Mawar Putih Berubah Merah

Mawar Putih Berubah Merah
*Episode 14


__ADS_3

"Kak Ros, kamu tampar aku gak papa. Tapi jangan tampar kak Dewa. Karena bagaimanapun, dia adalah orang yang dulunya pernah kamu kejar mati-matian, kak."


Ucapan yang seperti penghinaan itu membuat Ros mengukir sedikit senyum. Sebenarnya, dia sangat kesal saat ini. Tapi senyum itu ia berikan sebagai perwakilan dari rasa kesal yang sekarang ia rasakan.


"Ya, dulu aku memang sempat mengejar pria ini sekuat tenaga. Karena aku merasa, dia adalah pria yang sangat baik. Aku pernah berhutang budi padanya. Karena itu, aku kejar dia mati-matian agar bisa memiliki dirinya. Tapi sayang, setelah aku mendapatkan dirinya, ternyata dia tidak sebaik yang aku pikirkan. Dan saat itu pula, aku anggap hutang budi yang aku punya sudah terbayar lunas dengan pengabdian ku selama lebih dari dua tahun menjadi istrinya."


Dewa pun langsung menatap lekat wajah Ros yang kini ada dihadapannya. Rasa sakit dari bekas tamparan Ros barusan mendadak hilang akibat kata-kata yang Ros ucapkan barusan.


"Hutang budi? Hutang budi apa maksudmu?"


"Apakah harus itu aku katakan lagi, mas? Antara kita sudah tidak ada yang perlu dibahas. Jadi, prihal hutang budi juga tidak perlu aku ungkit, bukan?"


Dewa langsung memegang tangan Ros dengan cepat. Dia sangat penasaran, karena itu tidak akan ia biarkan Ros mengabaikan perasaannya dengan cara tidak ingin mengatakan apa yang sangat ingin ia ketahui.


Sementara Ros pula, dengan kesal dia berusaha melepaskan tangan Dewa yang saat ini menggenggam tangannya. "Lepaskan! Jangan pernah sentuh aku lagi. Karena selama jadi istri kamu, kamu selalu menganggap diri ini najis yang tidak pernah ingin kau sentuh, bukan?"


"Jangan buat aku semakin kesal, Roslin. Katakan dengan jelas, hutang budi apa yang telah aku berikan sampai kamu bisa mengejar aku sebelumnya."


Sebenarnya, Ros tidak ingin mengatakan apa yang sudah berlalu. Tapi karena dipaksa, maka Ros tidak punya pilihan lain selain mengatakan apa yang sudah terjadi di masa lalu.

__ADS_1


"Sepuluh tahun yang lalu, kau adalah penyelamat bagi gadis malang yang hampir kehilangan nyata ketika hujan turun dengan lebatnya."


"Se-- sepuluh tahun yang lalu?"


"Ya. Sepuluh tahun yang lalu di tepi jalan buntu dalam gang yang sunyi."


Saat itulah, pikiran Dewa langsung mengembara kembali ke waktu sepuluh tahun yang lalu. Tepat di saat itu, hujan turun dengan sangat lebat. Seorang gadis belia yang malang sedang mengalami kecelakaan. Dia sejuk, tubuhnya menggigil karena terkena curah hujan yang sangat lebat. Kakinya yang terkilir tidak bisa ia gerakkan sedikitpun.


Saat itulah, Dewa yang kebetulan lewat melihat gadis malang itu sedang meringkuk di bawah curah hujan. Hati nurani Dewa saat itu masih berfungsi dengan baik. Saat melihat gadis yang tak lain adalah Roslin mantan istrinya saat ini, dia pun langsung menolong gadis itu tanpa pikir panjang.


Dia gendong gadis itu untuk ia pindahkan ke tempat yang terhindar dari curah hujan. Yang kebetulan, di depan gang ada gedung kosong yang ditinggalkan pemiliknya. Di sanalah Dewa meneduhkan Ros.


