasang wajah datar khasnya. "E'hem!" berdehem "Om dan Tante menitipkan Naira kepada saya. Jadi saya harus mengikutinya kemana pun!" Ucapnya mengenakan kepala.
"Oh.. gitu. Ya.... udah silahkan!" Zain tersenyum kecil sambil membuka pintu mobil untuk Sasa.
***
Setelah sampai di lokasi, Naira bersama Sasa juga Zain sedang berjalan di pinggir pantai, tiba-tiba....
"Halo semuanya!" Sapa Joy membuat Zain semakin terkejut membulatkan mata melihat Joy dan Angga yang juga ada di pantai.
Zain menelan saliva lalu tersenyum kecut "ka..lian di sini juga ternyata he..!"
"Loh kok kamu di sini Joy?" Tanya Sasa sedikit heran.
"Kaka sendiri ngapain di sini? Bukannya ngurus suami malah ditinggal!" Balas Joy semakin membuat Zain tertekan.
"Siapa bilang ditinggal. Tuh orangnya!" Sasa menunjuk Rio yang sedang berjalan menghampiri mereka.
Zain semaki melongo melihat Rio, perasaannya tiba-tiba lemas dan lagi-lagi harus menelan saliva dengan susah payah. Level kejutannya meningkat saat itu juga. Niatnya mengajak Naira jalan berdua malah jadi reunian.
"Halo Naira, halo semuanya!" Sapa Rio.
"Kak Rio beneran datang?" Tanya Naira mengulas senyum. Zain meliriknya dengan tatapan sendu sambil menggeleng kecil. Sangat jelas Naira terlihat bahagia menyambut mereka.
Semua terlihat bahagia dan memancarkan senyuman lebar terkecuali Zain yang dari tadi tersenyum kecut. Kepalanya jadi pening seketika.
__ADS_1
Sabar Zain ini ujian...! Wkwk
Bersambung...