
**KEESOKAN HARINYA**
Zain dengan penuh semangat mendayu pedal sepedanya kembali menyusuri pinggir jalan dan sesekali membunyikan krincing sepedanya.
Senyumannya yang manis memperlihatkan lesung pipinya menghiasi pagi yang cerah, menyapa para pejalan kaki yang dia lewati.
Saat melewati Boutique, Zain meneliti sekitar berharap bisa melihat sosok gadis yang mencuri perhatiannya itu, tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Naira.
Sejak pertama melihat Naira, Zain selalu mencari keberadaan Naira di sekitar Boutique bahkan dia sengaja berangkat lebih awal hanya untuk menunggu gadis yang mencuri perhatiannya pada pandangan pertama.
Zain berhenti tepat di depan Boutique tempat Naira duduk kemarin. Setelah meneliti dan menunggu beberapa saat, sayangnya pagi itu hanya beberapa merpati indah yang sedang berterbangan menghiasi taman.
Membuatnya sedikit berkecil hati. Zain menatap langit dan mengamati beberapa merpati yang terbang bebas mengepakkan sayapnya.
"Hhhhhh!" menghela napas. Zain menunggingkan senyuman kecil lalu kembali mendayu sepeda meninggalkan taman.
Zain tidak menyerah begitu saja. Hari berikutnya dia kembali menunggu sosok Naira di depan taman dan lagi-lagi tidak menemukannya.
Zain pun terpaksa kembali mendayu sepedanya dan saat itu terasa sedikit lebih berat.
Untuk pertama kalinya dia merasa tertarik dengan seorang gadis hanya dengan sekali melihat saja, tapi justru membuatnya dalam suasana hati yang sulit.
Hari kedua tidak ada hasil, hari ketiga juga belum ada kabar yang dia temukan, tapi Zain tetap kekeh setia menunggu Naira setiap hari di taman meskipun hasil yang didapat sama saja.
Hal itu terus dia lakukan tanpa dia sadari ternyata sudah seminggu dirinya mencari sosok Naira, gadis bermata bulat dengan senyuman yang menawan.
Tepat satu minggu, hari itu lagi - lagi Zain harus menelan kekecewaan dalam hati karena yang ditunggu tidak muncul.
Zain kembali menatap sendu langit yang berwarna biru bersama beberapa kumpulan merpati yang terbang bebas mengepakkan sayapnya dengan indah.
Ada harapan yang digantungkan kepada merpati itu, Zain berharap agar merpati itu dapat menyampaikan harapannya, bahwa ada hati yang sedang menunggu dan tetap setia menunggu sampai takdir kembali mempertemukan.
Meski berat tapi Zain mencoba tersenyum menatap langit dan sekitarnya lalu perlahan kembali mendayu sepedanya.
"Kring."
Sebelum meninggalkan tempat itu dia selalu membunyikan krincing sepedanya sekali berharap hari berikutnya mereka akan bertemu.
**KANTOR**
Zain duduk di depan meja kerjanya dengan wajah murung seperti orang yang kalah taruhan lotre.
"Hust! Hust!"
Joy mencoba menegur Zain tapi yang dipanggil tidak merespon tetap larut dalam wajah murungnya. Tiba-tiba terbesit di hatinya untuk menjahili Zain.
"Zain ada Piola tuh!" Ucapnya menggoda Zain membuat yang digoda terlonjak dari posisi duduknya.
"Hah. Mana?" dengan panik Zain bertanya mencari keberadaan Piola.
__ADS_1
"Di rumahnya Kali Heheheh!" balas Joy dengan terkekeh melihat tingkah panik Zain.
"Hhhhhh" menghela napas.
"Astagfirullah Joy kira - kira dong kalo mau ngerjain. Sebut nama yang lain kek biar ngga serem!"
"Hehehh. Sorry, abisnya dari tadi dipanggil nggak dijawab!"
Zain memutar bola matanya lalu kembali duduk.
"Ada apa sih?" tanya joy menepuk pundak Zain dan yang ditepuk langsung menjelaskan.
***
"Mhhh, kamu tau namanya?" Joy kembali bertanya setelah mendengar penjelasan temannya itu, tapi Zain hanya menggelengkan kepala.
Joy melirik kamera milik Zain di atas meja "Tapi ada fotonya kan?" dan lagi-lagi Zain hanya menggelengkan kepala.
"Ya ampun Zain!!! tiap hari kamu bawa kamera buat apa kalo foto dia aja kamu nggak sempet. Biasanya kamu aktif jepret sana jepret sini kalau ada sesuatu yang menarik!"
