Mata Hatiku

Mata Hatiku
25. PERAYAAN RS PERMATA KASIH


__ADS_3

"Kemarin Naira memberitahu ku kalau kalian punya rencana untuk liburan. Dan... Aku diminta untuk menemaninya sekalian bantu minta ijin sama Om dan Tante." Balas Sasa membuat Zain sedikit mengerutkan dahi.


"Aku belum berani memberitahu ayah dan ibu tentang hubungan kita. Makanya aku minta bantuan Sasa." Sambung Naira.


Zain menunggingkan senyum kecil. Lalu melirik Joy, Angga dan Rio.


"Terus kalian?" Tanya Zain masih melirik mereka.


"Kamu ingat tiket liburan gratis yang diberikan pihak kantor bulan lalu?" tanya Angga dan Zain pun mengangguk.


***


Beberapa jam setelah Sasa menerima tawaran liburan dari Zain...


"Pak. Tolong hubungi Sasa aku mau bicara!" Pinta Naira kepada pak Yayat.


"Baik Non!" Dengan cepat pak Yayat menghubungi Sasa.


"Derr... Derr.."


"Halo Assalamualaikum!" Sahut Sasa dalam telepon lalu dengan cepat pak Yayat memberikan kepada Naira.


"Waalaikumsalam Sa." Balas Naira.


"Naira?"


"Iya Sa. ini aku pake nomor pak Yayat!"


"Ada apa Ra?"


"Mhh.. Zain ngajak liburan ke pantai besok! Kamu bisa kan bantu aku buat ijin sama ayah dan ibu?" Lirihnya.


"OK! Tapi sesuai perjanjian ya aku harus ikut biar bisa mastiin langsung!"


"Mm...." Naira sedikit berfikir "iya deh!" Lanjutnya.


"Ok bentar lagi aku ke rumah kamu!"


"Makasih!" Naira menutup telepon.


**APARTEMEN SASA-RIO**


"Siapa yang nelpon baby?" Tanya Rio yang duduk di samping Sasa bersama dengan Joy.


Hari itu Joy kembali berkunjung ke apartemen mereka sekalian berencana makan malam bersama.


"Naira! Katanya besok mau liburan ke pantai sama Zain!" Jawabnya sambil meletakkan handphonenya di atas meja.


"Kamu mau ikut dengan mereka? Rio kembali bertanya.


"Iya dong! Aku harus pastiin Zain itu sebaik apa kepada Naira!" Balasnya membuat Joy membulatkan mata terkejut.


"Ok!" Rio mengangguk mendengar istrinya.


Biasanya Sasa akan ngotot jika memiliki keinginan atau rencana, itu sebabnya Rio tidak lagi berbicara panjang lebar.


"Ya udah aku mau siap-siap dulu!" Beranjak dari duduknya.


"Yah. Makan malamnya?" Tanya Joy.


"Bentar doang kok! Aku janji pulang cepat dan masak buat kalian!" Balasnya berlenggak meninggalkan mereka.


Rio dan Joy kompak melirik jam dinding yang menunjukkan 17 : 20 sore hari.


Sebenarnya mereka yakin nggak yakin Sasa akan pulang tepat waktu. Terutama Rio, dia sangat hafal kalau Sasa dan Naira bertemu pembahasan mereka tidak akan ada habisnya, bisa ngobrol sampai berjam-jam.


"Kakak yakin biarin ka Sasa ngikutin mereka?" bisik Joy.

__ADS_1


"Mm... yakin nggak yakin sih!" tersenyum kecut menatap Joy.


***


Diam-diam Joy nge-chat Angga.


"Assalamualaikum, Bro!"


"Waalaikumsalam!"


"Tiket liburan lu masih adakan?"


"Ada."


"Besok liburan yuk!"


"OK!"


Sore itu dengan mudahnya Joy, Angga dan Rio sepakat ikut liburan tanpa sepengetahuan Sasa dan lainnya. Satu tiket untuk 2 orang, Joy memberikan tiketnya kepada Rio sementara Joy menggunakan tiket bersama Angga.


"Gitu ceritanya Bro! heee!" Joy nyengir kuda.


"Dasar lu yah.. Plak!" Sasa memukul kecil kepala Joy menggunakan kaleng minuman yang kosong.


"Awwhh!" Ringisnya menggosok kepala.


"Hehehe!" membuat yang lain terkekeh termasuk Naira.


"Lagian ya kak! Kakak itu main ikut aja tiket aja nggak punya!" balas Joy membuat Sasa melotot kembali mengangkat kalengnya.


"Jangan galak-galak Ra!" tegur Naira mendengar kegaduhan mereka terlebih saat merasakan pergerakan Sasa, membuat Joy tersenyum menjulurkan lidah mengolok Sasa.


Beberapa jam telah berlalu, liburan pun telah usai. Mereka harus mengakhiri kebersamaan mereka dan kembali pulang ke rumah masing-masing.


kali ini, Zain hanya pulang berdua bersama Naira. Sementara Rio dan yang lain pulang bersama.


***


"Emhh!" Naira mengerjap kan matanya dan sedikit mengerutkan dahi merasakan deru nafas Zain yang cukup dekat dengannya.


Aroma parfum khas Zain begitu dekat membuatnya gugup dan tidak berani bergerak.


sementara Zain menatap lekat wajah di depannya. Meski dalam keadaan gelap tapi dengan pencahayaan lampu jalan di depan rumah Naira, dia dapat melihat wajah indah yang halus dan putih.


jarak mereka sangat dekat, Zain meneliti wajah di depannya dari sepasang mata bulat, hidung hingga bibir ranum milik Naira.


