
Ucapan Ros membuat Dewa langsung menoleh ke arah Eva. Karena sebelumnya, dia sudah melarang Eva untuk mengganggu Ros. Dewa juga tidak ingin Ros menghadiri pernikahannya. Karena itu, dia melarang keluarganya mengundang Ros ataupun keluarga Muroja.
"Kamu mengundang dia, Va?"
Seketika, wajah Eva pun langsung tidak memperlihatkan rasa tidak enak hati. "Mana mungkin aku datang untuk mengundang dia, kak Dewa. Bukannya kamu sendiri yang melarang aku untuk mengundang dia. Jadi .... "
"Hah? Aku dilarang untuk diundang? Ya Tuhan ... kenapa kalian tidak ingin mengundang aku? Ah! Tapi itu tidak penting. Aku datang karena sudah diundang oleh Eva. Ini surat undangannya," ucap Ros sambil menyerahkan undangan ke tangan Dewa.
Dengan berat hati, Dewa mengambil undangan itu. Dia pun merasa yakin kalo Ros tidak akan datang tanpa diundang. Dewa pun kembali melirik Eva yang saat ini diam saja. Wajah Eva pun semakin memperlihatkan rasa tidak nyaman.
Tapi, itu tidak lama. Karena detik berikutnya, Eva yang pintar mengambil hati Dewa, langsung bersikap manja kepada Dewa.
"Itu ... kak Dewa ... iya aku yang mengundang kak Ros. Aku hanya ingin dia ikut merasakan kebahagiaan yang kita rasakan. Karena itu, aku ingin dia datang. Apa kamu masih akan memarahi aku karena tidak mendengarkan apa yang kamu katakan?"
Ucapan itu sungguh langsung membuat Ros merasa mual. Nada manja yang seolah-olah diucapkan oleh anak kecil yang takut akan dimarahi orang tuanya setelah melakukan kesalahan kecil. Wajah yang polos dibuat-buat dengan sangat berlebihan.
'Apa mata Mas Dewa sudah tidak bisa melihat dengan baik ya? Perempuan seperti inikah yang sangat ia cintai selama ini. Ah, sudahlah. Tidak ada hubungannya juga dengan aku. Karena sekarang, aku akan langsung menagih hutang pada mereka. Lalu pergi meninggalkan tempat ini sesegera mungkin.' Ros bicara dalam hati.
Sementara Dewa, dia langsung luluh hanya karena ucapan Eva barusan. Entah cinta yang seperti apa ia miliki. Sungguh langsung membutakan matanya tanpa bisa ditolong lagi.
__ADS_1
"Ah, ya sudahlah. Jangan dibahas lagi, Va. Ini juga pernikahan kamu, kan? Siapa yang ingin kamu undang, kamu juga punya hak akan hal itu. Jadi, lupakan saja."
"Lagian, dia juga langsung datang karena undangan darimu. Bukankah dia sungguh ingin melihat kita bahagia?" Dewa berucap sambil melirik Ros dengan lirikan jengkel.
Benar-benar pasangan yang sangat serasi dua manusia ini. Yang satu budak cinta sampai tidak bisa melihat dengan baik. Sedangkan yang satunya lagi, serigala berbulu domba yang bermuka dua. Sangat amat licik.
"Terima kasih banyak karena sudah datang. Dan, terima kasih juga atas doa restunya. Gak sangka, kamu bisa datang meski dengan hati yang terluka. Ah, tapi ... itu lebih baik dari pada kamu tidak datang sama sekali, bukan? Karena kamu tidak akan tahu bagaimana aku bahagia bersama dengan perempuan yang aku cintai."
Ucapan panjang lebar yang baru saja Dewa ucapkan barusan, rasanya ingin menggerakkan tangan Ros untuk memberikan satu tamparan agar pria itu sadar dari koma panjangnya. Tapi sayang sekali, Ros tidak ingin melakukan hal itu. Karena dia tidak ingin mengotori tangannya hanya untuk memukul pria yang tidak punya hati seperti mantan suaminya ini.
