
Hari bahagia untuk pasangan Sasa dan Rio telah tiba. Rio terlihat tampan dalam balutan stelan jas berwarna krem dengan dalam kemeja putih, begitu juga dengan Sasa yang tengah mengenakan gaun indah berwarna putih dilengkapi dengan butiran permata kebiruan membuatnya terlihat cantik.
Rio menggandeng tangan Sasa, keduanya telah berjalan menuju altar pernikahan bak raja dan ratu. Wajah mereka terlihat sangat bahagia.
Seluruh tamu undangan yang hadir turut bahagia melihat kedua pasangan yang baru saja sah menjadi suami istri saat itu.
Satu persatu tamu undangan menghampiri mereka memberikan ucapan selamat dan doa.
"Selamat ya!"
"Terima kasih."
"Selamat ya, semoga langgeng!"
"Aamiin, terima kasih."
Kurang lebih seperti itulah suasana saat para tamu undangan yang sempat hadir memberikan selamat kepada mereka.
Setelah beberapa tamu selesai memberikan selamat, mereka dipersilahkan mencicipi berbagai hidangan mewah yang telah disediakan.
"Selamat ya sepupuku yang cantik dan Mas Rio!" ucap sepupu laki-laki Sasa yang tidak lain adalah Joy.
"Iya, makasih!" kompak tersenyum lebar.
Setelah Joy memberi selamat kepada mempelai disusul oleh Angga dan Zain yang memberi mereka selamat.
"Sasa selamat yah!"
saat ketiganya berjalan turun dari altar suara lirih yang tidak asing tiba-tiba terdengar ditelinga Zain, spontan membuatnya berbalik.
"Ha? Naira?" batinnya membulatkan mata.
"Makasih Naira ku sayang." memeluk Naira.
Mendengar nama Naira disebut membuat Joy dan Angga spontan ikut berbalik dan melihat sosok gadis dengan balutan dress berwarna biru muda, parasnya cantik dan terlihat tenang membuat mereka ikut terpesona.
"Selamat ya nak Sasa dan Rio" Ibu Naira memeluk Sasa dan langsung disambut oleh Sasa.
"Semoga kalian langgeng!" Ayah Naira membelai lembut kepala Sasa layaknya seorang ayah kepada putri kandungnya.
Sementara Naira berdiri di samping Sasa hanya tersenyum bahagia mendengar percakapan mereka. Meski matanya tidak melihat tapi hatinya bisa merasakan dan seakan melihat suasana bahagia itu.
"Makasih Tante Om." Sasa menggenggam tangan Naira tersenyum.
Joy dan Angga cukup terkejut melihat ke keakraban Sasa dengan keluarga gadis yang bernama Naira itu.
Joy dan Angga melirik Zain yang dari tadi tersenyum menatap Naira. Matanya tidak berkedip sedikitpun membuat kedua temannya meyakini kalau dialah gadis yang dimaksud Zain selama ini.
"Itu Naira yang kamu maksudkan?" Joy menyenggol Zain.
"Iya Bener." balasnya tersenyum.
"Pantas aja kamu hampir gila dibuatnya." sambung Joy.
"Ingat, perlahan tapi pasti!" bisik Angga.
Mendengar bisikan dari Angga membuat Zain mengingat kembali perkataan temannya yang sebelumnya. Dia kembali mengumpulkan kewarasannya dan menata pikirannya.
Zain sudah bertekad untuk mendekati Naira secara perlahan untuk memenangkan hatinya, dia tidak boleh gegabah.
**SESI FOTO**
Tidak terasa waktu berlalu, kini saatnya sesi foto kedua mempelai bersama keluarga dan teman-temannya.
Joy dibantu Angga dan Zain saat itu telah mengambil beberapa gambar dan video di momen yang membahagiakan itu.
Setelah puas berfoto dengan kerabat terdekat, Sasa menghampiri Naira yang duduk menikmati hidangan pernikahan.
"Ra ayo foto!" ajaknya menggandeng tangan Naira.
Naira berdiri di samping kanan Sasa sementara Rio di samping kiri. Saat itu Sasa terlihat sangat bahagia telah diapit oleh dua orang yang dia sayangi.