**Hening**


keduanya saling merasakan deru napas yang semakin memburu. "DUG! DUG! DUG!". bahkan jantung mereka seakan melompat kala itu.


Zain menelan salivanya masih menatap lekat Naira. Semakin lama rasanya semakin memanas terlebih saat ini dia fokus menatap bibir ranum yang terlihat halus dan lembut itu.


***


"CUP!"


satu kecupan manis dari Zain mendarat dibibir Naira, membuatnya terlonjak membulatkan mata.


Naira mematung selama beberapa saat, badannya terasa lemas. Rasa gugup, bahagia, manis semua bercampur jadi satu.


wajahnya menegang seketika. Bagaimana tidak. Ciuman pertamanya baru saja direnggut Zain. Sementara pelakunya menunggingkan senyum kecil menatap wajah polos Naira.


Zain sendiri cukup bahagia dalam hati. Dia sudah jatuh cinta sejak pandangan pertama, tentu saja Naira menjadi pilihan hatinya yang tidak akan dia lepaskan begitu saja.


***


Jam 19 : 30 malam...

__ADS_1


Malam itu perayaan RS PERMATA KASIH yang ke 30 tahun. Beberapa jejeran dokter ahli, baik karyawan RS maupun bukan dari berbagai bidang kesehatan telah berkumpul. Juga beberapa pengusaha ternama dalam negri yang merupakan kerabat dokter Rehan selaku Dirut RS nampak hadir.


dari kalangan pengusaha sudah tentu salah satunya adalah pak Bimo yang saat ini merupakan CEO MH Hotel. Yang tak lain ayah dari Zain.


Mereka merayakannya di sebuah gedung mewah yang terletak di pusat kota. Tak hanya kalangan dari bidang kesehatan, tapi beberapa perwakilan dari pihak media datang untuk meliput rangkaian perayaan itu.


Meski terkesan tertutup, tapi mereka masih diperbolehkan mengambil beberapa gambar, namun cukup dibatasi. Mereka tidak diizinkan mengambil rekaman seenaknya jika tidak ada arahan dari pihak penyelenggara.


***


Saat itu, dokter Rehan terlihat berjalan di atas red karpet memasuki ruangan, ditemani oleh Piola.


Penampilan Piola yang terlihat memukau malam itu membuat pasang mata melihatnya dengan memuji.


Gadis cantik dalam balutan maxi dress glitter tanpa lengan berwarna silver. Bagian dada hingga punggung terbuka sehingga memperlihatkan belahannya.


Disaat mereka berjalan sambil mengembangkan senyum menyapa para tamu yang hadir. Lain halnya dengan Zain, kehadirannya malam itu sebuah paksaan dari sang papa.


"Selamat malam dokter Rehan! hehehh!" Sahut pak Bimo menjabat tangan dokter Rehan.


"Malam pak. Bu. heheheh!" balasnya menjabat tangan papa dan mama Zain.


"Malam Om Tante!" Piola melebarkan senyumannya menyapa mereka. "Hay Zain apa kabar?" sapanya masih tersenyum lebar seperti tidak ada kekesalan dalam hatinya.


"Hay!" balasnya menunggingkan senyum kecil.


Sejak mengetahui rencana perjodohan antara mereka, Zain akan selalu tertekan jika berada di tengah lingkaran keluarga itu. Belum lagi dengan papanya yang sangat mendukung perjodohan mereka.


"Selamat malam dokter Rehan, pak Bimo!" sapa laki-laki yang seumuran dengan mereka.


"Oh akhirnya yang di tunggu datang juga! heheh!" sahut dokter Rehan menjabat tangan Pak Hanung yang merupakan dokter spesialis mata RS PERMATA KASIH, juga papa dari Angga.


Malam itu, Pak Hanung datang bersama Angga, juga istri dan putri sambungnya. Tidak jauh berbeda dengan Zain, Angga juga sangat enggan jika menyangkut kebersamaan dengan keluarga baru papanya.


"Dokter Hanung apa kabar?" tanya pak Bimo yang juga menjabat tangannya.


"Alhamdulillah baik, hehehe!


ketiga keluarga itu saling menyapa. Kemudian, dokter Rehan di temani Piola kembali menyambut tamu-tamu yang lain.


"Duduk di sana yuk!" Zain menunjuk meja yang kosong.


Dalam balutan jaz keduanya duduk berdampingan di depan meja bundar. Mereka terlihat paling tampan di pesta itu. Aura kepemimpinan terpancar dari mereka, membuat gadis-gadis melihat dengan terpesona.


Terutama Zain, yang memang merupakan calon pewaris hotel ternama dalam negri.


"Bro tumben lu datang?" tanya Zain menepuk bahu Angga.


Angga menunggingkan senyum kecil "Yah lu tau sendirilah bro gimana murkanya pak tua itu kalo gue sampe nolak!" balasnya melirik papa dan keluarganya yang duduk lebih jauh dari mereka.


Zain menggelengkan kepala mendengar jawaban sahabatnya.


"Rasanya aneh yah?" sahut Zain membuat Angga melirik dengan dahi mengkerut.


"Aneh?"


"Baru beberapa jam lalu kita seneng-seneng, sekarang malah berada ditempat yang tidak kita inginkan!" balasnya dengan berat dan Angga hanya menunggingkan senyum kecil.


***


"Hay, ngobrolin apa sih? serius banget?" tanya Piola tiba-tiba.


Angga dan Zain sontak melirik Piola yang berdiri di depan mereka. Tapi tak hanya Piola, melainkan bersama sahabatnya. Model cantik yang bernama Ayumi.


"Kami boleh duduk?" tanya Ayumi dengan senyuman lebar dan Zain pun mengangguk, sedangkan Angga melirik dengan raut tidak senang.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2