
**RUMAH ZAIN**
Pagi itu, sang Surya telah menampakkan sinarnya menghiasi sudut kota.
Melalui celah gorden yang tidak tertutup rapat, sinarnya memancar menembus kaca jendela menerpa wajah laki-laki yang sedang tertidur.
Wajahnya terlihat tampan meski saat tertidur. Dia sedikit terusik saat merasakan cahaya yang terang dan hangat menerpa, membuatnya perlahan membuka mata.
Zain mengangkat tangan menutupi wajahnya dari sinar matahari, lalu beranjak dari tempat tidurnya.
Zain menuang segelas air lalu berjalan membuka tirai sampai sinar matahari menerangi isi kamarnya.
Dia berdiri menghadap jendela meneguk airnya sambil melirik weker di atas meja, sontak membuatnya membulatkan mata.
"Uhuk. Uhuk."
Hampir saja tersedak melihat weker yang sudah menunjukkan jam 08:30!
Zain berlari ke kamar mandi dan bersiap. Hari ini mereka akan ke lokasi pemotretan yang jaraknya cukup jauh.
Setelah mandi, dengan cepat Zain memakai baju kaos lengkap dengan jeans jogger. Karena terburu-buru dan badannya masih sedikit basah membuat jeans yang akan dia pakai susah masuk.
Zain sedikit melompat memasang jeansnya. Belum lagi kemejanya yang masih tergeletak di atas kasur, bahkan rambutnya yang basah belum disisir sama sekali.
Saat itu, dengan terburu-buru Zain mengeringkan kepalanya dengan handuk, itupun hanya bagian depan yang sempat dia keringkan.
"Derr... Derr..."
Di tengah kesibukannya seorang diri, tiba - tiba handphonenya berdering membuatnya terpaksa harus mengangkat panggilan dari Joy.
"Assalamualaikum!" Jawabnya.
"Waalaikumsalam, Za kamu di mana? Udah siang loh!"
"Iya! iya! Bentar lagi OTW." Balasnya sambil menyisir rambut yang terkesan asal-asalan dan langsung memutus telpon.
**AREA PARKIR KANTOR**
"Gue yang nelpon kok dia yang matiin sih?" Gerutu Joy memandang handphonenya.
"Telpon balik aja!" Sahut Angga yang duduk bersandar di sampingnya sambil memejamkan mata, membuat Joy mengerucutkan bibir memutar bola matanya.
Saat itu mereka berada dalam mobil milik Joy dan bersiap untuk ke lokasi pemotretan.
**RUMAH ZAIN**
Setelah selesai menata rambutnya, Zain dengan cepat memakai tas selempangnya dan membawa kemeja pendek yang akan dia gunakan nanti sebagai outer.
Selama ini ciri khas berpakaian Zain selalu memakai kaos oblong dipadukan dengan outer kemeja pendek dan kadang - kadang memakai kemeja panjang jika diperlukan.
Zain berlari kecil menuju ruang tengah berpamitan dengan mamanya.
"Ma aku berangkat yah!" Pamitnya.
"Tunggu Za!" Panggil mamanya membuatnya menghentikan langkah berbalik.
"Makan dulu!" Mengangkat sepiring roti yang dipegangnya.
Dengan cepat Zain mengambil sepotong roti langsung memakannya sambil melangkah cepat.
"Za!" Kembali memanggil, membuat Zain sedikit ketus.
"Apa lagi? Zain buru-buru MA!" Balasnya dengan mengerutkan sedikit wajahnya.
__ADS_1
"Sepatunya!" Menunjuk kaki Zain membuat yang punya kaki sontak menunduk melihat kedua kakinya.
Saat itu Zain menggunakan kaos kaki abu-abu bersiap berangkat, tapi saking terburu - burunya sampai lupa memakai sepatu.
"Mamaaa... Kenapa ngga bilang dari tadi sih?" Rengeknya seperti bocah laki-laki umur 5 tahun.
"Heheheh!"
Raut wajahnya semakin mengkerut memandang mamanya dan Bi Mimi yang terkekeh melihat tingkahnya.
"Ini Den sepatunya!" Bi Mimi memberikan sepatu dan langsung dipakai oleh Zain.
**AREA PARKIR KANTOR**
20 menit kemudian...
"Ga, Joy?" Panggilnya dengan napas terengah.
Zain berdiri di samping mobil Joy membungkuk mengatur napasnya yang hampir terputus. Joy menurunkan setengah kaca mobilnya.
Angga dan Joy meneliti wajah Zain yang penuh buliran keringat, belum lagi rambutnya yang kusut.
"Abis lomba maraton di mana Za?" Tanya Angga dengan wajah datar seperti tidak sedang bercanda.
Zain tidak mampu menjawab, masih berusaha mengumpulkan napasnya.
"Rambut kamu juga berantakan gitu?" Angga Kembali bertanya dengan raut wajah yang sama.
Dan lagi-lagi yang ditanya belum menjawab apa-apa, malah terlihat mengerikan keringat di wajahnya.
"Tau nih, kaya abis di bonceng bang Komeng dengan kecepatan 100 km / jam." Sambung Joy.
"HAHAHAH!" Angga dan Joy kompak.
