
**NUSANTARA RESTO**
"Dia ada di belakang!" suara pelayan yang terdengar tiba-tiba mengejutkan Zain.
Zain mendongak melihat pelayanan laki-laki yang berpakaian kemeja putih dipadukan dengan celana kain hitam yang ada di depannya.
"Di belakang?" sedikit bingung.
Pelayanan itu menyodorkan album menu. "Namanya mba Naira, kamu cari diakan?" tanya pelayan itu sambil tersenyum kecil sedikit menggoda Zain.
Zain hanya menunggingkan senyum kecil, sedikit heran dengan ucapan pelayan itu.
"Tadi pagi aku liat ko." celoteh pelayan itu membuat Zain sedikit malu-malu mengingat kejadian tadi pagi.
"Bapak tau aja sih!" balasnya menggaruk kecil dahinya yang tidak gatal lalu menunduk tersenyum kecil terlihat salah tingkah.
Melihat tingkahnya membuat pelayanan itu melebar senyuman lalu berbalik meninggalkannya.
Zain memesan makan siang dan minuman yang manis, semanis dengan senyuman dan perasaannya terhadap Naira.
Setelah beberapa menit pesanan sudah datang, dan kembali yang mengantarkan bapak yang tadi.
"Tuh orangnya udah keluar!" sambil meletakkan pesanan Zain di atas meja.
Mendengar ucapan pelayan, Zain langsung menoleh mencari keberadaan Naira. Ternyata selain mengantarkan pesanan bapak itu juga mengantarkan informasi. Heee!
Tepat seperti ucapan pelayan itu, Naira duduk di dekat jendela yang tidak jauh dari meja Zain. Dia terlihat sedang asyik membaca buku.
Lagi-lagi Zain tidak bisa menahan senyuman. Tapi kali ini dia harus tetap menjaga kewarasannya tidak bisa membiarkan bunga dalam hatinya bermekaran terlalu lama.
Zain tiba-tiba merasa canggung di hadapan pelayan, terlebih lagi sepertinya dia mengetahui isi hatinya.
"Mhh,, bapak kenal dengan di..a?" tanyanya ragu-ragu.
"Tentu, dia itu Mba Naira putri pemilik restoran ini."
"Yang bener pak?" kembali bertanya dengan sedikit terkejut dan pelayan itu membalas tersenyum mengangguk.
Mendengar hal itu semakin membuat Zain optimis untuk mendekati Naira. "Kalo jodoh mah nggak kemana." Seperti itulah yang ada dibenak Zain sekarang.
Sekali lagi Zain melirik Naira lalu kembali menatap pelayan. "Tapi ko nggak pernah keliatan pak selama ini?"
"Mh,, itu karena dia pernah mengalami kecelakaan."
"Kecelakaan?" kembali terkejut, Zain merasa penasaran dengan ucapannya. Tapi pelayan itu tidak berani lagi mengatakan apa-apa.
__ADS_1
"Maaf yah saya masih ada pekerjaan." Pelayan itu meninggalkan Zain yang masih merasa penasaran.
Mengingat Sudah 2 tahun dia bekerja dan dia sering makan di Nusantara Resto. Tapi baru kali itu dia melihat sosok Naira.
Kalau Zain yang sedang dalam fase berbunga-bunga, lain halnya dengan Joy yang sedang dalam fase menduga-duga.
Siang itu Angga membawa Joy makan di kantin kantornya. Angga makan dengan lahap sementara Joy dari awal sampai di kantin menopang dagu dan tidak mengatakan apapun.
Makanannya tidak disentuh sama sekali. Dalam benak Angga saat ini Joy selain irit bicara dia juga irit makan.
"Joy, lu kenapa sih dari tadi melamun?"
"Hhhhh." Menghela napas.
"Aku lagi mikir." jawabnya singkat.
"Tapi cara mikir kamu tuh nggak biasa Joy."
"Gitu yah?" menatap Angga dengan sendu.
Angga tidak ingin buang waktu dengan bertanya panjang lebar tapi dapat jawaban yang tidak mengenakkan. Dia meraih tangan Joy lalu memberikan sendok.
"Udah mikirnya, sekarang makan!"
Joy awalnya enggan makan perlahan mencicipi dan lama kelamaan makan dengan lahap, ternyata dia baru sadar kalau sebenarnya dia lapar saking sibuknya mikirin Zain. Hhmm ada-ada aja tingkah mereka.