Saat itulah, perasaan hangat muncul dalam hati Ros tanpa diundang. Perasaan ingin memiliki Dewa karena kebaikan Dewa pun ikut muncul bersamanya.


Setelah kejadian itu, hari demi hari, Ros terus memikirkan Dewa. Rasa cinta akan pandangan pertama yang berlandaskan kebaikan Dewa itupun terus berkembang. Hingga pada akhirnya, Ros menamatkan sekolah menengah pertamanya dengan hasil yang baik.


Beasiswa masuk ke sekolah menengah atas terbaik pun ia dapatkan. Setelah hampir dua tahun menjalani pendidikan, akhirnya, Ros berhasil menemukan Dewa kembali. Saat itu, ia bertekad untuk tidak akan melepaskan Dewa lagi.


Ros yang punya sifat pantang menyerah itupun terus mengejar Dewa, meski ia sudah tahu kalau Dewa sangat jauh berubah. Hingga pada akhirnya, usaha Ros berhasil dengan Dewa yang setuju menikah dengannya meski tanpa cinta.

__ADS_1


Begitulah ingatan itu terputus. Kini, Dewa baru tahu alasan Ros yang bersikeras ingin menikah dengannya. Ternyata, Ros mencintai dia bukan karena hartanya. Melainkan, karena pandangan pertama dengan berlandaskan kebaikan yang sudah ia perbuat.


"Roslin. Jadi ... gadis kecil itu kamu?" Dewa berucap dengan nada lemah. Entah apa yang ia pikirkan saat ini. Yang jelas, Dewa seperti sedang menyesali sesuatu sekarang.


"Ya. Itu adalah aku. Gadis malang yang tidak punya siapa-siapa. Tidak punya tempat berteduh dan tidak punya sedikitpun kekuatan."


"Sebenarnya, aku sadar diri waktu itu, mas Dewa. Aku hanya anak terbuang yang malang, tapi malah ingin menikah dengan kamu. Namun, kebaikan yang telah kamu berikan padaku membuat keyakinan untuk memiliki dirimu terus saja melekat. Meski aku tahu, jika menikah, tidak ada yang spesial yang bisa aku berikan padamu. Tapi dengan cinta sejati, aku yakin bisa membahagiakan kami, mas. Namun, aku salah. Dua tahun menikah, kamu yang tidak cinta aku malah terus menyiksa diri ini. Tidak sedikitpun mengganggap ketulusan itu benar-benar ada."


Dewa terus menundukkan pandangannya selama Ros bicara. Wajah penuh sesal itu terus ia perlihatkan. Tak ia hiraukan tentang keberadaan Eva yang kini sepertinya sedang sangat cemburu padanya.


"Kenapa kamu tidak bilang alasan ini saat kamu mengejar aku, Roslin? Kenapa kamu malah diam saja, ha?"


Ros pun terkekeh. "Heh ... tidak ada gunanya aku bicara, mas Dewa. Jika kamu memang punya hati buat aku, pasti kamu sadar sendiri siapa aku, bukan? Sayangnya, kamu tidak punya hati sedikitpun. Ah! Tapi biarlah. Semua sudah berlalu dan aku sudah bebas sekarang. Jadi, tutup saja cerita lama yang sudah tidak ada gunanya lagi. Kita juga sudah punya kehidupan masing-masing. Jadi, tidak perlu diingat lagi."


"Tapi .... "


"Kak Dewa. Kamu merasa menyesal sekarang? Kamu menyesal karena telah memilih aku dan meninggalkan kak Ros?" Eva malah tidak sabar lagi sekarang. Dengan cepat dia ingin memisahkan Dewa dari pembicaraan yang sepertinya akan merugikan dirinya.


Dewa yang sedang bimbang pun langsung sadar akan apa yang sedang dia rasakan. Rasa cinta untuk Eva memang masih kuat. Karena itu, rasa bersalah pada Ros dengan mudah ia singkirkan hanya dengan beberapa kata yang Eva ucapkan.

__ADS_1


__ADS_2