Mata Hatiku

Mata Hatiku
7. Permen Manis untuk Rasa yang Manis


__ADS_3

Naira hanya tersenyum tipis, batinnya merasa lagi-lagi seperti ada yang sedang menyapanya melalui suara krincingan itu. Ntah kenapa setiap mendengar suara krincingan itu membuat hatinya terasa hangat.


Suara krincing itu telah berlalu beberapa detik tapi Naira masih berdiri mematung.


"Ra, ada apa?" tanya ayahnya.


"Ah." terkejut.


"Ngga ada apa-apa kok yah." balasnya.


Naira kembali melanjutkan langkahnya mengikuti sang ayah ke restoran. Sedangkan Zain dengan perasaan yang bahagia sudah memasuki gedung kantornya.


**KANTOR**


"Whoosh.. Whoosh.. Whoosh.."


Suara siulan yang menggema menghiasi ruangan saat itu, menarik perhatian Joy dan Angga yang terlebih dahulu sudah datang.


Saat itu mereka terlihat kompak dengan pose yang sama, duduk menyilangkan kaki dan kedua tangan dilipat di dada.


Keduanya sedang fokus melihat Zain yang dari masuk pintu ruangan bersiul bahagia. Joy dan Angga tidak mengeluarkan sepatah katapun selain terus mengamati manusia yang teramat bahagia itu di depannya.


Yang diamati tidak merasa sedang diperhatikan, dia berjalan berlenggak menuju meja kerjanya dan langsung duduk di kursi putar miliknya. Zain masih belum menyadari perhatian temannya dan langsung mengeluarkan kameranya untuk dibersihkan.


"Orang jatuh cinta sebahagia itu ya Ga?" tanya Joy dengan pose yang masih sama.


"Bukan sebahagia itu, tapi segila itu." Jawaban dari Angga membuat Joy berdelik. Sementara Angga dengan santai berbalik melihat layar komputer di meja kerjanya.


**NUSANTARA RESTO**


Seperti biasa. Naira duduk di pojok dekat jendela, dia sedang membaca buku miliknya. Matahari sudah semakin tinggi, sinarnya mulai menembus kaca jendela mengusik Naira.


Dia dapat merasakan kilauan matahari yang seakan menusuk. Sekali lagi penglihatan Naira tidak hilang sepenuhnya, sudah tentu dia dapat merasakan kilauan itu.


Naira menghentikan bacaannya, mengedipkan mata beberapa kali. Mata bulat, bulu mata yang lentik dan kulit wajah yang halus tampak bercahaya saat sinar sang Surya menerpa wajahnya.


Setelah beberapa saat, kilauan matahari itu terasa memudar dan dia tidak lagi merasakan panas yang menerpa wajahnya. Naira mencoba meneliti sekitarnya dan merasakan hembusan parfum yang tidak asing.


Aroma yang kuat dan mengandung kelembutan saat semakin menghirupnya. Aroma ini tidak asing baginya.


Disaat dia mencoba terus mengingat aroma itu, tiba-tiba teringat dengan sosok yang menemuinya kemarin. Spontan Naira mencoba meneliti sosok yang di depannya itu.


Bayangan putih yang sangat samar bercampur keabu-abuan dapat tergambar dalam benaknya. Perlahan dia tersenyum membuat Zain merasa meleleh melihat senyuman menawan itu.


Zain yang duduk di depannya saat itu menggunakan kaos putih dengan kemeja pendek luaran berwarna biru muda. Warna yang sangat pas dengan wajah gantengnya terlebih saat dia tersenyum memperlihatkan lesung pipinya.

__ADS_1


"Apa kabar?"


Suara khas yang agak serak tapi cukup lembut terdengar ditelinga membuat Naira terlonjak.


"Baik." lirihnya


Saat itu Naira tidak sadar menggenggam bukunya dengan kuat sampai kuku jarinya memutih. Sementara Zain hanya tersenyum tipis melihat hal itu.


Zain menggenggam tangan Naira membuat Naira terkejut membulatkan mata. Zain dapat merasakan tangan yang lembut itu terasa dingin.


Naira tidak dapat berkata apapun, dia mesra seluruh badannya dingin dan hampir bergetar. Dalam genggaman lembut Zain dia merasakan sesuatu benda yang berukuran kecil.


"Apa ini?" tanyanya dengan lirih.


"Permen." Zain melepaskan genggamannya perlahan.