**NUSANTARA RESTO**
"Ah." terkejut.
Untuk kesekian kalinya hari itu Naira dikejutkan dengan sura laki-laki yang terdengar sama. Naira hanya mengangguk perlahan.
Zain duduk meneliti wajah cantik di depannya itu. Tanpa disadari perlahan bunga-bunga kembali bermekaran di hatinya bahkan kali ini penuh dengan warna warni.
Naira tidak berani mengangkat wajahnya, dia hanya menggenggam bukunya semakin kuat. Rasa gugup menyelimutinya sampai pada saat tiba-tiba hembusan angin mengeluarkan aroma parfum khas Zain.
Semakin lama semakin kuat, namun terdapat percikan kelembutan saat menghirupnya membuat Naira merasa ada kehangatan di sekitarnya.
Rasa itu belum pernah ada sebelumnya sehingga mengundang rasa penasaran di hatinya. Perlahan dia menegakkan kepalanya mencoba melihat lebih jelas sosok di depannya.
Lagi-lagi setitik cahaya putih berembun dilihatnya, Naira semakin mengangkat pandangannya dan melihat bayangan abu-abu kecokelatan yang samar.
Zain dengan stelan kemeja pendek berwarna putih, kulitnya yang sawo matang terpancar saat duduk tersenyum manis di depan Naira, senyuman yang sangat mempesona.
Semakin lama Naira menatap dia seakan merasa di hatinya bahwa Zain sedang memperhatikannya dalam senyuman.
__ADS_1
Sekali lagi penglihatannya tidak sepenuhnya hilang, dia bisa menebak kilasan warna dan dengan instingnya dia dapat merasakan senyuman dari wajah Zain. Naira tersenyum tipis dan sedikit malu-malu.
Zain melirik buku yang dipegang Naira, dan terkejut melihat buku istimewa itu. Buku yang berbeda dari biasanya dan tidak sembarangan bisa memakainya.
Dengan instingnya Naira dapat menyadari saat itu perhatian Zain bukan hanya tertuju kepadanya melainkan apa yang dia pegang saat itu.
Naira sedikit berkecil hati, dan merasa gugup. Baru kali ini ada orang asing mendekatinya dan rasanya sedikit berbeda. Rasa itu lebih berwarna.
Naira perlahan menarik lalu menutup bukunya. Hatinya sedikit menciut menyadari keadaannya yang sebenarnya.
Zain yang peka mengalihkan pandangannya lalu membuka suara memecah suasana canggung itu.
"Boleh aku berteman denganmu?"
Kata pertama yang terucap dalam senyumnya memecah kecanggungan diantara mereka.
Wah, kali ini kejutan yang didapat Naira sejak pagi bertambah.
"DUG. DUG. DUG."
Hanya mendengar kata "berteman denganmu." yang terucap dari Zain membuat jantung Naira seketika berdetak lebih cepat.
Rasanya seperti ada getaran yang membuatnya sedikit bersemangat, tapi juga menjadikannya lemas. Sulit mengucapkan balasan dari ucapan Zain.
**Hening**
"Aku Zain, nama kamu siapa?"
Dengan lembut kembali bertanya dan membuat Naira terlonjak membulatkan matanya. Zain dapat melihat jelas dari raut Naira yang terlihat kaget dan malu-malu.
"Ak..ku Naira." lirihnya.
Mendengar Nama itu langsung dari mulut manis Naira membuat Zain tersenyum puas.
Zain meraih tangan Naira yang semakin menguatkan genggamannya pada buku yang dipegangnya. Lalu menautkan kelingkingnya dengan kelingking Naira.
Membuat yang punya kelingking terlonjak membulatkan matanya merasakan sentuhan itu. Cara kenalan yang unik dari Zain.
Biasanya orang pada umumnya berkenalan dengan berjabat tangan, tapi Zain justru menggunakan janji kelingking sebagai simbol perkenalan.
"Mari berteman!" ucapnya sambil menatap Naira.
Zain kembali mengeluarkan suara lembut. Kali ini Naira tidak lagi berkecil hati, melainkan tersentuh. Tidak menyangka perbedaan diantara mereka tidak menjadikan penghalang pertemanannya dengan Zain.
Naira hanya membalas anggukan dan kini keduanya tersenyum dengan saling menautkan kelingking.
__ADS_1
Diam-diam ada pak Yayat (35), pelayan laki-laki yang tadi sedang tersenyum bahagia melihat adegan yang sweet itu.
Bersambung...