Mata Hatiku

Mata Hatiku
18. Semerbak Lavender Saksi Cinta


__ADS_3

**RUMAH PIOLA**


Piola duduk memandangi layar handphonenya. beberapa foto Zain bersama Naira telah di kirimkan oleh orang suruhannya.


Bahkan saat di rumah sakit pun Piola sudah mendapat beberapa informasi mengenai Zain yang tengah memiliki teman dekat.


Itu juga menjadi salah satu alasan dia dengan sengaja menahan Zain untuk tinggal lebih lama menemaninya kemarin!


Tatapannya menyala memandang foto itu. Tampak jelas senyuman dari Zain untuk Naira sangat tulus. Membuat Piola memendam amara.


Saat itu juga Piola menjadikan Naira musuhnya secara sepihak.


"Jadi ini gadis yang tidak tahu diri itu!" Ucapnya dingin lalu menunggingkan senyum licik.


Piola menatap bingkai foto di atas meja. Yang merupakan foto masa kecilnya bersama dengan Zain.


"Aku sudah menghabiskan waktu untuk menunggu!" Gumamnya dingin. "Akan kupastikan Zain menjadi milikku seutuhnya!! Hhaa.ha.hah!!! Tertawa licik dengan tatapan menusuk.


***


Sesuai perjanjian, sore itu Naira berdiri tepat di depan pagar coklat rumahnya menunggu Zain.


"KRING!"


"Ah!" Terkejut.


Suara krincingan yang tiba-tiba terdengar sangat dekat dengannya membuat Naira menegakkan kepalanya mencari sumber suara itu.


Bayangan putih bercampur kekuningan bak lensa yang berembun menyambut pandangannya. Tidak lama kemudian hembusan parfum khas Zain tercium olehnya membuat Naira mengulas senyum.


Naira seperti merasa seakan pernah berada dalam posisi seperti itu sebelumnya.


Tentu saja. Saat itu Zain sengaja mengenakan pakaian yang sama seperti saat pertama kali dia melihat Naira di taman depan boutique.


Kaos putih oblong dengan outer kemeja kuning lengan pendek dipadukan dengan celana jeans.


Naira tidak hentinya mengembangkan senyuman. Dalam hati bersorak, terjawab sudah teka-teki suara krincing dan pemiliknya.


Tidak jauh berbeda dengan Naira. Zain juga cukup terpesona melihat sosok Naira yang berkulit putih, dengan rambut terurai sama seperti saat pertama dia melihatnya.


Dalam balutan dress hitam semakin memancarkan aura kulitnya yang putih, memiliki wajah bulat dan chubby. Mata yang bulat, hidung yang masih tergolong mancung dan bibir tipis.


Naira terlihat manis dan cantik alami membuat Zain melihatnya berbeda dari gadis yang lainnya.


Zain membawa Naira ke suatu tempat menggunakan sepeda miliknya. Meski memiliki segalanya, tapi Zain lebih nyaman dengan menggunakan sepedanya jika hanya bepergian dengan jarak dekat.


Sore itu. Di bawah pohon yang rindang jenis trembesi, Zain menuntun Naira berdiri merasakan hembusan angin.


Bentuknya yang menyerupai payung hijau lebat membuat angin terasa sejuk saat berada di bawahnya.


"Tempat apa ini?" Tanya Naira sedikit bingung. Dia seperti merasa belum pernah ke tempat itu sebelumnya saat merasakan tiupan angin menerbangkan rambutnya yang terurai.


Zain membawa Naira untuk lebih dekat dengan pohon itu. Lalu menuntunnya merentangkan kedua tangannya.


Angin semakin terasa kencang. namun, cukup sejuk membuat Naira perlahan memejamkan matanya. sementara Zain yang berdiri di sampingnya menatap lekat.


Naira merasakan aroma wangi parfum Zain yang khas membuat perasaannya hangat. Tapi, kali ini bercampur dengan aroma bunga yang semerbak mewangi.


***


"Lavender!" Lirihnya. "Taman bunga Lavender! Benarkan?" Lirihnya menebak masih merentangkan kedua tangannya.


Aroma yang melekat seketika membangkitkan energi positif dan membuat pikirannya lebih fresh.


"Mm! Benar!" Balasnya serak namun cukup lembut.

__ADS_1


Naira menurunkan tangannya perlahan membuka mata melirik keberadaan Zain. Bayangan putih bercampur kekuningan yang buram bak lensa berembun kembali menyambutnya.


