Mata Hatiku

Mata Hatiku
15. Amarah Piola


__ADS_3

"Berani kamu main-main dengan..ku!" Gumam Piola dingin. Matanya memerah memancarkan amarah yang kuat.


"HAAAA..!" Teriaknya. "PRAAANGG!!!" Suara pecahan vas bunga yang melengking mengikuti teriakannya saat melemparkannya ke lantai.


Piola merasa kepalanya seperti mendidih dan wajahnya memancarkan amarah yang besar. "Zaain!!!" Ucapnya dingin dan kedua sudut matanya berlinang. "Akan ku buat kau berlutut kepadaku!!" Menggertakkan giginya diiringi dengan tetesan air mata yang mengalir di kedua pipinya.


Saat itu Piola terlihat sangat kacau. Wajah dan rambutnya kusut. Sangat jauh berbeda dengan citranya sebagai Putri Direktur RS yang cantik bak model.


***


"PIOLA?" Panggil dokter Rehan yang terkejut saat memasuki ruangan Piola.


Piola hanya berdiri dengan tatapan lurus. Deraian air matanya semakin membesar kala mengingat balasan Zain setelah semua yang dilakukan selama bertahun-tahun menunggunya.


"Apa yang terjadi? Siapa yang membuatmu seperti ini?" Tanya dokter Rehan merapikan rambutnya putri kesayangannya.


"Hiks. Hiks. " Terisak. "Aku nggak terima Pa! Hikss.. Aku nggak terima diperlakukan seperti ini!" Bersandar dalam pelukan Papahnya.


Mendengar perkataan anaknya. Dengan mudah dokter Rehan menebak siapa yang membuat Piola seperti itu. Kini bukan hanya Piola yang merasakan amarah tapi juga dokter Rehan.


Dokter Rehan membawa Piola duduk di sofa dan menenangkannya. Perlahan mengusap air matanya yang mengalir deras.


"Piola! Kamu tidak perlu menangis hanya untuk laki-laki seperti Zain! Papa akan pastikan dia membayar semua ini!" Ucapnya dingin.


"Bener Pah? Hiks!" Lirihnya menatap kedua mata papanya dan dokter Rehan mengangguk meyakinkan anaknya.


"Suster?" Panggil dokter Rehan.


"Iya Dok!" Balas salah satu perawat.


"Tolong beritahu CS untuk bersihkan ini, dan bantu persiapkan kamar lain!" Perintahnya.


"Baik Dok!"


Saat itu juga Piola dipindahkan ke kamar VIP yang lain. Dia sedang mengalami gastritis dan harus dirawat selama beberapa hari untuk memastikan pemulihannya.


Pada dasarnya Piola hanya meminta perhatian kepada Zain, laki-laki yang sangat ia dambakan. Tapi, dalam kondisi sakit pun Zain mengabaikannya membuat hatinya seperti tertusuk.


Meski Piola anak dari Direktur RS, berparas cantik dan terlahir dari kalangan atas serta selalu mendapat semua yang diinginkan dengan mudah. Bukan berarti hidupnya yang dijalani sesempurna yang terlihat.


Contohnya kasih sayang. kehilangan sosok ibu sejak dia masih kecil, membuatnya sedikit manja dan terkesan egois. Dia selalu mencari perhatian yang lebih termasuk Zain. Dia hanya ingin bersama dengan orang - orang yang dia sayangi.


***RUMAH ZAIN***


Malam itu, setelah bertemu dengan Naira. Zain sengaja kembali ke rumah orang tuanya. Dia sangat tahu kalau saat ini melarikan diri ke apartemen bukanlah sikap yang baik.


Cepat atau lambat Papanya akan tau seperti apa perlakuannya terhadap Piola saat itu.


***


"BERHENTI!" Teriak pak Bimo membuat Zain menghentikan langkahnya saat melewati ruang tamu.


"Papa?"

__ADS_1


"LANCANG KAMU. BERANI-BERANINYA KAMU MELAWAN PERINTAH PAPA ZAIN!!!" Bentaknya dengan tatapan tajam.


"Tap..."


"PLAKK!" Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya.


........................


Zain merasakan telinganya berdengung beberapa saat. Lalu menatap Papanya dengan sendu.


"PAPA??" Teriak Mamanya berlari memeluk anaknya. Sedangkan Zain hanya berdiri dengan mata yang memerah.


"Papa? Papa nggak boleh menampar Zain! Dia anak kita Pa! Sahut mama Zain dengan panik.


"MAMA! Mama tidak perlu membela anak kurang ajar seperti dia! menunjuk wajah Zain. "Kalau saja Papa tahu dia akan tumbuh seperti ini, papa akan mengirimnya ke LA bersama dengan Yoga dari dulu!" Ucapnya dengan nada bergetar.


***


Zain duduk termenung di dalam kamarnya. Untuk pertama kalinya dia mendapat tamparan dari papanya hanya gara-gara Piola. Bahkan dulu waktu dia memutuskan untuk tinggal di apartemen karena tidak ingin terus-menerus dipaksa untuk mengambil alih MH Hotel, Papanya tidak semarah itu.


"Tok. Tok."


