Mawar Putih Berubah Merah

Mawar Putih Berubah Merah
*Episode 22


__ADS_3

"Dan lagi, kami itu tidur di satu kamar yang sama. Mana mungkin pria bisa menolak godaan wanita. Bayangkan saja apa yang aku katakan barusan. Kamu sendiri juga sangat mengerti dengan baik bagaimana sikap mas Dewa. Iya, kan?"


Wajah Eva semakin terlihat sedang tidak baik-baik saja karena apa yang Ros katakan barusan. Sementara Ros, sangat menikmati bualan yang ia buat barusan.


"He .... Aku malu sebenarnya. Ah, bukan malu, tapi kasihan padamu. Kamu yang terlalu percaya apa yang pria katakan. Itu terlalu naif, Eva. Uhu ... bukan naif, tapi bodoh. Terlalu bodoh jadi perempuan. Bikin malu perempuan lain aja kamu."


"Sudah jadi pelakor, terus bangga. Lah kemudian, malah langsung percaya apa yang prianya katakan. Hello ... nona. Pria yang kamu miliki itu adalah bekas perempuan lain. Jadi, tidak akan menutup kemungkinan, dia juga akan punya perempuan yang lain lagi nantinya."


"Cukup, kak Ros! Jangan mencoba merusak hubungan aku dengan kak Dewa. Kita ini berbeda. Aku adalah perempuan yang kak Dewa cintai, sedangkan kamu adalah perempuan yang kak Dewa manfaatkan. Jadi, antara kita itu jauh berbeda."


"Aku rasa tidak ada yang berbeda tuh. Sama aja deh kayaknya."


Ucapan Ros yang semakin lama semakin terdengar enteng membuat Eva semakin tidak kuat lagi berhadapan dengan Ros. Karena itu, dia langsung mengatakan tujuan utama dia datang ke kantor Ros saat ini.


"Heh ... sudahlah. Lupakan saja soal itu. Karena jika aku bahas beribu kali pun, kamu gak akan ngerti. Ah, sebenarnya, aku datang ke sini bertemu kamu, karena aku ingin bilang makasih padamu. Karena kamu sudah menjadi penyebab hari pernikahanku di majukan kembali oleh kak Dewa."


"Terima kasih banyak, kak Ros. Ini surat undangan buat kamu. Tapi tentunya, aku berharap supaya kamu gak akan datang ke resepsi pernikahanku. Karena aku tidak ingin tamu-tamuku terganggu karena kehadiranmu."


Ucapan yang penuh dengan makna-makna tidak enak itu Ros tanggapi dengan senyum kecil saja. Surat undangan yang Eva tinggalkan di atas meja pun, Ros ambil dengan tenang.

__ADS_1


"Jangan khawatir, nona Eva. Aku pasti akan datang. Karena kamu sudah susah payah mengantarkan surat undangan ini sendiri padaku. Jadi aku tidak akan mengecewakan kamu yang begitu tulus saat mengundang aku ini."


"Ah! Aku berasa seperti orang yang sangat penting aja sekarang. Seperti ... pak penghulu yang datang ke pesta pernikahan orang. Jika dia tidak datang, maka acaranya tidak akan jadi."


Eva langsung memberikan tatapan tajam ke arah Ros. "Jangan pernah bermimpi untuk merusak pernikahanku, kak Ros. Karena rencana kamu itu tidak akan berhasil. Aku punya kak Dewa yang siap mendukung penuh diriku. Karena itu, pikir lah baik-baik sebelum kamu bertindak."


Eva pun langsung meninggalkan ruangan Ros. Sementara Ros hanya mengiring kepergian Eva dengan senyum.


"Kamu pikir kamu bisa menghalangi aku, Eva? Sayangnya, ucapan kamu tidak aku anggap sedikitpun tuh. Kita lihat saja, siapa yang akan hancur nantinya." Ros berkata setelah Eva tidak terlihat lagi.


"Ah! Sial. Aku malah berbohong barusan. Bohong soal yang menjijikan lagi. Iii ... menggelikan." Ros masih bicara sendiri sambil memeluk tubuhnya sendiri.


...


Namun, baru juga ia membuka pintu, si asisten yang selalu mengurus semua kebutuhannya langsung muncul. Hal itu sedikit mengejutkan buat Ros.


"Nona sudah mau keluar?" Asisten itu berucap seolah ingin dia tetap ada di ruangannya.


"Ya. Aku ingin keluar. Ini jam makan siang, bukan?"

__ADS_1


"Mm ... iya, nona. Tapi sebelumnya, saya ingin bilang, tadi ... tuan muda Rahan datang ke kantor. Katanya ingin bicara dengan nona."


"Hah? Rahan datang? Kok kamu gak bilang sih?Sekarang di mana dia?" Mendadak, Ros langsung panik saat tahu Rahan datang.


Maklum, sejak kejadian makan siang yang gagal waktu itu, hubungannya dengan Rahan memang tidak sebaik sebelumnya. Mereka sama-sama menjauh karena saling ingin menjaga perasaan masing-masing.


Tetap, saat tahu Rahan datang, tentu saja Ros langsung merasa tak karuan. Hatinya yang dingin, mendadak terasa bergejolak kembali. Entah karena apa, yang jelas, rasa gugup mendadak muncul dengan sendirinya.


"Itu ... tuan muda Rahan sudah pergi lagi beberapa saat yang lalu."


"Hah? Kok bisa? Ah, maksud aku, gimana sih sebenarnya? Rahan datang, terus pergi. Itu kapan dia datang, dan kenapa ia pergi. Aku kok mendadak jadi langsung bingung sekarang?"


Si asisten malah ingin tersenyum saat melihat kebingungan yang Ros perlihatkan. Karena kebingungan itu lebih mirip seperti seseorang yang sedang panik karena di tinggalkan sendiri oleh seseorang yang ia cintai.


Selanjutnya, asisten itu menceritakan apa yang terjadi dengan pekan agar Ros bisa paham. Ternyata, Rahan datang tepat di saat Ros dan Eva sedang bicara di dalam ruangan tadi. Setelah mendengar pembicaraan itu, Rahan langsung memilih pergi. Katanya, ia tidak ingin mengganggu pembicaraan Ros yang sedang serius. Karena itu, dia memilih untuk pergi saja duluan.


Mendengar penjelasan itu, Ros pun merasa tidak enak hati. Dia langsung menyentuh kepalanya karena terasa agak pusing akibat beban pikiran yang saat ini memuncak di kepalanya.


'Rahan pergi? Apa jangan-jangan karena mendengar aku bicara soal hal yang menjijikan itu? Agh! bikin kesal aja. Semua karena aku yang terlalu emosi sebelumnya. Jadi, main bicara omong kosong aja supaya Eva merasa kesal.'

__ADS_1


'Ah, tapi sudahlah. Apa pentingnya Rahan mendengar atau tidak. Antara aku dengan dia juga tidak ada hubungan apa-apa. Biarkan dia mau berpikir apa. Orang kenyataanya, antara aku dengan dia itu memang sangat jauh berbeda. Lagipula, tidak ada juga hal yang ganjil yang aku katakan. Meskipun sebenarnya, aku merasa sangat jijik membayangkan mas Dewa yang menyentuh aku layaknya pasangan suami istri yang sesungguhnya.'


Begitulah akhirnya Ros bisa lepas dari perasaan tidak nyaman yang sedang tercipta. Dia pun memilih untuk kembali fokus dengan kenyataan hidup yang saat ini sedang ia tempuh. Dia harus bisa memberikan pelajaran berharga buat semua yang sudah menyakiti dirinya sebelumnya.


__ADS_2