
"Bagaimana? Apa Zain setuju meminta maaf kepada Piola?"
"Iya pa. Papa jangan marah lagi yah! Ingat kata dokter, papa tidak boleh stress!"
"Bagaimana papa nggak stress ma. Anak kita ngga ada yang nurut!"
"Pa? Apa sikap papa nggak keterlaluan? Sudah cukup papa kirim Yoga ke LA. Bahkan sudah beberapa tahun mama tidak pernah melihatnya Pa. Walau bagaimanapun dia tetap anak kita, mama yang melahirkannya!" Jelasnya dengan mata sedikit memerah.
Selain Zain. Mereka memiliki putra sulung bernama Yoga, yang saat ini tinggal di LA bersama paman dan bibinya.
Ibu Maya tidak ingin pembicaraan mereka berujung dengan perdebatan dan lebih memilih masuk kamar meninggalkan suaminya yang duduk di ruang tengah.
**ESOK HARI**
Di lantai 4 kamar yang bernuansa putih itu, Piola duduk menyilangkan tangannya dengan wajah masam.
"Aku minta maaf! Kemarin sikapku keterlaluan!" Ucap Zain dengan serak.
Piola tidak bergeming membuat Zain sedikit menggaruk alisnya yang tidak gatal.
"Ok. Sekarang katakan apa yang harus aku lakukan supaya dapat maaf darimu?"
Mendengar perkataan Zain membuatnya terlonjak seketika otaknya yang penuh akal bekerja.
"Kamu yakin?" Tanyanya sedikit melirik dan Zain mengangguk.
"OK. Sekarang temani aku ke mall. Aku bosan selama 2 hari tinggal di kamar ini!"
"Dug.....!"
Zain terlonjak membulatkan mata mendengar permintaan Piola. Bukan persoalan Piola yang belum sembuh, tapi hari itu dia sudah memiliki janji dengan Naira.
Sudah begini baru sedikit menyesal dengan perkataannya. Kalau tahu seperti ini, dia tidak akan segegabah itu melakukan penawaran.
"Tapi kamu masih sakit!" Balasnya datar.
"Aku sehat kok!" Tegas.
"Ya.. Ta..Pi tetap aja kamu harus istirahat!"
"Tapi aku bosan..!" Merengek.
"Piola, kamu itu harus dirawat. Jadi nggak boleh kemana-mana!" Berusaha menenangkan.
**KANTOR**
"Gimana projek yang kemarin udah selesai?" Angga menepuk bahu Joy.
"Belum. Mereka masih dalam proses editing!" Balasnya.
"Mhh.. moga aja pas di iklankan respon penonton bagus!"
"Aamiin!"
"Eh, Zain mana?" Melirik meja kerja Zain.
"Katanya dia harus ke RS minta maaf sama Piola!"
"Hehehh, ko bisa sih?" Angga terkekeh.
"Lu nggak tau aja, semalam Papanya marah besar sampai...."
"Sampai apa?" Penasaran.
***
"HA? KO BISA?" Terkejut dengan nada keras mendengar bisikan. Membuat Joy langsung membekap mulut Angga.
"Pelan-pelan nanti di denger yang lain!" Angga mengangguk dalam bekapan Joy.
"Lo serius? Ko bisa separah itu sih?" Bisik Angga.
"Yah, lu tahu sendiri lah Papanya seperti apa. Kayaknya sih mereka fiks bakalan jalani hubungan perjodohan ini!" Ucap Joy semakin membuat Angga terkejut.
"Hati-hati kalau ngomong! Lu kan tahu kalo Zain cinta sama Naira!"
"Ya abisnya gue lagi pusing mikir alur dan ending hubungan mereka!"
"Ya elaah.. lu ngapain mikir. Ini tuh tugas author!" Memutar bola matanya.
"Hehehh iya sih!" Terkekeh.
**RS PERMATA KASIH**
"Pokoknya aku mau ke mall!! Tadi kamu sendiri kan berjanji akan menuruti perkataanku! Pleace... Za ya! ya!" Mengangkat kedua tangannya memohon.
"Piola..!"
__ADS_1
"Cek!" Decaknya masam.
"Ok. Ok. Kita ke mall. Tapi ingat kamu nggak boleh lama-lama dan harus tetap kembali ke sini! Akhirnya Zain mengalah.
Mendengar perkataan Zain membuat Piola tersenyum lebar dan dengan cepat Menganti pakaiannya.
Saat ini mereka sedang berjala di lorong RS. Seperti biasa, Piola bergelut manja menggandeng tangan Zain. Tapi kali ini Zain tidak menolak agar permasalahan diantara mereka bisa selesai secepatnya.