"Dari mana kamu tahu ada tempat seperti ini?" Mengulas senyum.


Zain memandangi hamparan warna ungu bunga lavender yang cukup luas itu. "2 tahun lalu Aku tidak sengaja menemukan tempat ini! dan sejak saat itu, aku selalu kesini setiap sedang mengalami banyak tekanan untuk menenangkan diri!" Balasan menghirup aroma lavender.


"Aku suka tempat ini!" Meneliti bayangan putih bercampur keunguan yang buram bak lansa berembun itu.


Meski tidak dapat melihatnya langsung, tapi bayangan dan aroma yang lekat cukup membawanya seakan melihat keindahan tempat itu.


Zain kembali menatap Naira dengan lekat senyuman dan wajah chubby yang menggetarkan hati.


***


"Ah!" Terkejut.


Naira terkejut merasakan sentuhan saat Zain meraih tangannya. Sontak membuatnya menunduk merasakan sentuhan di tangan kanannya.


Zain menuntun Naira duduk di kursi kayu panjang yang berada tepat di bawah pohon trembesi.


Kudanya duduk berdampingan, menikmati hembusan angin menyebarkan aroma lavender yang semerbak.


**Hening**


"Naira!" Lirihnya memecahkan keheningan diantara mereka. Lalu menggenggam tangan Naira, membuat yang punya tangan kembali terlonjak.


Perlahan Naira mengangkat wajahnya menatap bayangan di depannya, dapat dirasakan olehnya sosok Zain yang menatapnya dengan lekat saat itu.


***


"Aku bukan pujangga cinta! Aku tidak pandai dalam gombalan! Aku juga tidak pintar menyalin syair dari puisi romantis, bahkan aku tidak berbakat dalam merangkai kata puitis! Menatap Lekat Naira.


Menelan saliva rasa gugup tiba-tiba menyelimuti "Tapi..! Satu hal yang ku yakini pasti..! Kembali menelan saliva dan tatapannya semakin lekat "Aku laki-laki dewasa yang jatuh cinta di saat pertama kali melihatmu!!" Ucapnya serak dan lantang menggetarkan Naira.


Sebuah kata yang terdengar klise dan sederhana, tapi mampu mengubah irama jantung Naira seakan melompat saat itu juga.


Walau sama-sama merasakan perasaan satu sama lain. Tapi tetap saja pengakuan yang tiba-tiba dari Zain membuat Naira seperti berada dalam mimpi.


Untuk sesaat Naira seperti sedang berada dalam dimensi lain yang jauh dari dunianya. Rasanya sulit digambarkan apalagi untuk dijelaskan dalam kata.


Naira perlahan menunduk sedikit tersipu dan gugup.


Zain menarik dagu Naira dengan tangannya perlahan mensejajarkan wajah dan tatapan mereka, dan Naira tidak melakukan perlawanan.


Bayangan putih keabu-abuan bak lensa berembun berada sangat dekat dengan pandangannya saat itu.


"Apa kamu memiliki rasa yang sama denganku?" Lirihnya semakin melekatkan tatapannya.


Naira tidak menjawab tapi mengangguk kecil lalu kembali tertunduk tersipu. Membuat Zain bersorak dalam hati sambil mengembangkan senyuman membuat kedua lesung pipinya membulat, bahkan matanya yang sipit hampir tertutup saking senangnya.


Sama seperti Naira, Zain juga perlahan mulai merasa tersipu setelah mendengar jawaban Naira. Meski Naira tidak bisa melihatnya tapi tetap saja ada rasa canggung yang tiba-tiba.


**CAFE**


Di sebuah cafe yang terletak di tengah kota. Barista itu terlihat membawa dua cangkir coffee latte untuk dua pria yang sibuk memainkan gadgetnya.


"Pesanannya Mas!" Meletakkan coffee di atas meja.


"Terima kasih Mas!" Sahut Joy.


"Tumben Zain ngga ikut ngumpul?" Tanya Angga melirik Joy yang fokus dengan layar handphonenya.


Biasanya di hari libur mereka bertiga selalu nongkrong bersama, tapi tidak di hari itu.


"Katanya ada urusan penting!" Balasnya masih menatap layar.

__ADS_1


"Sruupp!" Angga menyeruput coffee miliknya. "Piola lagi?" Kembali bertanya.


"Bukan!"


