Mata Hatiku

Mata Hatiku
8. Pemotretan


__ADS_3

**LOKASI PEMOTRETAN**


Saat itu Zain sedang melakukan pemotretan dengan salah satu model. Tema mereka outdoor, lebih tepatnya di pinggiran pantai.


Zain harus memotret beberapa pose di pinggir pantai, sebagai salah satu promosi wisata yang baru diresmikan itu.


Melakukan pemotretan dengan tema seperti itu tentu saja harus dihadapkan dengan pemandangan model-model yang cantik dan bertubuh seksi.


Dan yang pasti harus kuat iman, jaga mata dan hati. Tapi untungnya, Zain tidak mudah tertarik apa lagi sudah ada Naira.


Sedangkan Angga saat itu sedang bertugas mengambil gambar melalui video, yang juga sebagai bentuk promosi. Zain dan Angga tidak pernah bermain-main dalam urusan kerja.


Berbeda dengan Joy, yang dari tadi membulatkan matanya melihat model-model seksi itu, ditambah lagi bule-bule yang sedang berjemur. Membuat pandangan Joy semakin segar. Wkwkk


Zain dan Angga sedang melihat hasil potretannya dan berkonsultasi dengan model dan beberapa kru yang ada, untuk memilih hasil yang terbaik.


"Ini lumayan deh."


"Ini juga bagus."


"Menurut kamu gimana Ga?". Memperlihatkan beberapa foto.


"Ok, bagus ko." mengangguk.


Saat mereka sedang membereskan barang-barang dan bersiap untuk pulang. Zain baru menyadari kalau Joy hilang.


"Ga. Bontot mana?" meneliti sekitar


"Paling lagi ngintip bule-bule berjemur, terus ngajak kenalan." Angga ikut meneliti sisi pantai.


"Nah tuh, liat tuh!" menunjuk Joy yang sedang berbaring di atas pasir dengan posisi miring sejajar dengan bule yang berjemur.


"Buset, pake acara baring segala lagi." Zain menggelengkan kepala.


"Hahahah" kompak.


Joy berbaring di atas pasir menggunakan kaca mata riben hitam menikmati pemandangan bule-bule berjemur di depannya.


Dia sengaja memakai kacamata hitam hanya untuk menutupi dari orang sekitar kalau sebenarnya yang dia lihat hanya belahan dan tubuh seksi milik bule-bule itu.


Kesenangannya itu berlanjut beberapa saat, sampai akhirnya kedua temannya menghampiri.


"Duh.. Aduh.duh."


Joy meringis saat tangan Angga tiba-tiba menjewer telinganya. Zain dan beberapa bule yang melihat spontan tertawa.


"Sekarang cuci matanya sudah selesai, saatnya pulang!" perintah Angga.

__ADS_1


Joy berdiri dengan muka cemberut memegang telinganya yang habis dijewer.


Akhirnya mau tidak mau Joy harus ikut pulang bersama mereka. Angga berjalan sambil menggandeng Joy, takut dia kembali berbaring di atas pasir dan yang digandeng hanya pasrah, meskipun sesekali menoleh melihat bule-bule yang masih anteng berjemur.


Duh Angga sabar yah! Wkwkk


**APARTEMEN**


Malam itu Zain tiba di apartemen dengan mengendarai sepedanya. Saat di parkiran dia cukup terkejut melihat Piola.


"Piola, kamu ngapain?" sedikit terkejut.


"Kamu kemana ajasih? aku dari tadi nunggu kamu loh." bergelut manja memeluk lengan Zain, membuat yang dipeluk risih dan langsung melepaskan.


"Piola lepas, nanti diliat orang!" melepaskan tangan gadis seksi itu.


"Aku kangen sama kamu." sedikit cemberut.


"Sekarang sudah malam, kamu pulang yah!"


"Tapi aku kangen." kembali memeluk lengan Zain dan lebih erat.


Zain tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain pasrah dipeluk. Piola bersandar sejenak di bahu bidang Zain, menikmati kehangatan tubuhnya.


Setelah beberapa saat, Zain kembali melepaskan pelukan Piola dan dia terlihat lebih tenang.


Tapi bukan Piola namanya kalau langsung nurut dan nyerah begitu saja. Piola menutup pintu mobilnya membuat Zain mengerutkan dahi sedikit bingung.