Suara ketukan dari pintu membuyarkan lamunannya. Zain menatap ke arah pintu dan melihat mamanya membawa sebuah nampan yang berisi kompresan dan juga makanan.


"Ah. Duh. Duduh.. Pelan - pelan Ma!" Ucapnya saat kompresan mendarat di sudut bibirnya yang lebam.


"Kamu gimana sih Za? Papa nyuruh kamu menemui Piola malah menemui cewek lain!" Balas mamanya.


"Joy yang beritahu mama. Tadi mama telpon dia!"


"Joy kamprett... Tidak bisa jaga rahasia!" Batinnya.


"Kamu nggak perlu malu sama mama!" Sahut mamanya.


"Siapa yang malu?" Balasnya dengan cepat mengambil cemilan menghindari kontak mata. Membuat mamanya mengulas senyum.


"Jadi kamu nggak mau kenalin sama mama nih? Godanya.


"Mama apaan sih?" Tersipu seketika mengingat Naira.


"Yakin nih nggak mau kenalin ke mama?" Kembali menggoda.


Zain menatap mamanya dengan lekat. "Ma, kalau Zain pilih gadis yang sederhana dan memiliki keistimewaan? Mama bakalan menerima nggak?


Mengerutkan dahi "Maksud kamu?"


"Mm..." Tiba-tiba gugup. "Mm... Gadis yang Zain sukai, gadis yang sederhana Ma. Dia tidak pandai berhias berlebihan tapi aurahnya melebihi gadis pada umumnya. Dan...."


"Em, terus?" Tanya mamanya sedikit penasaran kelanjutan cerita Zain.


"Beberapa tahun lalu dia mengalami kecelakaan membuat penglihatannya terganggu." Lirihnya.


"Maksud kamu terganggu?"

__ADS_1


"Iya Ma. Tapi ngga sepenuhnya ma, dia masih bisa melihat kilasan warna yang mencolok." Balasannya.


"Za. Mama tidak pernah mengajarkan kamu untuk menilai seseorang atau membeda-bedakannya dari segi fisik. Termasuk pasangan yang kamu pilih!" Jelasnya mengulas senyum.


"Mama memang yang terbaik!" Menggenggam tangan mamanya.


"Oh yah. Tadi kamu bilang dia masih bisa melihat kilasan warna yang mencolok. Itu artinya dia masih bisa sembuhkan?"


"Katanya harus operasi donor kornea ma. Tapi sampai saat ini belum ada yang cocok!" Balasnya kembali teringat dengan perkataan pak Yayat saat pertama kali bertemu.


Beberapa Minggu lalu...


"Mh,, itu karena dia pernah mengalami kecelakaan."


"Kecelakaan?"


"Iya, 2 tahun lalu saat perjalanan menuju ke kampus, non Naira kecelakaan mobil sampai kehilangan penglihatannya."


"Terus kuliahnya gimana pak?"


"Terpaksa berhenti. Nanti setelah dapat donor kornea yang cocok dan bisa kembali melihat lagi, pasti akan lanjut kuliah!" Jelas pak Yayat.


"Donor kornea?" Tanyanya.


"Maaf yah saya masih ada pekerjaan." Pelayanan itu meninggalkan Zain yang masih merasa penasaran.


Kurang lebih seperti itulah percakapan mereka saat pertama kali Zain menemui Piola di restoran.


***RS PERMATA KASIH***


"Halo! Gue butuh bantuan. Cari tahu hari ini Zain kemana dan siapa gadis itu!" Ucap Piola saat menelpon seseorang lalu dengan cepat memutuskan panggilannya.


"Kita lihat saja, sampai kapan kamu jual mahal??" Gumamnya menunggingkan senyum licik.


Piola kembali berbaring sambil menunggu informasi dari suruhannya. Selama 3 hari ke depan dia harus mengistirahatkan badannya di ruangan yang bernuansa putih itu. Tapi tidak dengan otaknya yang terus mencari akal.


Saat itu Piola merasa muak bersikap lemah. Sudah sepatutnya dia bertindak lebih keras demi mendapatkan Zain seutuhnya. Terlebih dari informasi dia dapat, kalau Zain memiliki incaran.


Tentu saja Piola tidak ingin membiarkan wanita yang tidak dia ketahui asal usulnya menggantikan posisinya begitu saja. Kalau dia saja yang bertahun-tahun tidak bisa mendapatkan Zain, maka yang lain lebih tidak berhak.


Piola terus memancarkan senyum licik, aurahnya mendominasi menekan ruangan yang bernuansa putih itu.


***RUMAH ZAIN***


"Mama do'a kan yang terbaik untuk kalian! Tapi mama minta tolong yah, kamu harus menemui Piola besok dan minta maaf!"


"Baik Ma!" Mengulas senyum memperlihatkan barisan gigi depannya yang rapi, bersama lesung pipinya yang membulat. Senyuman yang sangat manis.


"Ya sudah, mama tinggal yah!"


Setelah mamanya keluar, Zain merebahkan badannya menatap langit - langit. Kalau dipikir-pikir, sikapnya kali ini sedikit berlebihan dan benar kata mamanya kalau dia berhutang maaf.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2