Naira kembali tersenyum tipis menggenggam permen ditangannya. Suasana sudah sedikit mencair rasa gugup Naira sedikit teralihkan.


"Emm, kamu punya handphone?" sedikit hati-hati.


Mendengarkan pertanyaan Zain yang sedikit lebih pribadi membuat hati Naira bergejolak, antara bahagia dan takut. Tapi dibandingkan rasa takutnya rasa hangatnya lebih besar membuatnya mengangguk perlahan.


Anggukan kecil dari Naira memberikan gemparan besar dalam hati Zain, hatinya seakan melompat matanya berbinar. Dengan sigap dia meraba tas selempang mencari pulpen.


Zain mulai krasak - krusuk mencari pulpennya yang tidak kunjung ketemu, sementara Naira sedikit mengerutkan dahi merasakan tingkah Zain saat itu.


Otak encernya bekerja dengan baik saat itu, dia langsung mengambil satu duri mawar lalu perlahan mulai menuliskan nomor hpnya di secarik kertas.


Dimulai dari satu tusukan dia buat sampai berbentuk sebuah angka dari keseluruhan nomor hpnya.


Zain kembali meraih tangan Naira lalu memberikan secarik kertas bertuliskan nomor hpnya itu.


"Aku ngga tau, caraku sopan atau ngga. Tapi niatku tulus sama kamu. Aku ngga tau kalau meminta nomor hpmu kamu mau kasih atau ngga."


Dengan hati-hati dan lembut Zain mencoba menjelaskan maksud dan tujuannya, dan Naira cukup tenang mendengarkan penjelasannya.


"Di kertas ini ada nomorku, aku harap ketika hatimu mengingatku kamu bisa menghubungiku." Zain meyakinkan Naira dengan tenang.


Mendengar perkataan Zain yang terdengar serius membuat hati Naira sedikit tersentuh.


Lagi-lagi Naira tidak bisa berkata apapun, lidahnya terasa kelu dan sekali lagi hanya anggukan kecil yang bisa dia berikan sebagai jawaban kepada Zain.


Saat itu tatapan Zain semakin dalam dan berbinar membuat yang ditatap dapat merasakannya dengan hati.


Zain memiliki pekerjaan diluar membuatnya tidak bisa berlama-lama ngobrol bersama. Tapi baginya langka awal itu cukup memuaskan baginya. Tidak sia-sia dia bertanya dengan Angga. Good luck Zain heheh.

__ADS_1


"Assalamualaikum."


Untuk pertama kalinya dia mendengar kata itu dari Zain membuat hati Naira menghangat.


"Waalaikumsalam." menunnggingkan senyum


Zain meninggalkan restoran itu, Naira mengiringi bayang putih keabu-abuan itu perlahan menjauh.


Naira perlahan meraba secarik kertas itu mencoba membaca angka yang tertulis.


"KRING!"


Suara krincing yang indah itu tiba-tiba terdengar, tidak lama setelah Zain keluar dari restoran. Naira terkejut mendengar suara itu, dia mulai menebak mungkinkah selama ini Zain yang selalu menyapanya lewat suara krincingan sepeda.


Membayangkan hal itu membuat hati Naira tertular bunga-bunga yang bermekaran milik Zain. Naira membuka permen yang diberikan oleh Zain lalu memakannya.


Permen rasa jeruk dan wangi terasa sangat manis di lidah. Naira tersenyum bahagia menikmati permennya terlebih suara krincingan yang menghangatkan hatinya itu membuat perasaannya semanis permen dari Zain.


Sepertinya di episode ini bukan hanya Zain yang sedang jatuh cinta. Heheh.


**BANK**


"Derrr... Derrr..."


Sasa merogoh ponselnya dalam saku dan melihat "Baby." Panggilan masuk dari Rio.


"Assalamualaikum, baby."


"Waalaikumsalam."


"Baby gimana kerjaannya, kamu udah makan belum? "


"Alhamdulillah lancar. Belum nih bru mo cari makan."


"Aku bawain yah, atau aku jemput deh."


"Baby, ngga usah yah ini banyak ko tempat makan deket."


"yakin? Kamu hati-hati yah. Kalo ada apa-apa langsung kabarin! "


"Baby,, stop yaah.. kek emak-emak ta..uuuu" sedikit merengek


"Hehehehh,, iya deh." Rio terkekeh


Seperti itulah obrolan Sasa dan Rio. Sasa tipekal cuek dan rada ceroboh sedangkan Rio orangnya perhatian dan teliti.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2