Zain hanya menunggingkan senyum melihat kejahilan dua tamannya yang berharga itu. Meski sedikit konyol tapi Zain menyayangi mereka.
Setelah ketiganya berada dalam satu mobil, Joy langsung mengemudi meninggalkan area parkir menuju lokasi pemotretan.
**RUMAH NAIRA**
Hari itu Naira tidak ikut ke restoran, bukan karena tidak ada Zain. Tapi melainkan dia ingin menemani Ibunya yang sedang tidak enak badan.
"Bu, makan dulu yah, ini Ayah tadi masakin bubur!" Sahutnya yang sedang duduk di samping ibunya.
Setelah ibunya selesai makan, dia meraba kotak obat yang berada di atas meja lalu memberikan kepada ibunya. Obat tersebut juga di siapkan oleh Ayahnya.
Terkadang terbesit di hatinya harapan agar bisa segera melihat kembali, agar dia bisa menjadi lebih berguna bagi kedua orang tuanya. Terlebih di situasi seperti ini.
Meskipun orang tuanya tidak pernah keberatan dengan keadaannya. Mereka tetap tulus menyayangi Naira sama seperti saat sebelum kehilangan penglihatan.
"Bu, Naira minta maaf yah karena Naira tidak bisa menjaga dan mengurus ibu dengan baik saat sakit seperti ini." Lirihnya.
"Ibu ngga apa-apa nak. Jangan berbicara seperti itu lagi yah!" Mengelus kepala Naira.
Naira mencoba meraba arah keberadaan wajah ibunya dengan perasaan yang dimiliki. Lalu mengulas senyum.
"Makasih ya Bu!" Balasnya masih menatap lurus ke arah ibunya. Matanya memerah begitu juga dengan ibunya.
"Anak ibu harus kuat yah! Insya Allah kamu akan segera melihat. Memeluk Naira.
Naira merasakan kehangatan pelukan ibunya sampai rasanya tidak ingin melepaskan.
"Aku sayang Ibu sama Ayah!" Mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Heheh..Ibu juga sayang sama kamu!" Melepaskan pelukan. "Sekarang kamu juga istirahat ya!" Sambungnya mengulas senyum.
Naira membantu Ibunya memakai selimut lalu kembali ke kamarnya. Dia tidak dapat melihat tapi dengan kepekaan yang dimiliki dia sudah menghapal dengan jelas keadaan dan tata letak barang setiap ruangan.
Sejak kehilangan penglihatan, tidak ada satupun barang yang letaknya diubah. Masih sama seperti saat dia masih bisa melihat dengan jelas, sehingga membuatnya mudah menghapal. Dia seakan masih melihat ruangan - ruangan itu dengan jelas.
Naira duduk di kursi sambil memegang kotak bening keberuntungannya. Perlahan mengambil satu buah permen, lalu membukanya.
Naira memakan permen rasa jeruk itu sambil mengingat kembali tentang Zain, membuatnya tersipu.
Hari itu adalah hari pertama, dari 5 hari kedepan mereka tidak akan saling bertemu. Baru hari pertama rasanya sudah sangat lama.
Kalau saja Zain tidak ada kerjaan di luar, sudah pasti saat ini mereka bertemu di restoran.
"Di hari pertama terasa sedikit berat, bagaimana dengan 4 hari kedepannya. Apakah akan terasa lebih berat?" Batinnya sambil memeluk kotak keberuntungannya.
Sejak saat Zain memberikan secarik kertas, dia menggunakan kotak itu dan menamainya dengan kotak keberuntungan.
Untuk pertama kalinya dia merasakan kehangatan seseorang selain orang tua dan orang terdekatnya. Bersama Sasa dia selalu merasa nyaman. Tapi saat bersamaan Zain, kehadirannya selalu dia nantikan.
Semakin Naira memikirkannya semakin ingin rasanya segera bertemu. Kedua pipinya sudah mengembang tersenyum.
"Derr... Derr..."
Suara getaran handphone yang di atas meja membuyarkan lamunan Naira. Naira meraba ponsel dan menjawab telepon.
"Halo, Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam!"
"Sasa??" Panggilnya mengulas senyum.
"Apa kabar Ra?"
"Baik. Kamu sendiri gimana bulan madunya?"
"Lancar, di sini pemandangannya sangat bagus. Sayangnya kamu ngga ada. Lain kali aku akan ajak kamu kesini!" Celotehnya membuat Naira terkekeh.
"Kamu gimana sih Sa? Baru juga 2 hari kamu malah bikin rencana lagi."
"Hehehh.. Yah ngga papa direncanain aja dulu."
"Iya deh."
"Gimana Om dan Tante. Sehat?"
"Ayah lagi di restoran, kalau ibu lagi ngga enak badan." Lirihnya.
"Semoga tante lekas sembuh, titip salam yah sama mereka!"
"Iya nyonya Sasa Dwi Arianti.. eh udah Nyonya Rio yah sekarang?? Heheh. Balasnya menggoda sahabatnya.
"Hehehh.. dasar Yunaira Putri!"
"Hehehh!" Keduanya kompak.
"Udah dulu ya Ra! Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Naira menggelengkan kepala "Dasar Sasa!" Ucapnya mengulas senyum kembali menyimpan handphonenya.
Bersambung...
__ADS_1