Ros pun langsung menyunggingkan bibirnya kembali. Menghadapi orang seperti Dewa, dia harus ekstra tenang dan juga banyak-banyak bersabar. Karena jika dengan kekerasan atau emosi yang tinggi, maka yang kalah sudah pasti dirinya sendiri.
"Silahkan dilihat isinya. Tapi tolong, jangan lihat apa isinya. Melainkan, lihatlah seberapa ikhlas nya aku memberikan kado ini untuk kalian semua," ucap Ros lagi sambil tersenyum kecil dengan melihat anak mata Dewa.
Ucapan itu langsung membuat Eva penasaran dengan isi dari hadiah yang Ros maksud. Sebenarnya, saat ini dia berpikir kalo Ros barusan memberikan hadiah berupa uang pada Dewa. Karena itu, dia berpura-pura tidak peduli meskipun ia sangat ingin tahu berapa nominal yang baru saja Ros berikan.
Sementara Dewa, dengan wajah yang masih dipenuhi rasa bingung, langsung membuka perlahan amplop yang baru saja dia terima dari mantan istrinya. Lalu, Dewa pun semakin merasa bingung dengan isi dari amplop tersebut.
Karena apa yang ia perkirakan sangat jauh dari apa yang ia lihat. Yah, sama seperti Eva, Dewa juga berpikir kalau Ros barusan memberikan ia hadiah berupa uang tunai. Tapi, yang matanya lihat malah kertas yang sepertinya adalah foto polaroid.
__ADS_1
"Apa isinya, kak?" Eva yang sangat penasaran pun tak kuasa untuk menahan diri. Karena itulah, pertanyaan barusan lolos dengan baik dari bibirnya.
Dewa tidak menjawab. Ia malah langsung mengeluarkan foto-foto tersebut dari dalam amplop dengan cepat. Mata Dewa pun langsung membulat ketika foto pertama ia lihat dengan baik. Itu adalah foto di mana Eva yang pertama kali jatuh dari tangga.
Belum sempat Dewa berkomentar akan apa yang baru saja ia lihat, layar lebar di belakang pelaminan malah langsung memutar vidio dengan suara yang sangat jernih. Hal tersebut langsung mengalihkan perhatian semua orang yang ada di dalam gedung tersebut.
Semua mata langsung melihat tanpa terkecuali. Itu adalah rekaman vidio di mana Eva sedang bicara dengan seorang dokter. Dia mengatakan jika dokter itu harus mengambil darah langka yang hanya dimiliki oleh Ros. Singkatnya, Eva tidak benar-benar sakit dan membutuhkan darah saat itu. Melainkan, dia hanya sedang berpura-pura sakit saja. Dia sangat ingin melihat orang Ros tersiksa sebagai istri dari Dewa. Pria yang ia ingin miliki sekarang.
Setelah vidio itu berputar dengan baik. Muncul vidio yang lainnya lagi. Kali ini, layar lebar itu memunculkan vidio keseharian Eva di rumah majikan tempat papanya bekerja. Cukup mengagetkan, ternyata Eva bukan anak dari pemilik rumah, melainkan, anak dari tangan kanan si pemilik rumah.
Hanya saja, karena kebaikan si pemilik rumah, Eva dan keluarganya tinggal di rumah tersebut. Dan, bebas melakukan apa saja yang ia ingin lakukan di sana saat si majikan tidak ada di rumah. Namun, di saat si majikan ada, maka mode baik dan lembutnya akan terlihat dengan sangat jelas. Sehingga, si majikan tidak menyadarinya sedikitpun.
Kemudian selanjutnya adalah vidio di mana Eva yang sedang melakukan kejahatan pada Ros. Lalu terakhir, ada vidio di mana obrolan Eva dengan seorang pria yang sedang membicarakan soal kedatangan setelah kepergian Eva meninggalkan Dewa beberapa waktu yang lalu.
"Kamu sungguh-sungguh akan menikah dengannya?" Pria itu berucap dengan raut sedih.
"Tentu saja aku sungguh-sungguh." Eva berucap dengan nada yang penuh dengan keyakinan.
"Tapi, Va. Kamu sudah meninggalkan dia waktu itu. Kenapa kamu mau kembali lagi padanya? Aku kurang apa buat kamu, Evaliana?"
__ADS_1