
Setelah melewati perjalanan yang panjang, akhirnya Zain bersama kedua temannya sampai di tempat tujuan.
Sebuah resort yang cukup mewah menjadi tempat persinggahan mereka sore itu. Kali ini mereka kembali melakukan pemotretan dengan tema out door.
Setelah makan malam, mereka bertiga beristirahat di kamar masing-masing.
**ESOK HARI**
Pagi itu. Zain, Angga dan Joy tengah berada di lokasi pertama. Sebuah taman yang penuh dengan hamparan bunga-bunga bermekaran yang luas.
Pemandangan yang sangat indah memanjakan mata, ditambah lagi dengan hembusan angin sejuk dan wajah model-modelnya yang cantik membuat pandangan Joy berkilau.
"Wahhh keren!" Sahut Angga.
"Cantik-cantik" Sambung Joy.
"Bunganya atau modelnya yang cantik?" Zain dan Angga kompak.
"Hee dua-duanya!" Nyengir.
"Cewek aja dipikiran lu!" Sahut Zain.
"Dasar Buaya buntut kadal!" Tambah Angga.
"Hahaha mang ada?" Tanya Zain.
"Tuh di depan lu!" Menunjuk Joy. Yang ditunjukkan mengerucutkan bibir memutar bola mata.
"Hahahah" kompak.
"Udah yuk mulai keburu siang nanti!" Ajak Zain.
Merekapun mulai mengambil beberapa gambar dan video dengan baik. Beberapa model seksi itu berpose dengan elegan. Kostum yang mereka kenakan senada dengan warna bunga - bunga di taman itu.
Pemilihan warna dan bunga itu disesuaikan dengan prodak yang mereka akan iklankan.
Setelah selesai di lokasi pertama, mereka berpindah ke lokasi kedua. Lapangan golf yang hijau menyejukkan mata menjadi pilihan kedua tempat mereka akan lakukan pemotretan.
Karena hasil potretan itu akan dimuat di majalah dan juga akan ditayangkan melalui tayangan tv maka mereka membutuhkan spot-spot yang indah menambah kesan alami untuk menarik peminat yang lebih banyak.
Setelah dua lokasi mereka selesaikan, mereka kembali ke resort untuk beristirahat. Malam itu Zain, Angga dan Joy duduk di halaman belakang resort di bawah langit yang penuh bintang. Mereka sedang melihat kembali hasil potretan mereka untuk memastikan hasil memuaskan.
3 hari telah berlalu...
**RUMAH NAIRA**
Malam itu Naira kembali menikmati hembusan angin malam melalui jendela kamarnya. Dia berdiri sedikit menyenderkan badannya di dinding dekat jendela.
Dia terlihat sedikit berbeda, wajahnya sedikit tertekuk bahkan buku yang biasanya dibaca, hanya tergeletak di atas meja. Tangannya memegang kotak bening keberuntungannya.
Permen yang diberikan oleh Zain semakin berkurang jumlahnya. Naira mengambil satu permen lalu membuka dan memakannya perlahan. Rasa manisnya sedikit berkurang malam itu.
Naira memejamkan mata merasakan hembusan angin menerpa wajahnya dan dinginnya yang menusuk. Suara bising kendaraan yang lalu lalang menggema membuatnya sedikit merasa seperti seakan melihat keadaan yang terjadi malam itu.
Seumur-umur Naira tidak pernah merasakan perasaan yang sangat menganggu hati dan pemikirannya. Seperti ada sesuatu yang hilang dan menyisahkan ruang kosong dalam hatinya.
**RESORT**
Tidak jauh berbeda dengan Naira. Zain yang sedang berbaring di kamar juga merasa tidak tenang. Pandangannya menatap langit-langit selama beberapa saat, tapi malah membuatnya merasa bosan sendiri.
__ADS_1
Dengan cepat merogoh saku celananya lalu mengunyah permen rasa jeruk kesukaannya. Tapi ntah kenapa rasanya sama saja, pikiran dan hatinya bergejolak sepertinya sedang dilanda rindu akut.
Zain merasa dirinya saat itu sedang membutuhkan udara segar dan memutuskan untuk berjalan - jalan di sekitar resort yang selama ini belum pernah dia lihat.
Dengan cepat Zain beranjak dari pembaringannya lalu meraih kemeja yang bermotif kotak-kotak, tak lupa juga memakai topi hitam.
Hembusan angin sedikit lebih dingin malam itu. Zain berjalan kecil sambil memasukkan kedua tangannya dalam saku celananya sedikit menghangatkan dirinya.
Zain duduk di pinggir kolam resort. Waktu telah menunjukkan jam 22 : 00 malam. Keadaan lebih sunyi, sebagian besar pengunjung sudah beristirahat termasuk Angga dan Joy.
Zain duduk menikmati kesendiriannya sambil menatap bintang-bintang di langit.
"Boleh duduk?"
Suara wanita yang tiba-tiba terdengar membuatnya mendongak menatap pemilik suara.
"Boleh!" Menunggingkan senyum.
"Tumben kamu keluar sendiri jam segini? Biasanya ditemani Angga dan Joy." Tanya Ayumi salah satu model.
"Nggak papa. Lagi bosen aja di kamar sendiri!"
"Sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu?" Menyodorkan minuman kaleng dan langsung diambil oleh Zain.
"Ku tebak pasti sedang merindukan pacar?" Kembali bertanya.