Saat ketiganya telah memasang senyuman yang lebar bersiap untuk berpose. Ada Zain yang tidak kalah bahagianya berkesempatan memotret wajah pujaan hatinya.
"Ok siap, tahan yah!"
Mendengar arahan dari Zain membuat Naira terlonjak membulatkan mata melongo.
__ADS_1
"Suara itu?" batinnya.
Sasa merangkul pinggul Naira membuat yang dirangkul kembali tersadar.
"1. 2. 3."
"Cekrek"
"Cekrek"
Beberapa gambar telah berhasil Zain ambil dangan hasil terbaik.
"Zain ayo foto bareng!" sahut Joy membuat Naira kembali terlonjak.
Naira tadinya sedikit ragu, tapi setelah mendengar namanya disebut membuatnya yakin 100% bahwa dia tidak salah mengenali.
Zain mengatur posisi kamera dangan cepat, lalu berlari ke altar bergabung dengan Angga dan Joy untuk berfoto bersama mempelai.
Siapa sangka zain langsung berdiri di samping Naira membuatnya semakin terlonjak. Aroma parfum yang kuat khas Zain saat itu mendominasi altar. Semakin lama Naira menghirup aromanya yang kuat menjadi soft memberikan kesejukan.
Zain tiba-tiba merasa sedikit gugup berdiri di dekat Naira, dia tidak berani menyapanya hanya curi-curi pandang. Naira yang tidak dapat melihat dengan jelas tapi melalui hatinya dia dapat merasakan sinyal dari Zain membuatnya sedikit menunduk salah tingkah.
Beberapa gambar dari pose yang berbeda telah mereka ambil saat itu. Momen bahagia itu bukan hanya milik dari kedua mempelai tapi juga bagi dua sejoli yang baru saja merasakan sinyal - sinyal cinta satu sama lain.
Yang paling mengejutkan Naira adalah, bagian sesi foto terakhir. Angga mengedipkan mata kepada Zain sebagai isyarat dan untungnya Zain langsung paham.
Tanpa berpikir panjang Zain merangkul pundak Naira membuat yang dirangkul terlonjak membulatkan mata.
"Dug. Dug."
Detak jantung Naira seketika lebih cepat saat tangan Zain mendarat di bahunya, sementara Joy yang melihat aksi temannya spontan mengacungkan jempol.
Duh Angga dan Joy ada aja kelakuannya, untung Sasa tidak menyadari bisa digeplak tuh Zain. Heee
Sasa sangat menjaga sahabatnya itu terlebih sejak dia kehilangan penglihatannya, jadi sudah pasti dia sangat selektif menyangkut tentang Naira.
"Semuanya tersenyum ya!" sahut Joy.
"Cekrek!"
Foto terakhir telah berhasil diambil, dimana senyuman bahagia dari semua orang yang ada dalam foto itu terpancar dan hasilnya sangat indah.
"Sus liat dokter Rehan?"
"Beliau ada di ruang rapat!"
"Ok Makasih!"
Gadis cantik bertubuh seksi itu berjalan berlenggak dengan elegan bak model menuju ruang rapat, membuat para petugas RS melongo. Siapa lagi kalau bukan Piola.
"Cantik banget!"
"Cantik yah!"
"Iya, putri direktur Rehan memang cantik!"
Bisikan setiap petugas yang dia lewati menghiasi seisi ruangan RS membuat yang dipuji menunggingkan senyum puas.
"RUANG RAPAT"
Saat itu dr. Rehan (40), baru saja menyelesaikan rapatnya bersama para dokter ahli mengenai tindakan operasi yang akan dilakukan untuk salah satu pasiennya.
Para dokter satu persatu keluar dari ruang rapat dan disusul oleh dr. Rehan selaku direktur RS.
"Piola?"
"Papa!" memeluk papanya.
"Tumben anak papa datang?" mengelus kepala Piola.
"Ini Piola anak semata wayang dr. Rehan?" tanya salah satu dokter.
"Iya." tersenyum.
"Wah sudah sebesar ini semakin cantik yah!" puji dokter lain.
"Makasih om!" menunggingkan senyum.