Saat mereka berbelok menuju lorong pintu keluar. Ada Naira juga, terlihat sedang berjalan bersama dengan kedua orang tuanya dari arah lain. Itu sebabnya Zain tidak melihatnya.
Naira saat itu baru saja keluar dari poli mata. Selama dua tahun ini dia rutin check up dan masih menunggu donor kornea yang cocok untuknya.
**MALL**
Piola terlihat sedang memasuki brand. Dia sibuk memilih beberapa pakaian dan aksesoris dengan semangat.
Satu persatu pakaian itu dia coba, mulai dari dress mini sampai rok dan stelan one sheet. Dua hari tinggal di rumah sakit membuatnya seperti setahun terkurung di dalam goa dan baru melihat dunia luar.
"Za ini cantik nggak?" Memperlihatkan dress mininya.
"Em!" Mengangguk.
"Kalau yang ini?"
"Yang ini bagus kan Za?"
"Em. Em. Em. Em!" Hanya itu jawaban Zain yang terlontar setiap Piola bertanya.
"Ih Za, kamu dari tadi jawabnya Em. Em. terus sih?" Ketus.
"Iya. Iya cantik kok!" Tersenyum kecil dan untungnya mood Piola langsung membaik.
Tak cukup berbelanja pakaian dan aksesoris. Piola kembali masuk ke brand sepatu. ada puluhan model high heels yang terpajang dalam etalase membuatnya tercengang.
"Mba ada yang bisa saya bantu?" Tanya karyawan.
"Saya lagi cari heels mba!" Sambil memilih.
"Kebetulan kami punya stok model baru dan sangat cocok dengan mba!
Piola mengikuti karyawan itu sedangkan Zain hanya duduk sambil menunggu. Wajahnya sedikit tertekan merasakan pikirannya yang lagi-lagi terbagi antara Naira dan Piola.
***
"E'hem!"
Suara deheman membuyarkan lamunannya. Zain mendongak dan cukup terkejut membulatkan mata.
Selama beberapa saat Zain tidak mengatakan apapun. Bagaimana tidak, dia tiba-tiba melihat Naira berdiri di depannya. Kaki yang putih dan mulus dibalut heels berwarna merah dan beberapa taburan mutiara indah semakin memancarkan aura kulitnya yang cerah.
***
"Gimana cantikan?"
Suara Piola kembali membuyarkan Zain dan terkejut sedikit mengedipkan mata. Ternyata bukan Naira melainkan Piola.
Zain yang dari tadi duduk melamun tidak menyadari kehadiran Piola di depannya.
"ZA?" Panggilnya masih memamerkan heels.
"Iya cantik!" Menunggingkan senyum kecil.
"Mba saya ambil ini yah!" Piola kembali mengikuti karyawan itu.
"Hhhhhhh!" Menghela napas. Zain menggelengkan kepalanya. Sepertinya pikirannya sudah dirasuki Naira sepenuhnya. Kalau seperti ini, dia merasa semakin tertekan berada lebih lama dengan Piola.
***
Naira bersama ibu dan ayahnya sedang berada di dalam taxi menuju ke rumahnya. Dia tidak lupa dengan janjinya bersama Zain hari itu.
"Bu. Naira turun di restoran aja yah!" Sahutnya.
Memangnya kamu nggak capek?" Menggenggam tangan anaknya.
Naira menggelengkan kepala "Nggak kok bu!" Mengulas senyum.
Setelah beberapa menit, Naira sampai di restoran dan langsung di jemput pak Yayat pelayan setia sekaligus tetangga terdekatnya.
"Pak titip Naira yah!" Sahut ibunya.
"Baik Bu!" Mengangguk.
"Ibu pulang ya Ra, kamu hati-hati!"
Naira mengulas senyum mendengar perkataan ibunya dan mendengar suara taxi kembali melaju.
Seperti biasa, Naira duduk di kursi pojokan yang berada dekat jendela dan sedikit jauh dari meja-meja pelanggan.
__ADS_1
**MALL**
Setelah puas berbelanja. Piola mengajak Zain menemaninya makan di salah satu kafe yang berada dalam mall.
Piola terlihat menikmati makanannya sementara tidak dengan Zain. Dia hanya memesan secangkir kopi latte, pandangannya mengarah ke luar jendela.
Sesekali memandang jam tangannya menunggu Piola menyelesaikan makanannya yang terkesan sengaja mengulur waktu.
"Sudah siang nih, pulang yuk! Nanti papa kamu nyariin!"
"Tapikan Za, aku belum mau pulang! Bentar lagi yah makanannya juga belum habis!" Balasannya manja.