"Yah kan beda cerita. Aku juga nggak sengaja liat dia jadi nggak kepikiran!"
"Sekarang kamu mikir deh, namanya aja kamu nggak tau, fotonya juga nggak ada. Terus kamu mau nyarinya gimana? Ini udah seminggu, kamu yakin masih ingat wajahnya?"
Joy terus berceloteh di depan Zain membuatnya semakin frustasi dan memasang wajah masam.
"Menurutmu ada cara lain nggak biar gampang nyari dia?" tanya Zain dengan nada berat.
***Hening***
"Mmm! gimana kalo kita gambar atau lukis aja terus kita sebarkan! Hem.??" Joy tersenyum lebar memperlihatkan barisan gigi depannya.
"Maksudnya, aku yang jelasin ciri-cirinya terus kamu yang gambar gitu?"
"Gimana keren kan ide gue?" mengangkat kedua alisnya memuji diri sendiri.
"Ha! Ha! Kamu pikir kita lagi nyari orang hilang? lagian juga kamu nggak punya bakat menggambarkan? "
"Emm.." menggaruk kepala. "Yah namanya juga ngasih saran bisa diterima bisa nggak. Heee!"
"Heeee" Zain hanya bisa nyengir kuda.
"Udah yah bahas masalah ini nanti aja! aku punya hal yang lebih penting." Joy menarik kursinya sejajar dengan Zain lalu duduk.
"Masalah apa? Jangan bilang masalah menyangkut koleksi model - model baru incaran kamu!" balas Zain sambil membuka file-file di komputernya.
"Cek" berdecak.
"Nggak bro, kali ini aku serius butuh bantuan kamu!"
__ADS_1
"Bantuan?" Zain tetap fokus menatap layar komputer.
"Iya, seminggu lagi sepupuku nikah. Aku mau kamu yang jadi fotografernya!"
Zain menoleh menatap Joy. "Harus banget gue bantu?"
"Yah haruslah bro. Pleace yah! yah!" menggoyangkan bahu Zain.
"Ok!" balas Zain tersenyum tipis.
"Asyik thanks Bro." Joy mengepalkan tangannya diikuti Zain lalu melakukan tos ala mereka.
**RUMAH NAIRA**
Naira sedang mempersiapkan baju yang akan dipakai di acara Sasa. Sebuah dress yang indah berwarna biru muda dengan lengan pendek dan bawahan kombinasi luaran kain tile sangat cocok untuk Naira yang berwajah tenang serta murah senyum.
"Tok. Tok. Took."
"Ibu boleh masuk ngga Ra?"
Naira menoleh ke sumber suara. "Silahkan bu!" balasnya dengan lembut
"Ceklek" Suara pintu dibuka
"Wah anak ibu lagi apa?" menghampiri Naira
"Ini bu, Naira lagi nyiapin baju buat nikahan Sasa." tersenyum mengangkat gaunnya
"Cantik sekali Ra, coco buat kamu"
"Yang bener bu? Sasa sendiri yang pilihin katanya warna biru ini sangat cocok untuk Naira." Naira tersenyum bahagia tatapannya berbinar.
Melihat wajah Naira yang bahagia membuat ibunya ikut senang dan mengelus kepala Naira dengan lembut.
"Naira sangat beruntung punya teman perhatian seperti Sasa."
"Bener bu, katanya kami akan menjadi sahabat selamanya. Heee!" kembali tersenyum lebar.
"Oh ya bu, kemarin Sasa juga ngomong katanya dia percaya suatu saat aku juga bisa kaya dia menemukan orang yang bisa mencintai dan melindungi." dengan lirih Naira menjelaskan keada ibunya.
" Sasa ngomong gitu?"
"Iya, menu..rut Ibu... mungkin nggak suatu saat nanti aku bisa melihat lagi dan bertemu orang seperti yang dikatakan Sasa?" Tatapan Naira yang berbinar berubah menjadi sendu.
Mendengar anaknya membuat hatinya ter-cubit dan langsung memeluk putrinya.
"Ibu juga yakin kok, Naira berdoa terus ya sama Allah!" mengeratkan pelukannya dengan mata berkaca-kaca.
Naira tersenyum kecil dalam pelukan ibunya mendengar apa yang diucapkan.
__ADS_1
"Sekarang Naira istirahat yah, udah larut!" melepas pelukannya dan Naira hanya mengangguk.
Bersambung...