__ADS_1
Para dokter itu pamit kembali bertugas menyisah kan Piola dan ayahnya di depan ruang rapat.
"Ada apa mencari papa hem? Pasti ada maunya kan?"
"Mhh Piola kangen aja sama papa." kembali tersenyum.
"Loh kan tadi pagi masih ketemu di rumah, ayo ada apa coba cari papa di jam kerja?"
"Mhh..." berpikir.
Piola terlihat sedikit ragu-ragu membuat ayahnya mengerutkan dahi sedikit penasaran.
"Gini pa, papakan pernah bilang kalau papa mo ajak keluarga Zain makan malam bersama.." lirihnya.
"Terus?" menyilangkan tangan.
"Ihh,, papa...!" merengek.
"Hehehe.. Iya papa akan atur semuanya.!"
"Beneran pa?"
"Iya, besok malam kita makan bersama di MH hotel!"
"Papa memang terbaik." memeluk ayahnya.
"Kalau gitu Piola pulang dulu yah pa!"
"Hati-hati! "
"Ok Bos!" berbalik meninggalkan ayahnya.
"Hehehe" dr. Rehan terkekeh mengiringi langka putrinya yang sangat ia sayangi.
**RUMAH ZAIN**
Malam itu Mama dan Papa Zain menikmati makan malam. Rumah yang begitu besar dan mewah terasa sunyi, sudah hampir 2 tahun Zain memilih tinggal sendiri di apartemennya.
Zain hanya kembali sesekali untuk menjenguk mamanya jika sedang rindu atau kalau mamanya memintanya kembali.
"Mama kenapa ngga makan?" tanya pak Bimo (40) Papa Zain.
"Mama kangen sama Zain pa!" jawabnya sambil mengaduk makanannya.
Pak Bimo meletakkan sendok dan garpunya lalu menggenggam tangan Ibu Maya.
"Mama kan bisa telpon atau datang ke apartemennya."
"Iya sih pa, tapi udah sebulan ini dia ngga pernah jenguk mama. Rumah rasanya sunyi." sedikit murung.
"Tambah adik aja bu untuk den Zain!" celetuk Art Bi Mimi (35).
"Mimi...jangan bercanda deh!" menopang dagu.
"hehehh,, saran Mimi bagus juga ma!" sambung pak Bimo menggoda istrinya.
"Papa ih." mencubit lengan suaminya malu-malu.
"Hehehe" pak Bimo dan Bi Mimi kompak terkekeh.
**APARTEMEN**
Bagi Zain, malam itu sangat berbeda dari malam-malam sebelumnya yang pernah dia lewati. Saat itu dia berdiri di teras apartemen seorang diri tanpa ditemani kedua temannya.
Pandangannya menyisiri gedung-gedung sekitar apartemen yang dipenuhi kerlap - kerlip lampu, lalu menatap langit yang penuh bintang tidak kalah cantiknya dari sinar lampu gedung-gedung sekitar apartemen.
Setelah puas memandang bintang di langit, Zain merogoh sakunya mengeluarkan permen. Satu permen rasa jeruk kesukaannya berada dalam genggamannya.
Saat Zain ingin membuka bungkusan permennya, seketika ingatannya tentang Naira kembali. Dia membalikkan telapak tangan kanannya sambil mengingat kejadian saat dia merangkul bahu Naira tadi siang.
Mengingat kejadian tadi membuat hatinya menghangat, roman-roman bunga yang bermekaran di hati Zain mulai terpancing lagi.
Dengan cepat memasukkan permen rasa jeruk itu ke dalam mulutnya, rasa manis permen yang dikunyah semanis dengan momen yang dirasakan.
Zain tertunduk menunggingkan senyum memperlihatkan kedua lesung pipinya merasa malu sendiri mengingat kejadian tadi. Bisa dibayangkan betapa manisnya tingkah dan senyuman seorang Zain saat itu. Hehehh.
Untungnya Joy dan Angga tidak ada saat itu. kalau tidak, bisa-bisa dikatain gila lagi oleh mereka. Ada baiknya Zain menyendiri biar bisa puas ngebucin, yang jomblo jangan ngiri yah! Wkwkk
__ADS_1
Bersambung...