"Ya sudah, tapi setelah makanannya habis kamu harus pulang!"
Piola mengangguk tersenyum menyetujui. Sementara Zain kembali melirik jam tangannya yang sudah menunjukan pukul 14 : 30 siang.
**RS PERMATA KASIH**
Zain sedikit merasa legah setelah mengantar Piola berbelanja. Sesuai perjanjian, mereka kembali ke rumah sakit.
Piola dan Zain berjalan disepanjang lorong rumah sakit. Jangan ditanya lagi seperti apa kelakuan Piola. Saat itu Zain sudah merasa kepanasan dan rasanya ingin segera berlari pulang berada dalam gandengan Piola.
Bahkan beberapa petugas rumah sakit saling berbisik melihat mereka yang terlihat mesra.
"Itu putri Dirut Rehan kan?"
"Iya bener dan laki-laki itu seperti tidak asing!" Balas salah satu perawat.
"Itu putra CEO MH HOTEL!"
"Hah? Serius?" Sahut beberapa petugas kompak yang ada saat itu.
"Ganteng banget deh!"
"Bener, sekalipun ngga terlalu putih tapi tetap aja wajahnya mirip idol K-POP!"
"Iya bener manis dan ganteng, kekar lagi!Denger - denger sih mereka akan segera melangsungkan pertunangan!" Bocoran informasi dari salah satu perawat yang bekerja dengan dokter Rehan.
***
"Duh.. Za!" Keluh Piola menghentikan langkahnya.
"Kenapa?" Tanyanya sedikit terkejut melihat Piola tiba-tiba memegang kepalanya.
"Kepalaku tiba-tiba pusing!" Masih memegang kepalanya dengan wajah sedikit lesu.
Piola oleng dan hampir terjatuh "Kamu nggak papa?" Zain sedikit panik menopang badan Piola.
"PIOLA?" Panggil dokter Rehan menghampiri saat melihat anaknya hampir terjatuh. "Ada apa ini?" Tanya dokter Rehan panik.
"Piola tiba-tiba pusing Om!" Masih memegang Piola sementara Piola masih terus memegang kepalanya.
"Kalian dari mana sih?" Tanya dokter Rehan sedikit keras.
Zain tidak menjawab dan langsung memapah Piola masuk ke dalam kamar rawat inap yang tersisa beberapa langkah.
"Suster, tolong bantu!" Teriak dokter Rehan.
Piola terbaring di atas bad dengan cepat perawat itu membawa beberapa peralatan medis. Dokter Rehan sendiri melakukan pemeriksaan kepada Piola.
Dengan cepat melakukan pengukuran tekanan darah. Tekanan Piola sedikit rendah 90 / 60 mmHg, sedangkan nadi dan pernapasannya masih batas normal.
Sementara perawat itu sedang memasangkan infus di tangan kanan Piola.
***
"Piola kamu tidak apa-apakan? Tekanan darahmu sedikit rendah! Papakan sudah bilang kamu harus istirahat!"
"Maaf Om, ini salah Zain karena menuruti permintaan Piola padahal dia masih sakit!" Sahut Zain yang dari tadi berdiri menemani Piola.
Dokter Rehan melirik Zain dan Piola bergantian. Dokter Rehan sendiri sudah sangat hafal watak anaknya. Zain tidak mungkin membawanya keluar kalau bukan paksaan dari Piola sendiri.
"Pa, jangan marahi Zain! Ini semua salah Piola. Piola yang memaksa ke mall!" Sahutnya dengan nada lemah.
"Hhhhhh!" Menghela napas "papa nggak akan marah sama kamu, tapi kamu hampir saja membahayakan dirimu sendiri!" Menatap lekat anaknya.
"Iya pa maaf!" Mengulas senyum.
"Ya sudah. Kamu istirahat dulu! Papa masih ada pekerjaan!"
"Za. Om mau bicara sebentar sama kamu!" Sahutnya lalu meninggalkan Piola diikuti oleh Zain.
Mereka berdiri di depan pintu kamar rawat Piola.
"Za. Om tahu kamu tidak menyukai Piola. Tapi kamu lihat sendiri kan kondisinya saat ini? Sekarang yang paling dia butuhkan itu kamu! Om titip Piola ya! Tolong kamu tinggal dan jaga dia untuk sementara waktu! Biasanya dia nurut sama kamu!"
"Dug!"
__ADS_1
Mendengar perkataan dokter Rehan membuat Zain sontak terkejut. Itu artinya dia tidak memiliki kesempatan bertemu dengan Naira membuat jantungnya sedikit tidak aman.
Bersambung...