"Trus?" Mengangkat kedua alisnya.


Joy menyimpan handphonenya lalu menatap serius Angga yang juga menatapnya.


"Naira! Hari ini dia ngajak Naira jalan!"


"Em!" Balas Angga kembali sibuk dengan layar handphonenya. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi terkejut atau apapun.


Joy sedikit mengerutkan dahi. "EM?? Itu doang jawabannya?" Menatap Angga.


"Em!" Angga mengangguk.


"Hhhhhhh!" Joy menghela napas menenangkan pikirannya yang tiba-tiba terasa mumet dengan jawabannya Angga.


Joy yang ceria berbanding terbalik dengan Angga yang terkesan cuek. Kerap kali Joy berbicara panjang lebar tapi hanya di balas deheman, anggukan atau kata seperlunya saja oleh Angga. Sama seperti yang sedang terjadi sekarang.


Tak puas menghela napas. "SRUUUPPPP!" Joy sengaja menyeruput coffee miliknya dengan kasar sebagai bentuk protes kepada Angga yang acuh tak acuh.


***TAMAN LAVENDER**


Naira masih dalam keadaan menunduk tersipu membuat Zain semakin mengembangkan senyum.


"Kamu cantik!" Suara serak tapi terdengar lembut membuat hati yang dipuji kembali bergetar.


Naira mengangkat pandangannya menatap Zain. "Kamu juga tampan!" Lirihnya mengulas senyum.


Ntah dari mana Naira dapat keberanian membalas ucapan Zain. Tapi yang pasti saat ini dia hanya mengikuti kata hatinya, dan cukup membuat Zain semakin meleleh.


"Kamu belum pernah melihatku! Apa kamu yakin aku setampan itu?" Balasnya.


"Meski tidak melihat tapi aku dapat meyakini dalam hati!" Lirihnya.


Zain meraih tangan Naira, lalu meletakkan tangan mungil yang lembut itu di wajahnya.


Naira cukup terlonjak saat merasakan tangannya menyentuh wajah milik Zain. Terasa hangat, kulitnya halus membuat hati Naira bergejolak.


Perlahan Naira menggerakkan jemarinya meraba alis yang tidak terlalu tebal, namun juga tidak tipis. Lalu mulai meraba mata sipit milik Zain membuat yang punya mata perlahan memejamkan matanya merasakan jari-jari Naira menari seakan melukis wajahnya.


Setelah merasakan bagian mata, rasa penasaran Naira tiba-tiba muncul. Walau dia tidak berniat melanjutkan tapi hatinya berkata sebaliknya.


Dalam keadaan terpejam, Naira melanjutkan dengan lembut menyusuri hidung mancung milik Zain membuatnya sedikit menunggingkan senyum. Begitu juga Zain, senyum kecil terbentuk di wajahnya kala merasakan sentuhan lembut dari Naira.


Meski senyuman kecil namun, cukup membuat lesung pipinya terbentuk. Naira tidak sengaja menyentuh bagian itu.


"Lesung pipi?" Batin Naira saat merasakan lubang kecil dan halus itu.


Semakin jauh tangan Naira menelusuri wajah tampan itu, sampai pada saat jarinya terhenti pada bagian bibir milik Zain.


Naira merasakan dengan jelas bagian bibir atas yang lembut sementara bagian bawah lebih tebal. Membuat Naira tiba-tiba gugup dan tidak berani lagi melanjutkan lebih jauh.


Apa yang dirasakan Naira sama seperti yang di rasakan Zain. Ntah kenapa tiba-tiba merasa gugup saat merasakan sentuhan lembut Naira pada bibirnya.


Zain menelan saliva lalu perlahan membuka mata. Sementara Naira tidak berkutik, wajahnya sedikit memerah tapi jarinya masih menyentuh sudut bibir Zain.


"Apa sekarang kamu yakin kalau aku tampan?" Lirihnya mengulas senyum membuat Naira sontak menarik tangannya lalu memalingkan wajahnya seakan menatap hamparan bunga lavender di depan mereka.


Naira tidak menjawab tapi dari raut wajahnya sangat jelas tergambar, ada rasa bahagia sehingga sudut bibirnya sedikit membentuk senyuman kecil. Wajah Zain jauh lebih tampan dari bayangannya.


kedua sejoli itu resmi menjadi pasangan hari itu dengan aroma semerbak lavender yang menjadi saksi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2