Zain menunggingkan senyum lalu meneguk minumannya. "Kami belum pacaran!" Balasnya.
"Perempuan itu nggak suka dengan laki-laki yang suka menggantung hubungan! Mereka lebih suka diperhatikan dan mendapat kepastian!"
Zain melirik Ayumi sedikit tertarik dengan perkataannya.
"Kalau kamu suka langsung bilang suka! Jangan kelamaan PDKT, keburu ditikung nanti nyesel loh!" Meneguk minumannya.
Ayumi menunggingkan senyum. "Aku sudah beberapa kali bekerja sama dengan kamu, baru kali ini aku lihat kamu resah hanya seorang perempuan. Aku pikir kamu malah tidak tertarik dengan perempuan."
"Uhukk!" Zain sedikit tersedak mendengar perkataan Ayumi.
"Eh maaf-maaf! Kamu nggak papakan?" Menepuk bahu Zain.
"Tidak papa!" Menggelengkan kepala.
"Sepertinya kamu cukup berpengalaman dalam hubungan seperti ini?" Tanya Zain.
"Heemm,, aku pernah merasakan pahit manisnya hubungan. Jadi sangat tahu rasanya seperti apa saat menjalani hubungan yang menggantung."
"Ada juga yang berani menggantung hubungan dengan gadis cantik sepertimu?" Ledeknya membuat Ayumi sedikit tersenyum.
"Perempuan biasanya memiliki rasa khawatir yang tinggi dan sensitif, itu sebabnya dia lebih suka laki-laki yang perhatian!"
"Lalu bagaimana dengan materi?"
"Tidak dipungkiri materi memang menjadi hal penting bagi perempuan memilih pasangan. Tapi perasaan bahagia tidak dapat diukur hanya dengan materi! memiliki pasangan yang memiliki materi berlimpah tapi tidak diimbangi dengan perhatian dan kasih sayang nggak ada artinya."
Zain menatap serius wajah Ayumi yang terlihat sedikit sendu, seperti sedang mengingat sesuatu yang tidak berkenan dihatinya.
"Uang memang seperti segalanya, tapi tidak semua bisa dibeli dengan uang." Jelasnya.
"Kamu benar, uang tidak dibawah mati meskipun terkadang kalau tidak punya rasanya mau mati!" Balas Zain.
__ADS_1
"Hehehh!" Kompak.
"Udah tengah malam aku balik kamar dulu yah!" Pamitnya meninggalkan Zain.
Di sisi lain, ada Angga yang dari tadi memperhatikan mereka. Saat Ayumi berjalan melewatinya dengan cepat Angga berlindung di balik bunga yang berukuran besar.
Angga menatap punggung Ayumi yang semakin menjauh, dua kaleng minuman ditangannya dia genggam dengan erat.
Setelah cukup puas menenangkan diri dan sedikit berbagi dengan Ayumi. Zain Sedikit merasa legah dan kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
***
Singkat cerita. Waktu menunjukkan pukul 07 : 00, Zain bersama dengan yang lainnya sedang berkemas. 5 hari telah mereka lewati dan saatnya untuk kembali ke rumah setelah menyelesaikan pekerjaannya.
***
Zain, Angga dan Joy berjalan kecil di koridor resort.
"Derr... Derr..."
Zain merogoh handphonenya dalam saku dan melihat panggilan masuk dari papanya, membuat Angga dan Joy sedikit membulatkan mata.
"Assalamualaikum Pa!"
"Waalaikumsalam. Za hari ini kamu langsung ke rumah sakit yah! Piola sedang sakit dan dirawat."
Mendengar perkataan Papanya membuat raut Zain berubah, ada rasa tidak suka dengan yang perkataannya. Jelas-jelas rencananya untuk langsung menemui Naira tapi malah dipaksa menemui Piola.
"Tapi Pa Zain masih di lokasi. Lagipula masih ada urusan yang lain." Balasnya.
"Urusan lain ditunda dulu!"
"Tidak bisa pa!" Balasnya.
"Urusan apa yang lebih penting daripada Piola?" Tanya papahnya dengan nada bergetar.
"Tapi Pa?" Baru saja ingin menyangga.
"TIDAK ADA TAPI-TAPI! Bentaknya. "Jangan kira papa tidak tahu! hari ini kerjaan kamu selesai lebih cepat dan kalian akan pulang lebih awal!" Sambungnya dengan nada penuh tekanan memutuskan teleponnya.
"Hhhhhh" Zain menghela napas meredam hatinya yang mulai bergejolak.
"Kamu tidak apa-apakan?" Lirih Joy dan Zain hanya menggelengkan kepala.
"Apa ini menyangkut Piola lagi?" Sambung Angga dan Zain mengangguk.
"Yang sabar Bro!" Joy menepuk bahu Zain.
Zain menunggingkan senyum kecil "Nggak papa!" Balasnya lalu melanjutkan langkahnya.
***
9 jam kemudian (16 : 00)...
**NUSANTARA RESTO**
Naira yang awalnya lebih bersemangat dari hari-hari sebelumnya duduk di kursi outdoor restoran. Sudah berjam-jam dia duduk menunggu kedatangan Zain.
Tapi hari semakin sore yang ditunggu tidak ada tanda - tanda kemunculannya. Membuat Naira sedikit berkecil hati.
__ADS_1
"Apa mungkin dia tidak berniat menemuinya lagi?" Batinnya dengan tatapan sendu.
Bersambung...