**RUMAH NAIRA**


Malam itu Naira berdiri di dekat jendela kaca kamarnya. Tatapannya berbinar memegang secarik kertas dari Zain.


Tangannya kembali meraba tulisan di kertas itu, satu persatu angka yang tertulis dia baca. Aroma parfum dan setiap perkataan yang diucap Zain terngiang kembali dibenaknya.


Baru kali ini Naira merasakan perasaan yang berbeda saat bertemu orang asing. Saat ini hatinya kembali bergejolak.


Meski matanya tidak dapat melihat secara langsung wajah Zain, tapi melalui perasaan dan hatinya dia dapat menggambarkan sosoknya yang gagah, tampan dan hangat.


Saat ini hatinya mengatakan sosoknya layak menjadi temannya. Semakin dia menggambarkan sosok Zain melalui hati dan perasaan yang dimiliki semakin membuatnya merasakan kehangatan.


**APARTEMEN**


"Aku ngga mo pulang." ketus.


Piola menyilangkan tangannya membuat Zain semakin bingung cara menghadapinya.


"Piola,, ini udah malam nanti kamu dicariin!"

__ADS_1


Zain berusaha membujuk Piola dengan lembut tapi yang dibujuk tidak luluh begitu saja.


"Aku pulang kalau kamu anterin aku!"


Zain kehabisan kata-kata mendengar perkataan Piola. Dengan berat hati Zain menurutinya. Zain sudah hafal watak Piola yang manja, keras kepala dan selalu memaksakan kehendaknya sendiri.


Melawannya sama saja menghabiskan tenaga. Inilah salah satu alasan yang membuat Zain merasa tidak cocok dengan Piola, karena perbedaan sifat bawaan yang jauh dibandingkan dirinya yang lebih sederhana, tenang dan lembut juga bersifat lebih dewasa.


**RUMAH PIOLA**


"Zain masuk dulu!" ajaknya.


"Ngga usah ini udah malam, aku mau pulang istirahat!"


"Bentar aja, memang kamu ngga kangen sama aku? Selama aku pulang liburan kamu ngga pernah temui aku" dengan wajah cemberut.


Lagi-lagi Zain tidak bisa berkutik melawan Piola.


"Za. Akutuh cinta sama kamu, aku udah nunggu kamu selama bertahun-tahun." menggenggam tangan Zain.


Zain menatap mata Piola yang terlihat sendu membuatnya diposisi yang sulit. Zain tidak pernah memiliki perasaan lebih kepada Piola tapi Zain juga tidak ingin bersikap kasar setiap dia menolaknya.


Sebenarnya cinta Piola kepada Zain cukup besar terbukti selama beberapa tahun ini masih tetap mengejarnya. Tapi tetap saja cinta itu tidak bisa dipaksakan.


"Hhhhhh" menghela napas.


Zain perlahan melepaskan tangan Piola. "Maaf yah, lain kali aja aku masuk!"


Piola hanya berdiri dengan tatapan sendu mengiringi langkah Zain. Matanya perlahan berlinang menatap punggung laki-laki yang dia tunggu sejak bertahun-tahun perlahan menghilng.


Meski ini bukan kali pertamanya Zain menolaknya, tapi ntah kenapa malam itu dia merasa seakan-akan Zain akan pergi dan tidak akan ada lagi kesempatan baginya.


**APARTEMEN**


Zain kembali ke apartemennya menggunakan taxi. Malam itu pikirannya sedikit kacau.


Zain berbaring di atas kasur menatap langit-langit kamarnya. Di satu sisi dia merasa sikapnya sedikit kasar dengan Piola tapi disisi lain dia melakukan semua ini agar Piola sadar dan berhenti mengharapkannya.


Zain berbalik melihat weker di sampingnya. Waktu telah menunjukkan jam 11 malam, dia masih memiliki beberapa kerjaan yang harus dia selesaikan besok.


Dia ingin tidur mengistirahatkan tubuhnya, tapi pikirannya melayang. Berulang kali dia memejamkan matanya tetap saja tidak bisa tertidur.


Tiba-tiba dia teringat selebaran kertas yang diambilnya dari kantor 2 minggu lalu. Dia beranjak dari kasur lalu merogoh tas selempang miliknya.


Kertas itu terlihat lusuh bahkan hampir sobek tapi masih bisa dibaca dengan jelas.


Zain menatap kertas itu lalu menunggingkan senyum memperlihatkan lesung pipinya yang membulat di kadua pipinya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2